The Antagonist

The Antagonist
BAB 57


__ADS_3

Wei Lian jatuh ke dalam jurang setelah menerima tusukan dari Meixi.


"Aku akan mengingat semuanya, walaupun aku mati tetaplah akan kubalas semua dendam-dendamku ini." ucap Wei Lian dengan berlinang air mata.


Meixi tersenyum puas setelah berhasil membuat Wei Lian terjatuh.


"Suamiku..." ucap Meixi.


"Bagaimana lukamu ?." tanya Zi Lan.


"Pipiku masih sakit karena tamparanmu." ucap Meixi dengan manja.


"Maafkan aku." ucap Zi Lan sembari mengelus pelan pipi Meixi.


■■■■■□□□□□


"Apa kalian sudah dengar kalau Wei Lian berusaha membunuh putra tirinya ?."


"Syukur bukan kalau wanita jahat itu mati."


"Aku sangat kasihan pada suami dan ibu dari anak itu, siapa yang tahan dengan wanita gila itu ?."


"Akhirnya wanita iblis itu mati juga."


Banyak orang yang terus membicarakan kematian Wei Lian.


Mereka mengetahui kalau Wei Lian sudahlah mati dengan cara bunuh diri.


Banyak sekali alasan dibalik tindakan bunuh dirinya itu. Ada yang mengatakan karena tak sanggup menahan kesedihan.


Ada pula yang mengatakan karena merasa bersalah karena hampir saja membunuh putra tirinya.


Sekte Wei saat ini tengah berduka, meskipun banyak pendekar yang datang.


Namun mereka justru mengatakan hal kejam soal Wei Lian.


"Bagaimanapun dia adalah istriku, sudah sewajarnya aku melakukan hal ini." ucap Zi Lan pada para tamu yang hadir.


"Ya....walaupun dia bersalah, kita tetap tak boleh melupakan kebaikannya itu." ucap Meixi.


Sejak hari itu Zi Lan pun diangkat sebagai ketua sekte Wei.


Mereka berdua juga dikenal sebagai pasangan yang sangat baik hati.


Pada malam harinya, Dongfang pun menemui Zi Lan dan Meixi secara pribadi.


"Selamat Tuan Zi Lan." ucapnya dengan tulus.


"Terima kasih Tuan, ini semua karena bantuan anda." jawab Zi Lan.


"Benar Tuan, kalau bukan karena bantuan anda, mungkin aku sudah mati ditangan wanita jahat itu." ucap Meixi.


Dongfang pun tersenyum mendengarnya, "Ya...aku sendiri jugalah melihat dengan mataku, anda tak membunuhnya dengan sengaja Nyonya Meixi."


* FLASHBACK ON *


Malam itu Zi Lan meminta bantuan Dongfang untuk menyelamatkan Meixi.


"Tuan...bantulah aku menyelamatkan istriku itu. Kalau aku melakukannya dengan tanganku sendiri...pastilah masalah akan bertambah besar." mohon Zi Lan.


"Berdirilah Tuan, aku akan membantumu." jawab Dongfang dengan gampangnya.

__ADS_1


Zi Lan pun sumringah, ia benar-benar sangat berterima kasih pada Dongfang.


"Terima kasih Tuan, aku benar-benar berhutang padamu." ucap Zi Lan.


"Tuan...aku akan menemui istriku terlebih dahulu." ucap Zi Lan.


Zi Lan pun pergi untuk menemui Wei Lian dan juga Meixi.


Dengan begitu ia bisa membuat rencana yang tepat dan bisa memberitahukannya kepada Dongfang.


Kini ia sedang menemui Meixi, dilihat istri keduanya itu menangis ketika ia datang.


Namun istrinya keduanya itu membelakangi dirinya, ia pun paham kalau istri keduanya itu pasti kecewa.


"Meixi..." panggil Zi Lan.


"Untuk apa kau kemari ? Pergilah dan bahagiakan saja Wei Lian itu!." jawab Meixi ketus.


"Aku haruslah berpura-pura istriku, mana mungkin aku mengkhianatimu." ucap Zi Lan.


Namun Meixi masih tak mempercayai Zi Lan karena lelaki itu sudah menamparnya karena Wei Lian.


"Pergilah, aku tak ingin melihatmu!." ucap Meixi.


"Aku akan membebaskanmu nanti, percayalah padaku istriku." ucap Zi Lan.


Meixi pun berdecak kesal, mana mungkin suaminya itu menyelamatkannya.


