Tetangga Tak Tahu Diri

Tetangga Tak Tahu Diri
Part 16


__ADS_3

"Astagfirulloh, ada apa ini? Kenapa si Mamah?" Tanya tetangga Wati yang ketika mendengar anak-anak Wati menangis menjerit-jerit, langsung saja memeriksa keadaan.


"Gak tau Wak, mamah tadi lagi nelepon, terus tiba-tiba langsung pingsan.." jawab Mayang, anak kedua Wati.


"Pendi.. Pendi... Tolong dulu ke sini, ini Ceu Wati kenapa?" Teriak orang yang dipanggil Uwak itu memanggil tetangganya yang lain.


Tak lama kemudian tetangganya berdatangan, Pendi langsung saja memijit-mijit jempol kaki Wati dan mengoleskan minyak kayu putih ke bawah hidungnya.


Tak lama kemudian, Wati membuka mata. Ketika melihat begitu banyak orang berada di rumahnya, Wati kembali menangis.


"Istighfar Wati, kamu teh kenapa?" Tanya Uwak lagi.


"Kang Iwan Ceu.. Kang Iwan kecelakaan.. Huuhuuhuu..." jawab Wati terisak-isak. Anak-anak Wati yang mendengar, ikut menangis sambil memanggil-manggil Bapaknya.


"Astagfirulloh al'adziim.. kapan? Terus sekarang di mana?" Tanya Uwak lagi.


"Tadi Ceu Imah, katanya ketabrak. Sekarang udah di Rumah Sakit. Saya mau ke sana Ceeuu...." Wati terus saja menangis sembari memeluk anak-anaknya satu-persatu.


"Wati, kamu tenang dulu sekarang mah ya?" Kata Wak Imah sambil mengusap-usap punggung Wati. "Ambilin air minum.."


Tetangga Wati yang lain sigap pergi ke dapur dan membawa segelas air yang langsung disodorkannya pada Wati.


"Saya mau ke Rumah Sakit Ceu, mau lihat keadaan Kang Iwan.." Kata Wati lagi setelah tenang.


"Biar saya yang anter" Tawar Pendi "Saya mau siap-siap dulu atuh.." tanpa menunggu jawaban, Pendi langsung pergi ke rumahnya untuk bersiap-siap.


"Kamu udah gak apa-apa Wat?" Tanya Ceu Imah yang langsung dijawab gelengan oleh Wati.


"Ya udah atuh, ati-ati di jalan. Biar anak-anak mah saya yang jagain" katanya lagi.


Setelah mengucapkan terimakasih, Watipun pergi di antar Pendi tetangganya.


Selama perjalanan ke Rumah Sakit, Wati terus saja menangis teringat Iwan. Ia berharap, suaminya itu tak kenapa-napa.


Sesampainya di Rumah Sakit, Wati di arahkan menuju ruang operasi. Dengan kaki yang gontai, Wati menuju ke sana sambil dipegangi Pendi.


Ketika sampai di ruang tunggu, ia melihat sepasang suami istri masih muda. Saat melihat Wati, mereka langsung berdiri.

__ADS_1


"Ibu, ibu istri dari pasien bernama Iwan?" Tanya si lelaki, Wati hanya menjawab dengan anggukan "Ibu, maaf.. Saya yang telah menabrak suami ibu. Saya tidak sengaja Bu, pas mau naik ke tempat parkir tiba-tiba saja suami Ibu muncul di balik kelokan. Saya tak sempat menginjak rem. Saya minta maaf ya Bu, saya tidak bermaksud....." Si lelaki menatap Wati dengan penuh harap. Sementara istrinya menangis di sampingnya. Mungkin mereka sama terkejutnya dengan Wati saat ini.


"Iya Jang (panggilan kepada laki-laki) gak apa-apa. Mungkin suami saya juga yang salah. Lagi pula, ini sudah takdir Allah, siapa yang tahu kecelakaan akan terjadi." Jawab Wati terbata-bata.


Langsung saja si lelaki menggenggam tangan Wati erat sekali, lalu menciumi punggung tangannya dengan takzim.


"Makasih ya Bu, insyaalloh semua biaya perawatan saya yang tanggung.."


Bersamaan dengan itu, pintu otomatis ruang operasi terbuka, seorang dokter laki-laki keluar dari sana.


"Mana keluarga Iwan?" Tanya Dokter


Wati langsung berdiri.


"Alhamdulillah Bu, pasien Iwan sudah melewati masa kritis." Kata Dokter memulai penjelasan. Serempak yang mendengar kabar baik itu, mengucap hamdallah bersamaan. "Tadi sudah kami operasi, kepalanya mengalami gegar otak yang cukup parah, untung saja segera dibawa ke sini. Selain itu, dua tulang rusuknya patah. Tapi sejauh ini, pasien Iwan sudah dalam kondisi baik. Tinggal menunggu sadar. Sebentar lagi akan kami pindahkan ke ruang transisi supaya bisa kami pantau, ada atau tidaknya komplikasi pasca operasi. Tapi mudah-mudahan tidak ya Bu?" Lanjut Dokter itu sambil tersenyum.


