The Destined Seeker

The Destined Seeker
Bab 19 : Leon? (1)


__ADS_3

Pernahkah kalian berada di situasi yang terjepit seperti misalnya kalian dikejar oleh anjing galak gila yang terus berlari mengikuti kalian sampai kalian berada di ujung jalan yang ternyata buntu. Dan ternyata jalan itu di tempati sebagai markas seekor kucing garong yang siap mencakar kalian kapan saja.


Dan kalian terjebak di antara kucing dan anjing yang tampaknya ingin menghabisi kalian juga menghabis satu sama lain.


Dan itulah yang kini Luna alami.


Ingin lari ke belakang, tapi perempuan misterius ini malah semakin erat mencengkeram bahunya bahkan membuat Luna tidak bisa menggerakkan tubuhnya. Ia ingin pergi ke depan, namun setelah mendengar suara Ren dan melihat sosoknya (lagi), Luna bahkan tak berani mengangkat dagunya.


“Oh, oh” suara meremehkan keluar dari mulut Ren. “Jadi, kau membawa teman? Ingin menjadi duo detektif seperti di drama-drama ya, hm?”


Ren maju tiga langkah dengan pelan. Suara sepatu hak tingginya terdengar menggema di telinga Luna.


Luna dan perempuan misterius yang sedari tadi memperhatikan Ren sekarang saling berpandangan. Namun itu hanya sebentar sebelum perempuan misterius melepas cengkeraman tangannya di bahu Luna.


Bahu Luna rasanya seperti ringan sekali. Seakan berton-ton sesuatu yang berat yang dari tadi menindih bahunya sudah hilang begitu saja. Ya walaupun setelah itu bahunya ternyata masih sakit karena efek tangan perempuan misterius itu yang memegang bahunya kuat.


Sekarang Luna sudah dapat berdiri tegap. Ia berdiri di samping tembok tempat ia tadi dilemparkan begitu saja. Di depannya, berdiri perempuan misterius berdiri tak bicara apa pun dan hanya menatap Ren.


Dan beberapa langkah di depannya Ren dan para perampok sudah berdiri dengan kedua tangan terlipat di depan badan.


“Hai nona bodoh. Senang bertemu lagi setelah kau menguping pembicaraan kami!” seru Ren sambil memelotot kepada Luna.

__ADS_1


Tidak boleh takut Luna. Jangan takut. Harus berani Luna. BERANI.


Batin Luna. Ia mengepalkan kedua tangan dan memberanikan mengangkat dagunya sedikit. Sudah hal yang bukan rahasia bahwa untuk membuat lawan takut kita harus menunjukkan bahwa kita berani.


“Apakah kau masih menganggapku bodoh setelah aku berhasil tahu kapan kau mengadakan pertemuan?” tantang Luna.


Seketika gelak tawa terdengar dari Ren dan anak buahnya.


“Boleh juga kau. Baiklah aku akan menjawabmu dengan pertanyaan juga kalau begitu. Apakah kau merasa pintar setelah berhasil mengetahui kami yang mengadakan pertemuan hari ini padahal ternyata itu semua adalah jebakan?”


“A-apa m-maksudmu?”


“Gadis payah. Kau pikir kami sengaja meninggalkan kertas dan menulis kode seperti itu karena kami memang mengadakan pertemuan? Jadi? Kami akan membiarkanmu tahu bahwa kami mengadakan pertemuan dan mempergoki kami dan menangkap kami? Benar-benar bodoh. Apakah kau tidak tahu kami sengaja melakukan semua ini! Setelah kau yang ketahuan mengikuti kami, kami membuntutimu balik dengan melihat segala aktivitas yang kau lakukan. Kami mengikutimu ke mana pun. Kami sudah tahu apa yang sering kau lakukan, kami tahu tentang kakek yang kau temui di halte bus, kami tahu di mana alamat rumahmu, dan kami tahu semua tentangmu saat ini. Kami sudah memperkirakan bahwa kau pasti akan kembali ke rumah ini dan bukannya melupakan semua yang terjadi terbukti dari kau yang langsung lapor polisi tanpa ragu setelah melihat kami. Dan ya, lihatlah ini, kau bahkan membawa teman kemari. Memang benar kau anak suka ikut campur”


Sial!


