
Sudah sebulan lamanya aku tinggal di rumah wati, mantan istri pertama yang kini statusnya menjadi istri keduaku. Sengaja aku lakukan untuk memberi Mira, istri pertamaku, pelajaran. Semenjak pertengkaranku, memang aku tak pernah pulang lagi. Jangankan menengok, sekadar memberi kabarpun tidak.
Aku memang egois, hanya mementingkan diri sendiri, pasti itu yang ada di pikiran Mira. Tapi dia tidak tahu dan tidak merasa bahwa dirinya lebih egois. Diki dan Diva yang ketika terakhir aku pergi tak boleh di bawa, sementara dirinya keluyuran terus bersama lelaki selingkuhannya.
Pernikahan kami awalnya begitu bahagia, aku begitu mencintainya, menyayanginya. Cinta yang begitu bergelora, yang tak kurasakan pada Wati. Mira adalah cinta pertamaku, cinta yang kurasakan terlambat ketika usiaku sudah matang.
Sebelum dengan Mira, aku memang seorang pemain wanita. Ini adalah bentuk balas dendamku pada Wati, karena ia menerima perjodohan kami. Padahal waktu itu ia tahu bahwa aku sudah memiliki seorang tambatan hati.
Wanita-wanita yang aku kencani bukanlah wanita sembarangan, bukan pula para pemuas nafsu yang bisa dibayar. Wanita-wanita itu adalah para istri kesepian, yang disia-siakan suaminya. Atau istri-istri binal yang mencari kepuasan pada pria lain. Dan entah mengapa, aku suka sekali dengan istri orang dibanding gadis belia atau bahkan janda.
Beberapa wanita yang aku kencani hanya untuk memuaskan nafsuku, namun tak pernah berakhir dengan pernikahan. Kecuali dengan Mira. Padanya aku begitu mendamba, padanya aku merasakan cinta pertama sekaligus bergelora yang tak pernah ku rasakan dengan wanita manapun sebelumnya. Hanya ia yang berhasil menaklukanku.
Makanya ketika Mira hamil, aku merasa senang sekali, berarti aku bisa memilikinya secara utuh meski saat itu statusnya masih istri orang dan akupun suami orang. Tapi tak mengapa, toh selama inipun Wati tahu aku seorang pemain perempuan. Pun ketika akhirnya Mira diusir suaminya karena mengandung anakku, aku terima dengan tangan terbuka. Bahkan aku yang mengurus perceraiannya.
Tapi pernikahan yang aku sangka akan bahagia selamanya, ternyata tidak. Petaka itu datang saat anak pertama kami lahir. Mira yang dulunya begitu lembut dan penurut, sekarang jadi sering menuntut. Padahal aku sudah memberikan apa yang aku punya untuknya. Bukan hanya uang, tapi juga limpahan kasih sayang.
Dia seringkali meminta aku untuk menceraikan Wati, istri pertamaku, namun tak langsung ku kabulkan karena saat itupun Wati baru saja melahirkan anak ketiga kami. Aku berikan pengertian walau selalu berakhir dengan pertengkaran. Padahal saat itu Wati rela dimadu.
Dia meminta untuk mengelola keuangan kami, termasuk jatah untuk Wati, aku kabulkan. Wati hanya ku beri nafkah sisa belas kasihan Mira. Seringnya hanya beberapa ratus ribu perbulan. Tapi ternyata, itupun masih belum cukup.
Mira masih saja menuntut aset-aset yang selama ini aku punya, di baliknamakan atas namanya. Masih aku kabulkan. Padahal harta itu aku kumpulkan dengan Wati selama pernikahan kami, sedangkan Wati hanya ku beri sebuah rumah dan mobil tua yang kami beli ketika awal kami merintis usaha.
Terakhir, saat anak keduaku dengan Mira lahir, aku akhirnya menceraikan Wati yang juga baru melahirkan anak ke empat kami, sekaligus mengusirnya dari rumah yang baru saja kami bangun. Aku benar-benar dibutakan oleh rasa sayangku pada Mira, hingga aku tak lagi memikirkan perasaan Wati dan anak-anakku. Rumah itulah yang sekarang menjadi tempat tinggalku dengan Mira.
Saat itulah, musibah demi musibah datang silih berganti. Di mulai dari usahaku yang perlahan-lahan mulai mengalami penurunan, hingga akhirnya bangkrut sama sekali.
