
Matahari telah tenggelam di bagian barat. Cahayanya telah digantikan oleh cahaya bulan setengah yang baru saja muncul. Dalam tengah keramaian jalanan, Luna masih tetap duduk di bangku yang berada di perempatan itu.
Malam ini jalanan sangat padat. Motor mobil lalu-lalang. Namun itu tak bisa membuat pikiran Luna teralih dari perkataan Jin.
Semua terjadi begitu cepat. Luna jadi tak bisa berkata apa-apa atau melakukan apa pun. Ia hanya bisa berusaha mengingat kembali kejadian itu. Luna termenung. Ia memikirkan perkataan Jin.
Mereka akan melakukan sesuatu yang melibatkan dirimu dengan mereka
Apa maksudnya mereka melakukan ini dengan sudah terencana? Tapi.... bagaimana mungkin?
Yakinlah bantuan akan datang untuk setiap orang yang kesulitan
Bantuan? Untuk orang yang kesulitan? Apa maksudnya aku akan dibantu oleh seseorang. Luna mengusap wajahnya. Ingin berteriak frustasi. Kepalanya mulai pusing memikirkan kata teka-teki Jin.
"Sepertinya memang iya. Aku terlalu ikut campur. Harusnya aku tidak membuntuti pria itu. Harusnya aku tetap memilih bersama Lis di toko. Aku juga harusnya pura-pura saja tak melihat perampok itu berdiskusi bukannya malah melapor polisi. Harusnya aku melupakan semuanya. Bukannya masuk ke dalam rencana mereka untuk menjebakku"
***
Luna membuka pintu pelan. Ia masuk ke dalam rumahnya dan menutup pintu lagi.
"Sudah pulang ternyata. Kenapa tidak ada suaranya dan langsung masuk?" tanya ibunya setelah Luna masuk ke ruang makan menuju tangga.
"Lagi lelah" jawab Luna singkat.
Tak mau mendapat pertanyaan lagi, Luna langsung naik menuju lantai atas dan meninggalkan ibunya yang menatapnya heran.
Sambil berwajah lesu, ia berjalan gontai menuju kamarnya. Ia berbelok setelah menaiki tangga dan berjalan beberapa langkah sebelum menemukan satu-satunya pintu yang ada di antara kedua dinding. Ia membuka pintu, masuk, dan menutup pintu dengan agak keras.
Luna membuang tas selempangnya ke sembarang arah dan membuang diri ke tempat tidurnya. Ia merasa lemas sekali. Bukan karena pekerjaannya yang berat, bukan karena sudah jelas Luna menikmatinya. Namun karena sedari tadi di perjalanan ia lelah berpikir apakah ia akan datang ke rumah kosong itu, mengingat ini adalah hari pertemuan, atau pulang ke rumah dan tidak akan pergi ke sana lagi selamanya. Ia belum memilih. Namun tindakannya sekarang sudah jelas mengarah ke pilihan kedua.
__ADS_1
Ia benci mengatakannya namun sepertinya ia ragu kepada dirinya sendiri dan kehilangan semangatnya. Ia tak pernah seperti ini sebelumnya. Dulu tidak ada yang bisa membuatnya ragu atau takut semenjak ia bertemu dengan Leon. Ia langsung menghadapi apa pun itu yang ada di depannya. Namun sekarang ia-
Tok, tok, tok
Suara ketukan pintu terdengar dari luar.
"Masuk" kata Luna. Ia kemudian mengubah posisinya dari tidur telungkup di kasur menjadi duduk bersila.
Seorang pria muncul dari balik pintu. Ia masuk dengan langkah santai ke dalam kamar. Orang itu adalah ayahnya.
"Luna, tumben sudah di kamar" kata ayahnya pelan. Ia kemudian duduk di tepi tempat tidur bersebelahan dengan anaknya.
