The Antagonist

The Antagonist
BAB 72


__ADS_3

Pagi hari itu begitu berisik hingga membuat Zi Lan terbangun dengan telinga dan kepala yang sakit.


Ia langsung memijit pelan kepalanya yang pening itu begitu membuka mata.


"Berisik sekali! Apa yang dilakukan orang-orang di sekte ini, apa mereka sudah gila membuatku terbangun dengan keadaan tak nyaman seperti ini." gerutu Zi Lan.


Begitu meneliti keadaan kamarnya ini, Zi Lan pun tersadar.


Kamar ini sangatlah aneh dan ini bukanlah kamarnya, semua benda di tempat ini memang terlihat mewah namun kualitasnya biasa saja.


Tempat pelacuran.


Ya, dia sudahlah ingat bahwa sejak semalam ia berada di tempat pelacuran untuk bersenang-senang sejenak.


Pikirannya itu sedang mengingat-ingat apa saja yang terjadi hingga membuatnya berada di kamar ini.


Zi Lan langsung mendengus kesal begitu mengingatnya, bagaimana bisa ia bermalam menyetubuhi seorang pelacur.


Lebih parahnya ia memanggil pelacur itu dengan sebutan Wei Lian.


Betapa bodohnya dia melakukan hal ini.


Zi Lan pun beranjak bangun dari posisi tidurnya, ia memakai celananya lagi.


Ya, ia telanjang bulat sejak tadi. Namun begitu mendapati pakaiannya itu, dia barulah tersadar uang-uangnya hilang.


"Orang rendahan memanglah orang rendahan, sudahlah, anggap saja itu bayaran karena telah melayaniku meskipun aku juga tak sadar saat melakukannya." ucap Zi Lan.


"Tuan, anda sudah terbangun." ucap seseorang yang tak lain adalah bawahan dari Zi Lan.


Zi Lan mengangguk mengiyakan, dengan segera ia mengajak para bawahannya untuk meninggalkan tempat pelacuran itu.


Ia tak ingin berlama-lama berada di tempat ini, pastilah juga istrinya sudah mencari dirinya kemana-mana.


Saat pergi ia memanglah berpamitan pada Meixi, namun ia berkata akan segera kembali.


Matahari sudahlah terbit saat ini, semakin siang dia tiba, semakin banyak juga pertanyaan yang akan keluar dari mulut manis istrinya itu.


"Ayo pergi, aku akan kembali ke sekte, kalian kembali lah ke tempat persembunyian. Berhati-hatilah saat di perjalanan." ucap Zi Lan.


Zi Lan memanglah seorang majikan yang baik, ia tak melulu menganggap mereka sebagai bawahannya.


Terkadang ia akan menganggap mereka sebagai saudara seperjuangan.


■■■■■□□□□□


SEKTE WEI


Begitu menginjak lantai kamarnya, Zi Lan sudahlah tak heran lagi.


Istrinya itu sedang terduduk sembari melipat tangannya.


Ahh....Zi Lan sudahlah siap menjawab semua pertanyaan istrinya itu.


Namun pandangannya kini teralihkan pada putra tercintanya yang berdiri di sebelah Meixi.

__ADS_1


Anaknya itu tersenyum manis begitu melihat kedatangannya, Zi Lan pun membalas senyuman itu.


"Ayah." ucap Zi Yu kecil.


Zi Yu kecil pun berlari ke arah Zi Lan dan melompat agar Zi Lan langsung menggendongnya.


Hap!


"Wahh....kau sudah semakin berat Zi Yu, rupanya putraku ini akan menjadi remaja sebentar lagi." ucap Zi Lan.


Meixi pun tersenyum, muka masamnya itu langsung hilang begitu melihat betapa manisnya perilaku ayah dan anak itu.


"Apa kau hanya akan memeluk Zi Yu saja suamiku ?." tanya Meixi.


"Kemarilah." ucap Zi Lan.


Meixi pun berjalan mendekat ke arah Zi Lan, lalu mereka pun berpelukan dengan erat.


Begitu memeluk suaminya itu, Meixi dapat mencium dengan jelas bau arak dari tubuh suaminya.


Tak biasanya Zi Lan minum sampai seperti ini.


"Kau minum sangat banyak suamiku." ucap Meixi.


Zi Lan yang mendengar ucapan suaminya berusaha bersikap biasa saja.


