The Antagonist

The Antagonist
BAB 66


__ADS_3

Zi Lan meletakkan mantel bulunya diatas ranjang dengan sembarangan.


Suara hembusan nafasnya itu begitu keras saat ini.


Huhh...huh..huh


Brukkk....


Zi Lan langsung menjatuhkan tubuh besarnya itu diatas ranjang yang empuk, ingin sekali ia tertidur dengan tenang malam ini.


Sudah beberapa hari ini ia sama sekali tak bisa tidur, bahkan meskipun sudah meneguk puluhan arak, ia masih saja tetap terjaga walaupun sudah mabuk.


"Dimana sebenarnya kau menyimpan buku-buku itu Wei Meng Fan ?." gumamnya.


Tok...tokk...tok


"Suamiku." panggil suara diluar.


Lagi-lagi Zi Lan menghembuskan nafasnya dengan keras.


Padahal ia ingin sendirian saat ini, namun istri tersayangnya itu justru muncul. Entah kenapa ia merasa istrinya itu akan datang untuk mengadukan hal yang tak penting.


Istrinya itu kini sudah masuk kedalam kamarnya, ia langsung memeluk Zi Lan yang terduduk diatas ranjang.


"Kau cantik." ucap Zi Lan.


Dengan buru-buru Meixi langsung melepaskan pelukan hangatnya itu.


Dengan suara manja ia langsung mengadukan semua apa yang terjadi saat berada di toko pakaian.


Zi Lan yang mendengarnya hanya mengangguk-angguk dan merespon sewajarnya.


"Ahh..."


"Jadi begitu..."


"Ya, dia memang keterlaluan."


"Baguslah."


Meixi sendiri menyadari kalau ada yang aneh dari suaminya.


Biasanga suaminya itu akan merespon heboh jika hal tak mengenakan terjadi padanya.


Tapi apa-apaan kali ini ?.


Selain tak tertarik sepertinya Zi Lan juga tak ingin ditemui oleh dirinya. Namun ia harus menahan amarahnya itu.


Kalau ia marah pastilah Zi Lan juga akan memberikan respon yang membuat dirinya semakin marah lagi.


"Apa hal buruk terjadi padamu, suamiku ?." tanya Meixi dengan suara yang lembut.


Zi Lan pun menggeleng, tak ingin mengaku pada istrinya itu.

__ADS_1


"Katakanlah suamiku, kau kelihatan sangat aneh malam ini. Kau tahu bukan aku tak ingin kau menyembunyikan sesuatu dariku." ucap Meixi dengan sedikit memaksa.


"Huhh...aku hanya bertanya-tanya saja istriku, dimana kira-kira buku jurus tapak darah itu berada. Sudah satu tahun aku menggeledah tempat ini, namun masih tak menemukan apapun." ucap Zi Lan.


"Ahhhh....kukira sesuatu yang penting." jawab Meixi.


Bukan sesuatu yang penting ? Mudah sekali istrinya itu mengatakannya.


Banyak orang masih menginginkan jurus hebat itu, jika dia bisa menguasainya pastilah dia menjadi pendekar nomer satu.


"Itu sangat penting istriku. Dengan jurus hebat itu pastilah aku menjadi orang paling kuat dan berkuasa." ucap Zi Lan.


"Sekarang pun kau sudah hebat suamiku. Kita sudah menjadi penguasa sekte, bahkan kita juga menguasai seluar harta milik keluarga Wei. Kehidupan kita sekarang sudahlah membuat banyak orang iri." ucap Meixi.


Huhh....


Zi Lan tidaklah puas mendengarnya, memanglah mereka sudah berkuasa sekarang.


Namun ia benar-benar ingin menjadi orang nomer satu, dan semua orang merangkak dibawah kakinya.


"Ngomong-ngomong apa kau sudah tahu kalau Liuli sudahlah setuju untuk menjadi pelayanku ? Sepertinya ia sudah bisa melupakan majikan lemahnya itu." ucap Meixi.


Zi Lan pun terdiam sejenak, benar saja istri pertamanya itu sudahlah mati sejak lama.


"Baguslah, dengan begitu mereka akan merasakan sakit lagi." ucap Zi Lan.


Sebuah senyuman kembali terukir dibibir Meixi.


Ya, semua penduduk sekte Wei pastilah tahu bahwa Yuan Zi Lan sangat mencintai Wei Lian dulunya.