"Ayah hari ini kenapa cepat pulang? Biasanya kan ayah pulang malam" Luna mengindahkan perkataan ayahnya. Ia kemudian menyandarkan kepalanya di pundak Fred ayahnya.
"Ayah lagi kurang pekerjaan. Juga ayah lagi tak ambil lembur" jawab ayahnya. Sesaat hening sebentar sebelum Luna bertanya.
"Ayah. Bagaimana pendapat ayah jika ada orang yang ragu atas pilihannya sendiri?" tanya Luna.
"Tapi kita tidak bisa mengubahnya lagi kan? Pasti itulah yang sulit" raut wajah Luna berubah menjadi cemberut. "Tidak usah diubah juga tidak apa kan? Asal kau terus yakin saja dengan keputusanmu sendiri" Luna terdiam. Tak tahu lagi harus berbuat apa. Ini sama sekali tidak membantu menurutnya.
"Luna" panggil Fred. Luna hannya melirik sebagai jawaban. "Kau tahu tidak, ayah juga pernah galau sepertimu" kali ini Luna menegakkan tubuhnya menatap serius Fred.
"Sepertiku? Aku kenapa memangnya?" Luna berusaha menyembunyikan kerisauannya. Mendengar hal itu ayahnya terkekeh pelan.
"Kau pikir ayah baru mengenalmu? Ayah tahu seluruh tentangmu lebih banyak dari orang lain. Dan ayah tahu kau sedang kesulitan dan bimbang sekarang
"Ayah tak memaksa untuk tahu penyebabnya. Tapi kalau ayah boleh berpendapat, ayah aakn memberi tahumu satu hal"
"Apa?" tanya Luna
__ADS_1
"Kau harus menentukan semuanya sendiri. Kau harus yakin dan tak usah mendengar orang lain. Karena terkadang kita harus mengabaikan peraturan dan resiko. Luna. Yang membantu kita itu diri kita sendiri" Luna terdiam lagi. Namun kali ini tampak berpikir. Kemudian ayahnya beranjak dari tempat tidur.
"Ayah ke bawah dulu ya. Lapar sekali. Ayah harap ibumu memasak banyak" setelah berkata Fred pergi dari kamar diikuti suara pintu tertutup dan langkah kakinya.
Kau harus tetap pada tujuanmu yang sebenarnya. Dan yakinlah bantuan akan datang untuk setiap orang yang kesulitan
Yang bisa membantu kita itu diri kita sendiri
Luna tiba-tiba berdiri dari tempat tidurnya. Ia tersenyum ceria lebih dari biasanya.
Kau adalah anak paling berani yang pernah kuketahui
Kata-kata itu. Kata-kata terakhir itulah yang langsung membuat Luna melebarkan senyumnya lagi. Kata-kata yang sama diucapkan oleh Leon dan ayahnya.
Ia tahu harus melakukan apa sekarang. Luna kemudian mengambil sesuatu di atas meja dan berlari ke arah pintu sebelum akhirnya membukanya.
Ia turun ke bawah dengan terburu-buru. Saat sudah di bawah, ayah dan ibunya sontak menoleh.
"Luna mau ke mana?" tanya ibunya.
"Ada urusan ibu, ayah. Pamit dulu. Hanya sebentar. Dah ayahhh ibuu" Luna berkata sambil pergi dari ruang makan. Awalnya ia hanya setengah berlari sambil menunggu mungkin ada seruan dari ayahnya atau ayahnya yang langsung menarik tangannya untuk membuatnya berhenti. Namun tak ada. Tak ada yang menghalanginya kali ini. Kali ini ia bebas. Maka ia, Luna, berlari lebih cepat menembus kegelapan malam.
"Aku akan menangkapmu kali ini" ucap Luna penuh tekad. "Lihat saja"
***
Thanks For Reading All
Crazy up, crazy up, Crazy Up
__ADS_1
baca dengan sepenuh hati itu yang terpenting👍👍