The Antagonist

The Antagonist
BAB 64


__ADS_3

Sudah begitu larut saat Xu Ye Han kembali ke kediamannya.


Ya, ia menyewa sebuah rumah yang letaknya sekitar 4 km dari sekte Wei.


Rumah itu tak begitu besar namun juga tak kecil, untuk menuju ruang utama dari pintu depan haruslah melewati jembatan, dibawahnya ada sebuah kolam yang ditumbuhi oleh bunga teratai.


Ada seorang wanita seorang wanita berdiri di jembatan itu, ia menggunakan baju berwarna biru muda dengan kerah segitiga yang cukup tinggi.


Senyumnya itu langsung mengembang saat melihat kedatangan Xu Ye Han.


"Kau kembali Ye Han." ucapnya dengan suara lembut.


"Kau masih berada disini Yifei ?." tanya Ye Han.


"Ya, aku menunggumu sejak tadi. Sepertinya kau baru saja dari tempat "itu" ?." tanya Yifei.


Ye Han hanyalah tersenyum tipis mendengarnya, setahun berada disekitarnya, pastilah wanita itu sudah tak asing lagi dengan rutinitas itu.


Bibir Yifei yang tadinya tersenyum pun menjadi datar.


"Ye Han...sampai kapan kau akan seperti ini ? Sudah satu tahun berlalu...dan kau masih terjebak di masa lalu." ucap Yifei dengan berhati-hati.


"Sudah satu tahun juga kau berada disini, apa kau tak ingin seperti dulu Yifei ?." tanya Ye Han.


Yifei pun tertunduk malu, ia sama sekali tak bisa menjawab perkataan Ye Han.


Memanglah selama satu tahun ini ia selalu berada di sisi Ye Han untuk merawatnya.


Tak ada siapapun yang menyuruhnya, yang ada justru Ye Han melarangnya, namun ia sendiri bersikeras melakukan hal itu.


"Masuklah Ye Han, kau harus segera mengganti baju dan beristirahat, bau arak dari tubuhmu sangatlah menyengat." ucap Yifei.


"Ya"


Jawabnya begitu singkat, lalu pergi meninggalkan Yifei sendirian.


"Huhhh....aku tetap tak bisa mengalahkan orang mati itu biarpun sudah bersamanya selama satu tahun."


■■■■■□□□□□


Wei Lian teruslah melatih kekuatan tubuhnya.


Setiap hari ia akan mencoba berjalan tanpa bantuan apapun dan siapapun.


100 langkah....200 langkah...300 langkah


Begitu terus hingga menjadi ribuan dan kemudian ia akan mencoba berlari dengan membawa beban yang beratnya akan ia tambah tiap harinya.

__ADS_1


Tentu saja tak mudah, ia akan terjatuh, terluka dan berdarah tiap harinya.


Namun dia akan mengabaikan luka itu, bahkan saat mengetahui lukanya berdarah, Wei Lian akan menutup mata.


Karena semangatnya yang tinggi itu, tak butuh waktu lama baginya untuk memegang pedang lagi.


"Aku tak pernah melihat pedang ini sebelumnya Kak, pedang ini ramping namun sangat kuat. Bahan apa yang kau pakai untuk membuat pedang ini Kak Lian'er ?." tanya Bai Li penasaran.


Wei Lian pun menggeleng, ia sendiri juga tak tahu bahan apa yang digunakan untuk membuat pedangnya itu.


"Aku tak tahu, seseorang menghadiahkan itu padaku." ucap Wei Lian sembari tersenyum tipis.


Bai Li pun tersenyum menggoda, ia sudahlah yakin kalau pedang itu bukan pemberian Yuan Zi Lan, suaminya.


Kalau pemberian laki-laki sampah itu, pastilah Wei Lian sudah membuangnya sejak lama.


"Siapa yang memberikan ini ?." tanya Bai Li.


"Xu Ye Han." jawab Wei Lian singkat.


Bai Li pun tersenyum, ia tahu kalau Tuan Xu Ye Han sangat perhatian pada Wei Lian.


Namun ia tak mengira kalau lelaki itu akan menghadiahkan hal berharga seperti ini.


"Bukankah dia tidak normal ?." ucap Wei Lian.


"Ya ??" Bai Li terkejut mendengar pertanyaan Wei Lian.


