The Destined Seeker

The Destined Seeker
BAB 4 : Menuju Hukuman


__ADS_3

Luna dalam posisi terbaring di trotoar dengan sepedanya. Luna membuka matanya yang sempat terpejam. Dilihatnya sosok perempuan tinggi berusia sekitar 40-an. Ia memiliki rambut lurus yang sepanjang pinggang berwarna hitam legam. Wajahnya datar dan ia berkulit putih agak pucat. Sekali lagi ia orang asing yang familier.


Luna sedikit menyipit melihat sosok itu yang diterpa sinar matahari.


“Kau mengganggu kenyamanan orang lain” wanita itu kemudian menatap ke depan dan berjalan begitu saja. Ia tidak membantu Luna berdiri bahkan minta maaf pun tidak. Yang ada ia malah berkata ketus dan bersikap jutek.


Luna masih saja dalam posisi terbaring dan tidak bergerak sedikit pun. Ia tetap menatap wanita itu yang tetap berjalan ke depan. Luna terus menatapnya sampai sosoknya menghilang. Cukup lama. Sekitar 2-3 menit.


Menit berikutnya ia seperti tersadar dari pingsan. Ia baru sadar bahwa ia sedang berbaring di trotoar. Ia terlalu terpaku pada wanita itu sehingga tidak tau apa yang terjadi.


Entah kenapa waktu seakan-akan berhenti. Kemudian seketika berjalan lagi dan Luna sudah dalam posisi seperti ini. Entahlah... Aura wanira itu sangat kuat. Membuat orang yang berhadapan dengannya lupa segalanya.


Orang-orang yang lewat segera berkerumun datang membantu Luna. Mereka membantunya berdiri juga sepedanya.


“Dik, kau tidak apa-apa?” tanya salah satu warga.


“A-Ah ya. Aku ba-baik-baik saja” jawab Luna gugup. Walaupun memang tadi sedikit sakit, tapi perhatiannya teralihkan oleh wanita itu.


“Dik yakin kau baik-baik saja? Tadi kami melihatmu jatuh dan terus di sini” ucap salah seorang warga lain.


“Iya yakin. Terima kasih banyak bantuannya”


Setelah warga memastikan Luna baik-baik saja, kerumunan itu perlahan bubar. Luna kemudian duduk terdiam. Ia mengingat kejadian tadi.


Jika memang benar orang itu hanya lewat, kenapa ia mendorong Luna? Tidak mungkinkan jika Luna hanya berdiri dan ia melihatnya di sana ia tetap menabraknya?


Ini seperti dilakukan dengan sengaja. Ya, sengaja. Wanita itu. Wanita itu seperti sengaja mendorong Luna agar perhatiannya teralih dari orang yang dilihatnya. Pria berpakaian hitam itu.


Ah, benar! Orang berpakaian itu ke mana?


Luna memperhatikan sekitar. Ia melihat ke sekeliling. Tidak ada tanda-tanda pria berpakaian hitam itu. Ia sudah tidak ada. Pasti ia sudah pergi.


Aduh, padahal Luna sudah bertujuan untuk mengikutinya.

__ADS_1


Luna juga belum sempat melihat wajahnya. Lagi-lagi dan lagi-lagi semua ini aneh. Hari ini benar-benar berbeda. Sangat berbeda. Pertama,  majalahnya tidak laku, tidak ada macet yang menjadi rutinitas, bertemu dengan dua orang misterius, dan terakhir di tabrak (seperti di dorong dengan sengaja) oleh orang yang misterius dan familier juga. Kemudian hilangnya tiga orang tersebut.


Apa sebenarnya yang terjadi hari ini. Ada apa sehingga semua menjadi seperti ini?


Dalam kesibukan Luna yang sedang berpikir, ia menyadari sesuatu.


Majalahnya! Ya majalahnya!


Luna melihat majalahnya tidak ada di atas sepeda. Talinya pasti sudah terlepas! Ia mencari-cari di mana tumpukan majalah itu.


Oh tidak!


Majalahnya jatuh tepat di genangan air. Sebelum Luna ke taman, memang sempat hujan. Hujannya tidak begitu lebat, tapi cukup untuk membuat genangan di beberapa tempat.


“Bagaimana ini?” Luna yang panik kemudian mengambil semua tumpukan majalah yang berserakan itu. Ada beberapa yang jatuh menumpuk. Ada juga yang terpisah dari tumpukan.


Semua majalah itu basah. Semua tulisannya telah terkena air. Kertasnya juga menjadi layu. Tumpukan buku itu tidaklah lagi menjadi kokoh.