Luna banyak belajar hal seperti ini di film. Penjahat pasti akan melakukan apa pun untuk mengancam sang korban dan pasti akan menggunakan orang terdekat sang korban untuk melukai korbannya. Kalau seperti ini sudah jelas keluarga Luna terancam.


“Dia bukan temanku” suara itu jelas tak datang dari Ren maupun Luna. Namun suara itu cukup untuk membuat semua orang di gang menoleh ke asal suara yang tak lain adalah perempuan misterius di samping Luna.


Ren mengangkat sebelah alisnya penuh tanda tanya.

__ADS_1


“Dia orang yang suka ikut campur. Dia orang yang penuh ingin tahu sampai ingin mengorbankan nyawanya sendiri. Dan dalam hal ini, rahasiamu dan rahasiaku telah diketahuinya”


“Apa maksudmu?!” kali ini Ren yang berseru.


“Bukan hanya dia yang tahu bahwa kau dan semua orang tak berguna yang berdiri di belakangmu saat ini adalah perampok-perampok yang merencanakan pembobolan besar-besaran di Bank Nasional kota Broside City. Aku juga tahu”


Ren meneguk ludah. Kalau bukan teman si gadis bodoh payah, siapa lagi gadis ini?


“Aku tahu pria itu” ia menunjuk pria di samping Ren yang dikenali Luna sebagai Yinx. “Pria itu setiap hari bolak-balik ke sini dengan tas yang selalu berbeda-beda menunjukkan bahwa pria itu menukar-nukar koper itu dengan isinya juga yang pasti berbeda-beda dan tak lain adalah kertas susunan rencana untuk pembobolan bank”


Mata Ren kali ini membelalak. Senyum miring mengerikan tak ada lagi di wajahnya. Dan berganti dengan mulut menganga.


“Masih kurang untukmu? Aku tahu tentang kalian yang selalu memukul pingsan orang yang sempat lewat melihat kalian berdiskusi dan mengancamnya sampai salah satu orang masuk rumah sakit dan koma selama 3 hari karena pernah mencoba memberitahu rahasia kalian sehingga kalian memukulnya habis-habisan. Aku juga tahu tentang salah satu anak buah bodohmu yang selalu buang air di dekat pohon milik rumah masih berpenghuni yang ada di sana. Dan salah satu kebiasaan anak buah bodohmu yang lain yang selalu merokok dan membuang batang rokoknya sembarangan sehingga menyebabkan satu ruko lama dengan kayu yang sudah lapuk terbakar sampai habis”


Luna ikut menganga. Perempuan ini siapa dan dari mana? Kenapa ia tahu semua apa yang terjadi di tempat sepi ini dan sejujurnya Luna penasaran kenapa juga perempuan ini bisa bertemu dengan Luna di sini.


Maksudnya, kalian sudah tahu kan bahwa tempat ini tidak ada yang ingin mengunjunginya apalagi ingin berlama-lama di sini. Tapi dari pernyataan perempuan ini... itu berarti dia sudah berada di sini dari lamaaa sekali sampai tahu apa yang dilakukan Ren dan anak buahnya.


Apa dia tinggal di sini? Tapi kenapa pilih tempat begini? Apa tujuannya ke sini?


“Tutup mulutmu bocah! Aku tidak akan membiarkan satu pun dari kalian lolos hari ini!” raung Ren. Detik selanjutnya Ren sudah berlari ke arah mereka berdua. Ia menerjang cepat sambil tangan kanannya meraih sesuatu yang ada di saku celana wanita itu yang Luna yakin adalah sebuah pisau.

__ADS_1


*** Thanks For Reading All


__ADS_2