The Destined Seeker

The Destined Seeker
BAB 3 : Majalah dan Orang Misterius


__ADS_3

Luna mengayuh sepedanya dengan santai di pinggir jalan. Sesekali ia menyapa warga yang bertemu dengannya. Walaupun masih siang ia tetap semangat dalam pergi bekerja.


Ia terkadang tertawa sendiri mengingat perilaku orang-orang di sini. Mereka semua benar-benar beragam.


Masyarakat yang memang menetap dan sering di lingkungan ini seperti para pedagang jalanan, orang yang nongkrong, dan pak petugas pos memang sudah mengenal Luna.


Mereka semua sifatnya sangat ramah. Kadang penjual makanan di sini memberikan beberapa makanan mereka yang masih ada untuk Luna. Orang yang tinggal dan suka berkumpul-kumpul juga bersikap baik padanya.


Lain halnya pada masyarakat yang hanya sekedar lewat saja. Memang banyak dari mereka yang ramah dan sering membalas sapaan. Namun ada saja yang Luna sapa, hanya diam bahkan bersikap jutek dan membalas Luna dengan kurang sopan.


Tapi memang begitulah adanya. Keragaman di sini lah yang membuat Luna merasa senang. Dengan hanya menyapa mereka Luna bisa tau sifat-sifat mereka bersikap terhadap Luna yang memang bukan siapa-siapa.


Luna memelankan laju sepedanya dan berhenti tepat di tempat penjual dan percetakan majalah. Ia memarkirkan sepedanya di dekat pintu dan sejajar dengan kendaraan lainnya.


Hari ini Luna berencana untuk menerbitkan majalah yang ia buat. Ia membuka pintu dan suara lonceng pintu terdengar.


Ruangan itu cukup besar. Ruangan itu digunakan sebagai tempat masuk dan penyambut tamu. Di sana terdapat konter yang berukuran sedang yang terletak di sebelah kiri ruangan. Di depannya terdapat sofa dan beberapa tempat duduk kecil. Ada tangga di sisi kanan ujung untuk ke lantai dua. Terdapat satu pintu di bagian tengah, satu di samping konter, dan satunya lagi berada di sebelah kanan ruangan samping tangga.


“Permisi” Luna melangkahkan kakinya ke dalam.


“Eh, hai Luna” suara lembut menyapa Luna. Pemilik suara itu adalah gadis berusia hampir sama dengan Luna. Ia agak pendek dan memakai kacamata. Rambutnya putih dan tersanggul. Ia pintar dalam hal komputer dan teknologi. Namanya Lis. “Mau mengajukan majalah ya?”


“Iya Lis. Tuan Pear ada di mana ya?” Tuan Pear adalah manajer sekaligus orang yang bekerja di bagian penerbitan majalah harian.


“Oh dia ada di ruangannya. Lagi waktu kosong kok. Aku perlu panggilkan?”


“Tidak perlu. Terima kasih”


“Baiklah. Semoga berhasil” Lis mengacungkan jempolnya. Memberi semangat.


Luna tersenyum. “Ya trims. Duluan ya Lis” Luna pamit dan menuju lantai dua, lokasi ruangan Tuan Pear berada. Ia menaiki tangga dan berjalan ke ruangan sebelah kanan.


Ia membuka pintu dengan pelan. Dilihatnya ruangan Tuan Pear sungguh berantakan. Banyak majalah berserakan di mana-mana. Majalah-majalah yang berserakan ini baru rangkanya. Yang artinya baru ingin diajukan dan di terbitkan.


Setelah melihat dengan jelas Luna terkejut mengetahui majalah ini tidak asing baginya. Ini majalah yang ia buat dan ajukan beberapa hari yang lalu.


Luna menatap wajah Tuan Pear. Ia sedang duduk santai di kursinya sambil meminum kopi.


“Tuan Pear-“


“Eit eit eit” Tuan Pear mengangkat tangannya. Tanda kepada Luna untuk memberhentikan ucapannya. “Ya aku tau kau bingung. Kau sudah melihat hasil dan ajuanmu kan?”


“Tapi kenapa?” Luna hendak protes. Ia tau majalahnya di tolak.


