
Matahari pagi menyinari kamar Wilson. Jam weker berbunyi dengan keras.
"Ah ... otakku penuh sekali..."
Wilson, yang belajar sepanjang malam, menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia bangkit dari tempat tidur, mengenakan pakaian sambil merenung, "Benar saja. Tidak realistis berpikir dapat menyelesaikan semua pelajaran SMA selama 3 tahun dalam waktu satu malam. Walau aku bisa hafal semua isi buku dengan tetesan air, aku pun baru bisa memahami sepertiga dari isinya dalam waktu satu malam ... "
Dengan adanya tetesan air yang dapat menyalin isi buku, Wilson memang bisa mengingat semuanya. Namun belajar bukan hanya sekadar mengingat, tapi juga harus bisa memahami.
"Kamis dan Jumat adalah ujian terakhir. Kebetulan masih ada tiga hari lagi. Aku pasti bisa mempelajari semua mata pelajaran SMA. Pada saat itu ... walau aku gagal mendapatkan nilai sempurna, aku setidaknya masih bisa masuk peringkat sepuluh teratas."
Wilson, yang penuh percaya diri, buru-buru sarapan, kemudian keluar dengan merangkul tas sekolah di punggung, berjalan menuju SMA Eminen. Dalam perjalanannya, dia menyempatkan diri untuk mencerna ilmu yang ada di benak. Karena ilmu ini sudah tertanam kuat di benaknya, sehingga tidak sulit lagi untuk memahaminya. Asalkan dia berkonsentrasi, dia pun bisa memahaminya dengan sangat cepat.
"Haha... aku tidak pernah tahu kalau belajar bisa begitu mudah..."
Karena Wilson mencerna pengetahuan di benaknya sambil berjalan, jadinya dia agak lambat. Dia berangkat dari rumah pukul 7.20 dan seharusnya bisa tiba di sekolah dalam waktu 20 menit, tapi sekarang dia malah harus berjalan kaki lebih dari 30 menit.
"Ah? Kok sudah jam 07.50? Kelas akan dimulai 10 menit lagi ... Celaka! Aku harus ambil jalan pintas..."
Saat melihat jam tangan, Wilson baru sadar dia mungkin akan terlambat. Jadi dia segera mengambil jalan pintas, berlari ke gang kecil menuju sekolah. Namun begitu dia masuk ke gang, terlihat sosok gendut yang familiar bergegas ke arahnya dari gang lain.
"Aduh... Gendut, kenapa kamu juga terlambat hari ini? Haha..."
__ADS_1
Orang yang datang adalah teman semeja Wilson, si gendut Melvin. Mereka sudah main bareng sejak kecil. Wilson langsung tertawa begitu melihat lemak-lemak di tubuh Melvin berdansa pada saat dia berlari dengan tergesa-gesa.
"Dasar gila! Kamu masih punya waktu untuk menertawakanku? Cepat lari … Kalau tidak kita bakal terlambat lagi! Hari ini Selasa ... Aku ingat hari ini wali kelas kita, Bu Nydia, yang berjaga di pintu..."
Si gendut Melvin menatap Wilson dengan tak berdaya. Ketika Wilson mendengar bahwa wali kelasnya, Bu Nydia, yang berjaga di pintu hari ini, dia langsung berteriak.
"Celaka! Gendut, waktu aku terlambat kemarin, Bu Nydia sudah bilang ... kalau aku terlambat lagi, dia bakal panggil Ibuku ke sekolah ... Cepat ... Cepat ..."
Jika guru lain yang bertugas, Wilson tidak akan takut! Paling-paling dia hanya akan dihukum berdiri selama 10 menit. Tetapi hari ini wali kelasnya, Bu Nydia, yang bertugas. Ini masalah serius.
"Haha... orang gila, kamu sudah tahu takut? Kamu sekarang adalah pria yang menjadi fokus utama Bu Nydia..."
Si gendut Melvin berkata dengan gembira. Sebenarnya situasi mereka berdua tidak beda jauh. Nilai mereka menduduki urutan terakhir di kelas. Mereka juga sering terlambat dan pulang lebih awal. Jadi guru konseling dan wali kelas terus mengawasi mereka akhir-akhir ini.
