The Destined Seeker

The Destined Seeker
Bab 15 : Petuah


__ADS_3

Sejak menyadari arti pesan kakek jubah putih, Luna mulai lebih menikmati hari-hari sebelum pertemuan di hari Jumat itu. Ia melewati hari-hari yang tersisa dengan menyenangkan sekali.


Bahkan saat hari Selasa, hari bertemu kakek itu, ia tidak pergi menemuinya. Ia juga tak menjual majalah dulu. Ia berusaha menikmati setiap hari bersama keluarga dan temannya seperti dulu. Ia baru akan menjual majalah hari Jumat, hari ia juga harus menyelinap ke rumah kosong.


Dan inilah hari itu. Sekarang jam 17.00 dan ia sedang berkeliling menjual majalah seperti biasa. Ia sangaaaaat senang akhirnya bisa kembali bekerja setelah beberapa hari ini cuti. Akhirnya ia bisa bertemu dengan orang-orang dan melihat rutinitas seperti biasa.


Luna bersenandung kecil sambil berjalan pelan. Ia akan pergi ke perempatan itu. Ia rasa tidak ada salahnya menemui kakek itu dulu.


Saat sudah di perempatan, ia melihat seorang kakek menggunakan pakaian serba putih duduk di bangku yang berada di salah satu sudut perempatan dekat pemberhentian bus.


Luna celingak-celinguk sebelum menyeberangi jalan sebelum akhirnya sampai di tempat kakek itu.


Setelah tiba, ia tanpa banyak bicara langsung duduk di sebelah kakek itu. Tak lama, situasi mulai menjadi canggung.


Sesaat tak ada percakapan apapun dan hanya deru mobil-motor serta klakson berisik yang bersuara di antara mereka berdua.


Tiba-tiba, tanpa ada tanda apapun, dan Luna masih menatap jalanan, kakek itu memulai pembicaraan dengan pertanyaan yang cukup membuat Luna bingung.


“Kau memikirkan sesuatu?” tanyanya.


Luna menoleh cepat dan menatap jalanan lagi. Berpikir harus menjawab apa.


“Um, ti-tidak, maksudku aku mungkin, maksudku iya” jawab Luna akhirnya memilih untuk jujur saja. Memang banyak yang ia terus pikirkan dan ingin tanyakan juga. “Kau... Maksudku Anda! Anda sudah tahu semua atau bagaimana?”


“Tahu apa?”


“Tahu bahwa aku curiga padamu dan dua orang yang ternyata adalah perampok yang melakukan pertemuan tiap hari Jumat dan selalu membuatku hilang arah sehingga aku tidak memperhatikan sekitarku. Makanyalah kau mengirim pesan itu kan? Berarti kau memang tahu segalanya kan?”


“Iya. Aku sudah tahu”


“Kapan? Dan bagaimana?” namun pertanyaan itu tidak dijawab. Kakek itu hanya melirik sebentar kemudian kembali menatap jalanan.


Tetapi setelah itu Luna terperanjat kaget sendiri. Ia baru sadar apa yang ia lakukan. Ia malah memberi tahu kakek itu yang sebelumnya juga tak tahu. Payah sekali. Batinnya.


“Ah ayolah. Saat ada waktu untuk aku menanyakan banyak hal malah menjadi seperti ini?” Luna akhirnya tak tahan.

__ADS_1


“Silahkan mulai” jawab kakek itu dingin.


Luna mengerling. Tenang, tenang. Ucapnya kepada diri sendiri.


“Baiklah” kata Luna lagi.


 “Bagaimana kita mulai dengan perkenalan? Oke, namaku Luna Trina Fred” tampak kakek itu agak terkejut setelah Luna mengucapkan namanya. Namun setelah itu wajahnya kembali datar. “ kalau nama.... nama Anda siapa?


“Jin” jawaban pendek itu membuat kening Luna berkerut.


“Jin?” ulang Luna lagi.


“Ada yang salah?” kakek atau yang namanya Jin itu mengangkat sebelah alis.


“Maksudku, ehm” Luna berdeham. “Hanya Jin? Kau- maksudku anda tidak dipanggil kakek atau semacamnya? Maksudku a-aku tidak mungkin memanggilmu- maksudku anda begitu kan?” tanyanya hati-hati dengan suara dipelankan. Dalam hatinya ia memaki dirinya sendiri karena tak bisa menghormati orang dengan baik bahkan hanya untuk bilang 'Anda' kepada orang yang lebih tua darinya.


“Tidak semua orang bisa memanggilku dengan sebutan itu. Namun kau hanya perlu memanggilku Jin. Hanya Jin. Oh ya dan bicaranya biasa saja. Seperti kau berbicara dengan orang lain.” kata Jin datar namun terdengar tegas.


“Um, ehm” Luna berdeham lagi. “Baiklah Jin. Um, ya maaf sebelumnya atas seluruh...”


