Tetanggaku, Pramugari

Tetanggaku, Pramugari
Belajar Mati-matian


__ADS_3

"Wilson, kalau kamu mau pukul, cepat. Kalau tidak … hehe … tidak akan ada kesempatan seperti ini lagi ..."


Fopi yang mengangkat pantatnya tinggi-tinggi disela oleh ibunya Wilson yang tiba-tiba masuk. Melihat ekspresi bengong ibunya Wilson dan dirinya sendiri yang sedang mengangkat pantat, dia sontak tersipu. Dia merasa sangat malu.


"Ah... Tante Yenny, kenapa... kenapa kamu masuk?"


"Fopi, apa ... apa yang kamu lakukan … bersama Wilson?"


Ibunya Wilson jelas terbengong. Dalam kesannya, Fopi dan Wilson memang adalah pasangan yang tumbuh besar sejak kecil. Hubungan mereka hanya kakak dan adik, selalu begitu. Fopi sering keluar masuk rumah mereka, dianggap seperti rumahnya sendiri. Dia juga sering datang ke kamar Wilson. Tapi sekarang Fopi mengenakan seragam pramugari ketat, menampakkan postur tubuh yang seksi, dan mengarahkan pantat bulatnya ke Wilson. Pemandangan ini tentu membuat ibunya Wilson berimajinasi ke mana-mana.


"Bu ... kami tidak ... tidak melakukan apa-apa, itu ... Kak Fopi kalah taruhan denganku, jadi ... jadi aku mau pukul pantatnya ..."


Melihat ibunya masuk secara tiba-tiba dan tampak salah paham terhadap mereka, Wilson buru-buru menjelaskan.


Tapi setelah Wilson menjelaskan ini, terutama ketika mendengar kata "pukul pantat", Fopi semakin tersipu. Dia nyaris meneteskan air mata, terutama ketika melihat tatapan ibunya Wilson. Dia tidak bisa tinggal lebih lama lagi di sini.


"Tante Yenny, aku ... aku pulang dulu ..."


Setelah melontarkan beberapa patah kata, Fopi langsung melarikan diri. Bahkan setelah dia keluar dari rumah Keluarga Hardono, wajahnya masih panas. Dia kembali ke kamar tidurnya, duduk di ranjang dan menggigit bibir merah mudanya dengan lembut, mengeluh: "Wilson, dasar bocah brengsek ... kamu mempermalukanku di depan Tante Yenny ..."

__ADS_1


Tapi ketika dia mengingat pantatnya tidak sengaja ditampar oleh Wilson, hatinya berbunga-bunga lagi. Sejak kecil, tidak pernah ada pria yang memperlakukan dirinya seperti ini...


Pada saat ini, di kamar Wilson. Fopi bisa pergi begitu saja untuk menghindari tatapan tajam Yenny. Wilson yang harus menanggung konsekuensinya. Semua bubuk mesiu Yenny dilemparkan ke tubuhnya.


"Bocah! Aku minta Fopi untuk membantumu belajar bahasa Inggris ... kamu malah menggertaknya ... Pantatmu sudah mulai gatal lagi? Tidak mau belajar dan malah buat yang aneh-aneh ..."


Tiada Fopi di sini, Yenny pun tidak perlu peduli apa pun lagi. Dia maju dan menjewer telinga Wilson sambil memarahinya.


"Hei... Bu! Aku sudah tahu... Aku tidak buat yang aneh-anehl Aku ... Aku cuman bercanda dengan Kak Fopi. Kita cuman bertaruh. Aku akan belajar dengan giat..." Wilson buru-buru meminta ampun.


"Heh! Satu bulanan lagi sudah Ujian Nasional dan beberapa hari lagi sudah ujian percobaan terakhir. Wilson, kalau nilaimu masih berada di urutan terakhir, bagaimana mungkin kamu bisa kuliah! Hei ... Kenapa kamu tidak bisa berpikiran lebih dewasa? Apa kamu tahu seberapa khawatirnya Ibu dan Ayahmu ketika memikirkan urusan Ujian Nasional dan kuliahmu?"


