Tetanggaku, Pramugari

Tetanggaku, Pramugari
Bertabrakan


__ADS_3

"Ah? Felicia, kalau begitu ... apa kita harus lapor polisi sekarang? Kalau … kalau ... terjadi sesuatu pada Wilson ..."


Mendengar kata-kata Felicia, hati Vonny semakin tegang. Dia semakin mengkhawatirkan Wilson.


"Tidak ada gunanya lapor polisi ... Ketika polisi tiba, agaknya Wilson sudah dilumpuhkan oleh bawahan Theo. Hais ... Vonny, untung saja aku bawa kamu melarikan diri, jika tidak ... kamu pasti akan diperkosa Theo ..."


Berbeda dengan Vonny, Felicia sama sekali tidak peduli dengan keadaan Wilson dan Melvin. Baginya, kedua siswa buruk itu tidak ada hubungan apapun dengannya. Dia hanya merasa bersyukur karena terpikir untuk menarik Vonny dan melarikan diri, juga diam-diam waspada untuk tidak bertemu dengan Theo lagi.


"Tidak boleh. Felicia, Wilson bisa berkelahi dengan Theo karena dia mau menyelamatkanku. Aku ... aku tidak boleh meninggalkannya begitu saja ..."


Semakin dipikir, Vonny semakin takut. Otaknya muncul sosok Wilson yang melindunginya dengan berani. Dia berpikir dengan cemas di dalam hati, "Apa yang harus aku lakukan? Bagaimana kalau aku telepon Ibu, suruh Ibu lapor polisi dan suruh polisi datang … tapi tidakkah itu sudah sangat telat?"


Di kelas tiga 02 pagi ini, semua siswa merasa heran. Kenapa primadona yang selalu mendengarkan setiap kelas dengan seksama malah melamun di kelas hari ini? Dia juga terlihat cemberut, sepertinya sedang mengkhawatirkan sesuatu. Para pria menjadi bising karena hal ini.


"Hei ... ada apa dengan Vonny hari ini? Dia terlihat linglung! Dia bahkan tidak sadar ketika Pak Kamto suruh dia berdiri untuk baca artikel ..."


"Jangan-jangan ... dia sedang jatuh cinta? Astaga! Hati dewi impianku sudah ditempati orang?"


"Tidak mungkin! Tidak mungkin... Kamu jangan asal omong ... Di sekolah ini, tidak ada seorang pun yang cocok untuk Vonny ... apa kamu tidak lihat berapa banyak pria ganteng di sekolah kita yang menyatakan cinta pada Vonny tapi malah ditolak dengan kejam? Vonny tidak mungkin sedang jatuh cinta ..."


...

__ADS_1


Pak Tua Kamto sedang menjelaskan materi di depan kelas, tetapi siswa-siswa di bawah malah bising karena persoalan Vonny yang kehilangan fokus selama kelas. Para pria menebak dan mulai heboh ketika ada orang yang menebak bahwa Vonny mungkin sedang jatuh cinta.


Ini sangat wajar. Bagaimanapun juga, putri dingin ini benar-benar sangat terkenal di sekolah. Sejak masuk kelas satu SMA, Vonny langsung menjadi primadona sekolah. Dalam tiga tahun terakhir, tak ada yang bisa menggoyahkan posisinya. Berapa banyak kakak kelas yang terkenal ganteng menyatakan cinta mereka terhadap Vonny, tetapi semuanya langsung ditolak begitu saja.


"Tuan Alfiandi ... menurutmu apa yang terjadi pada primadona hari ini? Bisa-bisanya dia melamun di kelas. Hehe ... jangan-jangan dia sedang memikirkanmu, Tuan Alfiandi?"


Jonathan yang duduk di baris keempat berkata dengan nada menyanjung kepada teman sebangkunya, Alfiandi.


Alfiandi Lekson adalah keponakan dari wakil kepala sekolah, Andika Setiawan. Dia juga memiliki hubungan dekat dengan si preman Theo. Jadi dia selalu bertindak sewenang-wenangnya di sekolah, menggertak siswa-siswi, menjadi pengganggu di lingkungan sekolah. Dengan memanfaatkan kekuasaan pamannya, Andika, sebulan lalu dia pindah dari Kelas 06 ke Kelas 02 hanya untuk mendekati Vonny.


"Haha ... mungkin saja! Aku sengaja pindah ke Kelas 02 hanya demi dia. Mungkin saja … dia terharu oleh usahaku ..."


