
"Apa yang terjadi? Wilson ... Lihat apa yang kamu tulis ..."
Seluruh kelas melihat kemari. Felicia mengutuk dengan sangat keras. Melihat ini, Vonny segera berjalan kemari dan menarik Felicia, berkata, "Felicia, kamu ... jangan seperti ini ..."
"Vonny, kamu tidak usah urus! Beberapa orang ... memang harus dimarahi baru sadar diri!"
Felicia melambaikan tangannya dan melanjutkan.
"Aku yang tulis? Kapan aku tulis ini ..."
Setelah membuka surat dan membaca tulisan di dalam, Wilson terbelalak. Dia sontak melihat Melvin yang duduk di sebelahnya. Jelas sekali bahwa kata-kata romantis dan geli ini pasti ditulis oleh Melvin.
"Aku cuman mau membantumu..."
Melihat situasinya menjadi kacau, Si gendut Melvin buru-buru menjelaskan dengan gelisah.
Pada saat ini, Jonathan dan Alfiandi datang. Ketika Wilson sedang tidak siaga, mereka merebut surat dan membacakan isinya di hadapan semua orang: "Vonny, sebenarnya aku sudah menyukaimu sejak lama. Aku sangat menyukaimu seperti semua pria lain ... Jadi, setujulah untuk menjadi pacarku! Aku akan sangat mencintaimu, melindungimu agar kamu tidak terluka. Salam cinta … Wilson!"
Dibaca semuanya!
Jonathan tertawa terbahak-bahak sambil menghina Wilson, "Wilson, tidak heran kenapa Felicia begitu emosi. Siswa buruk seperti kamu … juga mau kejar Vonny? Tunggu sampai kehidupan selanjutnya saja ... haha ... kata-kata macam apa ini! Kamu mau buat Vonny terharu dengan kata-katamu ini? Mimpi ..."
"Jangan tidak tahu diri deh. Kamu benar-benar kira Vonny akan menjadi milikmu hanya karena kalian baru berpelukan? Sungguh konyol, apa kamu tidak bisa bercermin ..."
"Siswa dari peringkat terbawah juga berani mengejar primadona sekolah? Dia benar-benar gila ..."
__ADS_1
...
Pria lain di kelas ikut tertawa terbahak-bahak. Wilson telah mendapatkan banyak musuh karena dia memeluk Vonny tadi. Musuh-musuhnya langsung melampiaskan rasa benci mereka dalam kesempatan ini.
Dalam sekejap, semua pria di kelas pada menertawakan Wilson karena surat cinta itu.
"Surat ini ... bukan aku yang tulis!"
Wilson benar-benar tak berdaya saat menghadapi ejekan dan hinaan dari teman-teman sekelasnya. Dia hanya bisa memberi penjelasan yang tak berguna.
"Astaga ... Wilson, apa kamu pria? Kamu berani buat tapi malah tak berani mengakuinya. Tapi kamu malah berani kejar Vonny? Mimpi!"
Alfiandi, si pengganggu, memanfaatkan situasi ini untuk berteriak, "Juga... hari ini beraninya kamu memeluk Vonny, tunggu saja! Aku bakal menghajarmu ..."
"Kalian ... kalian jangan memarahi Wilson lagi! Apa pun yang ditulis Wilson di surat, itu ditulisnya untukku, tidak ada hubungannya dengan kalian. Kita semua adalah teman sekelas. Walau nilai Wilson jelek, tapi Wilson tidak pernah melakukan sesuatu yang melukai orang lain. Dia tulis surat ini … hanya untuk … menyatakan perasaannya padaku dengan berani. Kenapa kalian harus mengejeknya?"
Sebenarnya ketika dia mendengar hinaan terhadap Wilson, hatinya jauh lebih tidak nyaman daripada Wilson. Dia merasa masalah ini bermula dari dirinya yang menulis surat ucapan terima kasih, akibatnya Wilson malah ditertawakan seluruh kelas.
Vonny merasa sangat bersalah. Pagi ini Wilson melindungi dirinya dari para preman di saat dia merasa sangat tidak berdaya, tapi apa yang terjadi sekarang? Wilson malah harus ditertawakan dan dihina seluruh kelas karena dirinya.