"Ya, aku sedikit bersenang-senang dengan Tuan Dongfang, kau tahu bukan obrolan pria tak akan lengkap tanpa arak yang menemani." ucap Zi Lan.


Meixi pun melepaskan pelukannya, dia mengusap pelan baju Zi Lan yang tak kotor itu.


"Pergilah mandi suamiku, aku tak menyukai aroma yang keluar dari tubuhmu. Zi Yu pastinya juga tak terbiasa." ucap Meixi.


"Baiklah, aku akan pergi untuk membersihkan diri dulu istriku. Setelah itu aku akan langsung pergi untuk melihat latihan para murid." ucap Zi Lan lalu beranjak pergi.


Di sisi lain Liuli sedanglah membersihkan kamar Wei Lian.


Ia melihat guci-guci arak yang berserakan di lantai.


Hahhh.


Keluhnya, dia sudahlah tau pasti ini adalah kerjaan Xu Ye Han.


"Mengapa dia selalu mabuk-mabukan setiap hari ? Apa dia tak punya kegiatan lain ?." gumam Liuli.


Liuli pun membereskan guci-guci arak itu, namun selain itu dia juga mendapati ada yang aneh dari kamar ini.


Tatanan dikamar ini sedikit berbeda lagi.


Ranjang ?.


Meskipun sedikit berantakan, itu pastilah kerjaan Xu Ye Han.


Namun mengapa almari dan laci-laci lainnya tak menutup dengan benar.


Apa ada pencuri yang datang kemari ?.

__ADS_1


Mata Liuli langsung membulat besar-besar, barang apakah yang diambil oleh pencuri itu.


Meskipun tak banyak barang berharga, tapi barang-barang yang berada dikamar ini adalah milik mendiang Nyonyanya.


Ia pun langsung membuka satu-persatu laci dan juga almari, dia haruslah memastikan barang apa yang diambil oleh pencuri itu.


"Tak ada."


"Tak ada."


"Barang disini masih lengkap."


"Laci ini aman."


Saat memeriksa almari terakhir, dada Liuli pun berdegup kencang. Isi dari almari ini adalah barang-barang kesayangan Nyonnya nya.


Krekk..


Liuli pun membuka almari itu, matanya langsung menjelajah memastikan barang apa saja yang ada.


Deg!


Lukisan wajah milik Xian'er menghilang.


Liuli sangatlah terkejut, siapa yang mengambil lukisan itu ? Dan untuk apa dia mengambilnya ?.


"Tuan Xu Ye Han tak mungkin mengambilnya." gumam Liuli.


Ia nampak sangat kebingungan, bahkan ia sangat ingin menangis saat ini.


Lukisan berharga itu sudahlah hilang, mendiang Nyonyanya itu pasti akan sangat sedih.


Liuli pun berlari untuk melaporkan kejadian ini.


■■■■■□□□□□


Bai Li sedanglah bersiap-siap dengan pakaiannya.


Kali ini ia tak berdandan seperti laki-laki lagi, meskipun masih merasa asing dan sedikit tak nyaman, namun dia cukup menyukai penampilannya saat berpakaian seperti perempuan pada umumnya.


Wei Lian sendiri juga sedang memasang cadar untuk menutupi mukanya.


"Kak, kali ini kau harus ikut denganku." ucap Bai Li.


"Aku harus mencari informasi Bai Li, jadi maaf aku tak bisa menemanimu bersenang-senang." jawab Wei Lian.


Bai Li terlihat menggelengkan kepalanya, saat ini ia memang akan memaksa Wei Lian.


"Aku tak menerima penolakan kak, dengan penampilanmu ini, orang itu tak akan mengenalimu." ucap Bai Li.


Wei Lian mengerutkan dahinya, apa yang dimaksud Bai Li saat ini ? Siapa orang yang dia maksud itu ?.


"Aku sudah menemukan keberadaan Tuan Muda Xu Ye Han kak. Aku akan menggali informasi darinya." ucap Bai Li.


Lagi-lagi Wei Lian menolak ajalan Bai Li itu.

__ADS_1


Semalam ia sudahlah bertemu dengan Xu Ye Han, meskipun dengan penyamarannya itu, dia masihlah tak siap jika harus berhadapan langsung dengan Xu Ye Han.


"Aku tak akan ikut Bai Li." tolaknya.


__ADS_2