
"Vonny, ada apa denganmu? Kenapa kamu masih melamun, jangan-jangan ... kamu benar-benar jatuh cinta pada si Wilson itu?"
Sebagai teman sebangku sekaligus sahabat Vonny, Felicia amat heran karena Vonny terus kehilangan fokus saat kelas sedang berlangsung. Dia mulai khawatir apakah Vonny benar-benar menyukai Wilson.
"Bukan ... Felicia, kamu ... jangan asal omong, aku ... aku cuman pikir... Wilson menyelamatkanku pagi ini, aku setidaknya harus mengucapkan terima kasih padanya! Kalau tidak ... itu sungguh tidak sopan!"
Vonny yang gelisah buru-buru membantah Felicia. Dia baru berusia 18 tahun. Sejak kecil dia selalu menjadi siswa terbaik di kelas dan menjadi kesayangan para guru. Dia selalu menggunakan semua waktu dan energinya untuk belajar.
Meski dari SD hingga SMA ada semakin banyak pria yang menyukainya, namun dia selalu merasa bahwa berpacaran di usia dini adalah perilaku yang sangat buruk. Hal ini tidak seharusnya dilakukan dirinya yang merupakan siswa teladan.
Oleh karena itu, dia tidak pernah memiliki perasaan apapun terhadap pria. Dia juga secara naluriah menolak "pacaran usia dini" dari lubuk hatinya. Menghadapi surat cinta dan hadiah dari para pria, dia selalu membuangnya ke tong sampah tanpa dilihat sekilas pun.
Pacaran di usia dini! Jatuh cinta! Suka……
Kata-kata dan tindakan ini adalah hal tabu di benak Vonny. Dulu dia sama sekali tidak pernah memikirkannya. Tetapi, hari ini ketika dia merasa tidak berdaya dan panik, Wilson datang melindunginya. Hal ini berhasil menggerakkan hatinya.
Namun, Vonny yang tidak pernah memiliki perasaan seperti ini tentu tidak akan mengakui bahwa inilah yang disebut dengan perasaan 'suka' dan 'cinta'. Dalam pikiran bawah sadarnya, dia bersikeras mempercayai bahwa gejolak dan kegembiraan di hatinya disebabkan oleh rasa terima kasihnya yang tulus terhadap Wilson.
"Terima kasih apaan ... Vonny, kamu primadona dan gunung es SMA Eminen! Apa artinya gunung es? Artinya tidak mau didekati orang, dingin dan cuek, agung dan angkuh! Bagaimana boleh kamu mengucapkan terima kasih kepada Wilson?"
Meskipun Wilson mengejutkan semua orang di kelas karena bisa melafalkan seluruh artikel, tapi citranya di mata Felicia masih tidak berubah. Felicia merasa Wilson sangat tidak cocok untuk Vonny, dan tidak layak mendapatkan ucapan terima kasih dari Vonny.
__ADS_1
"Gunung es apaan? Felicia, kamu juga tahu bahwa itu julukan yang sembarang diberi oleh para pria itu … aku … apa aku sedingin dan secuek itu? Aku cuman … malu untuk berbicara dengan orang asing!"
Vonny agak tersipu. Dia memonyongkan bibir merah mudanya, lalu menopang pipi dengan satu tangan, "Tidak boleh ... Felicia, aku harus cari cara untuk mengucapkan terima kasih kepada Wilson..."
"Untuk apa? Vonny, walau tidak ada kita di sana, Wilson juga pasti akan berkelahi dengan Theo. Hanya saja aku sangat heran, Wilson jelas-jelas menendang Theo, tapi kenapa dia masih bisa datang ke sekolah dengan selamat ..."
Felicia menoleh dan memandangi Wilson dan Melvin, berkata dengan lebih heran lagi, "Bahkan si gendut Melvin juga tidak terluka, aneh sekali! Bagaimana mungkin ... para preman itu tidak menghajar mereka? Atau mereka berhasil melarikan diri?"
"Bagaimana caraku berterima kasih padanya? Oh ya ... begitu saja ..."
Felicia sedang menanyakan kenapa Wilson dan si gendut Melvin bisa selamat, sementara Vonny sudah menemukan cara mengutarakan rasa terima kasihnya. Dia buru-buru mengeluarkan buku catatannya dari tas sekolah mini yang imut, kemudian merobek satu kertas dari halaman terakhir, lalu mengambil pena dan menulis sebuah kalimat:
"Terima kasih banyak atas bantuanmu, Wilson!"
"Sudah ... Karena tidak enak untuk mengucapkannya secara langsung, begitu saja!"
Setelah melipat kertas dengan kalimat sederhana ini, Vonny menyerahkannya kepada Felicia yang ada di sampingnya, berbisik, "Felicia, bantu aku ... serahkan kertas ini ke Wilson."
"Surat? Vonny ... apa yang kamu tulis untuk Wilson?"
Felicia yang penasaran ingin membuka surat itu, tetapi Vonny segera menghentikannya, berkata dengan malu-malu, "Tidak ... tidak ada apa-apa, Felicia, tidak ada yang enak dilihat ... aku cuman berterima kasih pada Wilson! Kamu cepat bantu aku serahkan ke dia."
__ADS_1
"Baiklah! Vonny, aku benar-benar tidak tahu apa yang terjadi padamu hari ini. Kenapa kamu terus kehilangan fokus hanya karena Wilson ... Hari ini suasana hati Pak Tua Kamto tidak terlalu baik, aku akan meminta orang menyerahkannya ..."
Sambil berkata, dia menyelipkan surat yang terlipat ke meja belakang dan berbisik, "Bantu kasih ke Wilson di meja terakhir!"
Alhasil, seperti cara pengiriman yang biasa terjadi di kelas, surat melewati satu demi satu meja. Secarik “surat terima kasih" yang ditulis tangan oleh Vonny pun sampai ke tangan Wilson.
"Hei ... Wilson, ini dari orang depan ..."
Jackson, wakil ketua kelas yang berkulit agak gelap dan duduk di depan Wilson, melemparkan surat ke meja Wilson dengan raut muka jelek.
"Surat? Untukku? Dari siapa ..."
Melihat selembar kertas yang dirobek dari buku catatan dan ada aroma yang wangi darinya, Wilson pun bertanya.
"Tidak tahu ... dari depan ..."
Jackson tidak terlalu memperhatikan Wilson, langsung menoleh untuk lanjut mendengarkan kelas. Sebaliknya Melvin berseru dengan penuh semangat: "Jangan-jangan ... tadi kamu yang melafalkan seluruh artikel terlihat terlalu keren, ada gadis yang langsung jatuh cinta padamu, jadi dia mengirimkan surat ini untuk menyatakan cintanya?"
"Dasar bocah gendut, jangan bercanda lagi. Kalau menghafal artikel yang sulit bisa membuat para gadis jatuh cinta padaku, bukankah kamu sudah menghafal seluruh buku sejak lama ..."
Wilson tersenyum, kemudian membuka surat yang samar-samar beraroma wangi. Di sampingnya, Si gendut Melvin menjulurkan kepala untuk melihat isi surat.
__ADS_1
Pada saat membuka surat, kata yang pertama kali masuk ke pandangan mereka adalah "Vonny" dengan gaya tulisan imut.
"Vonny? Ya! Ini, ini ... Ini pasti surat cinta dari Vonny untukmu ..."