The Destined Seeker

The Destined Seeker
BAB 8 : Ketahuan (2)


__ADS_3

Luna panik karena ia ketahuan. Ia bahkan sekarang masih dalam posisi terjatuh di lantai yang kotor dan sedang kaget-kagetnya dan panik sepanik-paniknya.


Habislah aku! Mereka tau aku di sini, bagaimana ini?!


Jerit Luna dalam hati. Karena batu sialan itu ia jadi ketahuan. Luna sekarang tak tahu harus berbuat apa. Jika ia berdiri dan bangkit ia pasti akan dilihat. Tapi jika tetap dalam posisi seperti ini ia juga akan tertangkap.


Ren yang memiliki insting kuat langsung tanpa banyak bicara pergi ke arah jendela. Ada orang yang telah menguping pembicaraan mereka. Ia pasti akan kena balasan.


Sementara itu Luna yang sudah hampir di liat langsung menyeret tubuhnya dan berdiri. Ia langsung lari terbirit-birit tak memedulikan seruan Ren yang melihatnya dan berteriak agar anak buahnya mengejar Luna. Luna tetap berlari dan berlari hingga beberapa menit ia cukup jauh dari rumah tersebut. Luna menengok ke belakang untuk memastikan mereka tak berhasil mengikuti Luna.


 Tidak ada siapa-siapa.


“Huhh...” Luna menghela nafas panjang. Bersyukur masih selamat dari kejaran para perampok maniak gila seperti mereka.


Luna memegang lututnya sambil ngos-ngosan. Ia mendongakkan kepalanya untuk melihat sekitar. Sudah sangat sepi di jalan itu. Ia tidak melihat seorang pun melewati trotoar atau kendaraan yang melintasi jalan raya. Luna kemudian kembali berdiri.


“Aku pokoknya harus lapor polisi tentang apa yang terjadi ini. Sekarang aku akan pergi ke sana”


 


***


Luna berjalan di lorong berwarna putih dengan garis biru gelap itu. Ia sedang berada di kantor polisi dan sedang mencari pusat pelaporan untuk melaporkan kejadian tadi. Luna berjalan dengan cepat sambil menengok ke kanan dan ke kiri.


Dari ujung tampak salah seorang lelaki polisi berpakaian abu-abu dan biru gelap. Ia memegang sebuah kertas map dan tampak santai berjalan. Melihat hal itu Luna kemudian bertanya kepadanya.


“Permisi pak, pusat pelaporan di mana ya?”


“Oh adik ingin melapor ya?” tanya polisi tersebut.


“Iya pak.”


“Baik ikuti saya. Kebetulan saya penjaga pusat pelaporan yang ingin mengantarkan berkas. Ayo” ajak polisi tersebut.

__ADS_1


Luna yang mendengar itu kemudian mengangguk dan mengikuti polisi tersebut. Polisi ini tampak sangat gagah dan bertubuh besar. Ia juga lumayan tinggi.


Polisi ini menuntun Luna ke sebuah lorong sepi yang memiliki satu pintu di ujungnya. Polisi tersebut membuka pintu dan tampaklah sebuah loket besar berwarna putih dengan satu strip biru di bagian tengahnya. Di sana berdiri seorang perempuan tinggi yang masih muda sedang melihat komputer di depannya. Terdapat juga beberapa polisi yang terlihat lalu lalang dengan hologram. Suasana di lorong dan di tempat ini benar-benar berbeda.


“Ayo kemari”


Luna kemudian duduk di kursi terbang yang berada di depan loket. Ia kemudian bercakap dengan perempuan di depannya.


“Jadi apa laporannya nona?” tanya perempuan tersebut tanpa sedikitpun menoleh ke Luna.


“Aku ingin melaporkan perencanaan pencurian di bank nasional. Aku mendengarnya tadi”


Kali ini barulah perempuan itu mendongak menatap Luna dengan heran. Bukan itu saja para polisi yang lewat dan mendengar berhenti dan ikut melihat Luna.


“Apa benar begitu? Apakah ada buktinya?” tanya perempuan tersebut lagi.


