Tetangga Tak Tahu Diri

Tetangga Tak Tahu Diri
Part 4 CITRA


__ADS_3

Pagi ini ketika ke warung, sudah banyak ibu-ibu yang berkerumun untuk belanja. Sebagian sedang memilih-milih aneka sayuran atau daging dan ikan untuk lauk hari ini, sebagian lagi malah fokus berghibah. Berbisik-bisik sambil cekikikan, sepertinya yang menjadi bahan pembicaraan adalah Teh Mira. Pertengkarannya dengan A Iwan kemarin, memang sedang hangat-hangatnya dibicarakan di komplek ini.


"Iya bu, saya juga gak nyangka Teh Mira gitu. Kirain bukan pelakor. Pantesan dulu pas rumahnya beres dibangun saya kayak lihat perempuan lain, tapi bukan Teh Mira. Mungkin itu istri pertamanya.." Kata Bu Lasmi.


"Iya, saya juga. Tapi gak lama kan? Cuma beberapa hari aja. Si Tetehnya juga jarang keluar sih, tau-tau Teh Mira yang nempatin weh sampe sekarang.." Sahut Bu Tiwi.


"Eh ibu-ibu, itu kan dulunya tanah sodara saya yang dibangun itu. Kata sodara saya pas transaksi jual beli, si A Iwan datengnya sama istrinya itu, bukan sama Teh Mira. Gak kebayang sakitnya gimana, dia yang nyari tanah, dia yang bangun, giliran udah jadi rumah yang nempatin madunya. Iihh, kalo saya mah udah gila mungkin kalo ada di posisi itu.." Timpal Teh Neni.


"Kata suami saya mah, Teh Mira itu sekarang istri pertama, istrinya yang dulu jadi istri kedua. Soalnya pas A Iwan selingkuh sama Teh Mira, istri pertama dicerein terus sekarang balik lagi jadi yang kedua. Suami saya kan ada di sana pas dirembugin sama RT RW. Itu kakaknya A Iwan yang ngomong, " Teh Dewi tak mau kalah.


"Iya gitu Teh? Kok kisahnya jadi mirip Aa G** sama Teh N**** yah? Padahal mah yang disamain teh amal sholehnya yah bukan poligaminya" kata Bu Lasmi cekikikan, "Sekarang udah tau gini mah jagain aja suami kita masing-masing. Takut kecantol pelakor" lanjutnya lagi.


"Ah kalo saya mah biarin aja, mana mau Teh Mira sama suami saya. Kerjanya serabutan, gak ada duitnya. A Iwan mah kaya, walaupun sekarang udah bangkrut juga minimalnya masih ganteng. Lah suami saya?" Teh Neni mencibir.


"Eh jangan salah Teh Neni, siapa tau bukan butuh uangnya, tapi butuh pelukan kan suaminya jarang pulang hahaha " timpal Teh Dewi sambil tertawa.


"Ihhhh mit-amiittt" Teh Neni bergidik sambil mengetuk-ngetuk meja tempat sayuran "Yang harus hati-hati mah si Citra tuh" katanya sambil melihat kearahku "Awas ati-ati aja Cit, Teh Mira kan sering ke rumah kamu. Kayaknya betah banget. Jangan-jangan lagi bikin strategi buat jerat si Doni hahaha.."


"Astagfirulloh..." Aku hanya mampu beristigfar sambil diam-diam mengusap perut. Namun terus terang ada ketakutan tersendiri dalam hatiku.


"Beneran Cit, serius ini mah. Yang udah-udah juga kan gitu. Bisi ini mah, bisi emang ada niat jahat ke kamu. Di engga-engga juga Teh Mira itu cantik, walaupun umurnya jauh dari kamu, tapi dia punya pengalaman. Kan laki-laki mah kayak kucing garong, yang disembunyiin aja dicari cari, apalagi yang nembrak gitu." Kata Teh Neni lagi "Bukan nakutin Teteh mah Cit, belajar aja dari pengalaman. Mulai sekarang mah jangan dikasih bebas keluar masuk ke rumah kamu. Seperlunya aja. Setan mah ga tau, takutnya Doni nya khilaf, kan kamu-kamu juga nanti yang repot.."


"Amit-amit Teh.." kataku.


"Iya tuh si Citra mah baik banget. Minjem duit dikasih, tau tuh udah dibayar apa belum. Ke warung saya juga masih banyak utangnya. Rumahnya dijarah sama anak-anaknya, masih diem juga. Kalo jadi saya mah udah dijewerin tuh si Diva sama si Diki." Si Ibu yang dari tadi cuma diam, akhirnya angkat bicara.


