
Luna mengeluarkan ponselnya dan menekan nomor ponsel ayahnya.
Suara telepon terdengar. Di layar tertulis kata “berdering”
Tadi saking takutnya ia jadi tak ke rumahnya dulu sebelum ke sini. Iya. Toko majalah ini berada agak jauh dengan alun-alun kota. Sedangkan kompleks rumahnya berada di tengah-tengah alun kota dan toko majalah. Jadi jika ingin ke toko majalah dari alun-alun kota ia harus melewati kompleks rumahnya. Begitu juga sebaliknya.
“Halo” Suara di seberang terdengar. Itu suara ayahnya.
“Halo. Ayah ini aku”
“Luna, di mana kau sekarang? Sedang bersama siapa? Kenapa belum pulang? Ini kan sudah malam Luna” sekarang kalian tau kebiasaan menanyakan hal sekaligus itu menurun dari siapa.
“Aku masih di toko majalah. Aku belum mau pulang. Aku ingin membuat majalah di sini. Sepertinya akan lebih konsentrasi di sini” ucap Luna berbohong.
“Hmmm. Yakin kau baik-baik saja? Jam berapa mau pulang?”
“Aku akan baik-baik saja. Aku akan pulang pukul 10.00 saja tidak apa kan?” Luna gemetar. Ia takut ayahnya tidak mengizinkannya. Aduh bagaimana ini?
“Ah. Eh sebentar ya”
“Ya ayah” Luna menunggu beberapa menit. Ia sempat melirik Tuan Pear yang sedang menatapnya sambil menunggu. Ia kesal namun berusaha menutupinya walau semuanya terlihat dengan wajah cemberutnya. Luna yang melihat hal itu hanya bisa tersenyum.
“Halo. Ya Luna kau bisa di sana tapi sampai jam 10.00 saja ya. Jangan lebih”
Tiba-tiba saja ayahnya mengizinkan. Luna tersenyum. Tadi pasti ia sedang berunding dengan ibunya. Dan seperti biasa ibunya selalu menang.
“Iya ayah”
“Ya. Di sana kau sendiri atau bersama siapa?”
__ADS_1
“Mmm, sepertinya Tuan Pear akan pulang. Tapi temanku masih ada kok” Teman yang dimaksud Luna adalah Lis.
“Oh baiklah. Jaga dirimu baik-baik. Jangan pergi dari sana kecuali untuk pulang”
“Iya ayah”
“Jika ada apa-apa langsung teriak saja ya. Jika kau di ganggu orang di jalan cepat-cepat lari”
“Iya-iya ayahhh”
“Ya baiklah, ingat-“
“Dahh ayah. Sampai jumpa di rumah. Aku sayang ayah” Luna langsung menutup teleponnya. Memang tidak sopan namun melihat Tuan Pear dengan wajahnya yang sudah seperti kepiting rebus membuatnya semakin takut. Lagipula ia tidak mau mendengar nasehat ayahnya yang kelewat panjang sampai-sampai bisa bikin satu lembar itu. Mempunyai ayah posesif memang susah.
Luna memasukkan ponselnya ke kantung cardingan . Ia lalu membalikkan badan dan menemukan bosnya yang telah bete. Lagi-lagi Luna hanya bisa tersenyum dan meminta maaf.
Singkat cerita yang membosankan, bos Luna alias Tuan Pear ( yang lupa kubilang ada letak kelucuan di namanya ) telah pulang dari toko. Tinggallah Luna dan Lis yang masih ada.
Sebenarnya toko majalah yang cukup tua ini memang hanya memiliki belasan pekerja saja. Karena selebihnya telah diatur oleh Tuan Pear dan Lis sebagai tangan kanan.
Luna sedang duduk di sebuah kursi kayu yang agak kuno modelnya namun kokoh. Ia sedang berdiri di bagian percetakan.
Sekarang tau-tau sudah pukul 09.00 saja. Karena tadi Luna sangat sibuk mencari majalah asli dari semua majalah-majalah yang ia harus cetak kembali. Dan itu sungguh merepotkan.
Bayangkan saja mencari satu-satu majalah pertama dan asli dari belasan jenis-jenis majalah. Bagaimana ia tidak kecapekan. Dan sekarang barulah ia mencetak majalah itu.
Saat ini ia hanya ditemani oleh lagu-lagu yang terputar dari ponselnya. Ia duduk terdiam melihat mesin pencetak bekerja.
Kepalanya masih dipenuhi berbagai kejadian tadi yang memusingkan. Ia mencoba sskali lagi untuk mengerti apa yang terjadi. Tadi sore seakan-akan tiga orang itu ditakdirkan untuk bertemu dengannya. Entah apa alasan dan artinya.
__ADS_1
Ia masih memutar awal kejadian di mana ia menggerutu tentang majalahnya dan seketika melalui proses ia melihat ketiga orang itu.
Ah, sudahlah. Sekeras apapun ia mencoba memahami kejadian itu ia tidak akan memahaminya. Kejadian itu terus saja menghantui pikirannya. Tiga orang itu masih menjadi misteri yang ingin diketahui Luna.
Ini semua membuat kepala Luna menjadi pusing.
Ia memilih berhenti memikirkannya dan beranjak dari kursinya. Ia berniat ke ruang utama untuk mengambil air. Memang ada dispenser dan termos yang disiapkan di konter untuk pegawai.
Luna berjalan gontai dengan lemas keluar dari ruangannya. Kemudian tertunduk lesu saat sudah sampai di meja konter. Lis yang melihat hal itu langsung menawarkan coklat panas.
“Ah tidak terima kasih. Air putih saja kumohon”
Lis kemudian menyeduh air putih dari dispenser dan memberikannya. Kemudian ia menyeruput coklat panasnya sedikit dan memasang earphonenya. Seketika ia larut dalam musik dan pekerjaannya.
Luna tersenyum. Lis istimewa. Gadis ini selalu melakukan pekerjaannya dan tak pernah terbebani seperti orang kebanyakan. Padahal ia memiliki tugas yang cukup banyak namun ia tetap menganggap semua pekerjaan itu adalah permainan. Mungkin itulah yang membuatnya tampak senang selalu.
Luna kemudian pergi ke arah pintu luar. Ia berniat melihat pemandangan kota saat malam begini. Jarang-jarang ia dapat menonton situasi kota pada malam hari dari sini. Karena biasanya pada waktu begini ia hanya berada di dalam kamar.
Ia melihat dari arah pintu yang terbuka lebar. Semuanya sepi dan hanya beberapa kendaraan yang lewat. Orang yang jalan kaki juga sedikit.
Tiba-tiba matanya menangkap sesuatu. Sesuatu yang pernah ia lihat sebelumnya. Sesuatu yang janggal dan tidak asing.
Sosok pria berpakaian hitam tadi sore!
bersambung***
__ADS_1
halo update lagi.... Mulai sekarang mungkin agak lama updatenya karena aku juga gak enak badan. Tapi akan berusaha tetap produktif. Jangan khawatir!