“Berhenti ngawur Luna. Kau pasti ingin mengajukan majalah yang seperti itu lagi kan?” tanya Tuan Pear. Yah, kalian taulah apa yang ditulisnya sehingga di tolak. “Jika kau menulis majalah seperti itu siapa yang akan membeli dan membacanya? Maksudku, siapa yang mau membaca berita khayalan tentang Action dan bla-bla-bla dan bla? Bisa-bisa sia-sia penerbitannya”


“Tapi Tuan Pear-“


“Eit, sudah cukup. Aku menolak majalah yang akan kau ajukan. Juga semua yang kau ajukan kemarin-kemarin”


“Tuan Pear. Aku mencoba untuk meyakinkanmu dan yang lain untuk percaya bahwa Action masih hidup. Mereka hanya belum muncul karena tidak ada lagi yang percaya mereka”


“Lalu, setelah melihatku tidak percaya terhadap khayalanmu, kau pikir orang lain akan percaya?” Tuan Pear menaikkan satu alisnya.


“Semua keyakinanmu tidak ada gunanya Luna. Dan semua yang kau tuangkan dalam majalahmu ini juga tidak berguna. Tidak akan ada yang percaya. Seberapa keras kau melakukannya.

__ADS_1


Luna terdiam. Kemudian hendak berbicara lagi.


“Tapi-“


“Aku bilang cukup. Ambil majalah-majalahmu yang aneh ini. Segera keluar dari ruanganku. Aku ingin bekerja dengan tenang”


Luna kemudian terdiam lagi. Ia lalu mengambil majalah yang mungkin berjumlah sepuluh jenis itu. Ia memungut seluruhnya yang berserakan di lantai dan hendak membuka pintu.


“Majalah yang akan kau jual tanyakan pada Lis” kata Tuan Pear tanpa sedikitpun menoleh.


Luna melanjutkan jalannya untuk keluar. Ia menutup pintu ruangannya dan menuruni tangga. Ia turun dengan wajah cemberut. Dan itu diliat oleh Lis.


Awalnya ia heran. Tapi setelah melihat tumpukan majalah yang dipegang oleh Luna yang tak lain tak buka adalah majalahnya sendiri, ia kemudian tau apa yang terjadi. Kasihan sekali Luna. Ia pasti bekerja keras dalam membuat semua majalah itu. Ia jadi tak tega melihatnya.


Lis tau kecintaan dan keyakinan Luna pada Action. Sesungguhnya selain ayah dan ibunya Luna, Lis orang yang termasuk mempercayai hal itu. Lis juga setiap hari memperhatikan Luna yang mencoba meyakinkan banyak orang tentang hal itu.


Dalam penglihatan Lis, Luna orang yang penuh tekad dan tak pernah menyerah. Ia berkali-kali di anggap aneh dan banyak sekali yang tak mempercayainya karena menganggap Action masih ada, namun ia tetap semangat dalam meyakinkan orang-orang itu. Sudah berkali-kali di tampik oleh kenyataan, tapi ia tetap teguh pada keyakinannya.


Bagi Lis, Luna orang yang paling teguh. Sekali ia mengejar sesuatu, ia akan terus mengejarnya. Dan jika ia belum bisa mendapatkannya, ia akan terus berusaha. Usahanya sungguh keras. Semangatnya sungguh membara.


Sebab hal itu Lis memercayai keyakinannya.


Tapi saat ini, Lis sedih melihat Luna. Semangatnya seperti akan padam. Gadis ini berusia sama dengannya, tapi dia lebih darinya.


“Luna...” Lis ingin bereaksi saat Luna seketika berhenti di depannya. Atau tepatnya di depan konter.


“Lis.... Aku tidak akan menyerah. Mungkin saat ini belum ada yang percaya. Tapi pasti nanti akan ada. Itu PASTI” ucap Luna penuh tekad.


Lis tersenyum. Ia ternyata salah perkiraan. Luna tetaplah Luna. Semangatnya adalah api yang membara dan tidak akan padam. Begitu banyak yang ia tak tau tentang perempuan ini. Perempuan yang sangat istimewa.


“Semangat Luna. Kau pasti bisa. Aku akan membantumu!”


