The Antagonist

The Antagonist
BAB 61


__ADS_3

Ah Ran pun meminta maaf pada Tuannya itu.


Ya, Xu Ye Han sendiri berhenti menampar Ah Ran karena Jin Ling melindunginya.


Ia menahan tangan Ye Han yang akan melayang ke pipi Ah Ran yang sudah seperti kepiting rebus.


"Maafkan aku Tuan hikss hikss." ucap Ah Ran.


Terdengar suara helaan nafas yang amat panjang dari Xu Ye Han.


Ia masih tak menyangka bahwa Ah Ran akan mengkhianati dirinya, padahal ia sangat menyayangi Ah Ran.


"T-tuan...tuan aku melakukan itu karena tak ingin reputasi anda ternodai karena Wei Lian...A-aku tak menyangka kalau dia akan mati Tuan." ucap Ah Ran sembari bersujud dibawah kaki Ye Han.


Tentunya Jin Ling dan Xuan Yi terkejut.


Xuan Yi sendiri juga tak menyangka kalau Ah Ran akan membohongi dirinya.


"Huhh....sejak kapan seorang bawahan bisa membuat pengaturan seperti itu, Ah Ran ? Pastilah saat datang Wei Lian membacakan puisi dan menunjukan jepit rambut bukan ?." tanya Ye Han.


"Maafkan aku Tuan." hanya kata-kata itu saja yang dapat Ah Ran katakan.


Ye Han benar-benar frustasi mendengarnya, ketika dirinya berusaha menyelamatkan Wei Lian yang sudah diracun.


Namun bawahannya justru membuat kesalahan yang mengakibatkan Wei Lian mati.


"Pergilah Ah Ran, mulai hari ini kau bukan bawahanmu lagi, hubunganmu denganku sudah berakhir." ucap Xu Ye Han.


Ah Ran pun semakin menangis, ia benar-benar memohon pada Ye Han, ia tak ingin mengakhiri hubungannya itu.


"Tuan...aku hanya ingin mengabdi pada anda. Kumohon jangan melakukan hal sekejam itu padaku. Aku tahu aku bersalah, maafkan aku Tuan." ucap Ah Ran.


Yifei pun mendekat ke arah Ye Han, ia berusaha menenangkan Ye Han yang sedang terbawa emosi.


"Ye Han...tenanglah, Ah Ran memanglah bersalah namun bukan berarti ia sengaja membuat Wei Lian terluka. Dia melakukan itu juga karena tak ingin reputasimu menjadi buruk." ucap Yifei.


"Maafkanlah dia Ye Han dan kumohon jangan memberi hukuman seperti itu, dia sangat setia padamu." lanjutnya.


■■■■■□□□□□


Tanpa disadari hari demi hari sudah berlalu begitu saja.


Sudah satu tahun berlalu sejak kematian Wei Lian.


Selama itu juga Ye Han tinggal diluar sektenya. Hanya sesekali ia kembali untuk menjenguk ayah dan ibunya.


Seperti hari ini, dia sedang menemani ayahnya yang tengah menikmati teh.

__ADS_1


"Kau akan pergi lagi Ye Han ?." tanya ayahnya.


"Ya ayah." jawab Ye Han singkat.


Di tatapnya dengan sendu anak keduanya itu, "Sudah satu tahun berlalu Ye Han, wanita itu sudahlah meninggal, lupakan dan kembalilah ke rumah."


Ye Han pun menggeleng, masih banyak hal yang harus ia lakukan diluar.


"Tidak ayah, aku akan mengungkap semua kebusukan Yuan Zi Lan dan juga istrinya itu." ucap Ye Han.


"Anakku...kalaupun ada bukti, ini sudah terlalu lama, jangan menyiksa dirimu sendiri." ucap Meng Yao.


"Dengan begitu aku akan melupakan kesedihanku ayah." ucap Ye Han.


"Kalau aku hanya diam, pastilah rasa bersalah dan kesedihan akan menguasaiku lagi." lanjutnya.


Meng Yao hanya bisa terdiam, putranya itu memanglah seorang anak dan murid yang berbakti.


Ia sangat bangga memiliki anak seperti Ye Han, namun disisi lain ia sangat khawatir.


Sikap anaknya itu tak disukai banyak orang, apalagi sekarang hubungan sekte Xu dan Wei tak begitu baik karena perbuatan anaknya itu.


