
"Kak ... Kak Fopi ..."
Benar saja. Malapetaka sulit dihindari. Wilson baru saja menampar pantat Fopi. Sekarang Fopi telah datang dan menendang pintu kamarnya.
"Dasar bocah, kamu masih tahu bahwa aku adalah kakakmu? Bilang ... kenapa kamu kabur tadi?"
Fopi yang malu dan marah tentu tidak akan langsung mengungkit persoalan tentang Wilson menampar pantatnya. Jadi dia pun sengaja menginterogasi Wilson tentang hal lain dulu.
"Hah? Aku ... Kak Fopi, bukankah tadinya aku tidak sengaja ... menampar pan ..."
Wilson agak heran. Dia berpikir apakah Kak Fopi hilang ingatan? Kak Fopi lupa kalau pantatnya baru saja dipukul? Namun, dia langsung diinterupsi oleh Fopi yang wajahnya sudah memerah.
"Pukul kepalamu! Dasar bocah ... Tadi kamu tidak melakukan apa pun. Kamu jelas melarikan diri secara tiba-tiba pada saat dikte! Heh! Kakak bersusah payah mengawasimu belajar Bahasa Inggris, kamu malah tidak menghargai."
Fopi agak kesal sekarang. Dia datang untuk menginterogasi Wilson kenapa memukul pantatnya, tetapi begitu tiba di kamar Wilson, dia malah tidak bisa mengatakannya? Bagaimana ... dia bisa mengatakannya? Awalnya Fopi masih tidak sadar. Begitu mendengar kata-kata Wilson barusan dan mengamatinya kembali dengan teliti, barulah dia sadar bahwa bocah kecil yang selalu mengikutinya benar-benar telah tumbuh menjadi pria dewasa.
Dipukul oleh seorang anak dan dipukul oleh seorang pria dewasa berusia 18 tahun adalah dua hal yang sangat berbeda!
Karena tidak bisa menghajar Wilson dengan alasan pantatnya yang dipukulnya, Fopi semakin kesal. Dia kebetulan melihat buku Bahasa Inggris di atas meja. Jadi dia pun lanjut menggunakan Bahasa Inggris untuk mempersulit Wilson. Dia mengambil bukunya, membuka halaman daftar kosakata, satu tangan menopang pinggang, lalu berteriak pada Wilson dengan kasar: "Kamu belum tulis semuanya! Keluarkan pena dan kertas. Wilson, kamu tidak akan bisa kabur kali ini! Masih sama seperti tadi. Salah satu, aku akan memukul pan … tidak! Kali ini aku akan mencubit pipimu. Salah satu, cubit pipi sekali! Aku bakal mencubitmu sampai wajahmu terlihat seperti kepala babi!"
"Hah? Tulis lagi? Kak Fopi ... Ampuni aku ... aku benar-benar tidak..."
__ADS_1
Ketika Wilson hendak meminta ampun kepada Fopi, dia tiba-tiba merasa ada beberapa tetesan air membanjiri otaknya. Tetesan air ini adalah air yang keluar dari 24 Mutiara Samudra dan membasahi buku Bahasa Inggrisnya barusan, kemudian disedot kembali olehnya dengan kekuatan supernatural kontrol air.
"Tetesan air ini? Sepertinya ... ada kata-kata yang dibawanya ..."
Otak yang tiba-tiba dibanjiri beberapa tetesan air ini membuat Wilson agak bingung. Tetapi ketika dia memusatkan pikiran untuk fokus melihat tetesan air ini, dia mendapati ada kata-kata yang terbungkus di dalamnya. Terlebih lagi … itu bukan Bahasa Indonesia, melainkan Bahasa Inggris.
“Ini…bukankah ini buku bahasa Inggris yang tadinya aku taruh di atas meja? Apa … tetesan air yang membasahi seluruh buku bahasa Inggris sama dengan menyalin semuanya? Kemudian aku menyerap semua tetesan air itu ..."
