
Baju putihnya itu berkibar dengan indahnya, namun orang lain bisa saja salah mengira itu adalah hantu.
Kini ia sudahlah menginjak atap kediaman Wei Lian.
Lagi-lagi ia datang kemari untuk melepas rasa rindunya itu.
Xu Ye Han, sudah pasti lelaki itu.
Tak ingin berlama-lama diatas genteng, Ye Han pun melayang turun kebawah.
"Sedikit gelap." batin Ye Han saat mendapati kamar Wei Lian terlihat lebih gelap dari pada sebelumnya.
Dengan langkah pasti, Ye Han pun memasuki kamar Wei Lian.
Pandangan matanya itu langsung tertuju pada meja dimana sketsa wajah Wei Lian diletakkan.
"Apa kau menikmati arak yang kubawakan Lian'er ?." ucap Ye Han dengan tersenyum tipis.
Ye Han pun berjalan mendekat ke arah meja itu, dia melihat guci arak yang ia bawa sudahlah habis, bahkan lilin pun mati.
"Lilin dan dupa mati, apa kau marah karena aku datang terlambat ?." ucap Ye Han.
Ye Han pun meletakkan satu guci arak baru di atas meja, ia juga menghidupkan lilin dan dupa kembali.
"Aku sudahlah membawakanmu arak lagi, ayo kita minum bersama lagi malam ini." gumam Ye Han.
Ye Han pun memandang sketsa Wei Lian dalam-dalam. Hanya satu kata yang bisa ia ucapkan begitu melihatnya.
"Cantik."
Wei Lian sangatlah cantik sejak kecil, bahkan saat sakit-sakitan karena racun bunga biru, ia tetaplah sangat cantik.
Bagi Ye Han tak ada yang bisa menandingi kecantikan Wei Lian.
"Apa kau tahu Lian'er, lelaki yang kau cintai itu benar-benar tamak. Dulu dia ingin memilikimu, memiliki Meixi, menjadi ketua sekte, sekarang dia benar-benar menginginkan jurus tapak darah. Benar-benar tak tahu diri sama sekali." ucap Ye Han.
"Lian'er, aku akan menghalanginya, aku tak akan membiarkan lelaki itu hidup nyaman selamanya, dia haruslah menebus semua kesalahannya padamu." gumam Ye Han.
Ye Han pun meneguk arak yang yang dia pegang, matanya memerah menahan tangis.
Selama ini dia tak pernah menunjukkan sikap selemah ini.
Xu Ye Han sang wajah dewa, sangat sempurna, dan sebutan-sebuatan rupawan lainnya.
Ia berpikir pastilah julukan itu akan langsung musnah begitu seseorang melihatnya saat ini.
Di sisi lain Wei Lian yang daritadi mendengar racauan Xu Ye Han berusaha menahan isak tangis.
Di saat dirinya sedikit membenci lelaki itu, rupanya Xu Ye Han malah menyalahkan dirinya sendiri.
Ia tak pernah menyangka akan diperlakukan sebegitu baiknya oleh lelaki yang selama ini ia maki sebagai orang yang tak punya sopan santun.
__ADS_1
"Aku sangat iri padamu Wei Lian." batin Jian Mei.
Sudah cukup lama Wei Lian menunggu Xu Ye Han pergi, namun lelaki itu sama sekali tak segera beranjak.
Krekkk....
Pintu kamarnya kembali terbuka saat ini, entah siapa lagi saat ini yang datang.
"Rupanya kau Zi Yu." ucap Ye Han.
Deg!!
Hati Wei Lian terasa sakit mendengarnya.
Zi Yu ? Anak dari musuhnya, anak yang ia lindungi sebelum kematiannya.
Untuk apa anak itu datang kemari ?.
Dan apa-apaan yang ia dengar dari mulut Xu Ye Han tadi ?.
Dia berkata seolah sudah terbiasa melihat Zi Yu datang kemari, begitu juga dengan Zi Yu.
Namun ia haruslah bersabar, jika ia keluar saat ini, pastilah Xu Ye Han akan menemukannya.
"Paman." ucap Zi Yu kecil sembari berjalan mendekati Ye Han.
