
TAK TAK TAK!
Ketika mendengar suara sepatu hak tinggi yang nyaring, Wilson Hardono pun tahu bahwa kehidupan indahnya akan segera berakhir.
"Mampus! Ini suara langkah kaki Kak Fopi..."
Benar saja. Begitu Wilson mengeluarkan buku Bahasa Inggrisnya dengan terburu-buru, detik berikutnya dia langsung mendengar suara merdu dari kakak tetangganya, Fopi Etenia, yang memanggil: "Wilson ... Kakak langsung bergegas ke sini begitu turun dari pesawat hanya untuk melihat apakah kamu sedang bermalas-malas atau tidak. Kamu sudah hafal kosakata Bahasa Inggris belum?"
"Itu...Kak Fopi, aku sibuk mempelajari mata pelajaran lain dalam beberapa hari ini, jadinya Bahasa Inggris..."
Sambil memegang buku Bahasa Inggris, Wilson berjalan ke pintu dengan enggan. Dia memandangi Fopi, kakak tetangganya, yang bertubuh ramping, berkaki panjang, berpakaian pramugari, dan menarik sebuah koper di halaman.
"Tidak usah banyak alasan! Ayo masuk dengan Kakak ... Aku sudah memberimu waktu selama 2 hari untuk menghafal 100 kata itu. Kalau kamu masih salah sebut lebih dari 10 kata, hati-hati saja, kakak bakal memukuli pantatmu!"
Mata indah Fopi memelototi Wilson untuk menghentikannya beralasan. Lalu, dia menarik koper dan berjalan ke rumahnya sendiri dengan cakap dan tegas.
"Hah? Kak Fopi, aku benar-benar tidak punya bakat dalam Bahasa Inggris..."
Melihat punggung Fopi yang cantik dalam setelan pramugari Indonesia Airlines, Wilson memasang ekspresi muram. Dia menyusuli langkah Fopi dengan enggan, tangan masih memegang buku Bahasa Inggris.
Wilson seharusnya merasa sangat bahagia karena punya kakak tetangga berprofesi pramugari yang bertubuh bagus dan berpenampilan cantik, ini termasuk hal yang membuat iri orang lain. Namun realitanya justru sebaliknya. Sejak Kak Fopi, yang tumbuh besar bersamanya, menjadi pramugari, dia selalu memaksa dan mengawasi Wilson belajar selama dia tidak bekerja, terutama Bahasa Inggris yang tiada bedanya dengan buku surgawi.
__ADS_1
"Sini bukunya, kamu duduk di sana... Seratus kata, tulis semuanya... Salah satu, pukul sekali!"
Wilson baru saja masuk ke kamar Fopi yang penuh dengan aroma harum yang sangat enak dicium. Namun, sebelum menikmati semua ini lebih lama, dia langsung ditarik kembali dari dunia fantasi ke dunia nyata oleh kata-kata Fopi.
“Orang-orang selalu bilang bahwa pramugari itu lembut, anggun, dan sopan. Tapi Kak Fopi, kenapa aku tidak menemukan ciri-ciri itu di tubuhmu?”
Wilson duduk di tempat tidur Fopi, bergumam sambil berpindah ke meja untuk mengambil pena dan kertas.
"Dasar bocah, apa yang kamu bilang? Memangnya aku tidak lembut, anggun, dan sopan?"
Mendengar gumaman Wilson, Fopi langsung mengetuk kepalanya dan berkata, "Cepat tulis! Heh... Kalau kamu tidak bisa menulisnya, jangan salahkan Kakak karena memukulmu nanti! Kata pertama adalah "detail" ......"
"Kak Fopi, aku heran sekali ... kenapa wanita kasar seperti kamu bisa dikejar begitu banyak pria. Mereka bahkan mengikutimu setiap hari, terus memberimu bunga dan hadiah."
"Kelembutan Kakak ... bukan untuk diperlihatkan ke kamu! Jangan menyela, cepat tulis! Kata selanjutnya adalah..."
Melihat ekspresi Wilson yang tertekan dan tak berdaya, Fopi menyunggingkan senyum puas di bibirnya.
