The Destined Seeker

The Destined Seeker
Bab 14 : Akhirnya Mengerti


__ADS_3

Sudah berjam-jam sejak pembicaraan Luna dengan kakek jubah putih itu. Ia hanya sedang mengayunkan kakinya terus melangkah.


Ia sudah menjual beberapa majalahnya dan sudah memberi uang setoran juga ke toko. Namun setelah itu alih-alih pulang, ia malah pergi ke arah rumah kosong gelap menyeramkan itu lagi.


Bukan karena apa, ia masih ingin memastikan. Kemarin, ia memang belum ada waktu untuk pergi ke sini saat malam karena terus didesak oleh ayahnya sendiri. Fred terus saja melarangnya dan mengawasi ketat Luna. Bahkan buang sampah keluar saja ia harus memohon lama.


Namun sekarang, tak ada yang menghalanginya. Natasha diam-diam telah mengambil andil dalam membantunya meloloskan diri dari ayahnya. Natasha bilang kepada ayahnya kemarin bahwa hari ini bahwa ia mengajak Luna untuk ikut makan malam di rumahnya sekalian untuk bercakap-cakap seputar ujian.


Jika bukan orang lain yang bilang begitu, ayahnya tak akan mengizinkannya. Namun karena Natasha yang bersikeras ditambah bantuan ibunya juga, akhirnya ia bisa keluar malam. Namun Natasha juga memberi syarat agar Luna menyempatkan ke rumahnya untuk sekedar meyakinkan Fred.


Luna yang memiliki kesempatan untuk pergi ke rumah kosong itu bersyukur sekali. Beruntung ia mempunyai teman yang tak banyak bertanya dan membantu dengan senang hati seperti Natasha.


Ia melangkah pelan mengendap-endap ketika mulai memasuki lorong menuju rumah kosong. Jaga-jaga jika ada orang lain selain dirinya.


Setelah itu ia menyusup ke belakang rumah, ke tempat ia mengintip kemarin. Ia mengintip melalui jendela yang kacanya sudah pecah tersebut.


Saat melihat ke dalam, ia tak melihat siapa-siapa. Tak ada seorang pun dan aktivitas. Luna kemudian menyipitkan matanya. Berusaha melihat dengan lebih teliti lagi.


Berulang-ulang ia mengecek dan menunggu lebih lama, tetap sama saja. Tak ada siapa pun. Gerakan apapun itu juga tak ada.


Luna akhirnya memutuskan untuk masuk ke rumah setelah berdebat dengan dirinya sendiri sambil berpikir tentang konsekuensi dari perbuatannya. Namun ia masih tetap melangkah mantap sampai pintu depan rumah kosong itu.


Ia mendorongnya pelan yang menimbulkan derit bunyi membuat perasaan menjadi tak enak. Ia masuk perlahan, sangat perlahan. Dalam hati ia terus berdoa agar tak bertemu siapa-siapa di sini.


Ia terus berjalan sampai ke tengah ruangan. Tepat di depannya terdapat meja panjang besar. Tempat kelompok perampok itu bercakap-cakap. Dan dari sini, ia bisa melihat jendela tempat ia mengintip.


Kalo dilihat-lihat, perampok ini tidak mungkin tidak bisa melihat sepasang mata yang menatap mereka dari jendela yang sangat dekat dengan mereka. Belum lagi saat itu bulan juga bersinar cerah meneranginya.


Antara mereka memang tidak tahu atau....


Luna tak sengaja menyenggol meja sehingga menjatuhkan sebuah kertas terlipat ke lantai yang kotor. Luna yang melihat itu memperbaiki posisinya dan menatap lurus ke kertas tersebut. Ia mengambilnya dan membukanya perlahan. Dibacanya isi kertas itu.


q5rt5mu4n : ium4t


Luna membolak-balik kertas itu dan mengibaskannya untuk menghilangkan debu. Setelah melihat lagi seketika saja ia mengerti.