Ye Han tetaplah terdiam tak menjawab, ia hanya memandang Zi Yu dengan tatapan tak suka.
Xu Ye Han menyeringai saat mendengarnya, terkadang anak kecil ini telihat takut padanya, namun terkadang ia bersikap seolah sangat akrab dengan dirinya.
Seperti saat ini, dia berkata dengan santainya.
"Ya...ini semua karena orang tua jahatmu itu." ucap Ye Han.
"Dia tak akan suka melihatmu seperti ini." ucap Zi Yu sembari menunjuk sketsa Wei Lian.
"Dialah yang tak suka melihatmu berada disini. Apa kau tak tahu itu ?." tanya Ye Han sembari memandang Zi Yu.
Zi Yu kecil pun mengangguk mengiyakan seolah benar-benar mengerti dengan yang Ye Han ucapkan.
"Tapi Zi Yu menyukainya." jawab Zi Yu.
Hahahaa....
Terdengar suara tawa Xu Ye Han, ia tak menyangka akan mendengar ucapan itu dari mulut anak kecil itu.
Orang tuanya telah menyakiti Wei Lian selama ini, namun dia berkata sangat menyukai Wei Lian.
Sangat lucu sekali.
"Apa kau merasa bersalah ? Kalau ya, hiduplah dengan perasaan itu sampai kau dewasa, bahkan sampai kau mati nantinya." ucap Ye Han.
__ADS_1
Ucapannya itu terdengar sangat kasar bagi anak seumuran Zi Yu.
Namun Ye Han tak peduli, kebencian terhadap Yuan Zi Lan dang Lu Meixi lah yang membuatnya bersikap seperti itu.
Zi Yu kecil hanyalah terdiam saat mendengarnya.
Xu Ye Han pun bangkit, dia berniat untuk pergi meninggalkan kediaman Wei.
Keberadaan Zi Yu sedikit mengganggu waktu intimnya bersama Wei Lian.
"Aku pergi." ucap Ye Han lalu pergi meninggalkan Zi Yu sendirian.
Wei Lian yang berada di bawah ranjang tentunya sangat terkejut.
Ya, ia tak pernah mendengar ucapan sejahat itu keluar dari mulut Ye Han.
Walaupun masih kecil, namun anak itu sudahlah bertambah usianya. Pasti dia sudah mengerti dengan ucapan-ucapan itu.
Begitu Ye Han sudah benar-benar pergi dari kamarnya, Wei Lian pun keluar juga dari tempat persembunyiannya.
Ia mendapati Zi Yu yang tengah menunduk didepan meja.
"Ia tak menyadari keberadaanku." gumam Wei Lian.
Wei Lian pun berjalan dan menepuk bahu kecil Zi Yu dari belakang.
Anak itu berbalik dan menoleh padanya, matanya sedikit memerah, sepertinya ia menahan tangis.
Tak bisa dipungkiri kalau Wei Lian juga membenci anak ini, namun ia selalu menekan rasa bencinya itu.
Yang melakukan kesalahan adalah orang tuanya, anak ini tak bisa disalahkan karena kejahatan orang tuanya.
Pastinya pun ia tak pernah ingin dilahirkan dari orang tua yang seperti apa.
"I-ibu..." ucap Zi Yu kecil terbata-bata.
"Ya, kembalilah ke ibumu, dia pasti khawatir karena kau pergi di tengah malam." ucap Wei Lian.
Zi Yu kecil pun mendekat dan memeluk kaki Wei Lian.
Hati Wei Lain bergetar, anak kecil itu dulu juga melakukan hal seperti itu padanya. Namun ia tak boleh goyah begitu saja.
Ia haruslah membujuk anak kecil itu.
"Anak kecil apa kau mau permen ?." tanya Wei Lian.
Zi Yu kecil pun mengangguk dengan semangat.
"Kalau begitu berjanjilah kau tak akan membocorkan pada siapapun kalau kau melihatku dan lelaki tadi berada disini." ucap Wei Lian.
"Ya...ya aku berjanji." jawab Zi Yu.
__ADS_1
"Anak pintar, kalau kau menurut pasti aku akan memberimu banyak permen." ucap Wei Lian.