The Antagonist

The Antagonist
BAB 63


__ADS_3

"Kenapa kau bersusah payah menyiapkan ini semua Liuli ? Wanita itu sudah mati, dia tak akan bisa menikmati ini semua." ucap Meixi.


Liuli sama sekali tak melirik ataupun menjawab perkataan Meixi. Ia teruslah berkutat dengan piring-piring yang ada diatas meja.


"Kau terus saja mengabaikanku Liuli, apa kau tak takut dihukum ?." tanya Meixi.


Akhirnya Liuli pun membuka mulutnya itu, "Nyonya, hari ini aku sangat sibuk, jadi kumohon jangan menggangguku."


Meixi pun merasa sangat kesal, Liuli sekarang sudahlah semakin berani padanya. Sejak suaminya itu memberi ijin, pelayan didepannya ini seolah tak punya rasa takut lagi.


"Ck...kau berani memerintahku Liuli ? Apa kau lupa kalau aku ini adalah majikanmu, kau itu cuma seorang pelayan yang merangkak dibawahku." ucap Meixi kesal.


Ya, Liuli pun juga menyadari kalau ia tak seperti sebelumnya.


Ia tak ingin menjadi lemah dan tunduk pada wanita yang telah membuat Nyonyanya terluka.


Kalau ia tunduk, ia sangatlah takut kediaman ini akan ditempati ataupun dirobohkan oleh Meixi.


Dia dengan susah payah memohon pada Zi Lan agar kediaman ini dibiarkan kosong, dan dialah yang akan mengurusnya.


Kalau sampai ia kehilangan tempat ini, tak akan ada lagi tempat untuk Wei Lian pulang.


"Aku memerintahkanmu untuk pergi ke kamarku Liuli." ucap Meixi.


"Maaf Nyonya, majikanku adalah Nyonya Wei Lian, jadi hanya dialah yang bisa memberiku perintah." jawab Meixi ketus.


Meixi benar-benar kehabisan kesabarannya, ingin sekali dia menendang pelayan ini dari sekte Wei.


Sayangnya dia harus menahan amarahnya itu, dia sangat menginginkan Liuli menjadi bawahannya.


"Wanita itu sudah mati Liuli, lagipula kau membuat masakan ini dengan uang yang dihasilkan oleh suamiku dan juga aku." ucap Meixi.


Liuli hanya terdiam, memanglah benar yang dikatakan oleh Meixi.


Namun mereka bisa hidup enak begini karena harta yang ditinggalkan oleh leluhur keluarga Wei.


"Kalau kau sudah sadar, segeralah ke kamarku, aku akan menunggumu disana." ucap Meixi lalu berjalan pergi meninggalkan kediaman Wei Lian.


■■■■■□□□□□


Di kibaskannya lengan bajunya yang lebar itu, baju yang dipakai oleh Meixi sangatlah indah dan mewah.


Sejak kematian Wei Lian, dia memanglah menghambur-hamburkan harta milik keluarga Wei untuk berfoya-foya.


"Nyonya kenapa anda mempertahankan pelayan tak tahu diri itu ? Setiap hari dia semakin kurang ajar." ucap Hao Ran.


"Dia adalah anjing yang setia Hao Ran, dan aku sangat menyukai anjing yang seperti itu." jawab Meixi.


"Tapi anjing itu bukan setia pada anda Nyonya." ucap Hao Ran.

__ADS_1


"Aku akan membuatnya setia padaku. Dengan begitu Wei Lian yang berada di neraka pasti akan cemburu." jawab Meixi sembari terkekeh kecil.


Ya, walaupun Wei Lian sudah mati, dia masih ingin membuat wanita itu cemburu padanya.


■■■■■■□□□□□


Malam hari sudahlah tiba.


Dengan menggunakan baju putihnya itu, Xu Ye Han sedanglah duduk diatas atap kediaman Wei Lian.


Di sebelahnya tampak 2 guci arak, "Aku datang lagi Lian'er." gumamnya.


Mata tajamnya itu terlihat sendu dan memerah, beberapa kali ia juga mengusap matanya itu.


Sambil menenteng kedua guci arak itu, Xu Ye Han melayang turun ke bawah.


Bak dirumahnya sendiri, Ye Han langsung masuk ke dalam kamar Wei Lian.


Kamar itu terlihat sangat rapi dan bersih, Liuli memanglah merawat dan membersihkan kamar ini setiap hari.