"Kau saja tunduk pada Wei Lian, mana mungkin kau membebaskan aku." ucap Meixi.


"Aku sudah menyusun rencana istriku, Tuan Dongfang pun akan membantu kita." ucap Zi Lan dengan harapan Meixi akan mempercayai dirinya lagi.


"Baiklah, awas saja kalau kau mengkhianatiku." ucap Meixi.


"Tak akan istriku." jawab Zi Lan.


Dan benar saja, Dongfang benar-benar menyelamatkan dirinya dari pedang Wei Lian.


Sebenarnya, suaminya itu tak ingin membunuh Wei Lian.


Namun ia tak dapat menahan diri, wanita itu sudah membuat dirinya kesakitan dan juga malu.


"Aku memanglah membunuh putramu itu Wei Lian. Zi Lan pun juga tahu, namun ia membiarkanku karena dia sangat mencintaiku." bisik Meixi lalu mendorong tubuh Wei Lian.


Wei Lian kini sudahlah jatuh ke dalam jurang. Pastilah tubuh kecil itu hancur begitu sampai di dasar.


"Akhirnya aku akan menjadi satu-satunya wanita yang berkuasa." batin Meixi.


* FLASHBACK OFF *


■■■■■□□□□□


Di sisi lain Xu Ye Han sudah sampai di goa dimana tempat bunga biru tumbuh.


Goa ini sangatlah dingin dan licin karena salju yang mencair.


"Ye Han...ayahku harusnya berada disini, terakhir kali ia memberi kabar dia sudahlah berada di goa ini." ucap Yifei.


"Jin Ling carilah keberadaan ayah Yifei, aku akan pergi untuk mengambil bunga biru." ucap Ye Han.


"Sebaiknya kita tak berpisah Ye Han, kita tak tahu ada apa di goa ini." ucap Yifei.

__ADS_1


"Semakin banyak orang ikut denganmu, bukankah semakin banyak juga bunga biru yang dapat kau bawa ?." tanya Yifei.


Ye Han pun terdiam sejenak, yang dikatakan Yifei memang ada benarnya.


"Baiklah, ayo kita pergi bersama." ucap Ye Han.


Yifei pun terlihat senang mendengar jawaban Ye Han.


Akhirnya mereka bertiga memasuki goa lebih dalam, semakin kedalam semakin gelap dan dingin.


Bahkan mereka merasakan ada sesuatu yang terbang diatas mereka.


Yifei yang ketakutan memeluk erat lengan Ye Han.


"Kenapa goa ini sangat menakutkan." lirih Yifei.


Mereka bertiga berjalan dengan sangat pelan, sampai pada akhirnya mereka menemukan sebuah obor yang menyala.


"Sepertinya ada seseorang disini. Jin Ling cobalah periksa." titah Ye Han.


"Baik Tuan." ucap Jin Ling.


Jin Ling pun mempercepat langkahnya, ia pun memperhatikan keadaan sekitar.


Dibandingkan tadi, goa ini terasa lebih hangat, ia juga melihat bunga biru yang dicari oleh Tuannya.


"Tuan...keadaan disini aman., ada banyak bunga juga disini" teriak Jin Ling.


Tiba-tiba saja ada seseorang yang menyerang Jin Ling.


Dia melempari Jin Ling dengan sebuah belati.


"Arghhhh." teriak Jin Ling.


Ye Han pun terbang mendekat ke arah Jin Ling.


Dia berusaha melindungi Jin Ling dari serangan beruntun itu.


Yifei yang melihat itupun sangat terpukau.


"Keluarlah, jangan menggunakan trik kotor." teriak Ye Han.


Terdengar sebuah tawa yang menggema di goa itu.


"Yifei beradalah didekat Jin Ling." ucap Ye Han.


"Yifei ?." itulah yang terdengar oleh mereka bertiga.


Kini muncullah seorang lelaki dari balik batu.


Yifei terlihat sangat senang melihat lelaki itu, tak salah lagi lelaki itu adalah ayahnya.


"Ayah." teriak Yifei lalu berlari ke arah ayahnya itu.


"Putriku, kenapa kau berada disini ?." tanya lelaki itu.


"Aku sangat khawatir padamu ayah."


"Ahhh....aku kemari bersama dengan Ye Han ayah." ucap Yifei dengan penuh semangat.


"Maksudmu Xu Ye Han ?." tanyanya.

__ADS_1


__ADS_2