Di kertas itu tertulis kata “Pertemuan : Jumat”. Ini bisa kau lihat saat q dibalik menjadi p. Dan i menjadi j karena bentuk yang mirip. Sisanya hanyalah kode angka biasa  yang dijadikan huruf.


Itu artinya perampok ini bertemu hanya setiap hari Jumat. Kemarin lusa, itu adalah hari Jumat. Hari di mana tak sengaja ia bertemu dengan seluruh orang aneh dan mengetahui hal menakutkan. Pantas saja mereka tak satang hari ini. Pertemuan hanya dilakukan setiap minggu di hari Jumat.


Seketika ia tersadar lagi. Ia mengingat perkataan kakek jubah putih itu.


Setiap kau bisa datang ke sini.

__ADS_1


Awalnya Luna mengira kakek itu juga hanya datang hari Jumat. Namun...


“OH!” serunya terhadap diri sendiri. Kakek itu datang hari ini, berarti bukan hanya hari Jumat ia datang. Namun hari Jumat dan hari ini ia bekerja menjual majalah di alun-alun kota. Dan kakek itu selalu datang.


Artinya kakek itu datang saat Luna bisa datang ke sana. Yaitu pada saat ia menjual majalah pada hari Rabu, Jumat, dan Minggu. Karena hari lain ia hanya bersekolah di sekolahnya yang berada jauh dari alun-alun kota dan hanya pulang juga ke rumahnya. Nantilah pada saat hari tertentu itu ia bisa pergi ke alun-alun kota dan kakek itu juga pasti ada di sana.


Akhirnya Luna paham. Tak terpikir olehnya semua itu. Ia kemudian menjejalkan kertas dalam tasnya berjalan keluar. Tak mau lama-lama di rumah itu.


Lagi pula ia telah tahu apa yang ingin ia tahu. Tak ada lagi urusannya dengan rumah itu sampai minggu depan.  


Ia hanya perlu mengatur rencana agar minggu depan bisa menangkap perampok sebelum melakukan rencananya pada tanggal 7 Mei.


Luna kembali berjalan ke lorong. Kali ini dengan santai. Sambil mengayunkan kaki, ia kemudian terpikir sesuatu.


Ia menyadari bahwa ia lupa menanyakan nama kakek itu. Ia kemudian memarahi dirinya sendiri.


“Aduh, padahal kan bagus kalo bisa tahu nama orang yang sudah mengganggu pikiranku dua hari ini. Ah benar-benar bodoh” ucapnya ke diri sendiri lagi. Setidaknya sampai mereka bertemu lagi Luna harus tetap memanggilnya dengan “kakek itu” atau “kakek jubah putih”


“Kalo dipikir-pikir perampok-perampok itu agak bodoh juga. Membuat kode semacam itu yang seharusnya tidak perlu karena tak ada yang ingin masuk ke rumah tua kosong” ia terkekeh pelan. Namun ia tahu harusnya tidak meremehkan perampok. Terutama dua orang itu, Ren dan Yinx.


***


Sekarang Luna sudah berada di rumah Natasha. Ia sedang duduk di sofa kecil empuk berwarna putih dikamar Natasha ditemani pemilik kamar juga. Sedang bercakap-cakap tentang keberhasilan Luna dalam menyusup pergi ketika Natasha membelokkan arah pembicaraan.


“Tentu saja tahu” kata Luna sambil menjejalkan kue kering ke dalam mulutnya.


“Apa persiapanmu?” Tanya Natasha lagi. “Maksudku, walau masih dua minggu lagi, ini kan menyangkut masa depan juga”


Luna terpikir juga. Ia terlalu fokus dalam pengintaiannya terhadap para perampok. Tak pernah ia memikirkan untuk mempersiapkan sesuatu menghadapi ujian sebelum Natasha mengingatkannya. Ia sekarang menjadi khawatir tentang keharusannya belajar dan menghentikan perampok itu.


