
Luna melangkahkan kakinya menyusuri koridor sekolah. Ia berjalan dengan santai sambil memegang kedua tali ranselnya. Ia menuju kelasnya yang berada di lantai dua. Sekolah ini lumayan bagus. Banyak fasilitas dan bangunannya juga terus di renovasi agar menjadi lebih baru.
Alat-alat yang digunakan juga semua benda yang canggih. Zaman sekarang masyarakat Broside City memang sudah maju. Mereka menciptakan banyak alat-alat canggih seperti pancaran hologram, pemindai panas lantai super canggih, transportasi, alat keamanan, dan berbagai peralatan rumah tangga yang terus diinovasikan agar menjadi benda yang lebih canggih. Hal ini semua dilakukan untuk menambah kenyamanan masyarakat dalam beraktivitas. Sehingga bisa dikatakan kota ini termasuk kota yang maju dan berkembang.
Banyak tenaga ahli dan profesional yang berasal dari Broside City menciptakan benda-benda yang canggih dan diperjualbelikan di negara luar. Dari situlah kota ini terkenal.
Masa lalu kelam kota ini bahkan sudah tertutupi dari prestasi yang telah dicapai.
Luna menaiki tangga dan pergi ke lorong sebelah kanan tempat kelasnya berada. Ia sempat bertemu beberapa murid dan menyapanya. Luna telah sampai di depan pintu kelas dan membukanya perlahan.
Ia langsung masuk menyadari bahwa guru belum ada di kelas. Ia duduk di bangku pojok barisan paling belakang, bersebelahan dengan temannya, Natasha.
Dilihat temannya sedang asyik mendengarkan musik lewat earphone. Luna kemudian mengeluarkan buku-bukunya.
“Eh Luna” Natasha mencabut kedua earphone berwarna hitamnya itu. “Maaf ya aku tidak menyadari kau ada di sini, aku terlalu ke asikan mendengar lagu” Natasha tertawa pelan. Luna hanya tersenyum tipis. Heran kenapa semua orang hari ini tidak menyadari kehadirannya.
“Iya tidak mengapa. Oh iya, kau sudah mengerjakan soal yang diberikan ibu guru kemarin?” tanya Luna mengalihkan topik.
“Ah, iya sudah”
“Oh baiklah kalo begitu” Luna mengeluarkan buku berisi ide-idenya. Di buku itulah Luna menulis tentang hal yang ia ingin lakukan, dan hal yang ia sukai. Ia juga terkadang mencatat majalah yang akan dibuatnya. Iya, Selain bekerja sebagai penjual, Luna juga ikut bantu dalam membuat majalah.
Natasha melirik ke buku bersampul merah maron itu. Ia mengintip isinya. Terdapat daftar baris panjang pada halaman pertama.
Hal yang ingin kulakukan:
- Bertemu Action.
Natasha menggeleng. Temannya ini sangat menggemari Action karena katanya ia pernah diselamatkan oleh ketuanya. Bukannya ia tidak percaya, namun ia rasa ini sangat sangat sangat mustahil dilakukan. Maksudnya, Action sudah lama dikatakan “hilang” dan bahkan semua sudah meyakini bahwa mereka memang tidak ada lagi. Namun Luna sangatlah keras kepala. Ia masih tetap yakin bahwa Action itu masih ada. Padahal tak ada tanda-tanda sama sekali tentang kehadiran mereka. Susah untuk meyakinkannya bahwa Action si penyelamat kota tidak ada dan tidak akan pernah ada lagi.
Namun kali ini Natasha sudah tidak bisa menahannya lagi. Ia sudah terlalu banyak membiarkan temannya ini larut sendiri. Ia haru menegurnya kali ini.
“Kau masih saja percaya bahwa mereka masih ada”
“Maksudmu?” Luna heran dengan perkataan Natasha.
“Bukan maksud apa-apa. Tapi sadarkah kau bahwa obsesimu ini terlalu berlebihan. Kau masih saja yakin bahwa mereka ada padahal sebenarnya semua orang tahu mereka itu sudah berhenti bekerja. Mereka tidak akan datang lagi. Mereka itu sudah tidak ada Luna” jelas Natasha. Sekali lagi ia ingin mencoba untuk menyadarkan temannya ini. “Sadarlah Luna. Apa kau tidak mendengar kata orang-orang? Action itu sudah lenyap. Tidak akan ada lagi. Dan kau harus garis bawahi hal itu.”