Bahkan ia menuruti semua keinginan dari Wei Meng Fan yang membuatnya malu.


Bahkan rasa malu itu haruslah ia tanggung sampai mati.


"Masa lalu menyakitkan itu...aku tak ingin mengingatnya lagi istriku." ucap Zi Lan.


Bohong.


Itu adalah sebuah ucapan kebohongan. Walaupun berkata begitu, Zi Lan tak akan pernah bisa melupakannya.


Bukan karena Wei Lian gila yang membuat dirinya membenci Wei Lian.


Namun....Wei Meng Fan lah yang membuat dirinya sangat membenci Wei Lian.


Kalau saja Wei Lian bukan anak dari Wei Meng Fan, pastilah ia sudah hidup bahagia dengan Wei Lian.


Meixi pun membuyarkan Zi Lan yang termenung dalam lamunannya.


"Apa yang kau pikirkan suamiku ? Apa kau merindukan Wei Lian ?." tanyanya.


"Mana mungkin aku merindukannya." jawab Zi Lan mantap.


■■■■■□□□□□

__ADS_1


Di sisi lain Bai Li masih bertanya-tanya alasan mengapa Wei Lian memeritahkan pemilik toko untuk meminta bayaran dari sekte Wei.


Bukankah dia ingin balas dendam ?.


Melakukan hal ini sama saja membuka jati dirinya lebih awal.


Bunuh diri lebih tepatnya.


"Kak...mengapa tagihan itu dikirim ke sekte Wei ? Bukannya mereka akan mencari tahu nantinya ?."


"Kalau itu terjadi pastilah rencana balas dendammu itu sia-sia." ucap Bai Li dengan nada sedih.


Namun Wei Lian justru tersenyum mendengarnya, ia punya alasan melakukan hal itu.


"Mengapa kau tersenyum kak ?." tanya Bai Li penasaran.


"Bai Li....kau pastinya tahu bukan kalau sejak dulu mantan suamiku itu dan Meixi terkenal sebagai pasangan paling serasi, pasangan yang ditentukan oleh dewa." ucap Wei Lian.


Meskipun sedikit perih mengucapkannya, Wei Lian tetaplah tersenyum, meskipun hanya sebuah senyuman tipis.


"Ya, aku mengetahuinya kak, bahkan sekarang mereka lebih terkenal lagi." jawab Bai Li.


Ya, saat berkeliling dipasar tadi, sebenarnya mereka mendengar banyak orang yang menggosipkan betapa romantisnya Zi Lan dan juga Meixi.


"Aku akan menghancurkan cinta mereka Bai Li." ucap Wei Lian.


Dia pun memandang bulan yang tengah bersinar terang di langit. Tatapannya menjadi sangat sendu.


"Dengan cara apa kak ? Kau akan membuka jati dirimu ?." tanya Bai Li yang masih tak mengerti.


Tidak.


Bukan seperti itu, ia tak akan membiarkan nyawanya melayang cepat dengan menunjukkan jati dirinya.


"Aku akan membuat Meixi curiga bahwa Zi Lan sedang berselingkuh dan ingin menguasai sekte Wei sendirian." ucap Wei Lian.


Namun lagi-lagi Bai Li terlihat meragukan rencana Wei Lian.


Mereka berdua sangatlah terkenal sebagai pasangan paling romantis. Cinta mereka sangatlah kuat sampai-sampai menyingkirkan Wei Lian sang pemilik sekte.


"Kak, mereka berdua saling mencintai, pastinya Meixi itu tak akan percaya kalau Yuan Zi Lan baji*an itu berselingkuh." ucap Bai Li.


Wei Lian pun tersenyum lagi mendengarnya, ia teringat pada dirinya dulu.


"Meixi sangatlah mencintai Yuan Zi Lan."


"Rasa cinta dan rasa percayanya yang berlebihan itu akan membuatnya goyah dengan cepat Bai Li." ucap Wei Lian.


"Kenapa begitu ? Sebelumnya maafkan aku kak, dulu pun kau tak goyah dengan cepat. Kau masih tetap mempercayai dan mencintai Yuan Zi Lan itu." ucap Bai Li kesal.


Wei Lian pun menoleh ke arah Bai Li dan lagi-lagi tersenyum dengan lebarnya.


"Itu karena aku bodoh. Dan Meixi itu tak sebodoh diriku. Aku yakin dengan rencanaku ini Bai Li."

__ADS_1


__ADS_2