
Geng Hercules adalah geng preman terbesar di Jakarta. Pada dasarnya mereka bergerak di kedua dunia, baik dunia hitam maupun dunia putih. Masyarakat biasa akan menjauh ketika bertemu preman dari Geng Hercules.
Theo adalah pemimpin preman Geng Hercules di daerah sekitar SMA Eminen. Ada belasan preman yang dipimpinnya. Setiap orang yang mendirikan warung di daerah ini harus memanggilnya "Bang Theo". Beberapa siswa SMA Eminen berani menggertak siswa lainnya di sekolah juga karena dilindungi Theo.
Theo sering bawa bawahannya untuk memblokir pintu masuk gang di depan sekolah SMA Eminen untuk meminta uang dari siswa-siswa. Oleh karena itu, Theo menjadi amat terkenal di SMA Eminen, yah, terkenal dengan nama jelek. Hampir semua siswa akan menjauh ketika melihatnya.
"Orang gila! Kita sial sekali ... Biasanya Theo minta lebih dari Rp 20.000 ..."
Setelah berhenti melangkah dan masih berjarak belasan meter dari preman, si gendut Melvin dengan sadar diri mengeluarkan dua lembar Rp 20.000 dari sakunya. Kemudian dia menepuk bahu Wilson dan berkata, "Aku tahu kamu tidak punya banyak uang. Kali ini aku bantu kamu bayar ... "
"Gendut! Tidak usah bayar ... heh! Kenapa kita yang cuman mau pergi ke sekolah harus bayar mereka uang, hanya karena kita melewati gang ini?"
Wilson melambaikan tangan, lalu berjalan menuju Theo yang menghalangi beberapa siswa SMA Eminen di pintu masuk gang.
"Hei... tunggu dulu... jangan gegabah! Semua bawahan Theo bawa tongkat besi!"
Karena takut Wilson berkelahi dengan para preman, si gendut Melvin langsung mengejarnya. "Beberapa hari lalu aku dengar bahwa pria jangkung dari kelas 03 tidak mau kasih uang ke Theo. Akibatnya ... kepalanya dihancurkan oleh beberapa preman ini dengan pipa baja. Sekarang dia mengalami gegar otak..."
Namun, ketika si gendut Melvin mendekat dan melihat gadis-gadis yang dihentikan oleh Theo, dia langsung meraih Wilson dengan kaget, berteriak, "Aku tidak salah lihat, kan! Sepertinya ... itu primadona sekolah, Vonny Milsen. ... Theo menghalangi Vonny, primadona sekolah kita. Gadis lainnya sepertinya siswi dari kelas kita juga!"
"Primadona sekolah? Iya, itu benar-benar Vonny ..."
__ADS_1
Benar saja! Wilson juga dapat mengenali bahwa gadis cantik dengan kuncir kuda itu adalah Vonny, ketua kelasnya, juga dewi impian semua pria di sekolah.
Pada saat ini, Vonny sedang melindungi beberapa teman sekelasnya, mengangkat payudara kecilnya yang baru mulai tumbuh besar, berdebat dengan pemimpin preman: "Jalan ini bukan punya kalian. Kami hanya melewati jalan ini untuk pergi ke sekolah, kenapa kami harus bayar kamu uang atas penggunaan jalan? Kami tidak punya uang. Selain itu, bahkan jika kami punya uang, kami juga tidak akan memberikannya kepadamu. Mohon meminggir!"
"Aduh! Aku sudah lama berjaga di gang ini untuk terima biaya penggunaan jalan, tapi ini pertama kalinya ada orang yang berani bertanya padaku ‘kenapa’."
Theo mendengus, memuntahkan puntung rokok yang menjuntai di mulutnya, lalu menginjaknya dengan kaki. Dia mengulurkan jari kuningnya, memberi Vonny senyum jahat, berkata, "Aku sudah terima uang dari 100-an siswa pagi ini, tidak ada yang berani lawan. Jangan kira aku akan menaruh belas kasihan pada Wanita. Tapi … hehe … aku dengar kamu primadona sekolah! Begitu saja ... kalau kamu cium aku, aku akan membiarkan kalian semua pergi ... Aku juga tidak akan mengenakan biaya penggunaan jalan pada kalian di masa depan, bagaimana?"
