Tetanggaku, Pramugari

Tetanggaku, Pramugari
Saya Bisa Melafalkan Seluruh Artikelnya


__ADS_3

"Vonny, aku kira Pak Tua Kamto benar-benar mau memaafkan Wilson dan Melvin ... Ternyata ... Dia hanya menggunakan cara lain untuk mempersulit mereka!"


Felicia, teman sebangku Vonny, bergumam sambil menggelengkan kepalanya dan berkata, "Melafalkan satu paragraf di artikel ini. Jangankan Wilson dan Melvin yang selalu bernilai jelek, bahkan kamu, Vonny, kamu juga tidak bisa … bukan?"


"Ah? Aku... artikel ini tidak pernah disuruh hafal, aku ... tentu saja aku tidak hafal!"


Vonny tertegun. Alisnya berkerut lebih erat. Dia merasa tidak adil bagi Wilson, "Bukankah Pak Kamto sengaja mempersulit Wilson?"


"Memang! Vonny, Pak Tua Kamto ingin membangun citra sebagai orang yang bermoral. Kali ini dia cuman kebetulan menjadikan Wilson dan Melvin sebagai target. Aku hanya bisa mengatakan bahwa mereka terlalu sial!"


Dibandingkan dengan Vonny, Felicia sama sekali tidak peduli dengan Wilson. Sebaliknya dia sangat ingin menyaksikan drama seru ini. Dia harap Wilson tidak bisa melafalkan satu kata pun, dipermalukan di depan kelas, lalu dihukum berdiri.


Gadis-gadis lain menggelengkan kepala. Tak perlu dipikirkan lagi, Wilson dan Melvin pasti tidak bisa melafalkannya. Sedangkan para pria sangat senang. Mereka menunggu Wilson merespons dengan gugup, kemudian menertawakannya.


"Tuan Alfiandi ... bahkan Pak Tua Kamto pun tidak menyukai si sampah ini dan sengaja menggunakan artikel untuk mempersulitnya. Kali ini dia pasti akan dipermalukan di depan Vonny. Nantinya Vonny pasti tidak akan menyukainya lagi ... Pada saat itu, Tuan Alfiandi pun punya kesempatan lagi ... Berdasarkan nilai dan bakat Tuan Alfiandi … Jika Vonny tidak menyukaimu, maka sepertinya tidak ada orang lain lagi di sekolah ini yang bisa menarik perhatiannya ..."


Jonathan menyanjung-nyanjung Alfiandi. Dan Alfiandi sangat tergerak. Dia menyipitkan mata untuk melihat Vonny di barisan depan. Dia sudah memutuskan, sebelum Ujian Nasional, dia harus mendapatkan Vonny yang telah diinginkannya sejak tiga tahun lalu.


Pada saat ini, di luar pintu kelas. Tadi Melvin sangat senang ketika mendengar Pak Tua Kamto bermaksud memaafkan mereka. Tapi, dalam sekejap mata, dia mendengar Pak Tua Kamto meminta mereka membacakan artikel. Wajahnya seketika memuram. Dia segera memohon kepada Pak Tua Kamto dengan ekspresi masam: "Pak Kamto, ini ... ini tidak pernah disuruh hafal, bukan? Bagaimana mungkin kami bisa ..."


"Heh! Justru karena artikel ini tidak pernah diminta hafal, makanya saya suruh kalian melafalkannya. Kalau ini artikel yang diminta hafal … semua orang di kelas juga bisa, bukankah itu terlalu menguntungkan kalian? Saya akan tepat janji. Selama kalian bisa melafalkan salah satu paragraf di dalamnya, maka saya pun tidak akan mempermasalahkan keterlambatan kalian hari ini!"

__ADS_1


Melihat ekspresi masam Melvin, wajah Pak Tua Kamto menunjukkan ekspresi puas, seolah menyiratkan maksud "Aku sudah memberi kalian kesempatan".


Sebenarnya Pak Tua Kamto terlalu meninggi-ninggikan kemampuan Si gendut Melvin. Bahkan jika ini artikel yang pernah diminta hafal, agaknya Si gendut Melvin pun tidak mampu menghafalnya.


"Mampus sudah ... Aku cuman hafal judul artikel ini. Aku sebaiknya berdiri saja ..."


Setelah menghela nafas, Melvin berkata dengan pasrah kepada Pak Tua Kamto, "Pak Kamto, saya tidak hafal ... Saya berdiri saja ..."


Usai itu, Si gendut Melvin langsung berjalan ke belakang kelas dan berdiri dengan menempel di dinding.