Ketika Wilson memikirkan wali kelasnya, Bu Nydia, dia langsung berwajah masam, lalu dia tersenyum dan berkata, "Kalau hanya sekadar prianya, aku sangat amat bersedia! Hehe ..."
“Prianya?” Si gendut Melvin menggunakan otaknya yang sekarat untuk berpikir lebih dalam, kemudian dia baru mengerti, “Kamu mau jadi pacarnya Bu Nydia? Mimpi! Apa kamu tahu berapa banyak pria yang mengejar Bu Nydia sekarang? Aku dengar... Dalam beberapa hari terakhir, Bonny Sikma, putra dari wakil walikota, terus memberikan bunga kepada Bu Nydia setiap hari..."
“Benar juga! Sepertinya Bu Nydia adalah guru perempuan paling cantik di Jakarta. Anehnya .. Ada begitu banyak pria yang mengejar Bu Nydia, tapi aku belum pernah melihat Bu Nydia berpacaran dengan siapa pun di antara mereka ..."
Terhadap wali kelasnya yang cantik, dapat dikatakan bahwa Wilson mencintainya, tapi juga takut padanya. Di satu sisi, Bu Nydia sangat cantik. Apalagi dia selalu mengenakan stoking hitam yang seksi dan menggoda. Dia itu salah satu poin yang menarik perhatian Wilson di kelas Bahasa Inggris. Di sisi lain, sebagai wali kelas, Nydia sangat ketat, terutama terhadap siswa seperti Wilson dan Melvin. Dia selalu memasang wajah tegas, selalu menunggu untuk menangkap kesalahan mereka setiap hari. Hampir setiap 2 atau 3 hari, Wilson akan dipanggilnya ke kantor untuk dikritiknya.
__ADS_1
"Benar sekali! Kalau aku bisa jadi pacarnya wanita cantik seperti Bu Nydia ... Bahkan jika masa hidupku harus dipotong 10 tahun … tidak … bahkan 20 sampai 30 tahun, aku pun bersedia … Hehe! Apalagi setelah melihat kaki rampingnya yang selalu dilapisi stoking. Orang gila, apa kamu tahu? Itu motivasi aku setiap kali kelas Bahasa Inggris!"
Memikirkan Nydia yang cantik, Si gendut Melvin berlari sambil menghisap air liurnya.
"Awas ... dasar gendut. Kalau pacar yang dicari Bu Nydia gendut seperti kamu, maka dia benar-benar buta! Jangan berkhayal. Cepat lari, kalau tidak kita akan terlambat.. . "
Setelah melewati jalan ini, mereka akan langsung tiba di SMA Eminen. Wilson merasa kondisi fisiknya sangat baik hari ini. Melvin sudah kehabisan nafas, tapi dia masih bisa mempercepat langkah kakinya tanpa merasa capek.
"Aduh! Tunggu aku... Kenapa kamu tiba-tiba lari begitu cepat ..."
Melvin mati-matian mengejar Wilson di belakang, satu tangan menopang di pinggang.
"Ini sudah 07.57, tinggal 3 menit lagi ... Cepat! Gendut! Kita akan segera tiba..."
Ketika mereka hampir keluar dari gang, Wilson melihat ada beberapa preman yang berjaga di pintu masuk gang. Mereka menghalangi dua siswa SMA Eminen.
"Celaka ... orang gila, itu Theo dari Geng Hercules. Mereka ... sial sekali! Kenapa kita bisa bertemu mereka yang sedang mau minta uang ..."
Melvin menyusuli Wilson. Begitu melihat preman-preman di depan, wajahnya memuram. Dia langsung merogoh sakunya, siap membayar.
"Theo? Preman-preman ini ... selalu menggertak siswa SMA Eminen..."
__ADS_1
Wilson melihat dengan seksama dan mengenali para preman ini. Pemimpinnya yang mengenakan celana jins robek sedang merokok. Dia adalah pemimpin Geng Hercules di daerah ini, nama aslinya Theo Hermanto dan panggilannya "Theo".