
Malam ini bulan bersinar sangat cerah lebih dari kemarin-kemarin saat Luna melihatnya. Namun itu tak membuat gelapnya malam di gang sempit yang menyeramkan ini berkurang. Malah mungkin kegelapan bertambah saat Luna makin masuk ke dalamnya.
Walau sudah pernah ke sini sebelumnya, Luna tetap saja was-was. Atau lebih tepatnya sedikit takut. Gang ini seperti... sebuah jalan yang menuju ke dimensi lain yang tak bisa di mengerti Luna. Atmosfer seakan-akan berubah jika kita sudah masuk terlalu dalam. Seperti akan siap mengisap Luna dan tak akan membuatnya kembali.
Tapi Luna harus terus maju. Ia tak boleh takut oleh hanya gang kecil seperti ini yang tak ada apa-apanya kecuali sedikit mengerikan. Toh, masa Luna berhenti bahkan belum bertemu siapa-siapa.
Kau harusnya tak gentar pada ketakutan.
Sekali lagi Luna mencoba berkata “baiklah” dan berulang kali mengatakan “oke, semuanya akan oke” pada dirinya sendiri.
Dan omong-omong, sebentar dulu. Luna baru sadar bahwa ia sedang berada di sebuah tempat seperti ini di malam hari. Ya malam hari di mana biasanya ayahnya menyuruhnya untuk sikat gigi dan menaruh ponsel di meja kemudian menyuruhnya untuk tidur. Aneh sekali. Padahal ayahnya sangat protektif terhadapnya. Namun tadi saat Luna tergopoh-gopoh menuruni tangga sambil membawa tas selempang yang menunjukkan hendak keluar rumah, ayahnya hanya bertanya dan bukannya mencegahnya. Yang keluar dari mulutnya hanyalah “Luna mau ke mana?” Dan bukannya “Luna kau tidak boleh pergi ke mana-mana ayo sini duduk dan makan. Besok kau tak boleh keluar lagi!”
Dan semua ini membuat Luna bertanya-tanya, apakah... ayahnya sedang mencarinya? Apakah ayahnya sekarang sedang menanyai semua orang yang ditemuinya dan menggedor semua pintu rumah tetangganya hanya untuk menanyakan “apakah kalian melihat anakku?”
Luna tersenyum geli membayangkannya. Namun dalam hatinya yang paling dalam, sebenarnya ia juga sangat takut. Apa yang akan dilakukan ayahnya kalau ia sudah bertemu Luna?
Setelah beberapa saat menelusuri gang yang sempit dan gelap, serta agak lupa tujuan sebenarnya ia ke sini karena melamun sendiri tadi, Luna akhirnya tersadar bahwa ia sudah berada di pembelokan di sudut jalan.
Luna mengikuti arah jalan dan berbelok ke kanan. Dan setelah berbelok, kondisi telah berubah lagi. Yang tadinya seperti terjepit di sebuah gang kecil, setelah berbelok ke kanan semua menjadi luas.
Jalan ini sangat besar seperti jalan untuk dua arah. Terdapat rumah-rumah yang bertingkat, besar, dan pastinya luas di sekeliling jalan. Namun rumah itu agak berjauhan satu sama lain. Begitu juga dengan gedung-gedung. Hamparan halaman di sekeliling bangunan ditumbuhi rumput-rumput liar. Memang area ini jarang ada yang mengunjungi. Atau bahkan tidak pernah.
Rumah, toko, bangunan dan gedung, semuanya gelap total. Hanya ada dua rumah dan satu bangunan kecil yang lampunya menyala. Itu pun agak jauh dari tempat Luna berjalan sehingga Luna harus menyipitkan mata untuk melihatnya.
__ADS_1
Tentu saja para perampok sialan itu memilih tempat seperti ini untuk berkumpul. Tidak akan ada orang yang akan melihat mereka kalau mereka lalu-lalang di sini. Karena kalau pun ada orang yang melihat pasti akan pura-pura tidak melihat dan ingin meninggalkan tempat seperti ini secepatnya.
“Luasnya di sini namun tak ada orang satu pun” ujar Luna sambil berjalan pelan menuju rumah tua besar dan kosong di ujung jalan. Luas sekali di sini sampai seakan-akan.... ada orang yang selalu mengawasimu.