"Semoga saja dewa selalu berpihak padamu Ye Han." ucapnya.


■■■■■□□□□□


Di sisi lain seorang pelayan wanita tengah membersihkan tubuh wanita lainnya yang tengah berbaring diatas ranjang.


"Maaf membuat anda terbangun Nona." ucap pelayan itu.


Wanita itu hanya tersenyum mendengarnya.


Setelah selesai dimandikan dan juga berganti pakaian, pelayan itu membantu wanita cantik itu untuk bersandar.


"Aku akan menyuapi anda Nona, setelah itu minumlah obat anda." ucapnya.


Lagi-lagi wanita itu hanya tersenyum, setiap kali pelayan itu berkata sesuatu ia hanya akan tersenyum.


Setelah selesai dengan rutinitasnya itu, seorang wanita dengan pakaian berwarna hijau muda dengan membawa pedang dengan warna sarung senada datang.


Wanita itu cukup cantik, namun ia selalu saja berpenampilan seperti seorang pria. Begitu tiba ia langsung meminta pelayan itu untuk keluar.


"Pendekar Bai Li." ucap wanita itu dengan suara lemah.


Ya, akhirnya ia membuka mulutnya juga.


Bai Li pun tersenyum mendengarnya, ia pun duduk di samping wanita itu.

__ADS_1


Dengan kemampuannya ia pun mengecek keadaan wanita didepannya itu.


"Akhirnya keadaan anda lebih membaik Nona Wei Lian." ucapnya.


"Terima kasih." ucap Wei Lian.


Wei Lian pun berusaha bangkit dari ranjangnya, selama setahun ini ia benar-benar seperti seorang anak kecil.


Ia harus belajar menggunakan anggota tubuhnya lagi.


Satu tahun adalah waktu yang sangat lama, namun baginya 1 tahun adalah waktu yang sebentar.


Dari yang mulanya tak bisa menggerakkan tubuhnya, kini ia sudah benar-benar bisa bergerak dan berjalan walaupun pelan.


"Apa anda ingin kutemani jalan-jalan ?." tanya Bai Li.


Wei Lian pun mengangguk mengiyakan tawaran Bai Li.


Dengan telaten Bai Li membantu Wei Lian menuju ke tepi sungai.


"Udara disini sangat segar." ucap Wei Lian.


"Ketika anda sudah benar-benar pulih anda bisa datang kemari kapanpun anda mau." ucap Bai Li.


Wei Lian pun memandang Bai Li dengan lembut, "Terima kasih karena telah menyelamatkanku pendekar Bai Li." ucap Wei Lian tulus.


"Jangan berkata seperti itu lagi, anda sudah mengatakan hal itu ribuan kali dan aku sangat bosan mendengarnya." jawab Bai Li bercanda.


Ya, pada malam saat ia dijatuhkan ke jurang oleh Meixi dan orang yang paling ia cintai.


Ia diselamatkan oleh Bai Li.


Dasar dari jurang itu adalah sungai yang ada dihadapannya ini.


Saat itu Bai Li tengah berlatih bela diri, namun tiba-tiba saja ia melihat seseorang yang jatuh dari atas tebing.


Meskipun terlambat menyelamatkan Wei Lian namun ia berhasil membuat tubuh Wei Lian tetap utuh.


Kalau saja Bai Li tak menolongnya pasti tubuhnya itu sudah tercerai berai.


Selama beberapa waktu Wei Lian tak sadarkan diri, dan tahu dengan apa yang terjadi diluar sana.


Bai Li merahasiakan keberadaan Wei Lian. Itulah mengapa ia tinggal di bawah jurang ini untuk sementara waktu agar bisa merawat Wei Lian.


Dia barulah muncul ke hadapan para pendekar lain saat tengah membeli keperluan saja.


Begitu Wei Lian sadar untuk pertama kalinya, wanita itu hanya bisa menggerakan kedua bola mata dan mulutnya saja.

__ADS_1


Ia sendiri juga meminta Bai Li untuk tak memberitahu siapapun kalau ia masih hidup.


"Pendekar Bai Li mohon rahasiakan kalau aku masih hidup dari siapapun diluar sana." ucap Wei Lian dengan suara lemah.


__ADS_2