Tetangga Tak Tahu Diri

Tetangga Tak Tahu Diri
Part 20


__ADS_3

Tanpa dikomando, ibu-ibu segera berlarian ke rumah Mira.


Sesampainya di sana, Mira terlihat sedang membentur-benturkan keningnya ke dinding. Wajahnya yang masih lebam-lebam terlihat seputih kapas. Mulutnya tak henti-hentinya meracau dengan kata-kata yang tak bisa dimengerti. Sementara Kiran menangis sambil menghalangi ibunya agar tidak terluka.


"Astagfirulloh.. kenapa si Mamah teh Kir?" Tanya si Ibu yang langsung berlari dan menarik tangan Mira agar menjauh dari tembok.


"Gak tau, dari kemarin Mamah kayak gini terus. Ditanya juga gak ngejawab, malah bilang 'pergi.. pergiii..' gitu" Kiran memberi penjelasan dengan berurai air mata. Citra kemudian menghampiri Kiran lalu memeluk dan mengusap-usap rambutnya untuk menenangkannya.


"Miraa.. Miraa.. Kamu teh kenapa? Sadar Mira, gak kasihan sama anak kamu?" si Ibu mengguncang-guncang tubuh Mira dengan keras. Namun Mira malah melotot tanpa bicara apa-apa.


Sejurus kemudian, ia membenturkan lagi keningnya pada dinding.


"Astagfirullah hal'adziim, si Mira ini kenapa sih. Istogfar Mira.. Istighfar. Lihat anak-anak kamu, kasihan!" Bentak si Ibu.


"Kasihan, hah, kasihan? Yang harus dikasihani itu saya, hidup saya sekarang sudah hancur. Huhuhu... Hidup saya hancur .. Hahahahaha..." teriak Mira sambil menangis dan tertawa secara bersamaan.


Perlahan ibu-ibu beranjak mundur karena Mira terlihat sangat menakutkan.


"Astagfirulloh.. Hancur kenapa Mira? Kamu teh kenapa?" Si ibu menggeleng-geleng dengan wajah cemas.


"Kalian mah gak akan ngerti.. Gak akan... huhuhu.." Mira menangis pilu.


"Ya gimana mau ngerti atuh, kalo kamunya gak cerita mah?" Si Ibu berkata dengan gemas.


"Hidup saya udah ancur Bu.. Udah ancuurrr..."

__ADS_1


"Yang bikin hidup kamu ancur tuh diri kamu sendiri, Mira! Mending kalo ancur sendiri, ini mah ngancurin hidup orang lain pula. Makanya mikir kamu teh Mira!" Dewi yang sejak tadi hanya terdiam, akhirnya angkat bicara dengan suara bergetar menahan geram.


Rasa sakit hatinya belum juga pulih, bahkan mungkin takkan pernah pulih sama sekali. Apalagi ketika ia mengingat perselingkuhan Mira dengan suami yang entah sekarang ada dimana selepas ia usir.


Walau suaminya sudah bersujud menciumi kakinya, namun ia belum mau memaafkan. Tapi jujur, ketika melihat Mira dalam keadaan demikian, sakit hatinya sedikit terbalaskan.


"Udah sekarang mah kamu introspeksi diri aja. Mungkin ini pembalasan buat kamu. Walau saya gak tau apa yang bikin kamu kayak gini, tapi seenggaknya saya sedikit puas walau belum setimpal!" Lanjut Dewi lagi,


"kemarin waktu kamu gak ada mah rasanya tentram komplek teh, ehh sekarang malah balik lagi bikin gaduh. Muak saya sama kamu!" Dewi berlalu pergi dengan mata berkaca-kaca. Entah apa yang ada dalam pikirannya sekarang.


Mira tercenung sejenak seolah sedang memikirkan sesuatu. Wajah kalutnya terlihat semakin kentara. Sementara air matanya belum juga berhenti mengalir.


"Bener kata Dewi tuh. Kamu teh bukannya ngancurin hidup kamu doang Mira, hidup orang lain juga. Bikin masalah terus kamu mah. Saya juga tau, yang lempar kotoran itu kamu kan?" Tanya si Ibu.


"Sebenernya kalo gak kasihan sama anak-anak kamu mah gak bakalan saya ke sini, udah males saya juga. Soalnya kamu mah dibaikin teh bukannya jadi baik, malah ngelunjak. Padahal kami ini kurang baik apa sama kamu? Sekarang kamu lagi ada masalah, tetep aja yang pertama nolong mah tetangga- tetangga juga!" Si Ibu menumpahkan kekesalan yang selama ini dipendamnya, sementara yang lain hanya manggut-manggut membenarkan.


