Tetanggaku, Pramugari

Tetanggaku, Pramugari
Surat Cinta


__ADS_3

Tulisan Melvin sejelek nilainya, tapi itu tidak menghambat keahlian yang dipelajarinya dari menonton sekian banyak drama dan novel roman!


Akhirnya ada kesempatan untuk menyatakan perasaan kepada Vonny, meskipun ini bukan untuk dirinya sendiri tapi untuk sahabatnya Wilson, Melvin tetap mengerahkan seluruh kekuatannya. Semua kata-kata romantis yang menyentuh hati yang selalu digunakan para pemeran utama pria untuk menyatakan perasaan kepada pemeran utama wanita dalam drama idola dan novel romantis seketika muncul semua dalam benaknya.


Pada saat ini Melvin seolah mendapat bantuan dewa. Dia seketika menjadi ahli cinta yang bisa membuat banyak gadis jatuh cinta dalam sekejap mata. Dia menggerak-gerakkan pena, menuliskan kata-kata pengakuan yang menyentuh hati di bawah ucapan terima kasih dari Vonny.


"Czczcz ... Aku benar-benar sudah melakukan yang terbaik untuk membalas budimu. Untuk menulis kata-kata ini, aku telah menguras semua bakat sastra dalam hidupku ..."


Melvin membuka kertasnya lagi untuk mengagumi karya tulisnya sendiri, kemudian membubuhi nama Wilson di bawahnya, lalu pun menyerahkannya ke meja depan untuk dikirim ke Vonny.


"Aku hanya bisa membantumu sampai di sini ... Ratusan juta sel otakku terkuras hanya untuk meraih kesempatan ini. Selanjutnya bergantung pada nasibmu sendiri ..."


Sekilas melihat Wilson yang sedang beristirahat dengan mata tertutup, si gendut Melvin kemudian menjulurkan lehernya untuk melihat bagaimana reaksi Vonny ketika membaca surat cinta ini.


"Tuan Alfiandi ... surat ... dari Wilson untuk Vonny ... Tampaknya Wilson benar-benar tidak tahu diri, beraninya dia menggoda Vonny ..."


Jonathan, yang mengawasi dengan ketat, lagi-lagi mengadu domba. Alfiandi mengepalkan tinjunya dengan penuh emosi, lalu membanting meja: "Beraninya dia menggoda wanita yang aku sukai, tampaknya si Wilson ini benar-benar sudah bosan hidup!"


Vonny yang melamun tiba-tiba menerima surat yang disodorkan Felicia: "Vonny, untukmu ... Sepertinya ini balasan dari Wilson..."

__ADS_1


"Hah? Wilson benar-benar membalas suratku ..."


Vonny segera mengambil suratnya, jantung mulai berdebar kencang. Dia menggigit bibir, menebak apa yang akan ditulis Wilson untuknya. Meskipun ada banyak pria yang menulis surat cinta untuknya selama tiga tahun ini, tapi dia tidak pernah baca sekali pun. Tong sampah adalah tempat tinggal dari semua surat cinta itu.


Dia perlahan membuka suratnya. Melihat kata-kata yang romantis dan menggelikan di dalamnya, detak jantung semakin kencang dan nafasnya semakin kacau, pipinya memerah, dan dia bahkan ... agak tidak berani membaca kata-kata yang membuatnya merasa malu ini.


"Wilson ... dia benar-benar menyukaiku? Dia ... dia bahkan menyatakan cintanya padaku dengan begitu ... tapi ..."


Melihat surat cinta yang menggelikan hati, Vonny merasa sedikit tidak nyaman. Pacaran di usia dini selalu menjadi hal yang tabu baginya. Dia juga tidak mengizinkan dirinya terjebak dalam hal seperti itu. Jadi dia selalu menjaga diri dengan baik agar tidak memiliki hubungan atau skandal apapun dengan pria.