Aku yang dulunya penyedia jasa alat pertanian berskala besar, harus berakhir dengan menjadi pengecer kecil. Bahkan sekadar untuk memenuhi kebutuhan pokokpun susahnya setengah mati. Berbanding terbalik dengan keadaanku yang dulu beraset banyak, uang melimpah, selalu berganti-ganti mobil keluaran terbaru.
Perlakuan Mira padakupun berubah 180 derajat. Aku bagaikan sepah yang dibuang setelah rasa manisnya habis. Bukan itu saja, Mira juga jadi gemar berselingkuh. Berkali-kali ketahuan, berkali-kali pula ku maafkan karena rasa cintaku yang begitu besar. Hingga akhirnya ia berselingkuh dengan sahabatku sendiri.
Aku yang telah terpuruk itu, tanpa sengaja bertemu dengan Wati setelah bertahun lamanya, karena memang setelah bercerai aku tak pernah lagi bertemu bahkan tak pernah menengok anak-anakku sama sekali.
Padanya ku curahkan isi hati. Padanya aku berkeluh kesah menangisi kehidupanku tanpa rasa malu. Ia masih saja tetap sama seperti dulu, wanita bersahaja yang tangguh. Bahkan ia mendekatkanku dengan anak-anak yang telah lama ku terlantarkan.
Akhirnya, kami memutuskan untuk menikah lagi. Dari situlah aku memyadari walau terlambat, bahwa Wati memang jodoh yang terbaik yang diberikan Tuhan padaku. Bersamanya aku menemukan kedamaian dan kenyamanan yang tak pernah aku dapatkan walau dari Mira sekalipun
***
"Pak, tengoklah anakmu, kasihan. Sudah satu bulan Bapak tinggal di sini tanpa memberi kabar.." kata Wati pada suatu hari.
__ADS_1
Aku tak langsung menjawab. Mungkin ia menyadari aku yang selalu gelisah semenjak pergi dari rumah Mira sebulan yang lalu, karena teringat anak-anakku meski aku tak pernah bercerita.
"Tengoklah ke sana, Bapak mungkin marah pada ibunya, tapi Diki sama Diva mah kan gak tau apa-apa." Lanjutnya lagi.
Aku tatap matanya, terlihat ada ketulusan di sana. Perlahan air mata ini tumpah membasahi pipi. Aku merasa menjadi makhluk paling berdosa di dunia ini. Aku yang telah menyakitinya berkali-kali, namun ia tak pernah menyimpan dendam sama sekali. Kini aku baru menyadari, bahwa aku telah membuang sebuah berlian demi pecahan beling di jalanan.
"Ya udah Bu, nanti malam Bapak mau ke rumah Mira yah, mau nengok Diki sama Diva." Kataku sambil menyeka air mata.
"Sok atuh, nanti jangan lupa mampir dulu ke konveksi, bawa jaket buat Diki sama Diva yah. Tapi inget, jangan bilang dari saya, takutnya Mira salah paham." Lanjutnya sambil tersenyum. Setelah bercerai denganku, Wati memang membuka usaha konveksi kecil-kecilan. Dan sekarang dari konveksi itulah yang menghidupi kebutuhan Wati, anak-anak termasuk aku. Karena usahaku menjadi pengecer alat pertanian, sama sekali tak bisa diandalkan.
Akupun mengiyakan.
*****
Ba'da magrib ketika aku pergi dengan menenteng kresek berisi jaket pemberian Wati, juga makanan kesukaan anakku dengan hati berbunga. Karena sebentar lagi, rindu yang menggunung ini akan segera tuntas.
Sesampainya di sana, aku disambut dengan kerumunan orang di depan rumahku. Segera saja ku parkirkan motor bututku di depan rumah tetangga. Dengan pikiran kalut aku bergegas menuju ke sana, takut hal buruk menimpa istri dan anak-anakku.
Namun, betapa kecewanya aku ketika ternyata Mira sedang dilabrak Dewi tetanggaku karena berselingkuh dengan suaminya. Aku terkesima menyaksikan pertengkaran itu di depan mataku sendiri.
"Lepasin... Lepasiiiinnn.. biar saya kasih pelajaran perempuan sundal itu" teriak Dewi dengan lantang.
