
Melvin juga tidak menyangka Wilson begitu berani sampai-sampai preman dari Geng Hercules pun berani ditendangnya. Bukankah ini orang cari mati?
Melihat 7 sampai 8 preman memegang tongkat besi dan mengejar kemari, si gendut Melvin buru-buru menarik Wilson untuk melarikan diri. Tetapi, dia mendapati bahwa Wilson masih diam di tempat. Selain itu, Wilson mengepalkan tinjunya erat-erat sambil memelototi para preman! Ketika preman pertama maju, Wilson langsung mengambil tongkat besi di tangannya, kemudian menendang preman itu dengan satu kaki.
PONG!
Preman lain diterbangkan oleh Wilson lagi. Si gendut Melvin sontak bengong, "Se ... sejak kapan kamu jadi begitu hebat?"
Saat ini Wilson tidak punya waktu untuk menjawab pertanyaan si gendut Melvin. Karena tongkat besi preman lainnya sudah sedang menuju ke arahnya. Selain itu, dia juga harus menjaga keselamatan si gendut Melvin.
"Celaka! Ada terlalu banyak preman di sini. Kekuatan dan kecepatan tubuhku memang telah meningkat setelah berlatih "Teknik Aliran Air Dunia" kemarin, tapi... aku tidak bisa melawan begitu banyak preman sambil melindungi si gendut …"
Wilson amat khawatir. Dia segera mengangkat si gendut Melvin dan melemparkannya ke belakang.
"Aduh ... apa kamu gila? Untuk apa kamu lempar aku ... kamu ... pukul mereka ..."
Karena dilempar oleh Wilson hingga jatuh terduduk di tanah, Melvin menggerutu dan mengeluh. Tetapi pemandangan yang dia lihat selanjutnya membuatnya sontak terpana.
Terlihat para preman memegang tongkat besi dan menyerbu ke arah Wilson. Tetapi Wilson tidak panik sama sekali. Gerakannya cepat dan akurat. Sambil menghindari tongkat para preman dengan fleksibel, dia mencari kesempatan untuk melayangkan tendangannya. Empat sampai lima preman diterbangkannya satu demi satu.
"Bruce ... Bruce Lee! Apa ... apa kamu kerasukan Bruce Lee?"
__ADS_1
Sungguhan! Di mata Melvin saat ini, Wilson seperti pemain dalam film bela diri yang mengalahkan banyak preman dengan kekuatan sendiri. Dia bahkan tidak menggunakan senjata, hanya mengandalkan tinju kosongnya untuk melawan mereka.
"Kamu ... bocah, kamu ... kamu bakal mampus karena telah melawan Geng Hercules …”
Empat sampai lima preman telah dikalahkan oleh Wilson dalam satu tarikan napas. Hanya ada dua sampai tiga preman yang tersisa. Mereka tidak berani maju, tetapi masih berbicara kasar kepada Wilson.
"Aku memang lawan kalian hari ini, lalu kenapa! Kalian jangan gertak siswa SMA Eminen lagi kedepannya, paham? Kalau tidak ... aku bakal hajar kalian setiap kali bertemu!"
Wilson sama sekali tidak takut dengan ancaman para preman. Sebaliknya, dia malah maju dan menginjak dada Theo, berkata sambil tersenyum, "Bang Theo, ya? Apa kamu dengar omonganku barusan? Apa aku harus mengulangnya?"
"AHH!"
Theo awalnya masih ingin mengancam Wilson, tetapi Wilson menginjak dadanya dengan kuat hingga dia hampir tidak bisa bernapas. Dia menjerit kesakitan, buru-buru meminta ampun, "Dengar ... aku sudah dengar, aku tidak akan mengulanginya lagi … Pahlawan, ampuni aku! Kami tidak akan menggertak siswa SMA Eminen lagi..."
Wilson menendang Theo menjauh, lalu menoleh untuk melihat Melvin yang terbengong, berseru, "Gendut, cepat! Tapi kurasa kita sudah terlambat ..."
"Kamu ... apa yang terjadi denganmu? Kenapa kamu tiba-tiba jadi master seni bela diri?"