Luna tinggal beberapa meter lagi dari rumah tua kosong di depannya sampai....
Kretek!
Suara ranting patah mengagetkan Luna. Ia yakin itu adalah ranting patah yang diinjak seseorang dan ia juga yakin ia tak salah dengar karena siapa yang tidak bisa mendengar suara ranting patah di tempat sepi seperti ini?
Luna was-was. Ia mengambil sikap kuda-kuda. Ia harus siap akan apa yang terjadi.
Sekali maju, kau tidak bisa mundur....
Baru saja Luna ingin menoleh ke arah tersebut, seketika beberapa batu atau lebih tepatnya banyak batu beterbangan ke arahnya dengan cepat. Luna dengan gesit menghindari semua batu itu. Ia mengelak ke kiri saat ada batu berukuran kepalan tangan hampir menghantam bagian pinggangnya. Dan belum cukup satu detik batu yang lebih besar lagi terbang menuju Luna mengarah ke bahunya sehingga ia harus mengelak ke kanan. Setelah itu lebih banyak lagi batu berukuran bermacam-macam nyaris menghantam tubuh dan kepalanya.
Namun saat Luna merunduk untuk menghindari batu yang hampir membocorkan kepalanya, tiba-tiba saja satu batu besar menghantam keras lengan kirinya.
“AWWW” teriak Luna kesakitan. Namun, belum juga ada waktu untuk dia bisa mengibaskan tangan agar meringankan kebas di lengannya, sebuah kaki panjang langsung mengapit kaki Luna sehingga Luna yang tak siap langsung jatuh ke tanah.
Kaki panjang itu berjalan mengitari Luna yang masih merunduk dan masih mengusap-usap lengannya yang terkena batu tadi. Kemudian dia berhenti dan menginjak kaki Luna dengan amat sakit. Luna refleks mendongak kesakitan dan meraung.
Dan sebelum ia hampir menangis, Luna tiba-tiba menendang pinggang sosok tersebut dengan kaki satunya.
__ADS_1
Sosok itu terjatuh ke samping akibat tendangan Luna yang lumayan keras. Sehingga kakinya kehilangan keseimbangan dan tidak menginjak kaki Luna lagi.
Tapi setelah itu, ia kembali berdiri dengan mantap. Seolah baru satu detik yang lalu ia jatuh namun sekarang sudah bangkit lagi sambil mengepalkan kedua tangan di depan dadanya, siap untuk menghajar Luna.
Berbeda dengan sosok itu, Luna masih di tanah mengaduh kesakitan. Kakinya mati rasa. Ia tidak bisa berdiri apalagi menghadapi sosok ini.
“.....” sosok itu hanya diam dan bernapas dengan berat. Bahkan napasnya bisa di dengar oleh Luna yang berjarak 3 meter darinya.
“Siapa kau?!” teriak Luna. Matanya menatap seseorang yang berada di depannya ini.
Sosok ini tinggi dan jangkung. Ia bertubuh kurus dan ramping. Di liat dari tubuhnya ia adalah perempuan. Dan mungkin berusia tidak jauh dari Luna. Dia memakai celana panjang ketat dengan baju berlengan ¾ dan menggunakan sepatu boot. Ia memakai tudung kepala yang menyembunyikan rambutnya dan bagian atas wajahnya. Ia juga memakai masker penutup wajah yang membuat hidung dan mulutnya tidak kelihatan.
Satu-satunya yang bisa di lihat Luna di wajah yang tertutup itu hanya matanya.
“Kenapa kau tidak menjawab??!” Luna sedikit berteriak.
Mata tajam yang dimiliki gadis di depan Luna menatapnya. Ia memegang sesuatu di sakunya yang mungkin adalah senjata tajam. Sorot matanya jelas menunjukkan bahwa ia sedang menimbang-nimbang apakah ia harus membunuh Luna sekarang atau menculik dan menyembunyikannya.
Namun justru orang ini melakukan hal yang tidak diduga Luna.
Dia lari meninggalkan Luna yang duduk menatap punggungnya dengan bingung. Kakinya secara gesit berjalan cepat dan berbelok di sudut menuju gang sempit.
***
__ADS_1
Crazy Up, Thanks for Reading All