
Seperti biasa ketika suaminya ke luar kota, Teh Mira akan menghabiskan waktunya seharian berada di rumahku. Tak peduli kalau aku sedang sibuk mengerjakan berbagai pekerjaan rumah tangga. Entah itu masak atau sekedar nyapu dan mengepel lantai. Bahkan saat aku sedang mencuci bajupun Ia akan setia menungguku di depan pintu kamar mandi dengan duduk diam sambil merokok, atau berbasa-basi mengajakku mengobrol. Ia hanya akan pulang ke rumahnya jika suamiku sudah pulang, atau anak-anaknya sudah rewel tak karuan.
Siang itu ketika aku ketiduran di ruang tengah, Teh Mira datang. Seperti biasa tak pernah mengetuk pintu, apalagi mengucap salam. Makanya aku sudah tak kaget lagi ketika mendapati Ia sudah duduk di sebelahku begitu saja. Rupanya aku tanpa sengaja terbangun ketika dua anaknya yang berusia lima dan tiga tahun itu berebutan eskrim yang kemarin dibeli oleh suamiku.
"Ehh ada Teh Mira, " kataku berbasa-basi sambil merapikan rambut yang kusut. Teh Mira terlihat murung dengan kedua mata yang sembab seperti baru menangis. Sementara kedua anaknya masih saja ribut di depan kulkas meski tangan mereka sudah memegang eskrim masing-masing satu. Entah apa yang mereka ributkan.
Aku kesal, sungguh. Namun tak bisa berbuat apa-apa. Apalagi Teh Mira seperti membiarkan keduanya. Puncaknya ketika si Diva nangis karena eskrim yang direbut kakaknya, dengan entengnya Teh mira malah bilang; "gak usah nangis, ngambil lagi di kulkas masih ada kan? Ateu Citra mah belum punya anak, jadi gak perlu eskrim banyak-banyak" sambil terkekeh ke arahku dengan wajah tanpa dosanya. Aku hanya mampu tersenyum canggung dan mengiyakan. Rupanya rasa tak enakan di hatiku ini tak bisa mencegah mereka untuk berbuat semaunya. Belakangan aku sungguh menyesali perkataanku untuk menganggap rumahku ini sebagai rumah mereka sendiri. Hanya kamarku saja yang masih aman, mungkin mereka masih segan dengan suamiku.
"Cit, boleh minta tolong?" Katanya kemudian. Perasaan tak enak langsung saja menjalari hati. Biasanya jika sudah demikian, Teh Mira akan..
"Boleh pinjem duit gak?"
Ya, tebakanku benar.
"A Iwan mah kebiasaan, kalo keluar kota janji seminggu pulangnya dua minggu kemudian. Mana ngasih duit pas-pasan lagi, baru tiga hari juga udah habis lagi. Dipikirnya anak-anaknya ini gak suka jajan apa? Belum lagi listrik, gas, bekel sekolah, A Iwan mana mau tau. Tadi juga ditelepon gak diangkat-angkat. Sekalinya diangkat malah marah-marah. Teteh teh kesel Ciitt..." Ia menggigit bibir bawah dengan mata berkaca-kaca.
Anak Teh Mira semuanya berjumlah lima orang. Yang pertama laki-laki kelas 2 SMA, namun aku baru sekali melihatnya karena ia tinggal bersama neneknya. Yang Kedua dan ketiga perempuan masing-masing kelas 3 SMP dan 5 SD. Sedangkan yang keempat dan kelima adalah yang saat ini bergaduh di rumahku ini. Biasanya si Tita yang nomor tiga akan ikut mengacau, namun kali ini tak terlihat batang hidungnya. Hanya Kiran anak kedua saja yang menurutku cukup sopan dan pendiam, berbeda dengan adik-adiknya ini. Sementara A Iwan suami Teh Mira, bekerja sebagai pedagang alat-alat pertanian yang pasarnya sekitaran Cirebon, Indramayu, Majalengka dan Kuningan.
"Butuh berapa Teh?" tanyaku walau dengan berat hati karena sangat yakin uangku yang kali ini juga akan sulit ia kembalikan seperti yang sudah-sudah. Bahkan hutang yang lalupun belum sepenuhnya terbayarkan.
__ADS_1
"Gak banyak kok, cuma 200 aja sampai A Iwan pulang, " jawabnya dengan mata berbinar.
"Aduh, kalo segitu gak ada Teh, " kataku berbohong "adanya cuma 100, itupun mau saya belikan beras. Gimana kalo 50 aja, mau? Soalnya beras udah mau habis." Sekali lagi aku berbohong, padahal beras kemarin baru beli. Biarlah, mungkin sekali-kali aku harus mulai berani menolak meski aku menganggap diriku ini masih terlalu baik.
Ia terlihat kurang suka dengan penjelasanku. Matanya menyelidik, menilik-nilik aku berbohong atau tidak sebab baru kali ini aku berani menolak permintaannya. Tapi tak urung juga akhinya Teh Mira mengiyakannya.
"Ya udah deh, mana?" Katanya menadahkan tangan. Aku pergi ke kamar dan mengambil pecahan uang 50 ribu dari 700 ribu yang tersisa untuk resiko satu bulan ke depan. Lalu uang itupun dengan cepat segera berpindah tangan.