"Harusnya kamu mikir, kenapa suami kamu bisa selingkuh. Bukannya malah nyalahin orang. Cuuihhh.." Balas tak kalah pedas. Sungguh tak tahu malu, bathinku dalam hati.
"Tuh ambil aja suami kamu, ambiiill.. Saya sudah gak butuh lagi!" Jawab Mira dengan sengit.
Sungguh, aku tak tahan lagi mendengarnya. Kulangkahkan kaki yang goyah ini ke depan. Seketika orang-orang yang tadi berkerumun, seperti menyingkir memberi jalan.
"CUKUP MIRA, CUKUP!" Teriakku dengan kecewa. Tanganku gemetar menahan marah.
"I.. Iwaan.." katanya tergagap-gagap menyebut namaku. Matanya yang lebam terlihat kaget.
"Ternyata hobi selingkuh kamu tak pernah berubah!" Kataku dengan kecewa. Tak lama kemudian, pintu terbuka bersamaan dengan Diki dan Diva yang berlarian menghampiriku dan bergelayut manja di kakiku.
"Mulai sekarang, kamu saya ceraikan!" Aku berteriak menuntaskan rasa marahku. Segera kupeluk Diki dan Diva lalu ku gendong bersamaan.
Saat melewati orang-orang, mereka menepuk pundakku.
"Yang sabar yah Kang Iwan.." katanya bersimpati.
__ADS_1
Akupun berlalu pergi dengan hati yang hancur berkeping-keping. Mungkin ini adalah pembalasan yang harus ku terima karena perbuatanku dulu.
****
Sesampainya di rumah Wati..
"Bapak..." ia tak melanjutkan ucapannya, mungkin mengerti dengan keadaanku sekarang. Ia malah membawa Diva yang tertidur dalam gendonganku. Sementara Diki hanya terbengong-bengong menatap kami.
Setelah menidurkan Diva di kamar kami, Wati kembali. Dengan tulus ia menawari Diki makan, bahkan menyuapinya. Hatiku sakit melihat Diki yang makan dengan lahap, mungkinkah ia (ke)lapar(an) ? Badannya terlihat kurus dan tak terurus, tak jauh beda dengan Diva. Tak lama kemudian, Diki tertidur di depan tv.
"Kenapa Pak?" Tanyanya menghampiriku.
Akupun menceritakan semuanya, termasuk niat untuk menceraikan Mira.
"Yakin Bapak mau bercerai dengan Mira?" Tanya istriku "Kasihan Diki dan Diva kalo berpisah sama ibunya" Tatapan Wati beralih pada Diki.
"Bapak sudah mantap Bu, justru lebih kasihan jika Diki dan Diva jika dibesarkan oleh orang seperti Mira." Jawabku.
"Ya sudah kalo bapak sudah yakin, saya tak bisa berkata apa-apa lagi. Biar Diki dan Diva tinggal sama kita, insyaalloh saya ridho.." katanya lagi.
Aku memeluk Wati dengan haru yang mendalam. Istri yang selama ini telah kusia-siakan, ternyata berhati bersih. Bahkan ia rela mengasuh anak-anak hasil penghianatanku dengan Mira. Terbuat dari apakah gerangan hatinya.
Besoknya, aku mendaftarkan gugatan ceraiku ke pengadilan agama. Sidang pertama kami digelar satu minggu kemudian. Aku tak menuntut harta gono-gini, rumah kuserahkan sepenuhnya pada Mira, asalkan Diki dan Diva berada di bawah pengasuhanku. Aku tak ingin melakukan kesalahan yang sama seperti yang telah ku lakukan pada ke empat anakku yang lain.
Tanpa proses bertele-tele, akhirnya putusan cerai itupun diketuk pada sidang ke lima. Bersamaan dengan itu, rasa cintaku pada Mira yang dahulu begitu menggebu, menguap entah kemana.
Di pintu keluar sidang, aku berpapasan dengan bekas istriku, tanpa ragu ku salami ia untuk meminta maaf. Bagaimanapun ia adalah ibu dari anak-anakku, dan aku pernah begitu mencintainya.
Namun ia mengabaikan permintaan maafku. Tanpa sepatah katapun ia berlalu pergi.
cinta itu tiba-tiba hilang
bagai senyap yang dilenyapkan malam
mengambang dalam diam
rindu itu seketika tiada
seperti terik setelah hujan
__ADS_1
menguap menjadi awan
tanpa wujud lalu terbang