Theo yang sering berjaga di sini tentu sudah lama mengidamkan Vonny, primadona sekolah SMA Eminen. Hari ini dia akhirnya mendapatkan Vonny di jalan ini, bagaimana mungkin dia akan melepaskannya dengan mudah?
Theo mengajukan syarat sambil menunjuk ke wajahnya sendiri dan tersenyum licik. Beberapa preman di belakangnya bersiul dan bersorak-sorak.
"Czcz ... Tidak heran kenapa kamu bisa jadi primadona sekolah! Hanya Bang Theo yang cocok untukmu..."
"Haha! Sepertinya kami harus mulai memanggilmu Kakak ipar. Bang Theo beruntung sekali ..."
...
Wajah Vonny memerah setelah mendengar kata-kata tak tahu malu yang diucapkan para preman. Dia menggigit bibir merah mudanya, menunjuk Theo dan berkata dengan marah, "Kamu ... dasar preman ... "
Setelah Vonny selesai mengutuk, Felicia, teman sebangkunya, segera menariknya dan berbisik dengan ketakutan: "Vonny, kita ... kita kasih uang saja! Kalau tidak ... entah apa yang akan dilakukan preman-preman ini pada kita..."
__ADS_1
"Benar! Vonny, kita cuman perlu bayar 20 ribu setiap orang ... kasih saja ... terlebih lagi ... kalau kita tidak cepat jalan, kita akan terlambat..."
...
Gadis-gadis lain agak penakut. Mereka berbisik kepada Vonny dan bahkan sudah ada dua orang yang mengeluarkan uang.
"Tidak boleh! Felicia, kita tidak boleh kasih. Karena terlalu banyak orang yang menyerah pada ancaman preman-preman ini dan memberi mereka uang, makanya mereka semakin menjadi-jadi."
Vonny berkata dengan lantang. Kemudian dia melihat sekeliling dan menemukan Melvin dan Wilson yang mendekat. Dia langsung berkata kepada sahabatnya, Felicia, "Felicia, lihat... mereka berdua sepertinya siswa dari sekolah kita. Kita boleh minta bantuan mereka..."
"Lupakan saja! Vonny, tadi juga ada belasan siswa dari sekolah kita yang lewat sini, mereka semua langsung bayar tanpa bantah. Mereka semua tahu sifat Theo ..."
Felicia menggelengkan kepala. Setelah melihat lebih cermat, dia mengenali Wilson dan Melvin yang gemuk, berkata, "Mereka berdua adalah teman sekelas kita, tapi ... mereka itu siswa peringkat terakhir. Vonny, jangan berharap kalau mereka akan membantu kita!"
"Hais! Jelas-jelas negara punya hukum, tapi kenapa... para preman ini berani memeras para siswa secara terang-terangan di siang bolong ini?"
Melihat Theo dan bawahannya yang tampak sombong, Vonny sangat marah dan tidak berdaya. Dia sangat dilema. Dia tidak mungkin akan mencium Theo. Melihat wajahnya saja dia sudah merasa jijik. Tapi apakah dia mau mengalah begitu saja dan kasih mereka uang?
Vonny tidak mau kalah, tapi sekarang sudah hampir pukul 8. Kalau mereka masih diam di sini, mereka bakal terlambat. Beberapa siswi di belakangnya sudah tidak sabar. Mereka maju dan membayar 20 ribu, kemudian langsung bergegas ke gerbang sekolah. Felicia, teman sebangku Vonny, juga tidak sabar lagi. Dia mengeluarkan 40 ribu dan berkata: "Vonny, kalau kita tidak jalan, kita akan terlambat. Paling-paling ... aku bantu kamu bayar ..."
Namun, ketika Felicia hendak memberikan uang kepada Theo, Theo malah membuang uangnya. Sepasang mata mesumnya menatap Vonny erat-erat, lalu dia tersenyum penuh *****: "Sekarang aku tidak mau uangmu lagi. Aku mau kamu ... cium aku!"
__ADS_1