“Um ya baik-baik” Luna menghirup napas dalam-dalam seakan ia akan menyelam. Kemudian ia mengembuskan napasnya lagi seperti ia baru bisa bernapas selama setahun. Ia berusaha menenangkan dirinya untuk sekian kalinya.


“Oke, Jin. Apakah aku bisa bertanya?” tanya Luna.


“Lebih baik dirimu dipenuhi pertanyaan daripada jawaban”


“Hah? Kenapa?” Luna memiringkan kepalanya bingung.


“Karena setelah jawaban pasti ada pertanyaan lagi”


“Kok bisa?”


“Buktinya ada di hadapanku sekarang” perkataan itu membuat Luna tersadar. Sekali lagi ia membatin, kenapa kau payah sekali!!


“Oke. Kembali ke kataku tadi. Aku ingin bertanya padamu. Kenapa akhir-akhir ini semua menjadi aneh?” sedetik setelah melontarkan pertanyaan ia menyesali pertanyaan bodohnya dan memaki diri sendiri. Apa yang ia tanyakan? Benar-benar bodoh. Namun ternyata Jin memberi jawaban tak terduga.

__ADS_1


“Saat sekitarmu aneh, biasanya ada sesuatu yang aneh akan terjadi. Namun melihat kau menanganinya dengan baik...” ia menatap Luna dan melanjutkan. “Kurasa itu tak perlu ditanyakan”


Walau akhir perkataan Jin jelas memperlihatkan bahwa ia bodoh, namun Luna tak bisa menyembunyikan perasaan bangga merasa ia dipuji dengan tersirat. Ia tersipu malu sambil salah tingkah.


“Namun sepertinya memang akhir ini agak aneh. Dari semenjak aku memperhatikanmu pasti telah terjadi sesuatu” perkataan itu membuat Luna yang tersenyum malu seketika membatu tanpa ekspresi. “Saranku, kau harus tetap pada tujuanmu yang sebenarnya. Dan yakinlah bantuan akan datang untuk setiap orang yang kesulitan”


“Kau pasti tahu sesuatu kan? Beritahu padaku semua yang kau tahu dan aku juga memberitahumu sesuatu” tawar Luna.


“Mungkin aku bisa berikan beberapa saran. Tapi aku tidak bisa memberi banyak dari itu” kata Jin.


“Aku ketemu sekelompok orang yang berencana merampok bank nasional Broside City. Aku tidak bisa membiarkannya. Malam ini mereka mengadakan pertemuan. Aku akan datang dan mengambil bukti untuk melapor polisi” kata Luna cepat-cepat seakan tak peduli apa yang dikatakan orang di hadapannya ini. Ia telah mengatakan semuanya kepada orang yang meragukan ini. Namun ia tidak peduli.


“Mereka, berbahaya. Namun aku tahu, mereka akan mencoba melakukan sesuatu yang akan melibatkanmu dengan urusan mereka. Secara kau ini anaknya kekah dan suka ikut campur” Jin menatap tajam Luna yang kaget sekali.


“Maksudmu mereka sengaja? Yang benar saja. Apa hubunganku dengan semua ini? Tidak. Tidak ada sama sekali. Jangan bercanda” kata Luna walau terlihat ketakutan di matanya.


“Mereka ingin mengambil keuntungan. Hanya itu saja yang bisa kukatakan padamu” Jin beranjak dari bangku. Namun segera ada tangan yang menahannya dari belakang.


“Tidak. Kau tidak boleh pergi dulu. Kita harus bicara lebih banyak. Aku harus tahu lebih banyak dan siap!” terdengar nada khawatir dalam suara Luna. Namun ia tetap berusaha tak terlihat takut dan malah mencengkeram lebih keras tangan Jin agar tak pergi.


“Kau anak paling berani yang aku temui sejak berpuluh-puluh tahun lalu aku menemukan anak lain sepertimu. Kau harusnya tak gentar terhadap ketakutan. Sekali maju, kau tidak bisa mundur dalam perang yang seperti ini. Ingat pesan-pesanku”


Di belakang mereka sudah terdapat sebuah bus besar yang biasa dinaiki oleh Jin. Jin kemudian menoleh kepada Luna yang menatapnya terus.


“Kau selalu bisa. Busku sudah datang. Aku duluan” Jin melangkah ke pintu masuk disambut oleh pengemudi bus yang ramah.


Sebelum pintu tertutup, Jin sempat menoleh melihat ke arah Luna. Ia menarik kedua ujung bibirnya ke atas. Kedua ujungnya membentuk sebuah lengkungan. Dan walaupun terlihat samar, itulah pertama kali Luna melihat Jin tersenyum.


 


***


hallo sori jarang update nikmati crazy up nya😊😊


baca sepenuh hati itu yang terpenting, like vote comment belakangan tapi jangan di lupa

__ADS_1


thanks for reading~~~


__ADS_2