
Malam ini sangat dingin. Angin berembus kencang. Suara gemuruh tanda akan hujan turun. Awan-awan juga telah tampak bergulung-gulung membentuk suasana mendung. Tak ada satu pun orang yang melewati trotoar. Jalanan juga tampak kosong tanpa kendaraan. Suasananya gelap, sepi, dan sunyi.
Dalam suasana ini gadis kecil itu duduk di bangku depan sebuah supermarket. Ia mengayunkan kakinya dengan pelan. Tangannya ia letakkan di sisi kedua badannya. Gadis lugu itu sangat polos.
Ia sedang menunggu ibunya yang masih berbelanja di dalam supermarket. Merasa bosan di dalam, mungkin ia memilih untuk keluar saja.
Ia menatap sekeliling. Tak ada orang satu pun. Ia kemudian merundukkan wajahnya. Menatap kakinya yang sedang ia ayunkan.
“Tolong!!!” sebuah jeritan keras terdengar. Gadis kecil berusia lima tahun itu langsung menengadahkan kepalanya. Ia langsung beranjak dari bangku yang ia duduki. Ia mencoba memastikan apakah suara itu ada.
“Tolong!” suara itu terdengar lagi. Tidak salah lagi suara itu pasti suara manusia.
Gadis kecil itu menatap ke pintu supermarket. Mungkin tidak ada yang mendengar karena orang-orang di supermarket itu sedang sibuk semua berbelanja atau karena musiknya. Setidaknya begitulah pemahaman gadis ini.
Gadis itu memberanikan diri pergi ke asal suara tersebut. Ia menuju lorong sepi yang ada di ujung jalan. Sepertinya dari sanalah suaranya. Perlahan ia mendekat. Langkahnya sengaja ia pelankan agar tak terdengar.
Saat sudah sampai ia melihat seorang wanita tengah di palak oleh dua orang preman. Preman-preman itu terus saja mengekangnya dan merampas paksa tas wanita tersebut. Gadis kecil ini menutup mulutnya. Ia kemudian tak tahan amarah lagi, dan langsung muncul di hadapan dua orang preman itu.
“Berhenti! Lepaskan dia!” Suara kecilnya terdengar menggema di kesunyian itu. Wanita itu setengah kaget dan tak percaya melihat keberanian anak ini.
Kedua preman itu kemudian tertawa keras.
“Hahaha anak kecil seperti ini menyuruh kita untuk melepaskan wanita ini? Hahaha” ucap salah satunya.
“Hahaha kau sebaiknya pulang saja nak, tidak ada yang butuh bantuanmu di sini. Hahaha” salah satunya ikut berbicara.
Tanpa aba-aba, gadis kecil ini melepas sepatunya yang mungil dan melempari salah satu dari mereka. Rasa sakitnya mungkin tak ada apa-apanya namun rasa malu terhadap preman itu tak terbendung.
“Hei! Apa yang kau lakukan?!”
“Kalian yang berbuat apa?! Lepaskan wanita ini!” Gadis kecil itu membentak tak kalah keras. Wanita yang masih terkejut segera memberi kode mata untuknya agar lari.
“Anak sepertimu memang harus diajar! Kemari kau!” Salah satu preman siap menerkam gadis kecil itu. Untungnya gadis itu sempat mengelak. Ia kemudian berbalik dan segera lari secepat-cepatnya. Kedua preman itu ikut mengejar. Bahkan mereka sampai lupa bahwa orang yang ia targetkan adalah wanita itu.
Gadis kecil itu terus berlari mengayunkan kaki kecilnya. Ia menyusuri sepanjang jalan. Ia kesal terhadap dirinya sendiri, harusnya ia kabur ke supermarket saja. Agar kedua preman ini di pukuli juga sama warga. Namun ia tidak memikirkannya.
Sampai di ujung jalan, ia terjatuh akibat kaki yang tersandung karena batu. Lututnya terluka dan mengeluarkan darah. Ia tidak bisa terus lari karena ia juga telah kecapean. Dua preman itu juga telah menghadangnya.
“Hahaha mau ke mana kau sekarang anak kecil?” mereka tertawa sinis. Siap mengambil anak itu.
__ADS_1
Bruk!
Tiba-tiba seseorang datang menghantam kedua preman tersebut. Anak kecil yang tadinya memejamkan matanya mengintip perlahan. Ia langsung mundur melihat perkelahian antar preman itu dan orang asing ini.
Si orang asing melawan dengan hebat. Dengan satu tendangan dan dua pukulan, penjahat itu lari tunggang langgang. Ia berhasil mengalahkannya.
Orang itu kemudian membalikkan tubuhnya. Samar-samar gadis kecil tersebut melihat orang yang ternyata pria itu bertubuh tinggi dan memakai kostum yang aneh. Ia juga memakai semacam kacamata canggih dan membuat wajahnya setengah tak kelihatan. Entah siapa dia ini.
Ia menatap gadis kecil yang sedang duduk di tengah jalan sambil meringis. Orang itu kemudian mendekati gadis kecil ini.
