Tetanggaku, Pramugari

Tetanggaku, Pramugari
Terima Kekalahan


__ADS_3

"Ini...Wilson, tadi kamu ... tadi kamu cuman bisa menuliskan 30-an kata … Kenapa sekarang kamu tiba-tiba bisa … tulis semuanya? Kamu bahkan tidak perlu … didiktekan?"


Fopi sangat kaget. Wilson menulis 100 kata Bahasa Inggris tanpa henti dan tanpa bersuara. Terlebih lagi, tingkat kebenarannya mencapai 100%. Tidak ada satu huruf pun yang salah.


"Bagaimana? Kak Fopi, aku sudah bilang kalau aku bakal benar semua."


PLAK. Wilson meletakkan pena. Melihat ekspresi Fopi yang kaget, dia sangat senang. Sejak kecil, terutama dalam 3 tahun ini di mana dia selalu mendapat nilai terburuk di SMA, dia selalu dipaksa belajar oleh Fopi. Hari ini dia akhirnya mencapai titik balik dalam hidupnya


"Wilson! Ada apa denganmu? Kamu tiba-tiba jadi pintar? Kenapa... kamu tiba-tiba jadi begitu hebat sampai bisa hafal semuanya?"


Ketika Fopi melihat lembar jawaban Wilson yang sempurna, dia terkejut hingga lupa untuk melampiaskan emosi. Harus diketahui bahwa nilai Wilson masih sangat bagus di saat SMP. Kalau tidak dia tidak akan bisa masuk SMA Eminen. Namun sejak memasuki SMA, nilainya merosot drastis. Sampai-sampai dia sudah jadi salah satu dari siswa urutan terakhir di kelas.


Demi prestasi akademik Wilson, ayah dan ibunya sering khawatir dan marah. Bahkan Fopi yang merupakan kakak tetangganya pun tidak bisa tahan lagi. Itulah mengapa dia selalu memaksa Wilson belajar. Namun, usahanya tidak pernah menampakkan hasil dalam tiga tahun ini. Nilai Wilson semakin memburuk.


Ujian Nasional sudah mendekat, tinggal satu bulanan saja. Berdasarkan prestasi Wilson, dia paling-paling hanya akan diterima di universitas jelek. Awalnya Fopi sudah mau menyerah, tidak mau mengawasi Wilson untuk belajar lagi. Dia berencana memanfaatkan jaringannya agar Wilson bisa mengikuti tes pilot setelah Ujian Nasional nanti.


Tapi hari ini Wilson memberinya kejutan besar. Lebih dari seratus kata Bahasa Inggris, Wilson menuliskan semuanya tanpa salah sehuruf pun.


"Kak Fopi, hehe.. 100 kata ini sudah aku tulis semuanya dengan benar. Bagaimana dengan hadiahku?"


Wilson memandangi tubuh ramping Fopi yang memakai seragam pramugari. Tempat yang seharusnya berisi, penuh isi. Tempat yang seharusnya montok, montok juga. Ini pertama kalinya dia menyadari bahwa "kakak kasar", "wanita tomboi", "setan wanita" yang dikenalnya sejak kecil ternyata adalah wanita yang begitu cantik dan menawan.

__ADS_1


"Hah? Hadiah ... hadiah apa?"


Fopi tertegun sejenak sebelum teringat akan janjinya. Kemudian dia langsung tersipu, "Wilson, apa kamu ... kamu benar-benar tega memukul...memukul pantat...Kakak?"


"Itu ... Kak Fopi, bagaimana boleh kamu mengingkari janjimu sendiri? Tadi kamu menyetujuinya dengan lugas!"


Seragam pramugari sangat ketat, sehingga postur tubuh Fopi yang anggun terlihat semakin jelas. Sambil berkata, Wilson memandangi Fopi yang tampak kasihan. Dia merasa sepertinya kakaknya ini tidak seseram yang dipikirkannya.


Mulai saat ini, citra Fopi di hati Wilson sebagai “setan wanita” perlahan memudar. Apa yang menggantikannya adalah citra pramugari yang anggun, cantik, dan menawan.