"Terimakasih, Dok telah menyelamatkan nyawa suami saya.." Wati menggenggam tangannya hangat


"Jangan berterimakasih ke saya Bu, saya cuma perantara. Berterimakasihlah kepada Allah SWT, yang menggenggam takdir semua makhluk di tanganNya." Jawab Dokter itu merendah, "Mari Bu, saya tinggal dulu. Assalamualaykum.." katanya lagi sambil menangkupkan kedua tangan di depan dada seraya berlalu pergi.


"Wa'alaikumsalam.." jawab mereka serempak.


****


Lain nasib Iwan, lain pula nasib Mira mantan istrinya. Sekeluarnya dari gedung pengadilan agama, Mira dijemput oleh seorang laki-laki menggunakan mobil.


"Mau kemana Kang?" Tanya Mira manja, sesaat setelah duduk di kursi depan.


"Nanti deh, kamu juga bakalan tau sendiri kok." Jawab laki-laki itu sambil tersenyum manis. Entah siapa lagi dia, padahal sidang perceraian Mira dan Iwan baru saja diputuskan.


Mobilpun melaju di tengah keramaian lalu lintas Bandung yang padat. 45 menit kemudian, mereka sampai di sebuah rumah yang berada di tengah-tengah sawah. Rumah ini terlihat menyendiri, jauh dari rumah-rumah tetangga yang lainnya.


"Ini di mana Kang?" Tanya Mira keheranan.


"Udah, turun dulu aja. Yuk.." jawab lelaki itu, masih dengan senyum manis yang terkembang di bibirnya.


Meskipun merasa aneh, tak urung Mira turun dari mobil dan mengikuti lelaki itu di belakang.

__ADS_1


Sesaat setelah pintu dibuka, tercium bau minuman keras yang sangat tajam. Di dalam, terlihat beberapa laki-laki bertelanjang dada sedang asyik bermain kartu.


Baru saja Mira hendak bertanya, lelaki yang membawanya itu menyeretnya ke dalam dengan kasar.


"Aww, sakit Kang... Akang ini kenapa sih?" Tanya Mira kemudian mengusap-usap pergelangan tangannya yang memerah.


"Diam kamu *******, dasar wanita ****** tak tahu diri." Bentaknya. Semua yang berada di sana terlihat kaget, beberapa lelaki yang sedang asyik bermain kartu, langsung berhenti seketika.


"Kamu itu yah, semua hutang kamu saya bayarin. Semua kebutuhan kamu, saya penuhi. Ehh kamu malah main gila sama laki-laki lain. Cuihh..." lanjutnya sambil meludah ke lantai.


"Maksud Akang apa?" Tanya Mira ketakutan.


"Jangan berlagak bodoh kamu, ini apa hah?" Katanya sambil menunjukkan layar gawai. Di sana terlihat Mira sedang berbaring satu selimut dengan pria lain di atas kasur. Mira mendekap pria itu dengan mesra. "Anak uah saya yang kirim ini. Kamu pikir saya gak bakalan tau?"


Mira hanya mampu membelalakan mata.


"Tadinya setelah kamu resmi bercerai, saya akan peristri kamu. Tapi sayang, kamu lebih suka berkubang di air comberan. Kamu tidak tahu siapa si Hendar ini?" Kata lelaki itu sambil menepuk dada. "Kamu bermain-main dengan saya, maka akan saya tunjukan permainan yang sesungguhnya!"


"Seret ******* ini dari hadapan saya.." katanya menatap anak buahnya dengan tatapan kecewa sekaligus marah "saya sudah gak butuh dia lagi!"


"Mau diapain dia Bos?" Tanya salah satu anak buahnya.


"Suka-suka kalianlah mau diapain juga. Saya udah gak peduli.." ujarnya lagi sambil berlalu pergi.


"Akang.. Akang, tolong maafin saya!" Mira menubruk kaki Hendar untuk memohon. Tapi Hendar malah menendangnya dengan keras, membuat Mira terjetembab ke belakang.


Sementara anak buah Hendar menatap Mira dengan buas, seperti tatapan singa kelaparan menatap mangsanya. Bibir mereka menyeringai.


Mira beringsut mundur ke belakang, saat hendak berlari menjauh, tangannya ditangkap. Langsung saja ia diseret menuju salah satu kamar.


Terdengar Mira menjerit pilu meminta pertolongan. Tapi sayangnya, tak ada satupun yang datang untuk menolong.


***


Setelah tersadar, Mira mendapati dirinya telanjang bulat dengan mengenaskan. Bukan saja bawah perutnya yang terasa perih, wajah dan tubuhnyapun sama. Mungkin bekas tamparan dan sundutan rokok yang dilakukan oleh anak buah Hendar.


Ketika melihat ke sekeliling, sudah tidak ada siapa-siapa lagi di sana. Mungkin mereka pergi setelah menikmati tubuhnya.

__ADS_1


Dengan serampangan, Mira memakai bajunya. Sesampainya di luar, hari telah gelap. Lalu dengan sisa keuatan yang ada, ia tertatih-tatih mulai meninggalkan tempat itu.


__ADS_2