Tetanggaku, Pramugari

Tetanggaku, Pramugari
Mengejutkan Seluruh Kelas


__ADS_3

Hening!


Sangat hening!


Benar-benar sangat hening!


Ketika Wilson membacakan kalimat pertama, ruang kelas yang semula heboh tiba-tiba menjadi hening. Pandangan semua orang tertuju pada Wilson yang melafalkan artikel dengan percaya diri.


"Tidak mungkin! Wilson benar-benar hafal?"


"Tidak ada ... satu kata pun yang salah. Paragraf pertama sudah selesai ... Mustahil! Artikel ini tidak pernah disuruh hafal ..."


"Apa yang terjadi pada Wilson? Biasanya dia bahkan tidak bisa melafalkan artikel yang disuruh hafal ..."


...


Siswa-siswa yang menunggu untuk melihat lelucon dari Wilson sontak terbelalak. Mereka tidak percaya dengan apa yang telah didengar telinga mereka.


"Ini baru paragraf pertama ... bagian akhir jauh lebih sulit. Wilson mungkin cuman hafal paragraf pertama, masih ada ribuan kata. Aku tidak percaya dia hafal semua."


"Benar! Semua artikel yang diminta hafal tidak sepanjang artikel ini. Mustahil bahwa dia bisa melafalkan seluruh artikel tanpa salah satu kata pun, ini terlalu sulit … Wilson mungkin hanya hafal paragraf pertama … Dia bakal membuat kesalahan di bagian akhir … "

__ADS_1


Masih ada beberapa pria yang bersikeras tidak percaya bahwa Wilson benar-benar hafal semua. Mereka terus meyakinkan diri mereka sendiri bahwa Wilson cuman hafal sedikit.


Namun setelah Wilson melafalkan seluruh artikel yang berjumlah 1.300-an kata dengan lancar, tidak ada lagi yang berani menyangkal ataupun tidak mempercayainya.


"Dia ... benar-benar ... hafal ... semua! Wil ... Wilson, dia ... dia benar-benar hafal seluruh artikel dengan 1.300-an kata ini?"


Sejak Wilson melafalkan paragraf pertama, Pak Tua Kamto  sudah mengambil buku dan memeriksa dengan serius. Dia mengikuti kecepatan Wilson sambil memindai setiap baris.


Wilson betul-betul benar semua tanpa salah satu kata pun. Akibatnya Pak Tua Kamto pun tidak bisa mencari kesalahan darinya. Dia terkaget-kaget hingga tidak bisa berkata-kata.


"Vonny, ini, ini ... Apa aku salah dengar? Wilson benar-benar hafal seluruh artikelnya tanpa salah satu kata pun!"


Felicia tidak pernah menganggap penting Wilson. Sama seperti pria lain, dia juga menunggu untuk melihat Wilson mempermalukan dirinya sendiri di depan kelas. Tetapi sekarang performa Wilson sangat sempurna. Bahkan Pak Tua Kamto yang selalu mencari kesalahan siswa pun terkagum-kagum olehnya.


Melvin, yang bersandar di sudut belakang kelas, terkejut hingga mulut terbuka lebar. Hanya dia yang paling kenal Wilson di kelas ini. Bagaimanapun mereka sudah main bareng sejak kecil. Sampai kelas tiga SMA pun mereka masih duduk sebangku. Dia agaknya pun tahu ada berapa tahi lalat di tubuh Wilson. Tapi hari ini Wilson terus melakukan sesuatu yang tidak terduga olehnya. Hal ini membuatnya merasa tidak mengenal Wilson.


Sebagai peran utama dari keseluruhan drama ini, Wilson yang telah selesai membacakan seluruh artikel tersenyum setelah melihat Pak Tua Kamto terkaget-kaget oleh performanya: "Pak Kamto, saya sudah melafalkan semuanya. Apakah ini … memenuhi persyaratanmu? Apakah saya dan Melvin sudah boleh kembali ke tempat duduk kami?"


"Ah? Tentu ... Tentu saja ... Kalian sudah boleh duduk … duduk!"