“Iya, ada di dalam ambillah”


Luna berlari ke pintu samping konter. Ia langsung mengambil dua ikatan tumpukan majalah. Ia kemudian mengaitkan dua-duanya ke belakang sepedanya. Ia menaiki dan mulai mengayuh pelan.


“Lis!! Duluan ya!!” teriak Luna. Ia langsung pergi menjauh dan mulai menjual majalah.


Lis hanya tersenyum melihatnya. Ia Cuma bisa berteriak “Iya!!” dengan suara keras berharap Luna masih bisa mendengar jawabannya itu karena ia tampak sudah sangat jauh.


***


Jam menunjukkan pukul 05.00. Luna sudah mengitari kota dan menawarkan orang-orang akan majalahnya. Namun hasilnya sangat nihil. Hanya dua atau tiga yang berhasil terjual. Itupun mereka membeli dengan harga tawaran.


Luna berhenti sebentar di dekat taman kota. Ia turun dari sepeda dan memarkirkannya di dekat tempat duduk kayu yang ada di dekat taman itu. Ia kemudian duduk di tempat duduk itu sambil mengusap keringat yang membasahi tubuhnya.


Ia sangat lelah. Bagaimana tidak ia hampir mengelilingi kota dan memutari banyak blok hanya untuk menjual majalah dan sama sekali tidak ada yang ingin membelinya. Semuanya tampak sia-sia saja.


Biasanya jam segini, Luna sudah seharusnya berhenti bekerja dan pulang ke rumah. Lalu-lalu majalahnya sangat laku. Mungkin memang majalahnya tidak terjual semua. Tapi majalah itu lumayan banyak terbeli.


Tapi tidak hari ini. Aneh sekali, tidak biasanya seperti ini. Ia hanya berhasil menjual sedikit majalah. Ia jadi tidak berani berhenti sebelum barangnya habis.


Luna menatap tumpukan majalah tersebut.


Majalah-majalah itu adalah majalah berita. Isinya tentang berita harian yang terjadi. Beberapa di antaranya juga majalah wanita. Yang berisi segala macam tentang kecantikan dan pakaian atau apapun yang berkaitan dengan wanita.

__ADS_1


Cuma majalah wanita yang laku. Majalah berita sama sekali tidak ada yang membeli hari ini. Lagipun memang siapa lagi yang akan membaca majalah berita dengan segala teknologi? Sumber daya manusia yang sangat berkembang di sini melahirkan banyak alat-alat canggih. Juga internet. Dengan bantuan itu orang hanya perlu buka browser untuk update berita terbaru. Tidak perlu repot-repot membeli majalah.


Tapi majalah wanita agak laku karena kebanyakan di beli oleh toko salon. Mungkin kegemaran membaca majalah sambil nyalon memang masih ada.


“Huh. Kenapa sama sekali tidak ada yang beli sih?” kesal Luna. “Bagaimana jika Tuan Pear tau hal ini? Huaa aku pasti akan dimarahi lagiiii”


Ia kemudian menatap sekeliling. Menatap kembali rutinitas orang-orang di sini. Jam-jam segini para orang kantoran Broside City sudah pulang. Makanya terkadang kota ini mengalami macet di jam-jam padat. Yaitu pada waktu pagi saat ramai-ramainya pergi sekolah dan bekerja dan waktu sore.


Tapi kali ini semua baik-baik saja. Tidak ada macet, riuh teriakan marah-marah, dan suara klakson mobil yang terus-menerus memekikkan. Belum lagi suara peluit polisi stres yang bertugas.


Memang hari ini begitu berbeda.


Tiba-tiba mata Luna menangkap sesuatu. Ia melihat seorang kakek-kakek yang sudah sangat tua. Mungkin umurnya berkisar 70-an. Kakek itu duduk di bangku halte pemberhentian bus.


Kakek itu memakai baju serba putih. Ia berpenampilan layaknya seorang pendeta. Seperti orang yang sangat berilmu. Ia berambut panjang. Dan alisnya cukup tebal. Matanya sampai tak bisa dilihat dari kejauhan.