"Bu! Maaf, aku sudah tahu salah ... Jangan khawatir, aku akan belajar dengan giat, berusaha untuk mendapatkan nilai bagus dalam Ujian Nasional. Aku akan masuk universitas bagus untuk membanggakan kamu dan ayah!"


Jaminan seperti itu telah diucapkan berkali-kali oleh Wilson dalam tiga tahun terakhir. Namun, ini pertama kalinya dia mengucapkannya dengan begitu percaya diri. Karena dia baru saja menelan 24 butir Mutiara Samudra yang memberinya kemampuan mengendalikan air. Kemampuan ini bisa membantunya menghafal semua isi buku dengan cepat. Dengan kemampuan ini, apa masih sulit untuk mendapatkan nilai bagus?


"Hais! Lupakan... aku tidak berharap apa pun lagi padamu ... aku beli otak babi hari ini. Aku rebus dulu, nanti kamu makan untuk menutrisi otakmu..."


Menghadapi jaminan Wilson, Yenny sama sekali tidak menganggapnya serius. Dia berjalan menuju dapur sambil melambaikan tangan.

__ADS_1


"Bu... aku serius. Aku pasti akan mendapatkan nilai bagus dalam Ujian Nasional ..."


Wilson agak tidak berdaya saat ini. Karena citra dirinya yang buruk pada masa lalu, sehingga bahkan ibunya pun tidak mempercayai kata-katanya lagi. Melihat sosok ibunya yang sibuk memasak makan malam di dapur, Wilson memutuskan bahwa dia harus bekerja keras untuk mendapatkan nilai bagus dalam ujian percobaan kali ini. Dengan demikian, dia akan bisa mendapatkan kembali kepercayaan dari Ayah, Ibu, dan Kak Fopi.


Setelah makan malam, Wilson duduk di depan meja belajar dan mulai menjelajahi tentang 24 Mutiara Samudra yang ada di dalam tubuhnya. Dia mendapati bahwa di antara 24 Mutiara Samudra, ada catatan tentang metode pengendalian air, yakni "Teknik Aliran Air Dunia".


Dengan menguasai "Teknik Aliran Air Dunia" ini, nantinya dia akan dapat mengontrol cairan apa pun.


Di dalam 24 Mutiara Samudra mengandung banyak catatan. Wilson tidak berani menyerapnya sekaligus. Dia yang cuman mempelajari sebagian kecil dari catatan itu saja sudah merasa kepala mau meledak. Namun, setelah dipelajari beberapa jam, dia akhirnya sedikit paham.


"Haha! Dengan adanya 24 Mutiara Samudra dan "Teknik Aliran Air Dunia", tidak usah jauh-jauh dulu ... Kemampuan tetesan air yang bisa menyalin dan menyerap isi buku saja sudah bisa memberiku kemampuan untuk mengingat semua hal!"


Wilson dengan tidak sabar memuntahkan 24 Mutiara Samudra, kemudian mengeluarkan aliran air darinya dan membasahi hampir semua buku dan materi les, menyalin semua isi, lalu menyerapnya ke dalam otak.


Bahasa Indonesia, Matematika, Bahasa Inggris, Kimia, Fisika, Biologi...


Semua buku cetak, buku latihan, dan materi les. Semua ini diserap ke otak Wilson tanpa melewatkan satu halaman pun. Kemudian Wilson mulai duduk melamun di meja. Dia gila-gilaan mencerna semua ilmu dari buku teks yang ada di otaknya sekarang.


Ilmu dan topik yang dulu membuatnya sangat pusing seketika telah diingat semua olehnya dengan mudah. Sekarang dia hanya perlu memahami dan menguasainya.

__ADS_1


Wilson tidak tahu kapan dia tertidur. Pokoknya seluruh kepalanya seolah membengkak. Banyak ilmu dan rumus yang tak terhitung jumlahnya berputar-putar di benaknya. Dia benar-benar tidak pernah belajar dengan segiat ini…


__ADS_2