“Semua majalahnya... Oh tidak”


***


“ARGH LUNA! Kau ini... Akh bisa-bisanya kau membuat seluruh majalahnya basah! Lihat ini! Tidak ada satupun yang bisa di baca. Tidak ada yang ingin membelinya!” Tuan Pear menghempaskan majalah yang basah itu. Ia duduk di kursinya dan sedang marah besar karena keteledoran Luna.


Luna yang sedang di marahi hanya bisa diam tertunduk sambil duduk di kursi depan meja Tuan Pear.


“Luna, Luna...” Tuan Pear memijit kepalanya. “ Kau tahu berapa uang yang dihabiskan untuk mencetak majalah itu”


Tuan Pear merasa kecewa karena kejadian ini. Ia memang sudah mencetak majalah ini lumayan banyak dan secara besar-besaran. Belum lagi dengan kenyataan bahwa majalah-majalah ini semua tidak laku. Walau memang hanya beberapa yang rusak


“Ta-Tapi tuan Pear hanya beberapa kan yang rusak”


“Kau ini bagaimana?! Walau sedikit pun tetap saja itu sia-sia. Entah berapa jumlahnya, belasan, puluhan, ratusan, ribuan, kalo rugi ya tetap rugi!” Tuan Pear mengusap wajahnya.

__ADS_1


“Ta-“


“Cukup! Keteledoranmu ini bisa membuat hancur toko ini. Memang itu hanya tiga puluhan yang rusak. Tapi bagaimana jika suatu saat kau diberikan yang lebih dari itu? Jika kau diberikan ratusan? Dan sikapmu masih seperti ini? Kau tidak akan mempertahankan toko ini”


Sebenarnya Tuan Pear tidak mau sekeras ini kepada remaja seperti Luna. Namun ia mencoba mengajarkan kepadanya cara bertanggung jawab atas apa yang diberikan. Baginya, Luna adalah anak hebat. Ia rela bekerja di sini di umurnya yang sekarang. Namun akhir-akhir ini ia makin menjadi saja. Mulai dari khayalannya dan sekarang keteledorannya yang merugikan.


“Maaf Tuan Pear” wajah Luma semakin tertunduk.


“Huh... Pokoknya kau harus menggantinya. Kau harus membayar kerugian ini”


“A-apa ta-tapi Tuan Pear, aku tidak punya uang sebanyak itu untuk menggantinya”


Sebenarnya Luna memang bisa saja meminta orang tuanya untuk meminta uang. Tapi ia tau jika ia memintanya untuk membayar ganti majalah, orang tuanya pasti melarangnya bekerja lagi. Selama ini memang  Luna telah berjanji pekerjaan ini tidak akan merugikan dan membebani siapapun. Dan jika ia melanggar hal itu orang tuanya pasti tidak akan membiarkannya bekerja di sini. Apalagi ayahnya. Dan Luna sama sekali tidak mau berpisah dengan pekerjaan ini. Dan yang paling utama ia tidak mau tidak berinteraksi dan melihat rutinitas monoton warga Broside City. Tidak. Tidak mau!!


“Ah, terus sekarang bagaimana cara kau mengganti seluruh kerugian?!”


“Mungkin ada cara lain. Tolonglah. Aku akan melakukan apapun asalkan aku tidak harus ganti rugi Tuan Pear. Orang tuaku pasti akan marah dan aku tidak bisa bekerja di sini” Luna memohon.


“Hmm.. baiklah” Tuan Pear tampak berpikir. “Ada satu cara lain”


Wajah Luna seketika berubah cerah. “Iya. Apapun itu akan kulakukan”


“Baiklah. Kau harus lembur dan mencetak seluruh majalah yang sudah kau rusak. Kau tidak boleh berhenti dan pulang sebelum kau menyelesaikannya. Dan gajimu akan dipakai untuk mencetak majalah itu. Deal?”


Luna bingung. Apakah orang tuanya akan mengizinkannya lembur?


Tapi mau bagaimana lagi. Daripada ia mengganti rugi dan dilarang bekerja lagi? Lebih baik ia lembur dan gajinya di pakai untuk mencetak majalah yang rusak karena ulahnya sendiri.


“Mmm baiklah. Tapi beri aku waktu sebentar. Aku akan meminta izin dengan orang tuaku”


Setelah Tuan Pear mengizinkan ( hanya dengan anggukan ) Luna kemudian berdiri dari kursi dan pergi ke pojok ruangan.


bersambung***

__ADS_1


halo. kali ini updatenya lebih cepat. Sebenarnya ingin update Senin tapi karena beberapa hal updatenya jadi hari Sabtu saja. Tapi hari Senin tetap update kok jadi tenang aja. Oke? Dan satu hal lagi, mulai sekarang ceritanya agak pendekan jadi gapapa ya


__ADS_2