
Wei Lian kini sedanglah mampir didekat sebuah restoran yang terletak didepan sekte Wei.
Biasanya beberapa pelayan ataupun murid dari sekte Wei akan makan ditempat ini saat mereka bosan dengan makanan sekte yang banyak menghidangkan makanan sehat.
Di sinilah Wei Lian bisa sedikit mencari informasi dari beberapa anggota sekte Wei yang bergossip.
Sejak restoran ini baru dibuka, Wei Lian sudahlah berada ditempat itu.
Ia benar-benar ingin mencari banyak informasi soal sekte Wei saat ini.
Dan benar saja, meskipun harus menunggu lama, ada beberapa pelayan sekte Wei yang datang ke restoran itu.
"Pelayan....bawakan aku 3 mangkuk pangsit, 1 piring daging dan 1 piring ayam goreng."
Setelah memesan mereka pun bergossip ria, dan apa yang mereka ucapkan membuat Wei Lian tak terkejut lagi.
"Huhh....apa kalian tahu betapa borosnya Nyonya Meixi saat ini ? Setiap hari aku harus mencuci baju-baju mewahnya yang tak terhitung jumlahnya."
"Ya, setiap hari dia akan memesan dan membeli baju baru. Bahka kemarin aku melihat dia membawa 3 set pakaian mewah barunya."
"Aku sangat iri padanya."
"Ya, tapi aku sedikit kasihan pada Tuan Zi Lan, dia terlilah kelelahan beberapa bulan ini."
"Ya, kalau kuingat-ingat dia menjadi seperti itu setelah setahun kematian Wei Lian iblis itu."
Huh!
Hanya kata itu yang bisa dibatin oleh Wei Lian.
Wanita iblis ? Selama ini dia tak peduli mendapat julukan seperti itu.
Namun kali ini dia memaki-maki dirinya sendiri, bagaimana bisa selama ini dia diam saja tak peduli.
Dia adalah korban dari dua orang kejam itu. Merekalah yang iblis, bahkan mereka lebih kejam dari iblis itu sendiri.
Namun ada hal yang masih membuat Wei Lian penasaran.
Yuan Zi Lan itu menjadi tak bersemangat sejak peringatan ke 1 tahun kematiannya. Mengapa ?
Sepertinya dia hanya bersandiwara saja, itulah jawaban yang Wei Lian buat sendiri.
Namun tiba-tiba saja Wei Lian mendengar satu informasi yang membuat dirinya sangat terkejut dan sedih.
"Ahhh....kalian tahu bukan kalau Liuli itu menjadi pelayan pribadi Nyonya Meixi ? Wahhh...hidupnya benar-benar makmur saat ini."
"Aku juga iri padanya, dulu dia menjadi pelayan kesayangan Wei Lian, sekarang dia juga menarik perhatian Nyonya Meixi."
"Setiap hari dia membawa hadiah yang diberikan Nyonya Meixi."
Jadi, orang yang selama ini selalu melindungi dan berada disisinya itu sudahlah menjadi orang kesayangan musuhnya.
__ADS_1
Dia terluka, namun haruslah menahannya, Wei Lian sudah terbiasa dengan hal seperti ini.
Di khianati dan ditinggalkan oleh orang yang dia sayangi. Ia haruslah cepat-cepat melupakan rasa sakitnya itu.
Diam-diam Wei Lian sudahlah merencanakan untuk menyusup ke dalam sekte Wei.
■■■■■□□□□□
Sebelum tengah malam, Wei Lian sudahlah menyusup ke dalam sekte Wei.
Dengan kultivasinya saat ini tak begitu sulit baginya untuk meloncati benteng tinggi dengan tubuh lemah itu.
Tentunya ia merasa bangga bisa melakukan hal itu.
Sembari berjalan sembunyi-sembunyi, Wei Lian kembali mengenang masa-masa indah dan sedihnya berada di tempat ini.
"Tempat ini tak banyak berubah." gumam Wei Lian.
Wei Lian memperlihatkan keadaan kediamannya itu, sangat bersih dan rapi.
Namun apa gunanya kalau disini saja tak ada yang menempati, dirinya sudahlah mati.