“Ah, belum ada sih. Namun aku akan belajar” ucapnya. Tak tahu juga apakah akan menepatinya.


“Ya. Aku rasa memang sudah waktunya ya” mata Natasha mulai berkaca-kaca.


“Nat? Kenapa?” Luna bangkit dari sofa dan mendekati Natasha yang sedang duduk di atas karpet. Ia ikut duduk di samping Natasha dan mengangkat wajah temannya itu.


Tampak dia sudah mau menangis sekarang.


“Luna...” Natasha memeluk Luna. Air matanya sudah tak terbendung sehingga menetes di bahu Luna. Luna yang bingung mengusap pelan punggungnya berusaha menenangkan.


“Natasha ada apa denganmu?” tanyanya lagi.


“Sebentar lagi, setelah ujian,  kita akan lulus. Tak akan bisa bersama-sama lagi. Dan tak bisa ketemu lagi di sekolah. Aku akan sangat merindukanmu” kata Natasha sambil terisak-isak.

__ADS_1


Ternyata itu penyebabnya.


“Natasha...” Luna ikut merasa sedih. Ia dari masuk sekolah dasar ia selalu bersama-sama Natasha. Akan menyakitkan untuk mereka berpisah.


“Natasha, dengar kau tak boleh seperti ini. Kita tentu saja masih bisa bersama-sama” Luna tersenyum kepada Natasha yang telah melepas pelukannya.


“Tapi, kau tidak boleh hanya bersamaku teruskan? Kau juga harus punya teman lain. Dan di saat itu.... mungkin kau sudah lupa aku” kata Natasha pelan. Mendengar hal itu Luna langsung menggeleng cepat.


“Tidak. Aku tidak akan melupakanmu. Mungkin ya aku akan punya teman lain, namun kau juga tetap sahabat terbaikku. Walaupun kita nanti akan jarang bertemu, aku masih tetap menganggapmu teman. Kau selalu menjadi teman paling baik” Luna memeluk Natasha lagi.


“Kau sudah menentukan mau lanjut di mana?” tanya Luna.


“Mungkin di Broside Grand University. Kau sendiri?”


Luna teringat dengan akademi ARS namun ia langsung tersadar bahwa tempat itu sudah ditutup. Padahal ingin sekali ia lanjut di sana.


“Belum” jawab Luna akhirnya.


“Ya walau tempat kita nanti berbeda, aku tetap menyayangimu dan seperti katamu aku juga tidak akan melupakanmu”


“Ya” mereka berdua, Luna dan Natasha, berpelukan untuk kesekian kalinya. Natasha adalah sahabatnya sampai nanti. Ia tak akan pernah melupakannya dan tidak akan tidak menghiraukannya lagi.


Mendadak Luna tersadar. Ia masih dalam pelukan Natasha saat menyadari perkataan kakek jubah putih.


Jangan terlalu fokus sesuatu. Perhatikan juga sekelilingmu.


Benar sekali. Kakek jubah putih sepertinya tahu Luna terlalu fokus pada dia dan kemungkinan fokus juga pada hal lain (para perampok). Dia berusaha menyadarkan Luna bahwa jika Luna terlalu fokus pada satu hal tersebut, ia akan mengabaikan seluruh yang ada di sekitarnya.


Seperti Natasha, keluarganya, bahkan ujiannya. Semua teralihkan karena hal itu. Makanya mungkin kakek itu menasihati Luna agar tetap memperhatikan yang ada di sekitarnya. Kakek itu tak mau Luna tak lagi menyayangi orang di sekitarnya.


Ya, kurasa dia bisa dipercaya.


Batin Luna. Ia masih berpelukan dengan Natasha yang terisak sedih. Luna  mengelus rambutnya.


Kamar itu sunyi senyap. Suara yang ada hanyalah tangis pelan Natasha.


bersambung***


Thanks For Reading


baca dengan sepenuh hati. jangan lupa like comment and votenya


thank you~~~

__ADS_1


__ADS_2