The Antagonist

The Antagonist
BAB 65


__ADS_3

"Cantik." puji Wei Lian.


Dari matanya, Bai Li sangatlah tahu kalau Wei Lian tersenyum tulus.


Namun ia tak terbiasa menggunakan baju seperti itu, lebih mudah baginya untuk bergerak bebas dengan menggunakan pakaian laki-laki.


"Kak, aku tak terbiasa menggunakan pakaian seperti ini." ucap Bai Li.


"Kau sangat cantik berpakaian seperti ini Bai Li, aku sangat menyukainya." ucap Wei Lian.


Ehemmm....ehemmm..


Terdengar suara dehaman seorang wanita yang membuat Wei Lian dan juga Bai Li menoleh.


Darah dalam tubuh Wei Lian langsung berdesir begitu mengetahui siapa wanita itu.


Tangannya kini juga berkeringat, jantungnya pun berdebar tak karuan.


"Pendekar Bai bukan ?." tanyanya.


"Kalau bukan tak sengaja menguping pasti aku tak akan tahu kalau anda berada disini."


Bai Li memutar kedua bola matanya malas.


Ia tak menyangka akan bertemu dengan wanita ini sangat cepat.


Entah sebuah keberuntungan atau kesialan bagi Wei Lian dan juga dirinya.


Wanita didepan mereka itu adalah Meixi, orang yang telah menyakiti Wei Lian.


Penampilannya benar-benar menarik perhatian banyak orang, bibir berwarna merah darah, alis yang sangat hitam dan tajam.


Ia juga menggunakan banyak perhiasan dimana perhiasan itu sangatlah tidak asing dimata Wei Lian.


"Kau memang tak pantas berpakaian seperti ini pendekar Bai, sangat jelek." ucap Meixi.


Apa ?.


Setahun tak bertemu mulut wanita ini benar-benar semakin berani.


"Dulu anda berbicara sangat manis pada siapapun, apa sekarang mulut anda membusuk sampai-sampai yang keluar ucapan seperti itu ?." tanya Bai Li.


Terlihat wajah memerah Meixi, ia pastilah sangat marah.


Namun banyak orang yang memperhatikan mereka saat ini, karena Bai Li berbicara dengan keras.


Bai Li sendiri sudahlah mendekat ke arah Wei Lian dan menggenggam tanganya erat.


"Sepertinya kak Lian'er ketakutan." batin Bai Li.


Kedua mata Meixi pun menyipit memperhatikan Wei Lian.


Wanita didepannya ini sangatlah tidak asing, namun cadar itu menghalangi dirinya.

__ADS_1


"Siapa wanita disampingmu ini pendejar Bai ? Sepertinya mulutnya lebih busuk sampai-sampai harus menggunakan cadar." ucap Meixi.


"Kau!"


"Aku Jian Mei." ucap Wei Lian.


Bai Li semakin menggenggam erat tangan Wei Lian, tangannya sangatlah gemeataran saat ini.


"Jian Mei ? Aku tak pernah mendengar namamu itu." ucap Meixi.


"Tentu saja anda tak pernah mendengarnya selir Meixi. Aku berasal dari tempat yang jauh." ucap Wei Lian.


Ya, dia haruslah berani, kalau ia saja gemetaran karena takut, bagaimana mungkin ia bisa membalaskan dendamnya pada Meixi ?.


"Pantas saja penampilanmu sangat kampungan. Sepertinya kau menggunakan cadar itu juga untuk menyembunyikan wajah buruk rupamu." ucap Meixi sambil terkekeh pelan.


Hahahahaha....


Meixi terheran-heran karena wanita bernama Jian Mei itu justru tertawa saat ia hina.


Apa wanita itu bodoh ? Dirinya dihina justry tertawa, seekor anjing saja saat dihina akan menggonggong marah.


"Kak..." ucap Bai Li pelan.


Wei Lian pun melepaskan genggaman tangan Bai Li, dia menepuk balik tangan Bai Li.


"Ya benar yang anda katakan, semua pasti akan ketakutan begitu aku membuka cadarku ini. Karena itulah aku tak akan membukanya." ucap Wei Lian.


Ck!


"Saat anda melihatnya pastilah jantung anda itu akan berhenti berdetak." lanjut Wei Lian.