Luna meremas pulpennya.
“Mau obsesi atau bukan, apapun yang orang lain katakan, dan kalaupun semua orang berpendapat bahwa mereka sudah tidak ada lagi, aku akan tetap percaya ada!” Luna bangkit dari kursinya. Ia kemudian pergi keluar kelas menghiraukan teriakan Natasha. Baginya, Natasha telah keterlaluan. Dia tahu bahwa Luna percaya pada Action tapi masih saja dia bersikeras bahwa mereka sudah tidak ada lagi. Dia masih saja belum yakin bahwa yang menolongnya waktu kecil adalah ketua Action.
Ya, memang banyak orang yang yakin bahwa mereka sudah tidak ada lagi dalam artian benar-benar tidak ada. Mereka bilang Action telah tiada. Ada suatu isu yang mengatakan bahwa mereka telah mati karena suatu peristiwa besar yaitu peperangan antar planet. Iya, mereka memang pernah berperang dengan “makhluk lain”. Ada juga isu yang mengatakan bahwa mereka telah dibunuh oleh semua para penjahat yang bersatu untuk menentang Action. Selain itu masih banyak isu lainnya. Namun masyarakat di sini percaya bahwa Action telah mati.
Namun Luna tetap tak percaya. Ia yakin Action masih ada. Ia yakin! Buktinya ketuanya saja pernah menolong Luna. Jadi Action itu pastilah masih hidup.
Luna berjalan di sekitar taman sekolah. Ia kemudian duduk di sebuah bangku yang ada di dekat tanaman-tanaman. Ia duduk di situ dan menopang dagunya dengan kedua tangannya. Ia menghela nafas panjang.
“Huh, kenapa sih semua orang tidak percaya bahwa mereka masih hidup?” ia berdecak sebal. “Action telah melindungi kita semua dari berbagai ancaman dan mereka melupakan mereka begitu cepat, bahkan menganggap mereka tiada. Benar-benar tidak tahu diri.”
Luna menendang-nendang tanah yang ia pijak. Ia kemudian menghentakkan kakinya. Ingin rasanya berteriak saking marahnya.
Seketika tangan besar menepuk pundak Luna. Ia kemudian terlonjak kaget. Saking kagetnya sampai hampir terjatuh dari bangku. Ia menoleh ke belakang dan mendapati gurunya yang sedang dalam tatapan bingung.
“Bicara sama siapa kamu?” tanya gurunya. Ia adalah Ibu Rose. Dia guru yang paling ramah di sekolah. Dia adalah guru kimia di sekolah.
“Eh ibu Rose. Bikin kaget saja bu. Eh anu.. tidak bicara pada siapa-siapa kok. Hanya sedang kesal saja.” Luna menyentakkan kakinya pelan.
__ADS_1
“Oh begitu. Ya sudah masuk sana. Kelas sudah mau dimulai. Cepat masuk. Bel dari tadi sudah berbunyi” Ibu Rose mengingati.
Luna kemudian pergi ke kelasnya atas perintah ibu guru Rose walaupun masih kesal. Ia berjalan dengan gontai menaiki tangga. Masih sebal dengan kejadian tadi.
Orang-orang semuanya kenapa sih? Mereka menganggap bahwa Action sudah hilang, sudah tidak penting. Apa mereka tidak sadar bahwa Action sudah menyelamatkan mereka semua.
Luna melanjutkan omongannya dalam hati. Semakin asyik berbicara sendiri bahkan membuat iya tidak sadar bahwa ia sudah berada di depan kelas. Ia kemudian masuk perlahan seperti tadi dan langsung menuju mejanya seketika tahu bahwa guru belum datang.
Natasha hanya diam saja melihat Luna. Di dalam hatinya sebenarnya ia ingin meminta maaf kepada Luna karena telah bersikap tidak baik kepadanya. Namun ia masih ragu jika Luna akan memaafkannya.
Sementara Luna kembali fokus ke pelajaran walaupun terkadang matanya harus bertemu dengan mata Natasha. Ya tentu saja karena mereka juga satu tempat duduk. Luna hanya mendiamkannya saja. Lantaran masih marah, atau memang hanya butuh waktu saja untuk menenangkan diri.