Di pandanginya sketsa wajah dari Wei Lian dan juga putranya Xian'er.


"Apa kau sudah bahagia Xian'er ? Ibumu itu sudah menemanimu setahun ini. Kau harus menjaganya dengan baik, jangan membuatnya menangis..." ucap Xu Ye Han.


Ye Han pun menaruh salah satu araknya dimeja yang berada sedikit lebih rendah dibawah sketsa ibu dan anak itu.


"Hari ini aku membawakanmu Guihua Jiu, itu adalah arak kesukaanku. Malam ini temani aku Lian'er." ucap Ye Han sembari meneguk salah satu arak yang masih berada ditangannya.


Ia sudahlah terbiasa melihat Ye Han berada di kediaman ini.


"Tuan." sapa Liuli sembari membungkuk.


Ye Han hanyalah mengangguk mendengarnya.


"Pasti anda yang membawa arak itu, harusnya anda menuangkan itu di luar, bukannya menaruh disini." ucap Liuli.


"Kau itu sangat cerewet Liuli." jawab Ye Han.


Liuli hanya menggelengkan kepalanya.


"Tuan....apa anda tahu dulu Nyonya pernah berkata padaku kalau anda adalah teman terbaiknya." ucap Liuli.


Ye Han pun tersenyum kecut, bagaimana bisa ia dianggap sebagai teman terbaik ?.


Ia tak bisa menjaga Wei Lian, sebutan itu sangatlah tak pantas ia terima.


"Tuan selama ini anda sudah mengajariku berkultivasi, kurasa sekarang kemampuanku jugalah sudah lebih baik." ucap Liuli.


"Lalu ?." tanya Ye Han.

__ADS_1


"Aku ingin menjadi pelayan Nyonya Meixi." ucapnya.


Sebuah senyuman langsung terukir dibibir Ye Han, ia benar-benar sangat senang mendengarnya.


"Butuh waktu satu tahun untuk membuatmu menerima perintah itu Liuli." ucap Ye Han.


Liuli terdiam mendengarnya, 1 tahun memanglah waktu yang cukup lama untuk menata hatinya.


Dengan menerima tugas itu sama saja ia akan mengkhianati Wei Lian.


Meskipun tugas itu sendiri jugalah ia lakukan untuk membalas dendam majikannya.


"Aku haruslah melatih bibirku ini untuk terbiasa memanggilnya sebagai majikanku Tuan." ucap Liuli.


"Baiklah Liuli, mulai besok jalankan rencana itu. Buatlah wanitu tertarik dan benar-benar tertipu." ucap Ye Han.


Liuli pun mengangguk mantap.


"Kak..."


Terdengar suara seseorang di luar kamar, Liuli sangatlah mengenal suara itu.


"Zi Yu." gumam Liuli.


Meskipun belum menjawab lantang panggilan itu, Zi Yu sudahlah menerobos masuk ke dalam kamar.


Matanya itu mendapati keberadaan Ye Han yang tengah menatapnya dengan sinis.


"T-tuan." sapa Zi Yu dengan suara bergetar.


Zi Yu kecil pun membungkuk pada Xu Ye Han, setelah itu ia langsung berlari ke pelukan Liuli.


"Mengapa kau kemari Zi Yu ? Ini sudah malam, ibumu itu pasti sedang khawatir." ucap Liuli.


Zi Yu kecil pun menunjukkan sesuatu yang ia sembunyikan di dalam tangan kecilnya.


"Permen"


"Kau mau makan permen itu ? Atau kau memberikannya padaku ?." tanya Liuli kebingungan.


Zi Yu kecil pun menggeleng, ia pun menunjuk ke meja dimana Ye Han menaruh araknya tadi.


"Untuk peri dan kakak." ucapnya.


Liuli pun tersenyum, dia pun meraih permen itu dan meletakannya di atas meja.


"Sudah, sekarang pergilah agar ibumu tak memarahimu lagi." ucap Liuli.


Sebelum berlari pergi, Zi Yu kecil membungkuk pada Wei Lian dan juga Xian'er.

__ADS_1


"Anak itu memang tak tahu malu." ucap Ye Han.


Ya, Ye Han memang tahu kalau anak kecil itu juga sering datang ke kediaman ini. Dia akan melihat lukisan Wei Lian dan juga Xian'er, lalu pergi begitu saja.


__ADS_2