The Antagonist

The Antagonist
BAB 68


__ADS_3

Gadis itu sedanglah berkutat dengan buku dihadapannya ketika Ye Han memanggilnya.


Ia cukup terkejut karena Ye Han mendatangi dirinya duluan kali ini. Lelaki itu tak pernah melakukan hal seperti ini sebelumnya.


Entah sedang kerasukan hantu atau apapun itu, Yifei sangatlah senang.


"Yifei....ini aku Ye Han, ada yang ingin kubicarakan padamu." ucap Ye Han tanpa basa-basi.


Dengan cepat Yifei pun membuka pintu kamarnya, ia mempersilahkan Ye Han masuk kedalam kamarnya itu.


"Duduklah dulu Ye Han, aku akan membuat teh sebentar." ucap Yifei.


"Tak perlu." tolak Ye Han.


Akhirnya Yifei pun duduk didepan Ye Han, dia sangatlah bertanya-tanya hal apa yang ingin dibicarakan Ye Han padanya.


"Hal apa yang ingin kau bicarakan padaku Ye Han ? Kau baru datang dan langsung menuju kemari pastilah itu hal yang penting." ucap Ye Han.


Ye Han pun langsung menanyakan tentang apa yang dialami oleh Yifei di toko pakaian tadi.


Yifei sendiri sedikit merasa kecewa, karena Ye Han menanyakan sedikit soal Wei Lian.


"Apa kau bertengkar dengan Meixi saat berada di toko pakaian ?"


"Apa alasan sampai kalian bertengkar tadi ?." tanya Ye Han dengan raut muka penasaran.


Banyak sekali hal yang ingin dia tanyakan, namun ia haruslah bersabar menunggu Yifei menjawab satu-persatu pertanyaannya.


"Ya, aku memang bertengkar dengan Nyonya Meixi di toko pakaian, bagaimana kau bisa mengetahuinya Ye Han ?." tanya Yifei balik.


"Apa alasannya Yifei ? Apa dia berkata sesuatu soal Lian'er ?." tanya Ye Han.


Huh.


"Awalnya aku tak bertengkar dengannya Ye Han, dia bertengkar dengan orang lain. Kalau tidak salah ia bertengkar dengan seseorang yang dipanggil pendekar Bai dan Jian Mei." jawab Yifei.


Jian Mei ?


Ye Han tampak berpikir, ia sama sekali tak pernah mendengar nama itu. Dia sudahlah mengenal Bai Li lama, namun diantara pelayan Bai Li pun tak ada yang bernama seperti itu.


"Dia hanya mengatakan aku, Wei Lian dan Bai Li pastilah berperilaku seperti orang rendahan. Dia berkata seperti itu karena kami mengenalmu dengan baik Ye Han." ucap Yifei lagi.


Huh.


Padahal dirinya tak pernah mencela Meixi lagi dihadapan banyak orang. Namun wanita itu sepertinya benar-benar memiliki kebencian yang mendalam padanya.

__ADS_1


"Apa ada lagi yang dia katakan Yifei ?." tanya Ye Han.


Yifei pun menggelengkan kepalanya, memanglah setelah itu Meixi berhenti berbicara karena Bai Li dan juga Jian Mei itu pergi begitu saja dari hadapannya.


"Ye Han apa kau mengenal mereka berdua ?." tanya Yifei penasaran.


"Aku mengenal Bai Li dengan sangat baik, beberapa kali dia membantuku." jawab Ye Han.


Ah ternyata seperti itu.


Namun mengapa selama ini Yifei tak pernah melihat Ye Han bersama dengan Bai Li ?.


"Namun aku tak pernah melihat pendekar Bai sebelumnya, bagaimana bisa kalian saling mengenal ?." tanya Yifei penasaran.


Ye Han hanya tersenyum tipis, "Memang setahun ini aku tak bertemu dengannya, dia sibuk berkultivasi."


Setelah itu Ye Han langsung bangkit dari posisi duduknya.


Ini sudahlah tengah malam, tak baik bagi ia dan juga Yifei.


Bagaimana kalau terdengar kabar bahwa seorang pria berada didalam kamar seorang gadis pada tengah malam ?.


Meskipun mereka hanya berbincang-bincang, pastilah orang lain tak akan percaya.