Whoosh. Begitu pikiran Wilson bekerja, semua kata-kata dalam Bahasa Indonesia dan Inggris di tetesan air berubah menjadi aliran informasi dan berkumpul dalam ingatannya. Kata-kata dan tata Bahasa Inggris yang tidak bisa dihafalnya dulu seketika menjadi begitu mudah diingatnya sekarang.
"Tata bahasa, kosa kata ... semuanya ... telah menempel dalam ingatannya. Bahkan... daftar isi, catatan kaki ... tidak ada yang tertinggal sama sekali? Semua isi buku! Bukankah ini ... sama dengan roti memori Doraemon?"
"Hah! Ampuni kamu? Bocah brengsek ... Kamu tidak pernah mau belajar, hanya bisa bermalas-malas ... Kakak tidak akan membebaskanmu begitu saja. Sini! Kalau kamu tidak mau tulis, maka aku akan langsung mencubitmu 100 kali!"
Fopi memonyongkan bibir merah muda, menggosok-gosok jari ramping, bersiap-siap untuk melampiaskan emosinya pada Wilson.
Namun, Wilson tersenyum dengan percaya diri, berkata, "Kak Fopi ... Tunggu sebentar! Ayo kita dikte saja! Itu cuman 100 kata. Sebenarnya! Aku belajar dengan sangat giat dalam beberapa hari ini. Aku jamin kalau aku bisa menuliskan semuanya dengan benar, tanpa salah satu huruf pun."
"Benar semuanya, tidak ada yang salah? Heh! Bocah, jangan membual! Kapan kamu pernah benar semua, kamu bahkan selalu salah hingga lebih dari 10 kata. Heh ... Sekarang kamu malah berani omong besar? Kakak tidak mungkin percaya padamu."
Fopi tertegun sejenak. Dia benar-benar tidak menyangka Wilson, yang selalu takut menghafal kata-kata bahasa Inggris dan mendikte, akan berkata dengan segitu percaya diri. Bisa-bisanya dia mengatakan kalau dia bisa menuliskan 100 kata dengan benar tanpa salah satu huruf pun.
__ADS_1
“Kak Fopi, bagaimana kalau aku benar semua?” Wilson tersenyum jahat.
"Kalau kamu benar semua ... artinya kamu hebat!"
"Tidak boleh! Lihat ... Setiap kali dikte, selama aku salah, kamu selalu memukul pantatku atau pun mencubit pipiku. Kalau aku benar semua, tapi malah tidak ada hadiah, bukankah aku sangat rugi!"
Wilson sudah menghafal semua isi buku di otaknya. Tentu saja dia bisa berkata dengan percaya diri.
Tetapi Fopi sama sekali tidak tahu bahwa Wilson baru saja memperoleh kemampuan supranatural yang begitu hebat. Berdasarkan pemahamannya terhadap Wilson selama belasan tahun ini, dia merasa mustahil bahwa Wilson tidak akan membuat satu pun kesalahan. Bukankah tadinya Wilson masih salah banyak?
Jadi ketika dia mendengar Wilson ingin meminta hadiah, dia tidak begitu peduli. Dia memonyongkan bibir merah muda kecilnya, berjanji, "Oke! Wilson, kalau kamu benar semua, Kakak akan memberimu hadiah! Takutnya kamu yang tidak bisa benar semua!"
"Kak Fopi, hehe... kamu harus tepati janji ya!"
Setelah mendengar janji Fopi, Wilson segera mengambil pena dan kertas, kemudian mulai menulis.
"Hei ... Wilson, apa yang kamu lakukan? Aku belum mulai dikte ..." Fopi berteriak dengan heran.
"Tidak perlu! Aku bisa tulis sendiri ..."
Benar saja! Fopi melihat Wilson menuliskan kata-kata Bahasa Inggris beserta artinya dalam Bahasa Indonesia. Dia membandingkannya satu per satu dengan yang ada di dalam buku, mendapati bahwa semuanya benar tanpa salah satu huruf pun. Wilson bahkan menuliskan beberapa terjemahan berbeda dari setiap kata bahasa Inggris, tidak ada satu pun yang tertinggal.
__ADS_1