
Hampir semalaman Mira gelisah, membuat tidurnya tidak nyenyak. Berkali-kali ia terbangun oleh mimpi buruk dari kenangan yang telah dialaminya. Baru memejamkan mata, siksaan itu kembali menyapa. Bukan hanya fisiknya saja yang terluka, psikisnyapun mengalami trauma yang tak kalah hebat. Otaknya berusaha melupakan, tapi hatinya tidak.
Setiap kali Mira mendengar bunyi sekecil apapun, ia akan terjaga dengan keringat yang telah membanjir di sekujur tubuhnya. Selanjutnya ia akan diam merapat ke dinding sambil menatap takut-takut keadaan di sekitar. Begitu terus sampai ia ketiduran karena lelah. Puncaknya ketika tengah malam ia menjerit-jerit dengan suara parau, mengigau dalam tidurnya.
"Tidak.. Tidak.. Jangan.. saya mohon, jangan..."
Kiran dan Tita yang tengah pulas tertidur, refleks berlarian ke kamar ibunya. Dilihatnya ibunya itu sedang menendang-nendang sesuatu tak kasat mata dalam tidurnya. Sesekali tangannya bergerak-gerak, seperti sedang menghalau namun entah apa.
"Mamah.. Mamah.. bangun Mah.. Mamah kenapa?" dengan lembut Kiran mencoba menepuk-nepuk pipi ibunya,sementara raut khawatir sekaligus sedih terlihat kentara dalam wajahnya.
Namun Mira masih saja mencoba menerjang sesuatu yang tak terlihat dengan mata masih terpejam.
"Mamah.. Cukup Mah, istighfar! Mamah kenapa sih?" Kiran mulai mengguncang-guncang bahu ibunya dengan keras, berharap ibunya segera bangun dan kembali pada kesadarannya.
Perlahan, mata Mira terbuka. Beringsut ia bangun lalu merapat ke tembok dengan lutut ditekuk. Kedua tangannya ditangkupkan di atas kepala, seolah sedang memohon.
"Ampuun.. Ampuunnn.. Lepaskan saya, jangan sakiti saya. . Ampuunnn...!" Lirihnya dengan air mata yang terus berlinangan. Wajah lebamnya terlihat memucat.
"Astagfirulloh al'adziim.. Mamah, mamah kenapa?" Tanya Kiran sambil mendekat.
"Pergi kamu.. Pergiiii, jangan dekati saya... PERGIIIII!" Mira berteriak-teriak histeris ketika tangan Kiran hendak mengusap wajahnya.
Tangan yang terulur itu langsung ditariknya kembali. Rasa khawatir memenuhi hati dan perasaannya. Ingin menolong ibunya, namun ia tak tahu apa yang harus dilakukan. Kiran dan Tita menangis sambil berpelukan, hingga akhirnya mereka tertidur ketika subuh menjelang.
*****
"Akang.. Akang.. Bangun.." Citra menepuk-nepuk lengan suaminya ketika mendengar suara gaduh di rumah Mira yang bersebelahan dengan rumahnya. Namun, suaminya tetap mendengkur halus.
__ADS_1
"Isshhh si Akang mah ihh... Bangun Kang.." Katanya lagi dengan tepukan lebih keras. "Kang Doni, ihh.."
"Hhhmmmm...." Hanya itu yang keluar dari mulutnya dengan mata yang masih terpejam rapat. Telinga Doni mendengar, namun matanya susah untuk diajak kompromi.
"Akang, bangun! Itu di rumah Teh Mira kaya ada ribut-ribut. Takutnya terjadi apa-apa" kata Citra lagi, suaranya terdengar khawatir.
"Apa Neng, apaa ihh?" Tanya Doni dengan kesal karena tidurnya terganggu.
"Itu, Neng denger ada suara ribut-ribut di rumah Teh Mira. Takutnya terjadi apa-apa.."
"Astahfirulloh al'adziim.. Neng salah denger kali.." Dengan susah payah Doni mencoba bangun. Ia melirik jam di meja kecil sebelah ranjang, masih menunjukkan pukul tiga subuh.