"Aku pergi dulu Yifei, cepatlah beristirahat." pamit Ye Han.


■■■■■□□□□


Di tempat lain Zi Lan sedang menemui bawahan setianya yakni Zhou Li.


Sudah lama juga ia tak datang ke gua untuk menemui ibu dan ayahnya.


Dengan membawa sebuah dupa, Zi Lan memandang sendu papan nama dan juga sketsa kedua orang tuanya.


Bibirnya itu pun membentuk sebuah senyuman tipis yang tak dapat diartikan.


"Anda datang Tuan." ucap Zhou Li.


"Zhou Li sudah satu tahun berlalu, aku ingin kau benar-benar berada disampingku saat ini." ucap Zi Lan.


Zhou Li pun mengangguk, selama ini dia memanglah bersembunyi. Melindungi dan melaksanakan perintah dari Zi Lan diam-diam.


Di sekte Wei tak ada yang mengenalnya selain Zi Lan. Namun tentunya dia sangatlah mengenal siapa-siapa saja orang terdekat Zi Lan diluar sana.


"Tuan....pastinya kedua orang tua anda sangat bangga." ucap Zhou Li.

__ADS_1


Yuan Zi Lan pun tersenyum, dia juga berpikir seperti itu.


Siapapun pasti merasa sangat bangga jika anaknya berhasil menjadi orang terpandang. Apalagi anaknya itu membalaskan dendam keluarga mereka.


"Tentu, meskipun pada awalnya mereka kecewa padaku karena pernikahanku itu. Tapi aku sangat yakin mereka sangat bangga padaku saat ini Zhou Li. Pastilah di syurga sana mereka menabur bunga di setiap langkahku." ucap Zi Lan.


Zhou Li pun masih ingat bagaimana responnya saat mengetahui bahwa orang yang dicintai Tuannya itu adalah anak dari orang yang telah membunuh orang tuanya.


Ya, orang tua lebih tepatnya ayah Zi Lan dibunuh oleh Wei Meng Fan.


"Tuan....itu kan sebuah ketidaksengajaan, mereka pasti memakluminya." ucap Zhou Li.


"Semoga saja begitu." ucap Zi Lan.


Yuan Zi Lan masihlah mengingat bagaimana tangan mertuanya itu mencekik leher ayahnya.


Bagaimana wajah membiru ayahnya saat kehabisan nafas, tetesan-tetesan darah yang terjatuh ke tanah akibat luka yang ditorehkan Wei Meng Fan pada tubuh ayahnya itu, dia masih mengingatnya.


Padahal ibunya yang malang itu sudah memohon dan bersujud di kaki Wei Meng Fan. Namun lelaki kejam itu sama sekali tak memperdulikan ibunya.


Ibunya itu hanyalah orang biasa, memiliki suami seorang kultivator dari keluarga yang cukup terpandang, anak lelaki yang menggemaskan dan calon anak kedua adalah hal paling membahagiakan dalam hidupnya.


Ketika orang yang dijadikan sandaran itu mati di depan matanya adalah hal yang sangat mengerikan dan menyedihkan.


Kemana lagi ia bisa bersandar ?.


Keluarganya sudahlah pasti hancur dan mendapat hinaan dari orang-orang. Ia tak akan sanggup menahannya.


Dengan berani ia menusukkaan dirinya sendiri ke pedang yang tengah dipegang oleh Wei Meng Fan.


Jlebbbb.


Ibunya itu di cap sebagai ibu paling kejam, membunuh anaknya sendiri yang bahkan belum melihat cerahnya dunia.


"Tuan..."


"Tuan..." berkali-kali Zhou Li memanggil Tuannya itu agar tersadar dari lamunannya.


"Aku hanya terlarut mengingat masa lalu Zhou Li." ucap Zi Lan.


"Masa lalu yang gelap itu sudah tak ada Tuan, sekarang hanya ada hari-hari yang cerah untuk anda lalui." ucap Zhou Li.


Zi Lan tersenyum lebar mendengarnya.


Yang dikatakan bawahannya itu memanglah benar, meskipun belum menemukan dan menguasai jurus tapak darah.

__ADS_1


Tapi dia sudahlah membalaskan dendamnya selama ini. Sedikit bersenang-senang dan bersantai saat ini sudah pasti tak masalah.


__ADS_2