Setelah menelan ludah, Wilson mengingat kembali tindakannya yang memukul pantat Fopi ketika mereka masih berada di kamar Fopi tadi. Sentuhan itu begitu empuk dan sungguh mengesankan! Dia berpikir betapa baiknya jika dia bisa memukulnya sekali lagi!


Sama seperti Wilson, Fopi juga teringat tindakan Wilson yang menampar pantatnya. Dia langsung memelototi Wilson, berkata dengan cemberut.


"Tunggu tunggu ... Kak Fopi, bukan aku yang mau bully kamu. Jelas-jelas kamu yang janji sendiri. Aku tidak memaksamu."


Kenyataan memang seperti itu, sehingga Wilson pun menjawab dengan penuh percaya diri.


"Tetapi aku..."


Alasan Fopi berjanji pada Wilson adalah karena dia benar-benar tidak menyangka Wilson bisa menuliskan 100-an kata itu dengan benar. Tetapi sekarang dia menyesal. Dia ingin menyangkal, namun kenyataan terpapar jelas di depan.

__ADS_1


"Hais! Lupakan ... Lupakan! Kak Fopi, kalau kamu memang mau ingkar janji, terserah ... Padahal aku begadang bermalam-malam hanya untuk hafal 100-an kata itu, siapa tahu ... Kak Fopi yang selalu aku hormati dan kagumi ternyata adalah orang seperti ini ..."


Wilson menahan tawa, menggelengkan kepala, berpura-pura acuh tak acuh.


Benar saja. Metode agitasinya benar-benar sangat efektif. Fopi yang keras kepala memang tidak tahan diagitasi orang. Apalagi kali ini dia memang sudah janji di awal. Jadi begitu mendengar kata-kata Wilson, Fopi langsung berdiri tegak, berwajah cemberut, lalu berkata: "Aku bukan orang yang suka ingkar janji! Aku terima kekalahanku. Cuman pukul pantat doang, tidak ada yang perlu ditakuti. Pukullah ..."


Sambil berkata, Fopi menyerahkan pantatnya yang bulat kepada Wilson.


"Lagian tadi dia sudah pukul sekali, pukul sekali lagi tidak ada bedanya, bukan? Heh … dasar bocah ini. Hari ini dia bisa hafal 100-an kata dengan benar. Tidak ada salahnya memberinya hadiah, bukan?"


Fopi yang menyerahkan pantat mencoba mencerahkan dirinya sendiri di dalam hati. Wilson sepenuhnya tercengang. Tadi dia cuman sekadar omong saja, siapa tahu Fopi benar-benar mengizinkan dia untuk memukul pantatnya.


Sekarang Fopi sudah menepati janji dan menyerahkan pantatnya di hadapan Wilson. Jadi Wilson yang malah merasa terpojok. Dia perlahan mengangkat tangan, tapi dia ragu … mau pukul atau tidak?


Berbeda dengan yang sebelumnya di kamar Fopi. Tadi itu memang tindakan yang sedikit berlebihan karena terpaksa melawan, alhasil dia menekan Fopi di tempat tidur dan memukul pantatnya. Saat itu dia juga terkejut. Setelah pukul pun dia merasa bersalah dan pikiran pertamanya adalah melarikan diri dari TKP.


Berbeda dengan sekarang. Sekarang Fopi menerima kekalahan dan menyerahkan pantatnya sendiri. Wilson menggosok telapak tangannya sampai terasa panas, memikirkan sentuhan tadi, dia menelan ludah, menegaskan: "Kak Fopi, kamu yang bersedia dipukuli aku, kalau begitu aku tidak akan sungkan lagi ya ..."


Wilson mengangkat tangan, jantung berdegup kencang. Namun di saat dia hendak melambaikan tangannya, pintu kamar tiba-tiba terbuka dari luar. Ibunya, Yenny Tanady, yang baru pulang kerja dan sekalian membeli sayuran berteriak ke arah kamar, "Aku sudah pulang. Hari aku aku membelikanmu otak babi, makan otak babi biar otakmu ..."


Tengah berbicara, Bu Yenny tercengang. Dia menatap kosong ke pemandangan aneh di kamar tidur. Fopi mengarahkan pantatnya ke Wilson!

__ADS_1


__ADS_2