"Engga Kang, isshh, Neng mah beneran denger. Akang periksa dulu gih. Takutnya emang ada apa-apa" Citra duduk di kasur lalu menyanggul rambut panjangnya ke atas dengan sekenanya. Sementara Doni duduk bersandar pada tepian ranjang lalu mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali untuk menghalau kantuk yang masih terasa berat.
Setelah rasa kantuknya berkurang, iapun bangun lalu membuka pintu.
Tak lama kemudian terdengar suara kunci diputar, dan pintu depanpun terbuka. Sepeninggal Doni, Citra menunggu dengan harap-harap cemas. Dinyalakannya lampu kamar, untuk mengurangi rasa gelisah.
Di luar, Doni mengedarkan pandang ke segala arah. Dipertajamnya telinganya agar bisa mendengar suara apapun yang mencurigakan. Namun nihil, yang terdengar hanyalah suara desau angin yang menusuk dingin hingga ke tulang.
Setelah dirasa aman dan tak ada yang mencurigakan, Donipun kembali lagi ke kamar.
"Gak ada Neng ah" katanya sambil duduk di tepian kasur "kata Akang juga, Neng mah salah denger.. Udah Ah, Akang mau bobo lagi. Lumayan masih satu jam setengah lagi sampe adzan subuh" tanpa menunggu jawaban Citra, Donipun berbaring lagi sambil menarik selimut rapat-rapat ke atas tubuhnya.
Sementara Citra merasa heran, karena ia yakin kalau tak salah dengar. Tapi ia tak bisa berbuat apa-apa, karena suara berisik itu tiba-tiba menghilang, tepat setelah ia terbangun. Mimpikah ini? Tanyanya dalam hati.
Tak lama kemudian, Citrapun tertidur lagi.
__ADS_1
*****
Paginya di warung ketika ia baru saja datang untuk berbelanja.
"Tuh tanyain Teh Citra kalo gak percaya mah" kata si Ibu secara tiba-tiba saat melihatnya datang.
"Bener gitu Cit?" Tanya Neni kemudian.
"Apanya yang bener?" Citra balik bertanya dengan nada heran.
"Tadi malem, Teh Citra denger suara berisik gak di rumah si Mira?" Tanya si Ibu. Citra termenung, berarti bukan hanya dirinya yang mendengar.
"Ibu mah nyampe gak bisa tidur lagi nyampe sekarang. Udah aja tadi teh langsung ke pasar" Lanjut si Ibu "tadinya mau bangunin si Ardi suruh meriksa, tapi takutnya si Mira salah terima lagi. Jadi males Ibu mah liat responnya kemarin. Tapi ngomong-ngomong si Mira itu kenapa yah? Gak dimana-gak dimana, kok senengnya cari masalah, ckckckckck. Apa berantem juga gituh sama istri orang lagi?" Si Ibu berdecak sambil geleng-geleng kepala. Sementara Dewi yang juga sedang berbelanja, terlihat mendengkus, teringat akan perselingkuhan suaminya dengan Mira.
"Masa sih Bu, katanya dia kan lagi sidang perceraian ya? Masa iya udah selingkuh lagi?" Teh Neni menimpali.
"Ah, kayak yang gak tau si Mira aja Teh Neni mah. Masih jadi istri sah aja dia mah berani selingkuh kok, apalagi hampir bercerai." Jawab si Ibu sambil melirik Dewi. "Ngomong-ngomong, si Mira teh udah beres gitu sidangnya yah?"
"Gak tau atuh, emang kenapa gitu?"
"Ya ati-ati aja, jaga suami masing-masing, takutnya kecantol janda kembang hehehehe.." si Ibu tertawa sinis.
"Mit-amit Bu, masa sih gak kapok-kapok? Gobloknya kebangetan kalo gitu. Berani goda suami orang lagi mah, alamat di usir RT RW nanti, kan kemarin udah dikasih peringatan"
Citra hanya terdiam tak banyak bicara meski ia tahu dari cerita Kiran bahwa ibunya dan Iwan sudah resmi bercerai. Ia takut akan menjadi masalah jika bercerita. Lagi pula ia tak ingin mengkhianati Kiran yang selama ini begitu percaya padanya.
"Tolong.... tolong...."
__ADS_1
Saat sedang asyik memilih sayuran sambil berghibah, mereka dikejutkan dengan suara minta tolong yang arahnya datang dari rumah Mira.