Si gadis kecil refleks mundur saat orang tersebut mendekatinya. Ia takut akan di apa-apakan. Hal itu membuat pria tersebut menghentikan langkahnya.
“Hei jangan takut, aku di sini untuk menolongmu kan?” kata lelaki tersebut. “Aku tidak akan menyakitimu, ya?”
Gadis kecil yang awalnya ragu, refleks mengangguk pelan. Merasa sudah mendapat izin, ia langsung mendekati gadis kecil itu dan memeriksa seluruh badannya. Ia kemudian melihat sebuah luka yang berdarah di bagian lututnya.
“Ya ampun, kau berdarah!” lelaki itu menjadi panik sendiri. “Ayo kita pergi ke trotoar dulu” ajak lelaki tersebut.
Gadis kecil dan lelaki tersebut duduk berdampingan. Lelaki itu kemudian merogoh sakunya dan mengeluarkan sesuatu. Ia mengambil semacam tempelan untuk luka.
“Ayo kemari, aku obati dulu” lelaki itu mendekat ke gadis kecil tersebut. Ia mulai menempelkan tempelan itu ke lukanya dengan hati-hati.
“Kau tahu, tindakanmu itu sangat berani” ucapnya sembari tetap fokus mengobati luka gadis kecil itu. “Tidak semua orang akan melakukan hal seperti itu” lelaki itu menatap gadis kecil di depannya yang sedang menatapnya juga. Kemudian ia kembali fokus dalam kerjaannya.
“Tentu. Kau sangat berani” lelaki itu tersenyum. Hal itu juga membuat gadis kecil tersenyum.
“Nah sudah deh, lukanya akan baik-baik saja. Nanti di rumah diobati ya” kata lelaki itu ramah. Gadis kecil yang mendengar hal itu seketika menangis dan terisak-isak.
“Hei, hei, kenapa? Masih sakit ya lukanya? Di bagian mana?” lelaki itu kembali khawatir. Gadis kecil itu menggeleng.
“Bukan itu, aku hanya takut...”
“Takut? Kau takut apa? Kau takut sama siapa?” tanya lelaki itu.
“Aku takut pada ayah dan ibu jika mengetahui semua ini. Dia pasti akan memarahiku karena hal ini. Aku takut...” jawab si gadis kecil.
Lelaki itu tersenyum.
“Hei, siapa namamu?”
__ADS_1
“Luna Trina”
“Baiklah, Luna. Ibumu sekarang ada di mana?”
“Di dalam supermarket. Ia sedang belanja” jawab Luna.
“Baiklah. Dengar. Ayah dan ibumu tidak akan marah kok. Percaya akan hal itu” kata lelaki itu yakin.
“Kau serius?”
“Iya. Tunggu sebentar” lelaki itu kembali merogoh sakunya dan mengeluarkan sesuatu. “Ini”
Lelaki itu memberikan semacam batu berlian berwarna merah cerah. Itu adalah sebuah liontin yang kalung yang tidak ada talinya. Ia menyerahkannya ke tangan kecil Luna.
“Apa ini?”
“Jika kau ragu akan suatu hal, peganglah itu. Kau pasti akan merasa lebih baik. Suatu saat kau pasti tahu apa itu. Kau harus janji ya untuk menyimpannya. Itu akan berguna untukmu.” Lelaki itu tersenyum. Dia menaikkan jari kelingkingnya tanda meminta persetujuan. “Janji?”
Luna kemudian mengaitkan kelingking kecilnya dengan kelingking lelaki itu. “Janji”
“Sekarang, jika tidak mau membuat ibumu khawatir, kita pulang ya.” Luna mengangguk.
Lelaki itu kemudian menggendong Luna sampai di depan supermarket. Ia kemudian menurunkan Luna dengan hati-hati.
“Nah kita sudah sampai.” Lelaki itu menatap Luma kemudian berjongkok. “masih sakitkah?” tanyanya. Luna menggeleng pelan dan tersenyum.
“Baiklah. Kalo begitu aku pergi dulu ya” lelaki itu tadinya akan beranjak berdiri, namun ditahan oleh tangan kecil Luna.
“Aku belum tahu siapa namamu” katanya. “Siapa namamu?”
Lelaki itu tersenyum lagi.
“Namaku Leon. Leon dari Action.” Jawabnya. “Jangan beritahu siapapun identitasku ya”
Luna mengangguk. Ia melepaskan tangannya. Kemudian membiarkan lelaki itu atau Leon pergi. Kemudian wanita yang tadi ia tolong datang menghampirinya.
“Kau baik-baik saja nak,?!” wanita itu bernafas lega telah menemukan Luna.
Luna mengangguk. “Apa kau bisa mengantarku ke ibuku?” tanyanya.
__ADS_1
“Tentu saja. Ayo” wanita itu menarik tangannya. Luna sempat berbalik ke belakang. Ia tidak melihat siapapun lagi. Dan ia akan mengingat hari ini di memorinya.