"Iya Cit? Jangan gak enakan jadi orang mah, kalo kita terlalu baik nantinya ditindas orang. Sekali-sekali mah marahin biar dianya gak ngelunjak. Sekarang aja anak-anaknya udah berani, apalagi ibunya? Nanti lama-lama kamar tidur kamu yang dikuasai, kamu mau?" Tanya Teh Neni. "Curiga berlebihan jangan, tapi waspada mah harus. Bisi nanti nyesel kalo udah kejadian."

__ADS_1


Aku hanya menunduk diam, pura-pura memilih ikan. Namun di dalam hati, terus kepikiran omongan Teh Neni barusan. Apa iya Teh Mira bakal kaya gitu ke aku?


******


Malamnya ketika di pembaringan..


"Kang, emang Teh Mira teh cantik yah?" Tanyaku pada Kang Doni.


"Hhmmm.. Emang kenapa Neng?" Dia balik bertanya, namun terdengar seperti enggan


"Engga sih, Neng cuma tanya aja.."


"Neng mau jawaban jujur atau bohong?"


"Tergantung.. Cepet jawab ihh, Teh Mira cantik apa engga?"


"TERUS KALO AKANG DIGODA TEH MIRA, AKANG MAU GITU? HUH DASAR, LAKI-LAKI MAH SEMUA SAMA AJA.!" Aku berbalik memunggunginya. Entah mengapa aku emosi, hatiku mendadak panas. Pelan-pelan rasa cemburu mengusik dalam jiwa.


"Astagfirulloh, Neng teh kenapa?" Tanya Kang Doni yang mengusap lembut lenganku, namun segera saja ku tepis dengan kasar.


"Kenapa ihh? Neng cemburu hahaha.." Kang Doni tertawa menggoda


"Ngapain cemburu? ASA TEU KUDU.! Sana.. sana pergi aja ke rumah Teh Mira YANG CANTIK ITU.!" Aku memberi penekanan pada kalimatku.


Kang Doni tidak menjawab, ia malah membalikkan badanku, merengkuhku dalam pelukannya lalu mulai mengusap-usap kepalaku dengan lembut.


"Bagi akang mah Neng yang paling cantik, gak ada yang lain. Neng yang paling akang sayang, Neng satu-satunya di dunia ini." Aku terbuai ucapannya, lagipula cemburuku mungkin tak berdasar.

__ADS_1


"Lagian, ngapain tiba-tiba ngomongin Teh Mira? Bukannya Neng teh deket banget ya sama Teh Mira?" Lanjutnya lagi.


"Neng takut akang direbut orang" Aku mengigit bibir bawah menahan tangis. Suaraku terdengar bergetar "soalnya tadi ibu-ibu di warung bilang kalo Teh Mira itu pelakor" airmata itupun mengalir tanpa bisa ku cegah.


Setelah tenang, aku menceritakan semuanya pada Kang Doni, termasuk 'nasihat' Teh Neni juga.


"Neng, gak semua yang dibilang orang lain itu benar. Tapi gak semuanya salah juga, pinter-pinternya aja kita memilah. Nanti juga pada akhirnya ketauan kok mana yang benar dan mana yang salah." Kata Kang Doni "deket sama orang lain boleh, ngobrol juga boleh tapi jangan sampai jadi ghibah, dosa. Kalo ada apa-apa, cukup kita aja yang tau. Ya sayang ya?" Lanjutnya lagi, tak lupa mengusap-usap lembut rambutku.


"Tapi kalo akang digoda, akang mau kan?" Tanyaku lagi


"Ya enggak lah, udah punya bidadari di rumah, ngapain kegoda perempuan lain."


"Ahh gombal" aku menengadah dan menatap matanya untuk mencari kejujuran di sana. Namun ia malah mengecup keningku dengan lembut.


"Udah ah, kita bobo aja"Kang Doni memelukku dengan erat sambil sebelah tangannya menyelimuti tubuh kami berdua.


****


Pagi-pagi ketika aku sedang mencuci piring, terdengar seseorang mengetuk pintu dan memanggil-manggil namaku.


"Ciittt... ciittt..."


"Bentaarrr..." jawabku sambil mencuci tangan lalu bergegas menuju pintu depan. Aku membuka pintu yang terkunci, dan terlihat Teh Mira sedang berdiri di sana dengan mata sembabnya.


"Tumben kok pintunya dikunci?"


"Iya Teh, takut ada tamu tak diundang." Aku tersenyum canggung, yang dibalasnya dengan canggung juga. Entah mengapa, tiba-tiba saja seolah ada dinding pembatas yang memisahkan kami berdua..

__ADS_1


__ADS_2