***
Waktu istirahat telah tiba. Luna berjalan menuju kantin dan membeli beberapa makanan untuk mengenyangkan perutnya. Luna kemudian berjalan ke belakang sekolah. Terdapat satu buah bangku yang ditinggalkan di sana. Luna selalu duduk di situ dari dulu untuk menyendiri. Tempat ini bagaikan “markas rahasia” baginya.
Walaupun ini tempat umum dan pasti diketahui banyak orang. Namun memang tempat ini jarang dipakai untuk “nongkrong” karena tempatnya yang mungkin terlalu sunyi dan tidak asyik.
Ia mengambil beberapa bungkus makanan ringan yang tadi ia beli di kantin dan memakannya. Di sana suasananya sejuk dan nyaman. Karena terdapat pohon besar rindang yang melindungi dari panas cahaya sinar matahari dan memberikan efek teduh. Angin bertiup pelan dan sepoi-sepoi membuat diri kita akan betah di sini.
Luna masih tetap asyik dengan makanannya. Wajar saja tadi pelajarannya terbilang susah dan menguras banyak energi. Ia pastilah sangat lapar.
Luna kemudian mengeluarkan kalung dari balik bajunya dan menatap liontin batu berlian merah itu.
“Leon, kau pernah memberikanku ini dan berkata aku adalah anak yang pemberani dan kuat. Dan aku memang melihatmu di sana. Terus, kenapa kau tidak berani untuk muncul di hadapan orang-orang jika kau memang masih hidup? Kenapa kau menggantungkan rasa percaya diriku selalu dalam posisi seperti ini?” Luna menghela nafas panjang. “Walaupun begitu, aku selalu berharap kepadamu. Kenapa kau tidak datang?” Luna memegang dan memutar-mutar liontin batu itu. Ia kemudian menatapnya dalam. Lalu ia memasukkannya kembali ke dalam balik bajunya.
Tanpa sadar ia telah menghabisi makanannya. Ia kemudian akan beranjak pergi namun sesuatu dari arah depan memanggilnya.
“Luna” Natasha yang tadi berlari memelankan langkah kakinya. Ia berjarak lima langkah dari Luna.
Natasha kemudian menelan ludahnya. Tujuannya ke sini adalah untuk meminta maaf kepada Luna. Ia takut jikalau Luna tidak mau memaafkannya.
“Luna, maafkan aku tentang ucapanku kemarin. Aku tidak mau menghilangkan kepercayaanmu atau apapun itu. Aku tidak bohong”
“Iya tidak apa-apa. Aku tahu maksudmu. Tenang saja, mungkin memang aku yang terlalu ambil hati” Luna memang orang yang pemaaf. Namun ia tidak suka orang yang menyembunyikan kebenaran dan menghilangkan kepercayaan. Ia juga tau bahwa Natasha hanya terbawa.
Mendengar jawaban itu Natasha tersenyum. Ia lega Luna ternyata masih mau memaafkannya.
“Ya sudah aku pergi dulu ya. Aku ingin ke kelas.” Ucap Luna pelan.
“Iya, baik kalo begitu aku juga harus pergi. Aku ingin bertemu seseorang”
“Baiklah, dah”
“Dah”
Dan begitulah kegiatan Luna di sekolah. Setelah bel berbunyi, ia kemudian pulang sendiri jalan kaki. Ia meninggalkan sekolahnya menuju rumah.
***
Hari ini Luna sempat mampir ke rumah untuk makan siang terlebih dahulu sebelum bekerja. Biasanya ia akan langsung kerja di tempat penjualan majalah dan pergi berkeliling kota menjajakan majalahnya.
Ia melepas sepatunya dan menaruhnya di rak sepatu. Ia kemudian masuk ke dalam rumahnya dan mengucapkan salam.
“Ibu, Luna pulang!” Luna kemudian masuk berjalan ke ruang tamu. Ia menjatuhkan tubuhnya di sofa berwarna kremnya dan menghempaskan tasnya. Ia baring di sofa dengan posisi yang asal-asalan.
Luna menatap langit-langit rumahnya. Ia kemudian melirik jam yang telah menunjukkan pukul 13.30. Matanya kemudian berganti melirik pintu yang menghubungkan ruang keluarga dan dapur. Kenapa ya, biasanya ibu langsung keluar jika Luna telah pulang.
__ADS_1
Ia kemudian bangkit untuk memeriksa. Ia masuk ke ruang dapur dan memanggil-manggil ibunya.
“Ibu!” masih tidak ada sahutan. Ia kemudian naik ke lantai atas dan memeriksa seluruh ruangan. Tidak ada satupun orang di rumah.