Entah kenapa dari sekian banyaknya orang, dia lah yang paling menarik perhatian Luna. Kakek itu hanya menatap lurus ke depan. Entah apa yang dilakukannya. Luna terus memperhatikannya. Sosok ini bagai tak asing baginya. Ia merasa pernah melihatnya. Di suatu tempat. Tapi entah kenapa Luna melupakannya.


Satu menit, dua menit, tiga menit. Ia tetap menatap ke depan.


Sepertinya ia memikirkan sesuatu bukan melihat atau melakukan sesuatu.


Ucap Luna dalam hati. Kakek ini memang tampak asyik dengan pikirannya sendiri. Kepalanya penuh dengan suatu pikiran yang memusingkan. Itu terlihat dengan wajahnya yang penuh stres dan hanya melihat ke depan.


Mata Luna kemudian menangkap sesuatu lagi. Kali ini seseorang yang sedang berjalan. Ia memakai baju serba hitam. Mulai dari sepatu, celana, baju, dan jaket yang ia kenakan. Tak lupa, ia juga memakai kacamata hitam. Orang ini adalah pria bertubuh jangkung. Umurnya kurang lebih 30-an.


Aneh sekali. Luna adalah penjual majalah keliling yang sering berada di taman ini. Ia sering beristirahat di sini ketika lelah keliling berjualan. Taman ini cukup ramai karena berdekatan dengan alun-alun kota. Makanya Luna memilih berjualan di sini. Ia tau selera orang-orang di sini. Pakaian sebagian orang di sini mengikuti tren masa kini. Banyak yang bergaya modis dengan segala model baju. Mereka terkadang juga memadukan banyak warna yang terkesan cerah.


Tapi kedua orang ini... Penampilannya sangat aneh. Dan jarang sekali Luna melihat orang berpakaian seperti itu


Yang satu berpakaian putih dan yang satu hitam. Yang satu berpakaian seperti di berabad-abad lalu dan yang satu berpakaian sangat modern tapi sangat-sangat simple.


Luna berpikir keras dan mencoba mengingat apakah pernah bertemu mereka berdua. Mungkin ia familier dengan kakek berpakaian putih. Namun sepertinya Luna memang belum pernah bertemu dengan lelaki berpakaian hitam ini.


Luna kemudian menatap lelaki itu yang sedang berjalan sambil membawa sebuah tas hitam. Ia terus menatapnya yang sudah semakin jauh.


Ia kemudian menoleh kembali untuk melihat kakek itu namun....


Saat ia menoleh, matanya berpas-pasan dengan bus yang lewat. Namun bus itu tidak berhenti. Ia terus melaju. Dan ketika bus itu hilang dari pandangan Luna, kakek itu sudah tidak ada.


Luna sontak kaget dan berdiri.


Kakek itu kemana?


Luna celingak-celinguk. Memperhatikan sekitar apakah kakek itu masih berada di sini. Namun hasilnya nihil. Kakek itu tak ada sama sekali.


Lagi-lagi semua ini sangat aneh. Bagaimana bisa bus tidak berhenti saat ada orang di halte bus? Kalau pun kakek itu sudah pergi sebelum bus datang, seharusnya ia masih berada di sekitar sini. Tidak mungkinkan kakek itu sangat cepat pergi, jalannya saja pelan sekali dan bahkan ia memakai tongkat untuk berjalan.


Luna kemudian menoleh lagi ke sosok lelaki berpakaian hitam. Kali ini Luna masih bisa melihat sosoknya yang berhenti di tengah trotoar. Ia sedang melihat ke layar ponselnya.


Namun Luna belum bisa melihat wajahnya yang tertutup topi hitam. Ia kemudian bertujuan untuk menghampirinya.


Tiba-tiba seseorang mendorongnya dari belakang. Badannya yang tidak siap langsung jatuh menimpa sepedanya yang saat itu tepat di hadapannya. Sepedanya ikut jatuh dan semua majalahnya ikut jatuh juga karena terlepas dari ikatan di sepeda.


Luna telah tersungkur bersama sepedanya. Luna merintih kesakitan. Ia membuka matanya yang sempat terpejam. Kemudian suara wanita terdengar.

__ADS_1


“Jangan plongo-plongo di jalan! Mengganggu orang lain tau tidak?!!”


bersambung***


__ADS_2