"Kalau begitu, Tuan Alfiandi, kamu harus memanfaatkan kesempatan ini ... cari waktu yang cocok untuk menyatakan cintamu pada primadona. Mungkin saja kamu akan bisa langsung mendapatkannya!"


Jonathan terus menyanjung Alfiandi. Alfiandi menelan ludah. Melihat penampilan indah dan polos dari primadona sekolah, hatinya mulai terobsesi. Dia memikirkan beberapa cara romantis untuk menyatakan cintanya, seolah-olah dia bisa menjadi pacar Vonny pada detik berikutnya.


"Tidak boleh ... Ini sudah berapa lama ...Wilson masih saja belum masuk kelas. Jangan-jangan dia benar-benar terjebak bahaya? Jangan-jangan ... dia terluka parah oleh Theo dan yang lainnya? Mungkin saja dia dipukul hingga pingsan di gang itu, tapi malah tidak diketahui siapa pun. Kalau memang begitu, maka gawat sekali ... "


Vonny yang sangat cemas tentu tidak tahu kalau pria-pria di kelas sedang heboh karena dirinya. Pada saat ini, dia hanya mengkhawatirkan Wilson dan takut Wilson akan dipukuli hingga cacat ataupun terluka parah.


"Felicia, aku... aku masih sangat mengkhawatirkan Wilson dan Melvin. Kamu bantu aku catat materi, aku minta izin dengan Pak Kamto untuk keluar dan menemui Wilson ... aku mau lihat kenapa mereka belum masuk kelas ..."

__ADS_1


Vonny yang sedang gelisah menarik napas dalam-dalam. Dia meminta Felicia membantunya catat materi, lalu hendak maju dan meminta izin kepada guru. Felicia buru-buru menariknya, berkata dengan kaget, "Vonny, apa kamu baik-baik saja? Demi dua siswa buruk itu ... kamu mau minta izin? Mereka tidak layak ..."


"Felicia, itu tidak ada hubungannya dengan apakah mereka siswa buruk atau siswa baik. Memangnya kenapa kalau Wilson itu siswa buruk? Apa kamu tidak lihat, tidak satu pun pria yang lewat jalan itu mau bantu kita, malahan siswa buruk seperti Wilson yang melindungi kita. Intinya, aku benar-benar merasa bersalah karena berlari ke sekolah sendirian dan ... dan menempatkan Wilson dalam bahaya ..."


Vonny yang cemas sudah mengambil keputusan di dalam hati. Dia benar-benar mau keluar untuk melihat kondisi Wilson.


Oleh karena itu, Vonny tidak peduli dengan halangan Felicia. Dia langsung angkat tangan dan meminta izin kepada Pak Tua Kamto: "Pak Kamto ... maaf, saya ... saya mau minta izin untuk keluar ..."


Pak Tua Kamto, guru Bahasa Indonesia, sudah sangat kesal karena kelas yang ribut. Emosinya sudah berkumpul menjadi satu. Di saat ini pula malah ada orang yang mau minta izin untuk keluar. Bukankah ini memaksanya untuk melampiaskan emosinya?


Namun ketika Pak Tua Kamto hendak emosi, dia menyadari bahwa bukan orang lain yang mengangkat tangan untuk minta izin, melainkan Vonny, ketua kelas yang selalu peringkat pertama. Emosinya pun ditahan kembali. Kalau orang yang minta izin adalah siswa buruk atau siswa dengan nilai biasa-biasa saja, Pak Tua Kamto pasti akan menolak izinnya dan menegurnya dengan serius. Tapi, bagaimana mungkin dia tega melampiaskan emosinya pada siswi unggulan dan baik seperti Vonny?


"Pergi … pergilah!"


Pak Tua Kamto, yang sedang sangat kesal, hanya bisa melontarkan satu kata sederhana ini untuk mengizinkan Vonny keluar di tengah jam pelajaran.


Para pria di kelas menjadi semakin heboh. Mereka terus bertanya-tanya apa yang terjadi pada primadona ini, tadi kehilangan fokus, sekarang minta izin untuk keluar? Untuk apa dia izin keluar?


"Terima kasih, pak …"


Setelah mendapat izin dari Pak Tua Kamto, Vonny langsung berdiri dan berlari keluar kelas tanpa mempedulikan desas-desus teman-teman sekelasnya. Namun, dia yang baru saja berlari keluar dari pintu langsung menabrak Wilson yang hendak masuk kelas.

__ADS_1


__ADS_2