"Aduh... Aku benar-benar tidak bisa menulisnya... Bagaimana cara tulis "symbolic" ... Aku juga sama sekali tidak ingat kata "wealthy" ... Kenapa kata-kata Bahasa Inggris begitu sulit untuk diingat... Mampus! Aku mungkin bakal salah sampai 40 ke atas hari ini ... "
Melihat hanya beberapa kata yang tertulis di atas kertas, wajah Wilson tampak cemberut. Dia tahu bahwa pantatnya mungkin akan menderita rasa sakit lagi hari ini. Dia mendongak dan melihat jam di dinding kamar Fopi. Melihat waktu sudah hampir jam enam, dia segera bangkit dan berteriak, "Kak Fopi, sudah jam enam ... aku punya urusan penting, aku harus pulang dulu..."
__ADS_1
"Dasar bocah! Kamu belum tulis semua sudah mau kabur?"
Melihat Wilson hendak mengambil kesempatan untuk melarikan diri, Fopi sama sekali tidak segan-segan. Dia langsung meraih punggungnya, kemudian mengerahkan kekuatan dan mendorongnya hingga terjatuh ke tempat tidur.
"Heh... Aku sudah sebut lebih dari 50 kata, kamu malah cuman tulis 30-an kata, dan setengahnya salah … Sepertinya kamu bermalas-malas dan tidak hafal dalam dua hari ini selama aku tidak di rumah! Kamu memang mau dipukul ya ..."
Fopi yang telah lama mengenal sifat Wilson langsung menekannya di atas tempat tidur, menampar pantatnya sekali demi sekali! Sekarang sama sekali tidak ditemukan keanggunan dan kesopanan seorang pramugari dari tubuhnya!
"Aduh! Kak Fopi, kamu benar-benar pukul? Aku sudah 18 tahun, aku sudah jadi pria dewasa. Jangan memperlakukanku seperti anak kecil lagi, oke?"
Wilson sangat kesal! Meskipun tamparan Fopi tidak begitu sakit, dan sama sekali tidak dapat dibandingkan dengan rasa sakit dari pukulan ibunya yang menggunakan kemoceng, tapi ini melibatkan harga diri seorang pria! Dia sudah berusia 18 tahun. Bagaimana mungkin dia masih mau dipukuli seperti ini oleh seorang wanita?
“Tidak peduli berapa umurmu, kamu akan selalu dianggap anak kecil oleh Kakak! Siapa suruh kamu tidak mau belajar. Om Hardono dan Tante Yenny bekerja keras agar bisa menyekolahkanmu… Kamu malah tidak menghargainya! Bukankah kamu patut dihajar?"
Fopi teringat dirinya yang mempunyai nilai bagus di SMP, tetapi terpaksa harus putus sekolah dan menjadi pramugari hanya karena alasan keuangan keluarga. Sekarang Wilson memiliki kesempatan dan lingkungan belajar yang bagus, tapi malah tidak tahu mensyukuri dan menghargainya. Oleh karena itu, dia sangat emosi. Tangannya terus menampar pantat Wilson tanpa ampun, bahkan tangannya sendiri pun sudah merah dan terasa sakit.
“Bukan…bukannya aku tidak mau belajar, tapi aku benar-benar … tidak bisa! Kak Fopi, aku sudah dewasa, jangan pukul pantatku lagi…”
Setelah dipukul oleh Fopi beberapa kali, Wilson tidak bisa tahan lagi. Dia langsung berbalik dan menekan Fopi di atas tempat tidur, kemudian menampar pantatnya. “Aku juga mau membiarkanmu merasakan rasanya dipukul..."
Ketika suara "PLAK" yang keras dan renyah itu terdengar, waktu di ruangan kamar seolah terhenti.
__ADS_1
Fopi tidak pernah menyangka adiknya, Wilson, yang selalu diganggu dan disayanginya tiba-tiba berubah hari ini. Wilson tidak hanya melawannya, tapi juga menekannya di tempat tidur dan menampar … pantatnya.
Sementara Wilson sendiri juga tertegun. Dia dengan bengong menatap tangannya sendiri dan Fopi yang masih bertiarap di tempat tidur dengan wajah tersipu. Otaknya kosong. Menghadapi situasi seperti ini, dia seketika tidak tahu harus berbuat apa.