"Diki, Diki kesini.." teriaknya kemudian. "Cepat belikan mamah rokok setengah, kamu sama si Diva jajan seribu-seribu yah"
Aku terpana. Bisa-bisanya Teh Mira masih memikirkan untuk membeli rokok ketika katanya dia sendiri sedang kekurangan. Sementara anaknya yang protes karena hanya diberikan jatah seribu, segera dibentaknya. "Udah, udah jangan jajan terus, nanti jadi bodoh kamu. Cepat sana, nanti Ateu Citra kasih eskrim lagi. Ya Ateu yah?" Teh Mira meminta persetujuanku yang kubalas dengan berlalu ke kamar mandi tanpa menjawab apa-apa. Diam-diam aku mengusap perut sambil bilang amit-amit, semoga kelak aku dan suami tak akan pernah berlaku demikian terhadap anak-anakku.
Saat sedang menyiapkan makan untuk suamiku yang baru pulang kerja, terdengar keributan yang arahnya dari rumah Teh Mira. Terdengar suara Teh Mira teriak-teriak entah pada siapa. Awalnya aku dan suami memilih berdiam diri karena tak ingin ikut campur dalam urusan pribadi. Sampai akhirnya terdengar seseorang yang mengedor-gedor pintu rumahku dengan keras seraya memanggil-manggil nama suamiku.
"A Doni.. A Doni, itu tolongin dulu Teh Mira.." Suaranya terdengar seperti si Ibu. Suamiku yang baru saja hendak menyuapkan makanan, terpaksa menaruh piringnya lagi lalu bergegas membuka pintu.
"Itu tolong dulu, kasihan Teh Mira" katanya lagi. Tanpa banyak tanya, suamiku bergegas ke rumah Teh Mira diikuti olehku dan si Ibu.
Terlihat banyak orang yang sudah berkerumun di sana. Mungkin penasaran dengan apa yang terjadi. Sebagian lagi berteriak-teriak minta dipanggilkan Pak RT dan Pak RW. Terdengar Teh Mira masih menangis, sementara A Iwan marah-marah dengan bahasa yang sungguh tak sedap didengar.
__ADS_1
"Ti mimiti oge bencana aing ngawin maneh teh siah, dasar awewe goblog teu nyaho diuntung.." lalu terdengar suara kaca yang pecah diiringi dengan orang-orang yang beristigfar. (Dari awal juga bencana saya kawinin kamu. Dasar perempuan ****** gak tau diuntung.!)
Beberapa orang dewasa termasuk suamiku memegangi tangan A Iwan takut terjadi apa-apa pada Teh Mira yang sudah tak berdaya. Sementara keempat anaknya terlihat menangis, memeluk ibu mereka. Tak lama kemudian datang pak RT dan Pak RW bersama satu orang laki-laki dan perempuan setengah baya yang belakangan ku ketahui merupakan kakak tertua A Iwan dan istrinya. Rumahnya beda desa dengan kami, namun masih berada di satu kecamatan.
"Asup siah Iwan, teu gableg kaera siah.." katanya begitu datang. (Masuk kamu Iwan, gak punya malu kamu yah)
Merekapun masuk dan menutup pintu dengan rapat setelah Pak RT menyuruh kerumunan untuk bubar. Kami - termasuk aku dan si Ibu - pun segera membubarkan diri lalu pulang ke rumah dengan pikiran yang berkecamuk di benak masing-masing.
Satu jam kemudian, suamiku pulang. Belum sempat duduk, langsung ku tanyai dia.
"Ada apa sih kang?" Tanyaku kepo.
"Udah ah, gak usah tau urusan orang lain." Jawabnya pendek.
Akupun segera mengerti bahwa Kang Doni tak ingin berbicara lebih jauh. Walau ku paksapun rasanya percuma karena Ia takkan mau membuka mulut. Memang sifat suamiku seperti itu, jika tak terpaksa seperti tadi, Ia takkan pernah mau mencampuri urusan pribadi orang lain. Akhirnya kutelan rasa penasaranku dalam-dalam.
Besoknya baru ku ketahui dari si Ibu bahwa ternyata Teh Mira itu istri kedua A Iwan. Rumah yang sekarang mereka tempati itu dulunya adalah rumah yang ditempati oleh A Iwan dan istri pertama yang akhirnya mengalah dan membeli rumah di tempat lain. Menurut si Ibu juga, Aril, Kiran dan Tita adalah anak Teh Mira dari suami pertama. Anak A Iwan dan Teh Mira hanya Diki dan Diva. Namun yang membuatku lebih kaget adalah, dulunya A Iwan ini penyuplai alat pertanian dalam skala besar yang pangsa pasarnya bahkan sampai ke Jawa Timur dan pulau Bali, bukan sekedar pengecer seperti sekarang. Namun perlahan usahanya mulai bangkrut setelah menikah lagi dengan Teh Mira.
"Tau gak Teh, Kalau A Iwan keluar kota itu ternyata lagi kilir ke istri pertama" kata si ibu lagi.
__ADS_1
Setelah kejadian itu, Teh Mira tak pernah terlihat keluar rumah lagi. Bahkan ke rumahku yang selama ini dianggapnya sebagai rumah kedua sekalipun. Hanya anaknya yang sesekali datang berkunjung untuk sekedar minta makan seperti biasa.