"Ahhh...tidak, kami berdua sama-sama tak normal." ucap Wei Lian.


"Mengapa bisa begitu kak ?." tanya Bai Li.


"Setiap wanita pastilah lebih senang jika dihadiahi sebuah perhiasan. Tapi aku menyukai hadiah ini." ucapnya.


Sudah 3 bulan Wei Lian berlatih kultivasi dengan buku panduan yang diberikan Xu Ye Han.


Kemampuannya sudahlah lebih baik lagi, Bai Li sendiri juga terkejut karena buku yang dimiliki Wei Lian ini sangat efektif.


Sempat ia berpikir pantas saja ayah Wei Lian yakni Wei Meng Fan menjadi kultivator yang amat hebat, buku yang ia ciptakan ini sangatlah membantu.


Ya, Bai Li masih tak mengetahui kalau buku itu adalah buatan dari Xu Ye Han.


Setelah itu mereka pun meninggalkan dasar jurang.


Tempat yang ia tuju pertama kali adalah danau dimana ia menyebar abu anaknya, yakni Xian'er.


Mata Wei Lian langsung memerah begitu melihat hamparan air didepannya.

__ADS_1


"Anakku...ibu kembali." ucap Wei Lian.


Bai Li pun terlihat sangat sedih melihat pemandangan ini.


Selama ini dia memanglah tahu soal rumor yang mengatakan Wei Lian menjadi gila karena kematian anaknya.


Namun ia tak berpikiran sempit seperti orang lain. Siapapun pasti akan sedih dan sakit ketika ditinggalkan oleh orang yang mereka sayangi.


Suami yang harusnya menjadi penghibur malah asyik bercumbu dengan selirnya. Kalau ia menjadi Wei Lian pun pasti juga akan menjadi gila.


Bahkan lebih gila dari Wei Lian.


"Mulai sekarang aku akan memanggil anda sebagai nona Jian Mei." ucap Bai Li.


"Ya, mulai sekarang kau harus terbiasa memanggilku Jian Mei." ucap Wei Lian.


Setelah melepas rindu dengan anaknya itu, Wei Lian mengajak Bai Li untuk pergi ke pasar.


Ia haruslah membeli sebuah kain atau apapun itu untuk menutupi wajahnya.


Walaupun mereka mungkin sudah melupakan Wei Lian, namun ia haruslah berjaga-jaga.


"Wahhhh....wajah anda benar-benar luar biasa nona, kenapa anda ingin menutupnya dengan cadar ini ?." tanya pemilik toko kain itu.


"Karena kecantikan itulah aku harus menutupnya tuan. Kalau aku mengumbarnya sembarangan, entah berapa banyak orang yang akan berusaha membunuhku." ucap Wei Lian.


Pemilik kain itu pun terkejut mendengarnya, baru kali ini ia mendengar jawaban yang sedikit menakutkan.


Seharusnya seorang wanita akan mengatakan entah berapa banyak orang yang akan mengejarnya karena jatuh cinta.


Membunuh ? Memangnya berwajah cantik itu sebuah kejahatan ? Sebuah dosa ?.


Aneh sekali jawaban wanita ini.


"Nona...wajah cantikmu itu justru akan dicintai banyak orang, mereka tak akan membunuhmu." ucap pemilik toko.


Wei Lian pun tersenyum mendengarnya, "Aku juga berharap begitu."


Begitu selesai memesan cadar, Wei Lian dan juga Bai Li pun pergi ke sebuah kedai makanan untuk mengisi perut kosong mereka.


"Kak...kenapa kau bicara hal menakutkan seperti tadi ?." tanya Bai Li.


"Aku tak menakut-nakutinya Bai Li, aku memang berbicara sesuai dengan kenyataan." jawab Wei Lian.


"Tetap saja itu menakutkan." ucap Bai Li.


Lagi-lagi Wei Lian tersenyum mendengarnya, bagaimana mungkin Bai Li akan mengerti.

__ADS_1


Dia adalah pendekar wanita yang bersikap seperti laki-laki. Orang lain lah yang akan lari terbirit-birit saat melihatnya.


"Setelah ini ikutlah denganku Bai Li, aku ingin menghadiahimu sesuatu." ucap Wei Lian dan membuat Bai Li sangat penasaran.


__ADS_2