Luna menggigit bibirnya. Bukti? Walaupun ia adalah saksi namun ia tak punya bukti apapun. Bagaimana orang ini akan percaya?


Seketika ruangan itu penuh gelak tawa.


“Hahaha, hei nak. Kau ingin melapor sesuatu tanpa bukti? Kau ingin membohongi kami ya haha” ucap salah satu polisi di sana.


“Sudah serius kami mendengar perencanaan pembobolan bank, eh ternyata hanya bohongan” timpal salah satunya.


“Nak, nak, zaman sekarang kau masih saja ngeprank” kata yang lain lagi.


“Aku tidak bohong! Aku serius! Mereka akan membobol bank pada tanggal 7 Februari (yang sebenarnya 17 Februari tapi waktu kemarin itu typo)”


“Sudahlah nak. Kau masih saja berbohong. Kami tak akan waspada dan bertindak jika kau melapor tanpa bukti apapun. Dan aku pastikan itu tak akan ada gunanya. Pulanglah. Tak usah kau menipu lagi. Sana pulang”


Luna kemudian beranjak dari tempat duduk. Ia menuju ke pintu keluar untuk pulang. Walau memang Luna masih ingin meyakinkan para polisi itu untuk percaya apa yang dikatakannya, namun memang benar kata mereka bahwa melapor tanpa bukti tak akan ada gunanya. Tak akan ada yang akan percaya. Lagi pula Luna masih tau diri untuk pergi saat tahu dirinya telah diusir.


Luna kembali menyusuri jalanan sepi menuju rumah. Hari ini sungguh aneh dan panjang. Ia bertemu orang aneh yang ternyata saling berhubungan, ia tidak mengalami kejadian sehari-hari, ia harus lembur (walau sekarang sedang kabur), ia telah terjatuh sebanyak 2 kali dan rasanya sakit semua, dan terakhir ia diusir dari kantor polisi.

__ADS_1


Benar-benar hari yang melelahkan.


Tapi dari semua hal itu, Luna takut pada fakta bahwa perampokan itu pasti terjadi. Sekarang apa yang ia akan lakukan ya? Polisi saja tak ada yang percaya mana bisa minta bantuan.


“Menurutku ada dua cara. Pertama, aku harus nekat. Ia harus menghentikan perampokan itu terjadi. Dan yang kedua, aku harus bisa mencari bukti. Baiklah cara pertama mungkin agak mustahil untuk dilakukan walau Luna memang gadis yang sangat berani. Namun tetap saja risikonya banyak. Kalau begitu aku akan memilih cara yang kedua. Aku akan mencari bukti yang cukup sebelum waktu perampokan itu terjadi dan melapor polisi”


Luna mengeluarkan ponsel dari kantungnya dan melihat kalender sambil tetap berjalan.


“Baiklah sekarang adalah tanggal 17. Aku masih punya banyak waktu untuk mencari bukti yang kuat. Besok aku akan ke sana lagi dan merekam semua pembicaraan mereka. Ya semoga rencana ini berhasil”


Terlalu sibuk berpikir Luna jadi tak sadar bahwa ia sudah sampai di depan rumahnya. Ia kemudian melepas sepatunya dan memutar gagang pintu.


Ternyata pintunya terkunci dari dalam.


Luna mengetuk-ngetuk daun pintu dengan pelan.


“Ayah ibu.” Luna memanggil mereka.


“Ayahh ibuu” sekali lagi memanggil mereka dan kali ini berhasil. Terdengar suara “cklek” dari dalam yang artinya kunci telah di buka.


Pintu telah terbuka dari dalam dan menampilkan sosok Fred tengah berdiri dengan wajah marah dan kesal yang bercampur aduk.


“Kenapa kau baru pulang?”


 


bersambung***


Thanks For Reading


Hola semua apa kabar? The Destined Seeker udah update nih. Btw selamat tahun baru imlek bagi yang merayakan yaa


Baca dengan sepenuh hati itu yang terpenting😊 Like vote dan komen belakangan tapi jangan di lupa...makasih udah mampir

__ADS_1


__ADS_2