
“Heiiiiii!!!! Mau ke mana kau?!” Luna yang tersadar dari lamunan kemudian berseru. Dengan segala kekuatannya ia mencoba bangkit. Kakinya yang tadi diinjak keras oleh perempuan itu semakin sakit ketika Luna berdiri. Namun Luna tak memedulikannya.
Matanya terfokus pada punggung perempuan itu yang semakin jauh dan tak tampak lagi. Dengan seluruh kekuatannya, Luna berjalan perlahan sambil menyeret kakinya. Walau badannya sakit semua ia tak peduli.
Aku harus mengejar perempuan itu! Batinnya. Dari berjalan pelan, sekarang ia mulai berjalan cepat sambil terpincang-pincang. Dan lama-kelamaan ia mulai berlari.
Ia terus berlari tak menghiraukan kakinya yang rasanya sudah mau patah karena dipaksa lari padahal sudah diinjak dengan keras menggunakan sepatu boot. Dan bukan hanya itu, Luna juga lupa apa tujuannya ke sini. Ia malah pergi ke arah ia datang yaitu gang sempit yang ada di belokan.
Luna sudah berada di pembelokan. Ia kemudian menyeret kakinya lebih cepat agar dapat berbelok dan ia berharap perempuan itu ada di sana.
Dan memang benar. Perempuan itu masih ada di sana. Berhenti di tengah jalan dan menatap sekelilingnya. Entah apa yang ia lakukan.
Luna berjalan ke arahnya. Detak jantungnya terasa cepat sekali. Dapat Luna rasakan keringat yang sudah membasahi seluruh badannya. Luna juga baru merasakan sakitnya kaki yang sedari tadi diseretnya. Seakan-akan semua rasa sakit kembali menyerang bagian lengannya yang terkena batu, juga badannya yang jatuh terhempas ke tanah tadi.
Atmosfer di gang sempit mulai mengganggu Luna. Suara-suara dari luar tak ada yang masuk ke sini. Dan Luna juga baru memperhatikan area gang ini. Tak ada lampu bangunan yang menyala. Berarti memang tak ada orang di sini.
__ADS_1
Luna semakin memelankan jalannya saat ia sudah berada sekitar 2 meter dari perempuan itu. Perempuan itu ternyata menyadari Luna dan segera berbalik badan.
Luna menghentikan jalannya.
“Aku tanya dari tadi siapa kau?! Kenapa kau lari?” tanya Luna. Suaranya menggema di tengah gelapnya malam dan kesunyian di gang ini. Sekarang matanya dan mata perempuan itu saling berpandangan. Perempuan itu menatapnya dengan penuh sengit.
Tiba-tiba timbul suatu pikiran di benak Luna.
Perempuan ini.... apakah dia... Ren? Batinnya. Kaki Luna bergetar saat memikirkannya. Ia mendadak mundur satu langkah ke belakang dan mengepalkan kuat tangannya. Jantungnya berdetak tidak karuan.
Tapi... tunggu dulu. Dilihat dari postur tubuhnya perempuan di depannya sama sekali tidak mirip Ren. Ia kelihatan lebih muda. Benar. Mungkin saja ia bukan Ren.
“Katakan padaku siapa kau?!?” Luna bertanya dengan keras sekali lagi.
Luna yang tak kunjung mendapat jawaban akhirnya memberanikan diri untuk mendekat. Ia berjalan pelan sambil masih menatap perempuan di hadapannya.
__ADS_1
Namun baru ada tiga langkah Luna berjalan, perempuan itu langsung berlari ke arahnya. Dengan sangat cepat. Sehingga Luna langsung menghentikan langkahnya dan memandang perempuan itu dengan tatapan bingung. Perlu beberapa detik untuk Luna menyadari ia harusnya menjauh dari perempuan yang sedang berlari ke arahnya dan bukannya diam di tempat seperti patung.
“HE-HEI! APA YANG-“ Luna hendak berteriak dan memberontak. Namun sudah terlambat. Perempuan itu dengan cepat menyambar kedua bahu Luna dan melemparkan tubuh Luna ke arah tembok dengan sakit sekali. Bahu Luna yang terbentur tembok langsung terasa lemas.
Dan itu tidak berhenti sampai sana. Perempuan itu kemudian mencengkeram bahu Luna dengan sangat erat sampai-sampai terasa seakan ingin mencabut bahu Luna dari tubuh Luna sendiri.
“LEPASKAN AK-”
“Kalau kau berteriak lagi aku akan membunuhmu detik ini juga!” akhirnya perempuan itu berbicara juga. Dan walaupun Luna bisa bernapas lega karena itu ternyata bukan suara Ren yang keluar dari mulut perempuan ini, namun suara perempuan ini penuh peringatan dan ancaman. Juga sangat menyeramkan. Entah kenapa perempuan ini seolah bisa melakukan apa yang ia katakan barusan.
“Wah, wah, wah” terdengar suara wanita dari ujung jalan gang diikuti dengan suara ketukan sepatu hak tinggi dan beberapa ketukan sepatu lain.
Luna dan perempuan misterius yang sedang menekan bahu Luna ke tembok sontak menoleh.
“Tampaknya, penguntit kecil kita telah tiba” timbul senyum dari wajah wanita itu. Senyum miring mengerikan dengan menampakkan semua gigi yang tampak berderet. Alis yang terangkat sebelah dan sorot mata tajam dingin.
__ADS_1
Dan Luna mengenalinya sebagai Ren.