
Memiliki wali kelas yang cantik adalah hal yang sangat menyenangkan bagi setiap siswa. Tetapi jika wali kelas cantik ini terus menunjukkan ekspresi tegas padamu dan terus mengancammu bahwa dia akan memanggil orang tuamu, maka ini pun bukanlah sesuatu yang menyenangkan.
Wilson agak tidak berdaya sekarang. Mendengar teguran dari Bu Nydia yang cantik, dia hanya bisa mengangkat tangan untuk berjanji bahwa dia tidak akan pernah terlambat lagi.
"Tidak boleh! Wilson, setelah pulang sekolah, beri tahu orang tuamu untuk datang ke sekolah besok."
Nydia tidak percaya lagi dengan janji Wilson, dia masih berkata dengan tegas.
“Jangan! Bu Nydia… Saya belajar keras tadi malam sampai tidur kesiangan dan terlambat. Kalau tidak… Bu Nydia, saya janji ujian Bahasa Inggris minggu ini saya akan dapat skor … di atas 100 poin. Ibu jangan panggil orang tua saya dulu, oke?"
Wilson paling takut Bu Nydia memanggil orang tuanya, jadi dia buru-buru membuat janji lagi. Dia menggunakan hasil ulangan kali ini sebagai jaminan. Dengan memiliki kemampuan mengingat semua hal, dia tentu yakin dirinya mampu mendapatkan nilai tinggi dalam ulangan.
"Benarkah? Kamu mau dapat skor di atas 100 poin dalam ujian Bahasa Inggris kal ini? Oke! Ibu percaya padamu kali ini. Tapi jika kamu tidak berhasil, Wilson, nanti jangan salahkan Ibu langsung menelepon orang tuamu untuk datang ke sekolah. Sudah. Sekarang sudah waktunya kelas ... kalian cepat masuk kelas!"
Benar saja. Menggunakan nilai sebagai jaminan sangat berguna. Nydia sekilas melihat jam dan tidak mempersulit Wilson dan Melvin lagi, langsung menyuruh mereka untuk masuk ke kelas.
"Sepertinya kamu benar-benar gila hari ini? Apa kamu tau janji seperti apa yang kamu buat dengan Bu Nydia barusan? Kamu janji untuk dapat skor di atas 100 poin dalam ujian bahasa Inggris? Bagaimana mungkin?"
__ADS_1
Setelah akhirnya kabur dari gerbang sekolah, Melvin memandang Wilson dengan tatapan seperti melihat monster. Harus diketahui bahwa prestasi akademik Wilson tidak beda jauh dengannya. Nilai mereka selalu yang terendah di kelas, terutama Bahasa Inggris yang selalu berada di antara 60 sampai 70, tidak pernah lulus. Tapi hari ini Wilson malah berani berjanji di depan Nydia bahwa dia akan mendapat skor lebih dari 100 dalam ujian Bahasa Inggris. Bukankah ini gila?
"Mungkin atau tidak, lihat saja nanti! Hei ... Gendut, kamu harus belajar dengan giat juga! Aku belajar mati-matian akhir-akhir ini. Aku tidak akan menemanimu dapat nilai terendah lagi dalam ujian kali ini. Jangan merasa kesepian nantinya!"
Wilson tersenyum aneh. Masih ada tiga hari sebelum ujian percobaan. Waktu tiga hari sudah cukup baginya untuk mempelajari semua mata pelajaran SMA. Pada saat itu, jangankan Bahasa Inggris, dia akan bisa mendapat nilai nyaris sempurna dalam setiap mata pelajaran.
"Kamu silahkan lanjut membual ... Walau orang lain tidak tahu prestasi akademikmu, aku tidak mungkin tidak tahu! Kamu sebaiknya temani aku untuk setia pada posisi terakhir saja!"