"Wilson, teman sebangkumu sudah menyerah. Bagaimana denganmu... Jangan bilang saya tidak memberimu kesempatan. Kalau kamu tidak bisa, maka ikut temanmu berdiri saja! Jangan buang waktu saya dan teman-temanmu ..."


Baginya Wilson dan Melvin tidak jauh beda. Setiap kali ujian, nilai mereka selalu pas-pasan dan berada di urutan terakhir. Jadi Wilson pasti tidak bisa juga.


Namun, Wilson malah tersenyum. Dia menunjuk ke Melvin yang berdiri di belakang, lalu berkata kepada Pak Tua Kamto: "Pak Kamto, Melvin tidak hafal, saya hafal. Bagaimana kalau saya melafalkan seluruh artikelnya, lalu bapak cabut hukuman berdiri untuk saya dan Melvin?"


Di kelas, terutama dalam mata pelajaran ini, Wilson tidak pernah begitu percaya diri. Dulu setiap ada pemeriksaan tugas ataupun ada pertanyaan dari guru, dia selalu bersembunyi sejauh yang dia bisa. Tapi, hari ini dia malah berani bertatapan dengan Pak Tua Kamto dengan penuh percaya diri. Dia bahkan menjawab dengan sambil tersenyum.


"Apa? Seluruh artikel? Kamu … kamu benar-benar hafal?"


Pak Tua Kamto mengira Wilson akan menyerah dan rela dihukum. Kini dia dibuat tersedak oleh kata-kata Wilson. Dia menatap Wilson dengan tatapan curiga, lalu berkata dengan tidak percaya, "Oke! Kalau kamu bisa melafalkan seluruh artikelnya, Melvin juga tidak akan dihukum..."

__ADS_1


Bukan hanya Pak Tua Kamto yang tercengang dengan kata-kata Wilson, tetapi para siswa kelas tiga 02 di bawah juga seolah tersambar petir. Wilson mengaku bisa melafalkan seluruh artikel? Artikel ini tidak pernah disuruh hafal, agaknya bahkan Vonny pun tidak hafal, Wilson malah berani membual tentang ini?


"Vonny, dengar... Wilson benar-benar cuman bisa omong besar. Artikel ini ada belasan paragraf, ribuan kata ... Kata-katanya juga sangat mendalam. Ini tidak pernah disuruh hafal, si Wilson malah mengaku dirinya hafal seluruh artikel. Aku tidak percaya!"


Setelah mendengar bualan Wilson, Felicia menjadi semakin tidak menyukainya. Sementara Vonny mengernyit, tidak berbicara. Sama seperti Felicia, dia juga merasa Wilson sedang membual.


"Haha! Tuan Alfiandi, apa kamu dengar? Si sampah itu membual bahwa dia bisa membaca seluruh artikel ini. Buat malu diri sendiri saja ..."


Jonathan, teman sebangku Alfiandi, tertawa hingga lepas kendali. Dia menunggu untuk melihat Wilson membuat malu dirinya sendiri di depan kelas dan guru.


"Dia seperti badut. Dia merasa dia akhirnya bisa diperhatikan oleh teman sekelas ...terutama Vonny, jadi dia mau pamer... Sayang sekali! Berdasarkan kemampuannya, walau dia tahu lebih awal bahwa Pak Tua Kamto akan mempersulitnya dengan cara ini, dia juga tidak mungkin bisa hafal ..."


Sambil mencibir, Alfiandi menatap Wilson dengan hina. Dia juga menunggu untuk melihat kemalangan Wilson.


Pria lain juga berpikiran serupa. Mereka tidak sabar melihat drama seru dari Wilson.


Di sisi lain, Melvin, yang berdiri di belakang kelas, tersenyum dengan tak berdaya: "Bualanmu terlalu berlebihan ... Walau mau menyelamatkanku, kamu juga tidak perlu mengatakan omongan besar seperti itu ..."


Dapat dikatakan bahwa di seluruh kelas tiga 02, dari Pak Tua Kamto hingga Vonny dan si gendut Melvin, serta semua orang lainnya, tidak satu pun dari mereka yang percaya pada Wilson. Tidak ada yang percaya Wilson bisa melafalkan seluruh artikel.


Semua orang merasa konyol dan tidak percaya. Namun setelah menerima janji dari Pak Tua Kamto, Wilson menoleh untuk melihat Vonny yang mengernyit dengan khawatir, tersenyum kecil, lalu mulai melafalkan artikel dengan suara lantang.

__ADS_1


__ADS_2