The Destined Seeker

The Destined Seeker
BAB 12 : Kakek Baju Putih


__ADS_3

Majalah Luna ditolak lagi. Itu yang ditebak Lis saat melihat ekspresi wajah Luna yang murung nan lesu setelah keluar dari ruangan Tuan Pear. Ia melihat Luna berjalan gontai menuju meja konternya. Luna kemudian duduk di sebuah kursi tinggi depan Lis dan menopang dagunya menggunakan tangan.


“Huhhhhh” ia menghela napas.


Lis hanya diam. Ia hanya melihat Luna uring-uringan memainkan pulpennya dan menopang dagu dengan sebelah tangan. Tak mau berkata apa-apa.


Lagi pula Lis heran. Bagaimana mungkin seseorang masih berusaha mengajukan majalah yang sudah terang-terangan ditolak? Bahkan bukan sekali melainkan berkali-kali. Bahkan majalah-majalah yang sudah ia buat susah payah semuanya ditolak dan ia bahkan masih mengirimi majalah dengan topik yang sama.


Jujur, kali ini Lis merasa Luna kelewatan pantang menyerahnya. Hal yang ia lakukan sekarang menurutnya hanya akan sia-sia dan tak ada gunanya. Malah itu akan melelahkan dirinya sendiri.


“Luna” panggil Lis pelan. Mendengar hal itu Luna hanya melirik melihat wajah Lis tanpa bergerak.


“Kenapa kau masih membuat majalah itu jika memang sudah ditolak?” tanya Lis hati-hati. Takut Luna akan marah padanya.


“Ya aku tau kau pasti akan bertanya begitu. Tak apa kok. Namun, walau sudah ditolak, aku yakin suatu saat Tuan Pear akan menerima majalahku” Luna tersenyum membuat Lis ikut tersenyum.


“Kan setelah jatuh, kita harus bangkit lagi. Aku akan mencobanya sampai berhasil. Mohon dukungannya, Lis!”


Lis tersenyum untuk kedua kalinya. Ia salah telah meragukan Luna.


Luna melirik jam tangannya. Sudah hampir waktunya ia berjualan menjajakan majalah ini.


“Eh, sudah mau waktunya. Aku pergi ya”


“Ah ya. Hati-hati”


“Iya”


Luna kemudian keluar dari toko sambil melambaikan tangan kepada Lis. Bagi Luna Lis seperti kakak. Wajarlah, sebagai anak tunggal Luna agak kesepian. Luna ingin punya saudara yang bisa diajak ke mana-mana dan bisa bersamanya selalu.

__ADS_1


Dan Lis juga seperti itu. Ia adalah orang yang terkadang membimbing Luna dalam melakukan tugas. Ia selalu menjadi pendengar yang baik saat Luna berkeluh kesah dan menjadi orang yang percaya kepada Luna dalam artian benar-benar percaya. Ia juga orang yang ramah. Walau umurnya lebih tua dari Luna ia tetap rendah hati.


Luna kemudian berjalan sambil membawa tas besar berisi majalah-majalah dan menyelempang tas tersebut. Ia kemudian mulai menjajakan majalah sambil tersenyum.


 


***


Pasti kalian bertanya-tanya kenapa Luna berjalan kaki dan bukannya mengendarai sepeda. Soalnya semenjak kejadian itu Luna jadi trauma dengan benda-benda yang berhubungan dengan kejadian tersebut. Termasuklah sepeda tokonya itu.


Entah kenapa rasanya seperti sepeda itu yang membawa Luna terlibat dengan seluruh kejadian itu. Sepedanya membawa Luna ke alun-alun kota dan bertemu dengan orang-orang tersebut dan kebetulan-kebetulan. Hal itulah yang membuat Luna agak trauma menaiki sepeda. Mungkin ia tak mau lagi menaiki sepeda seumur hidupnya.