Luna berpikir ibunya pasti telah pergi bekerja di kafe. Ia kembali lagi ke ruang keluarga dan kembali duduk di sofa kremnya. Ia kemudian menyalakan televisi agar ia tidak merasa kesepian dan sendirian. Luna benci hal itu. Ia kemudian mengecek ponselnya. Melihat apakah ada pesan yang masuk. Tidak ada apa-apa.
Luna beranjak dari sofanya dan pergi ke atas untuk mengganti baju. Setelah itu barulah ia turun kembali dengan baju yang sudah rapi. Ia berencana untuk membeli makan siang dulu sebelum bekerja.
Saat akan keluar, seketika suara ketokan pintu dari luar terdengar.
“Tok, tok, tok”
Luna kemudian membuka pintu.
Ia melihat seorang perempuan tinggi hampir sama dengan ibunya. Ia membawa sebuah kantong plastik berisi sebuah kotak makanan. Perempuan itu berkulit putih dan berambut hitam pendek dengan potongan bob. Wajahnya cantik namun sekarang terlihat datar-datar saja. Wanita ini juga memiliki tatapan mata yang lebih tajam dari ibunya.
Di samping perempuan itu berdiri seorang lelaki yang lebih tinggi darinya. Ia juga sama, berwajah datar-datar saja. Ia berambut putih dan penampilannya membuatnya sangat cool. Ia bak idaman semua wanita.
Kedua orang ini adalah pasangan suami-istri. Perempuan itu adalah adik dari ibunya. Namanya adalah Raile. Sedangkan lelaki itu adalah suaminya, namanya adalah Yosha. Ia adalah teman dekat sekaligus suami dari adik istri Fred. Mereka berdua belum memiliki anak.
Mereka ini semua sama-sama pasangan yang sangat dingin walaupun tetap saja saling sayang. Mereka semua bak es beku. Mereka juga dikabarkan sangat pintar bela diri. Mereka mungkin pasangan paling ekstrem yang pernah ada.
Walau begitu mereka sangat-sangat jarang bertengkar. Bahkan mungkin berbicara. Namun mereka tetap butuh diperhatikan dan saling perhatian. Mungkin itulah yang membuat mereka saling rukun-rukun saja.
“Ah bibi Raile, paman Joshua. Ayo masuk.” Luna mempersilahkan Raile dan Joshua untuk masuk. Mereka kemudian duduk di sofa yang berada di tengah-tengah ruang keluarga sekaligus ruang tamu tersebut.
Luna lalu mengambil kursi kecil yang berada di samping sofa dan ikut duduk berhadapan dengan mereka berdua.
“Di mana ayah dan ibumu?” tanya Raile. Dia orangnya memang to the point. Sedangkan Yosha orangnya pendiam. Sangat pendiam.
Bibi dan Paman Luna memang akrab dengan keluarga Luna. Mereka terkadang bertandang ke rumah Luna sekali atau dua kali dalam seminggu. Makanya tidak heran jika mereka sangat mengenal satu sama lain.
“Ah iya mereka sedang keluar. Ayah masih di kantor dan ibu pergi ke cafe” jawab Luna santai.
Yosha dan Raile kemudian saling bertatapan sebentar. Raile lalu kembali menatap Luna.
“ Oh ya sudah kalo begitu. Ini ada makanan untukmu” Raile menyodorkan plastik yang berisi kotak itu ke hadapan Luna.
“Wah terima kasih banyak bi, tau saja aku lagi lapar” Luna tersenyum girang.
“Sama-sama. Ya sudah kami pergi dulu”
Senyum Luna kemudian berganti dengan muka keheranan.
“Loh, sudah mau pulang? Tidak mau makan atau apa dulu? Kok cepat sekali pulangnya?” tanya Luna. Dia memang suka mengeluarkan banyak pertanyaan sekaligus.
“Kami ada urusan. Lagipun tidak ada makanan kan? Aku tebak kau baru ingin beli makan siang” tebak Raile akurat.
“Ah bibi. Pintar sekali main tebak-tebakannya. Hehe” Luna tersenyum malu.
Raile dan Yosha kemudian pamit kepada Luna. Luna kemudian menghabiskan makanannya dan bersiap pegi bekerja menjual majalahnya.
bersambung***
gimana gimana?
Aduh aku baru mulai nulis nih. mohon masukan ya
__ADS_1