"Hayu ah kita pulang, mudah-mudahan aja nasehat saya ini kamu jalankan ya, Mira?" Nada suara si Ibu sudah mulai melunak. Hatinya prihatin dengan keadaan Mira, apalagi anak-anaknya.


Ibu-ibu pun satu persatu membubarkan diri, meninggalkan Mira yang duduk bersimpuh sambil menangis. Hatinya membenarkan, namun entah mengapa ia begitu sulit untuk mengakui.


"Ateu.. Ateu mah jangan pergi yah.. kasihan Mamah takut kenapa-kenapa lagi.." Kiran memegang tangan Citra yang juga hendak pergi. "Kalo Ateu pergi, Kiran sama Tita gak punya siapa-siapa lagi...." Kiran menangis lagi.


Hati Citra seketika terenyuh melihat keadaan Kiran dan Tita yang terpaksa harus jadi korban keegoisan orang tua mereka. Sebenarnya banyak sekali pertanyaan yang ada dalam benaknya, namun sekarang ia merasa sudah tidak lagi membutuhkan jawaban. Yang ia harapkan sekarang semoga Mira bisa berubah, setidaknya demi anak-anaknya.


Citra hanya manusia biasa, rasa sakit hatinya terhadap Mira tak segampang itu bisa sembuh lagi seperti biasa. Namun ketika melihat Kiran dan Tita, hatinya jatuh iba. Akhirnya ia memeluk mereka dengan penuh rasa sayang tanpa memedulikan rasa sebalnya terhadap Mira sama sekali.

__ADS_1


"Teh, sudah Teh, jangan nangis terus. Kalau Teteh begini terus, Kiran sama Tita bakalan makin tertekan." Citra menghanpiri Mira dan mengusap tangannya lembut.


"Saya gak mau menggurui, pengalaman hidup saya juga belum sebanyak Teteh. Namun yang saya tahu, kehidupan itu berjalan adil. Apa yang kita perbuat, baik atau buruk pasti akan mendapat balasannya, cepat atau lambat." Lanjutnya lagi.


Sejenak Citra terdiam untuk melihat reaksi Mira yang hanya duduk bersimpuh dengan wajah yang tertunduk ke lantai. Air matanya masih mengalir berjatuhan.


"Semua orang pernah mendapat cobaan, baik ringan ataupun berat, saya juga sama Teh. Namanya orang hidup pasti pernah mengalaminya." Citra menatap Mira lekat.


"Tapi kamu gak bakalan bisa bayangin, Cit, musibah apa yang menimpa saya sekarang" sahut Mira dengan suara pelan. "ini bahkan lebih buruk dari dugaan kamu.." Mira mengusap air matanya dengan kasar.


Citra tercenung mendengar perkataan Mira.


"Saya memang kotor. Tapi, musibah ini membuat saya semakin kotor dari sebelumnya... Hahahaha..." Mira tertawa keras sekali, setelah itu menangis sesenggukan.


Tak banyak bicara, Citra segera merengkuh tubuh Mira ke dalam pelukannya. Tangannya menepuk-nepuk punggung Mira dengan lembut. Meski ia tak tahu apa yang membuat Mira jadi begini, yang ia tahu hatinya begitu iba melihat Mira.


Sementara Mira, memeluk Citra erat untuk menghilangkan sedikit rasa gelisah dan kalut di hatinya. Mira menangis sepuasnya, membuat bahu Citra basah oleh air mata.


Tak lama kemudian, Mira melepaskan pelukannya. Ia menatap Citra lekat, manik matanya yang masih berembun menyiratkan rasa terimakasih yang begitu kentara walau bibirnya tidak berkata.


"Teteh sudah tenang sekarang?" tanya Citra lembut sambil tersenyum.


Mira hanya mengangguk sambil mengusap sisa-sisa air mata.


"Biar lebih tenang, perbanyak ibadah. Sama satu lagi, mulai sekarang sayangi Kiran dan Tita dengan benar, jangan cuma mikirin diri Teteh sendiri, ya?" Citra menepuk bahu Mira lembut.

__ADS_1


Setelah itu, Kiran dan Tita menghambur ke pelukan ibunya dengan berurai air mata.


__ADS_2