Sekarang Luna tengah berjalan menuju alun-alun kota. Ia riang karena hari ini sepertinya akan ada parade. Karena kalau di lihat-lihat banyak orang yang menuju alun-alun kota juga. Biasanya kalo seperti itu di Broside City akan diadakan parade besar-besaran.


Kesempatan bagus untuk jualan majalah. Pasti banyak yang beli.


Omong-omong di Broside City ini orang memang sudah ramai berjalan kaki. Malah mungkin yang berkendaraanlah yang sedikit. Walau tetap saja terjadi macet. Meskipun kota Broside City sudah sangat canggih teknologi dan transportasinya, namun semakin ke sana masyarakat makin sadar akan pentingnya menjaga lingkungan.


Luna senang tinggal di sini. Walaupun banyak orang yang protes tentang polusi cahaya yang ditimbulkan kota maju ini yang jelas menutupi keindahan bintang dan objek angkasa lainnya pada malam hari.


Namun menurutnya mereka semua terlalu sering menatap ke atas sampai tak tahu apa yang ada di bawah dan yang mereka pijak.


Keindahan langit itu indah. Tak bisa sebagus itu dan ditukar dengan pemandangan kota yang canggih. Namun mereka tak menyadari pemandangan di kota canggih ini seperti orang-orang yang memulai rutinitas mereka, anak-anak sekolah yang berjalan tertib ke sekolah, sekelompok orang yang sama-sama membaca koran harian gratis, dan hubungan interaksi sosial lainnya juga hal yang indah.


Bahkan mereka tak menyadari hal yang mereka anggap sia-sia seperti merasakan embusan angin dan melihat bunga yang bermekaran juga sebagian dari keindahan alam seperti pemandangan langit itu.


Namun sekali lagi, Luna tetap senang di sini. Segala kelebihan dan kekurangan kota ini akan Luna terima apa adanya. Because just way you are. Pernah pergi ke kota yang lebih bagus dari ini? Kalo ada segera beritahu Luna untuk meyakinkanmu bahwa ia lebih menyukai kotanya!


Saat hendak melangkah lagi, Luna menyadari bahwa ia telah sampai ke alun-alun kota. Karena sekitarnya sudah penuh dengan khalayak ramai. Ia segera menatap sekitar.

__ADS_1


Oh tidak!


Luna sadar ia telah kembali ke tempat peristiwa terjadi. Perempatan itu. Perempatan di mana ia melihat seorang kakek berpakaian putih, lelaki berpakaian hitam yang merupakan seorang perampok, dan juga wanita berambut hitam legam yang juga adalah teman pria  berpakaian hitam.


Luna seketika mengalami kilas balik di tempat ini. Saat ia menoleh ke pemberhentian bus, melihat ujung jalan, dan ditabarak wanita yang bernama Ren itu.


Luna mengecek tempat-tempat itu kembali. Ia spontan mengarahkan pandangan ke pemberhentian bus kalau-kalau ada kakek itu di sana. Namun ternyata tidak ada siapa-siapa.


Ia juga melihat ke ujung jalan seberang untuk mengetahui apakah ada pria itu di sana.


Tidak ada juga.


Baru saja Luna ingin menghela napas lega, ia tak sengaja melihat bangku yang ada di sampingnya waktu ditabrak Ren. Bangku itu berada di samping trotoar dan menghadap ke jalanan. Dan bangku itu di duduki seseorang....


..... Kakek jubah putih.


bersambung***


Thanks For Reading


HALO!!! The Destined Seeker come back guys. Maaf sebelumnya cerita ini jarang banget update karena mars sendiri lagi sibuk in rl buat exam.


Buat nulis cerita ini aja disempetin dikit-dikit. Cuma karena ada kesempatan jadi sekalian aja.


Maaf buat yang lama menunggu mungkin akan lebih banyak menunggu lagi karena ujiannya datang berturut-turut.


So enjoy the episode ya


Baca sepenuh hati that importent. Vote like dan komen belakangan tapi jangan di lupa~~~

__ADS_1


SALAM DARI AUTHOR


__ADS_2