Pak Tua Kamto yang selalu tegas benar-benar sama sekali tidak bisa menemukan kesalahan apa pun dari Wilson. Meksi api di hatinya tidak dapat dilampiaskannya pada Wilson sehingga dia merasa sangat jengkel, tetapi dia harus menjaga citra "bertindak bermoral" di hadapan para siswa. Dia tidak boleh ingkar janji. Jadi dia tentu hanya bisa mengizinkan Wilson dan Melvin kembali ke tempat duduk tanpa harus dihukum.

__ADS_1


"Kalau begitu, terima kasih Pak Kamto!"


Setelah mendapat izin dari Pak Tua Kamto, dengan dipandangi seluruh kelas dengan tatapan kompleks dan iri, Wilson berjalan ke tempat duduknya di barisan terakhir.


Melvin juga kembali ke kursinya. Begitu duduk, dia langsung mengacungkan jempol kepada Wilson: "Kamu sangat keren hari ini ... Kamu ... sungguh ... terampil dalam segala hal! Tadi kamu mengalahkan para preman, sekarang kamu melafalkan seluruh artikel. Kedepannya kamu adalah idolaku!"


"Sudah, gendut. Aku cuman kebetulan hafal artikel ini ... Aku terlalu beruntung!"


Wilson berkata dengan santai. Dia tentu tidak akan mengekspos kemampuannya di depan si gendut Melvin, jadi dia hanya bisa mengatakan bahwa dia kebetulan hafal artikel ini.


"Meski begitu, kamu tetap idolaku. Selain itu … Kamu baru saja memeluk Vonny! Bagaimana? Bagaimana rasanya? Cepat kasih tahu aku ... Tubuhnya lembut tidak? Wangi tidak? Memuaskan tidak?"


Melvin tertawa aneh, terus bertanya kepada Wilson, "Ketika kamu peluk dia, dia sepertinya tidak menolak? Hehe …  ini pasti karena kamu baru menyelamatkannya tadi pagi, jangan-jangan … dia jatuh cinta padamu?"


"Apa-apaan! Gendut, asal omong saja. Dia itu dewi impian para pria di sekolah. Dalam tiga tahun terakhir, berapa banyak pria hebat yang ditolaknya? Bagaimana mungkin dia akan jatuh cinta padaku hanya karena masalah sepele tadi pagi? Aku sadar diri, jadi aku tidak akan berkhayal seperti kamu ..."


Meskipun Wilson merasa puas saat memeluk Vonny, tapi dia tidak pernah berpikir bahwa Vonny yang disukai banyak pria akan jatuh cinta pada dirinya. Dia memang telah memperoleh kemampuan supernatural, tapi dia juga tidak sesombong itu hingga berpikir dia bisa melakukan apa saja.


Saat ini, Vonny memang tidak jatuh cinta pada Wilson. Dengan kata lain, sebelum hari ini, Vonny bahkan tidak tahu adanya keberadaan seseorang bernama Wilson di kelas. Dia cuman kenal orang-orang yang bernilai bagus dan selalu aktif di kelas. Mengenai Wilson yang merupakan siswa buruk, dia tidak pernah menaruh perhatian.


Tapi, hari ini Wilson menyelamatkannya. Hal ini membuat dia berhasil masuk ke hatinya tanpa disadarinya sendiri, meninggalkan kesan baik dan dalam di hatinya. Kemudian di saat menghadapi Pak Tua Kamto yang tegas, Wilson bisa mengatasinya dengan santai, melafalkan seluruh artikel dengan percaya diri. Serangkaian hal ini membuat Vonny merasa bersalah, juga membuatnya merasa unik.

__ADS_1


"Wilson terlambat karena aku, dan ... dia menyelamatkanku pagi ini, sekarang aku... setidaknya harus mengucapkan terima kasih padanya, bukan?"


Drama keterlambatan Wilson sudah berakhir, Pak Tua Kamto melanjutkan kelas Bahasa Indonesia yang membosankan dengan wajah datar. Tetapi Vonny masih belum bisa fokus mendengarkan kelas. Hatinya sangat kacau. Bagaimana caranya untuk mengutarakan rasa terima kasihnya kepada Wilson?


__ADS_2