"Jaga ucapanmu itu wanita kampung, apa kau tak tah---"


Belum selesai Hao Ran berbicara, Meixi langsung mengangkat tangannya sebagai tanda agar pelayannya itu berhenti berbicara.


"Sudahlah Hao Ran, memanglah wanita-wanita dari desa selalu terkenal bar-bar dan tak tahu sopan santun." ucap Meixi.


Bai Li pun merasa sangat kesal mendengarnya, bukan kesal karena dirinya dihina.


Namun ia kesal karena ia menghina Wei Lian. Andai saja dia tahu siapa wanita bernama Jian Mei itu.


"Kalau begitu pastilah anda juga berasal dari desa Nyonya Meixi, anda bahkan lebih bar-bar dari kami." ucap Bai Li.


"Kau benar Bai Li, dia seperti orang kaya baru di desaku. Begitu punya banyak uang pasti langsung memakai banyak perhiasan mewah, padahal memakai perhiasan dan pakaian mewah itu tetap akan merubah jati dirinya yang hanya sebuah kerikil menjadi sebuah permata."


"Kau!!"


Meixi benar-benar sangat marah mendengarnya.


Baru ini dihina terang-terangan oleh orang miskin. Kalau saja tak memandang kultivasi Bai Li yang lebih tinggi darinya, pasti ia sudah membunuh wanita bernama Jian Mei itu.


"Ucapan anda sangat kasar nona." ucap seseorang.

__ADS_1


Mata Wei Lian mendapati seorang wanita yang tengah berjalan ke arah mereka.


Wanita itu terlihat sangat anggun dimatanya.


"Benar bukan kalau wanita ini sangat kasar nona ?." tanya Meixi sembari bersungut pada Wei Lian.


"Ucapan anda juga sangat kasar Nyonya." ucapnya.


Meixi kembali kesal mendengarnya, ia mengira kalau Yifei akan membantunya menyudutka Jian Mei dan juga Bai Li.


Ya, wanita itu adalah Yifei.


Sebuah kebetulan memang mereka bisa bertemu di toko itu.


Wei Lian yang sedang mencari baju untuk Bai Li, Meixi yang tak sabar untuk mencoba baju yang ia pesan. Yifei yang ingin memesan baju untuk Ye Han.


"Ck! Kau jugalah wanita tak tahu sopan santun nona, dulu kau menerobos rumahku, sekarang kau menggangu urusanku.", ucap Meixi.


Menerobos rumah ?


Wei Lian yang mendengarnya tentu saja penasaran, untuk apa wanita itu menerobos rumahnya ?.


Ia tak mengenal wanita ini, dari ucapan Meixi sepertinya mereka juga tak mengenal dan berhubungan baik.


"Huhh....memang setiap orang yang berhubungan baik dengan Xu Ye Han selalu saja berperilaku seperti orang rendahan." ucap Meixi.


"Jaga ucapan anda!." ucap mereka bertiga bersamaan.


Meixi pun terkejut karena wanita-wanita itu mengatakan hal yang sama.


Ya, memang sangat cocok sekali.


"Bai Li...ayo kita pergi saja." ucap Wei Lian.


"Baik kak." jawab Bai Li.


Sebenarnya ia masih penasaran dengan Yifei, jika wanita itu berhubungan dengan Xu Ye Han.


Pastilah wanita itu bisa membantunya untuk bertemu dengan Ye Han.


Kini ia dan Wei Lian sedang menghadap ke pemilik toko.


"Jadi apa anda sudah menemukan pakaian yang cocok ?." tanya pemilik toko itu.


"Ya, aku sudah menemukannya Tuan. Aku akan mengambil beberapa baju ini dan juga beberapa hiasan." ucap Wei Lian.


"Wahhh....anda harus sering-sering datang kemari nona." ucap pemilik toko itu dengan semangat.


"Ahhh....untuk bayarannya mintalah tagihan ke alamat ini, mereka pasti akan membayarmu." ucap Wei Lian.


Pemilik toko itu awalnya menolak, namun begitu mengetahui dimana ia akan menagih bayarannya ia pun mengangguk senang.


"Kak...memangnya siapa yang akan membayar ?." tanya Bai Li penasaran.

__ADS_1


"Sekte Wei, merekalah yang akan membayar pengeluaranku." jawab Wei Lian sembari tersenyum.


__ADS_2