Oleh karena itu, Vonny yang selalu dingin dan cuek pun maju untuk membelanya.
Vonny membela Wilson?
Pada saat ini, pria-pria yang menertawakan Wilson sontak terdiam. Mereka menyaksikan Vonny berjalan ke arah Jonathan, mengambil surat cinta dan meletakkannya di meja Wilson. Dia berkata dengan nada meminta maaf, "Wilson, terima kasih telah menyukaiku. Tapi, kita masih kecil. Hal terpenting bagi kita sekarang adalah Ujian Nasional dan belajar. Aku harap kamu bisa menggunakan waktumu untuk belajar. Kalau ..."
__ADS_1
Vonny bertatapan dengan Wilson dari sudut 45˚, lalu menarik napas dalam-dalam dan mengumpulkan keberanian untuk mengatakan, "Kalau kamu benar-benar sangat menyukaiku dan berharap aku bisa menjadi pacarmu, maka … aku harap kamu bisa belajar dengan giat dulu. Kalau kamu bisa masuk peringkat 30 … aku... aku akan mempertimbangkannya!"
"Apa? Vonny ... kamu serius? Kalau aku masuk peringkat 30, kamu mau jadi pacarku?"
Awalnya Wilson masih berpikir untuk mengungkapkan tingkah Melvin dan mengklarifikasi dirinya sendiri. Tapi setelah mendengar kata-kata Vonny, otaknya seketika seperti tersambar petir. Dia agak tidak mempercayai telinganya sendiri. Melihat Vonny yang tampak malu-malu, dia merasa dirinya seperti sedang bermimpi.
"Iya! Wilson, ini janji di antara kita. Terima kasih telah menyelamatkanku pagi ini ... Aku juga berharap kamu bisa belajar dengan giat agar nilaimu bisa meningkat!"
Saat mengucapkan kata-kata ini, seperti ada seekor rusa yang terus-menerus menabrak jantung Vonny. Ini pertama kalinya dia mengucapkan kata-kata mesra seperti itu kepada seorang pria.
Setelah mengatakan itu, tanpa menunggu respons Wilson, Vonny langsung berbalik dan melarikan diri dari kelas. Dia berlari ke kamar mandi di ujung koridor, menepuk wajahnya dengan air dingin untuk menenangkan suasana hatinya.
"Aku... apa yang terjadi padaku barusan? Kenapa aku bisa mengatakan hal seperti itu ... aku tidak akan mau ... pacaran di usia dini. Tapi, tapi tidak apa-apa ... hanya sisa satu kali ujian percobaan sebelum Ujian Nasional. Nilai Wilson tidak mungkin bisa meningkat banyak dalam waktu singkat. Selain itu, caraku ini termasuk mendorong Wilson untuk giat belajar. Ini termasuk balasanku padanya yang telah menyelamatkanku pagi ini!"
Melihat dirinya yang cantik dan suci di dalam cermin, Vonny tersenyum lega. Dia tiba-tiba teringat perasaan hangat dan nyaman saat dipeluk Wilson, "Tapi pelukan Wilson ... benar-benar sangat nyaman … jangan-jangan ini rasanya dicintai seseorang?"
Pada saat ini, di kelas tiga 02. Meskipun Vonny telah melarikan diri dari kelas, tapi seluruh kelas langsung heboh karena kata-katanya.
Apa yang terjadi?
Dewi impian para pria, primadona sekolah, gunung es, bisa-bisanya dia membuat janji seperti itu dengan Wilson? Jika nilai Wilson masuk peringkat 30 teratas, Vonny akan mempertimbangkan untuk menjadi pacarnya?
Gila! Gila!
Pada saat ini, seluruh pria di kelas menatap Wilson dengan mata merah yang penuh kecemburuan. Perasaan mereka bahkan sudah tidak bisa lagi dideskripsikan dengan kata cemburu, iri, ataupun benci! Itu Vonny, sang primadona sekolah yang dinginnya bak gunung es!
__ADS_1
"Kamu ... kamu sungguh beruntung sekali! Lihat ... surat cinta yang kutulis sangat berguna! Kalau kamu masuk peringkat 30 besar, Vonny akan menjadi pacarmu!"
Si gendut Melvin tertegun sejenak, lalu segera mengguncang bahu Wilson dengan kegirangan.