Saat berjalan ke gedung SMA, si gendut Melvin melihat sosok guru di kelas tiga 02 dari kejauhan. Dia langsung berteriak lagi, "Mampus ... orang gila, kelas pertama Bahasa Indonesia. Pak Tua Kamto itu orang yang kuno! Kalau dia tahu kita terlambat, kita pasti akan dihukum berdiri selama jam pelajaran ini ... "
"Um... kenapa kita begitu sial hari ini?"
Pada saat ini, di kelas tiga 02, Pak Tua Kamto sedang menjelaskan sebuah artikel. Siswa di kelas mendengarkan dan mencatat dengan serius seperti biasanya. Satu-satunya yang tampak berbeda adalah Vonny, ketua kelas. Dia memegang pena sambil melamun, sama sekali tidak memperhatikan apa yang sedang dijelaskan Pak Tua Kamto.
"Meskipun kalian tidak diharuskan untuk menghafal artikel ini, tapi kalian setidaknya harus memahaminya guna mengantisipasi kemungkinan adanya soal tentang ini dalam Ujian Nasional ..."
Di depan kelas, Pak Tua Kamto sedang menjelaskan materi dengan serius. Dia mengangkat-angkat kacamatanya sambil melihat Vonny yang duduk di baris kedua. "Vonny, kamu ketua kelas... Kamu mulai dulu dengan membaca paragraph pertama!"
__ADS_1
Di sekolah mana pun, siswa-siswa yang berprestasi baik selalu menjadi kesayangan semua guru. Secara umum, setiap ada pertanyaan yang perlu dijawab ataupun setiap diperlukan seseorang yang baca sesuatu, guru akan selalu menunjuk siswa-siswa unggulan itu. Nilai Vonny sangat stabil dan dia peringkat pertama di seluruh kelas 3. Jadi tentu saja Pak Tua Kamto juga sayang padanya.
Biasanya setiap kali Pak Tua Kamto panggil Vonny untuk menjawab pertanyaan atau membaca materi, dia selalu berdiri langsung dan menjawab dengan sempurna. Hari ini Pak Tua Kamto sudah memanggilnya beberapa kali, tapi dia masih diam tak bergerak.
"Vonny ... Vonny ... Pak Kamto suruh kamu berdiri untuk baca artikel ..."
Felicia buru-buru menarik lengan baju Vonny.
"Ah? Oh ... Pak Kamto, maaf ... tadi saya kehilangan fokus ..."
"Vonny, ada apa denganmu? Kamu terlihat linglung ... Apa kamu masih mengkhawatirkan masalah barusan? Jangan khawatir ... Kita tidak usah jalan gang itu lagi lain kali biar tak bertemu Theo lagi, mereka tidak akan berani datang ke sekolah untuk cari masalah……”
Sehabis Vonny selesai membaca, Felicia langsung bertanya dengan suara rendah.
"Bukan ... Felicia, aku khawatir ... Wilson dan Melvin! Tadi Wilson tendang si Theo itu untuk menyelamatkanku. Lihat, mereka belum datang ... Aku khawatir mereka akan terjebak bahaya ..."
Vonny menoleh. Saat melihat meja di sudut belakang kelas masih kosong, keningnya agak berkerut. Ternyata Vonny sedang mengkhawatirkan Wilson. Meskipun dia dan Wilson hanya pernah bicara di bawah 10 kali, tapi Wilson mala rela membantunya dalam situasi darurat. Bagaimana mungkin dia tidak mengkhawatirkan Wilson?
__ADS_1
Tanpa sadar, pada saat Wilson maju dan melindunginya di belakang, sosok kurusnya yang pemberani telah tertanam di benak Vonny.
"Benar juga! Vonny, aku dengar Theo itu ... pemimpin Geng Hercules di sini. Dia sangat kejam. Minggu lalu dia pukul salah satu siswa kelas 3 sampai gegar otak... Tadi Wilson menendangnya dengan kuat. Takutnya ... Wilson bakal dipukul habis-habisan ..."