Si gendut Melvin berjalan di sisi Wilson dengan ekspresi takjub. Para preman tidak berani menghentikan mereka lagi, sebaliknya buru-buru meminggir ke samping dengan ketakutan.
"Master seni bela diri? Jelas-jelas para preman itu yang terlalu lemah. Tapi kali ini ... kita bakal mampus. Kelas sudah dimulai. Kita pasti sudah terlambat ..."
__ADS_1
Pada saat Wilson dan si gendut Melvin berlari ke gerbang sekolah, waktu sudah pukul 8:10. Mereka terlambat.
Hari ini wali kelas mereka yang cantik, Bu Nydia, yang berjaga di depan gerbang. Dia mengenakan setelan ketat, rok kulit hitam, kaki terbungkus stoking hitam seksi dan memakai sepasang sepatu hak tinggi merah anggur, tampak langsing dan anggun. Dapat dikatakan bahwa ini sungguh pemandangan yang indah.
Namun, secantik apapun Bu Nydia, dia adalah orang yang tidak ingin dilihat Wilson saat ini.
"Hei! Gawat ... gawat ... Aku kira aku akan lebih beruntung setelah memperoleh 24 butir Mutiara Dunia. Siapa tahu aku malah bertemu Theo pagi-pagi ini dan sekarang ... tertangkap terlambat oleh Bu Nydia..."
Karena sudah terlambat, Wilson pun hanya bisa menerima nasib. Dia melangkah maju bersama Melvin. Sayangnya dia baru berlatih satu malam. Kecepatan dan kekuatannya memang meningkat drastis, jadi bukan masalah besar baginya untuk melawan para preman itu. Tapi ini masih belum cukup. Alangkah baiknya jika dia bisa menggunakan teknik tembus pandang. Dengan begitu, dia akan dapat menghindari Bu Nydia dan menyelinap ke sekolah dengan mudah.
Nydia awalnya sudah hendak kembali ke kantor untuk mempersiapkan materi pelajaran. Tetapi ketika dia melihat Wilson dan Melvin terlambat lagi, dia segera melangkah maju dengan marah, memelototi Wilson dan Melvin, mengkritik: "Wilson, Melvin, kenapa kalian berdua terlambat lagi? Ini hanya sisa satu bulanan sebelum hari Ujian Nasional tiba. Siswa lain datang ke sekolah pagi-pagi pada pukul enam atau tujuh untuk belajar, kalian berdua malah selalu terlambat ..."
"Bu Nydia, kami... hari ini kami terlambat karena ada alasan khusus. Kami baru saja dihalang oleh preman di sana ..."
Si gendut Melvin menundukkan kepala, membela dirinya sendiri dan Wilson.
"Preman? Kenapa preman itu hanya menghalangi kalian dan tidak menghalangi orang lain? Terutama kamu ... Wilson, ini ketiga kalinya kamu terlambat dalam bulan ini..."
Nydia menunjuk Wilson lagi, berkata, "Apa yang saya katakan padamu kemarin? Kalau kamu terlambat lagi dalam bulan ini, saya akan meminta orang tuamu datang ke sekolah untuk menemui saya."
“Bu Nydia, jangan … Kalau Ibu saya tahu, saya pasti akan dibunuh … Hari ini kami benar-benar dijebak oleh preman. Saya tidak akan terlambat lagi, ini terakhir kalinya. Saya janji."
__ADS_1
Wilson menundukkan kepala. Sambil melihat kaki Nydia yang indah, dia sambil berjanji. Harus diakui bahwa sosok dan penampilan Bu Nydia benar-benar tak perlu diragukan lagi. Terutama kakinya yang terbungkus stoking hitam. Ini membuat seluruh penampilannya terlihat semakin menggoda. Tapi Bu Nydia malah selalu berekspresi tegas, terutama di saat menghadapi siswa buruk seperti dia, Bu Nydia tidak pernah menunjukkan ekspresi ramah, selalu mencari kesalahannya, lalu menegur dan mau memanggil orang tuanya ...