Dengan segera Wei Lian pun masuk ke dalam kamarnya, dan benar saja tak ada yang berubah dari kamarnya itu.
Semua barang masih berada di tempat yang sama.
Namun masihlah ada hal asing baginya, dengan mata kepalanya sendiri ia melihat sketsa wajahnya dipajang di sebuah meja.
"Aku sudah benar-benar mati di tempat ini." gumam Wei Lian.
Wei Lian pun berjalan mendekati meja itu, di pandanginya dengan kesal dupa dan lilin itu.
Di tiupnya lilin dan dihancurkannya dupa didepannya itu.
Ya, dia mengambil dan menjatuhkan dupa itu ke lantai, ia menginjaknya dan membuat dupa itu hancur tak karuan.
"Membuatku kesal saja." gumam Wei Lian.
Wei Lian pun meraih arak didepannya, mungkin karena sudah dibuka, arak itu sudah tak beraroma lezat.
Masa bodoh, Wei Lian tetap meneguk seguci arak itu.
Meskipun tipis, Wei Lian mengecap rasa yang tak asing dari arak itu.
"Ye Han." gumam Wei Lian.
Ya, dia sudah benar-benar mengingatnya, dia meminum arak ini setiap Ye Han berkunjung.
Lelaki itu akan membawa 2 guci arak untuk dinikmati saat mereka berdua mengobrol di gazebo.
Bibir Wei Lian pun membentuk huruf U begitu mengingat lelaki itu.
__ADS_1
"Sepertinya dia masih sering berkunjung kemari. " gumamnya lagi.
Biarpun begitu, ia masihlah sedikit kecewa pada Xu Ye Han.
Mengapa dia tak datang pada hari itu ? Apa dia tak menerima suratku ?.
Huh.
Dengan meneguk kembali arak itu, Wei Lian memutar tubuhnya, bola matanya itu bergerak ke kanan dan kekiri seolah mencari sesuatu.
"Dimana lukisan anakku itu ?." gumam Wei Lian sembari membongkar beberapa laci dan almari untuk mencari sketsa wajah anaknya.
Greppp!
Dia sudahlah mendapatkan lukisan itu, meskipun tinta dalam lukisan itu sudah tak setejam dulu, namun ia masih bisa melihat ketampanan anaknya itu.
Mungkin Liuli tak merawat lukisan itu dengan baik. Itulah yang ia pikirkan.
"Aku sangat merindukanmu anakku." gumam Wei Lian.
Dia pun duduk di atas ranjangnya, memperhatikan dengan seksama kamarnya dulu.
Jian Mei masihlah mengingat bagaimana reaksinya dulu saat baru memasuki dunia novel ini.
Satu tahun berlalu begitu saja, ia memanglah membuat Wei Lian mati ditangan Meixi dan juga Zi Lan.
Namun ia tak menyesal, kalau saja ia mengikuti alur novel, pastilah ia tak akan pernah tau bahwa suaminya itu sangatlah jahat.
"Wei Lian....Wei Lian kau benar-benar orang yang kesepian." gumam Jian Mei.
Pendengaran Wei Lian langsunglah menajam, ia mendengar pergerakan dari atas atap kamarnya.
Dengan segera Wei Lian pun berusaha mencari tempat persembunyian.
Terbesit dalam dirinya kalau itu pastilah Xu Ye Han.
Hanya lelaki itulah yang sangat suka menghabiskan waktu di atas genteng kediamannya.
Wei Lian pun segera bersembunyi di bawah ranjangnya. Ia sangatlah takut kalau lelaki itu akan masuk ke dalam kamarnya.
Ia tak ingin ketahuan secepat ini, lagipula ia juga tak ingin melibatkan Xu Ye Han dalam rencana balas dendamnya.
Baginya hubungan mereka sudahlah berakhir sejak hari itu.
Krekkk....
Dari bawah ranjang yang gelap Wei Lian dapat melihat samar-samar sepasang kaki tengah berjalan.
Kaki itu berhenti tepat didepannya, namun dia sangat yakin kalau orang itu menghadap ke arah lain.
"Apa kau menikmati arak yang kubawakan Lian'er ?." ucap suara itu.
__ADS_1