Tapi setelah membaca surat cinta ini, hatinya mulai dilema dan bingung. Dia dan Wilson tidak pernah berinteraksi dalam tiga tahun ini. Walau Wilson baru menyelamatkannya pagi tadi, Vonny juga cuman sekadar memiliki kesan baik terhadapnya, tidak sampai menyukainya, apalagi jatuh cinta.


Kalau ini surat dari pria lain, dia akan merespons seperti biasanya, yaitu buang suratnya ke tong sampah dan menganggap tidak terjadi apa-apa. Tapi, Wilson baru saja menyelamatkannya tadi pagi. Dia merasa jika dia menolak secara langsung, itu tampaknya agak tidak simpatik.


"Aduh! Apa yang harus aku lakukan..."


Vonny mengernyit, sangat bingung.


"Vonny, ada apa? Apa yang ditulis Wilson? Jangan-jangan ... dia tulis bahasa kotor? Coba aku lihat..."

__ADS_1


Sambil berkata, Felicia langsung mengambil surat yang tergeletak di meja. Dia membaca setiap kata dari awal sampai akhir, merinding, "Vonny ... Wilson menyatakan perasaannya padamu? Geli sekali kata-katanya ... Aku tidak menyangka dia orang seperti ini … haha … lihat ini, sekolah ini telah dimilikimu … ini terlalu lucu … lucu sekali ..."


"Felicia, jangan tertawa. Cepat bantu aku pikir ... aku harus balas apa. Kalau aku berpura-pura tidak terjadi apa-apa, itu kelihatan tidak sopan, bukan? Bagaimanapun dia baru menyelamatkanku pagi tadi. Tapi kalau aku langsung menolaknya … dia pasti akan terluka …”


Vonny tampak cemberut. Dia telah menerima banyak surat cinta yang tak terhitung jumlahnya. Ini pertama kalinya dia bingung tentang bagaimana menolak orang lain dengan sopan.


RING RING RING!


Pada saat ini pula, bel berbunyi. Pak Tua Kamto dengan muram mengumumkan kelas sudah selesai, kemudian keluar dengan membawa buku-bukunya. Melihat Vonny membingungkan masalah surat, Felicia menggelengkan kepala dan berkata, "Vonny, apa yang kamu bingungkan? Dia kira dia bisa mendapatkanmu hanya karena dia baru menyelamatkan kita pagi tadi? Dia benar-benar tidak tahu diri. Kalau kamu merasa tidak enak untuk menolaknya … maka aku pun yang akan menyadarkan dirinya … supaya siswa-siswa buruk seperti dia tidak terus berkhayal sepanjang hari!"


Usai itu, Felicia mengambil surat cinta, berdiri dari tempat duduk, lalu berjalan ke posisi Wilson di baris terakhir. Di bawah perhatian semua orang di kelas, dia langsung melemparkan surat itu ke muka Wilson, kemudian berkata dengan lantang: "Wilson! Siswa buruk seperti kamu juga mau kejar Vonny? Jangan mimpi deh ... Vonny berbaik hati jadi dia merasa tidak enak untuk menolakmu secara langsung ... Tapi, aku tidak mungkin bisa tahan. Kata-kata pengakuanmu terlalu geli dan jijik … Sekarang biar aku kasih tahu kamu secara langsung ... Vonny tidak akan pernah menyukai siswa buruk seperti kamu. Kamu menyerah saja!"


PLAK!


Wilson, yang fokus mencerna dan memahami materi di otak, tiba-tiba dimaki oleh Felicia tanpa tahu apa yang sedang terjadi.


"Ini ... Felicia, apa yang terjadi?"


Wilson memandang Felicia dengan sangat bingung, sementara semua siswa sudah melihat kemari karena suara keras Felicia. Mereka menoleh dan menatap sudut kelas yang jarang diperhatikan, pandangan tertuju pada Wilson yang keberadaannya selalu diabaikan.

__ADS_1


__ADS_2