
Luna sedang duduk di sofa kremnya yang berada di tengah-tengah ruang tamunya. Hanya disinari lampu yang sengaja dibuat redup. Ruang tamu sungguh sepi dan hanya hawa mencekam yang ada di sana.
Yah, bukan hawa mencekam hantu, tapi hawa mencekam dari kedua orang tuanya yang sekarang sedang berdiri sambil mondar-mandir di atas lantai. Ayahnya hanya terus bolak-balik dan menoleh ke Luna sesekali. Sedangkan ibunya dari tadi hanya diam tak bergerak dengan tangan terlipat di dada. Tapi ibunya terus menatap dengan tatapan paling horornya dan tak melepaskan matanya ke wajah Luna. Kate makin seram saja dengan wajah paling datar yang ia tampilkan.
Luna menelan ludahnya. Bukan karena apa, kali ini ayah dan ibunya sama-sama menyeramkan. Walau yang satu diam dan satu terus bergerak tetap saja memberi efek sangat besar pada mental Luna yang sekarang lagi naik turun. Luna keringat dingin. Apa yang akan terjadi padanya? Sampai sekarang bahkan tak ada obrolan apapun selain saat ayahnya menyuruh duduk di sofa sekitar 10 menit yang lalu.
“Kau tahu jam berapa sekarang?” ucap Fred setelah sekian lama Luna menunggu. Namun ternyata pertanyaannya bukan membuat Luna makin melega tapi makin tegang.
Waduh, waduh kok jadi begini sih? Batin Luna.
“Kenapa tidak jawab?” Ayahnya kembali bertanya. Luna semakin gugup. Ia jadi tak berani menjawab ayahnya.
“Ayo jawab!” ucap ayahnya lagi dengan sedikit suara yang dinaikkan.
“JAM 23.10” Luna yang kaget dengan bentakan dari ayahnya sontak langsung menjawab.
“Terus kau bilang mau pulang jam berapa?” suara Fred kali ini sengaja di pelankan dan seperti memohon
“Jam 22.00 ayah” Luna lemas sambil tertunduk. Dari segala sifat keras ayahnya, sifat sedih ayahnyalah yang paling membuat ia langsung kehilangan tenaga. Sifat memohon seorang lelaki padanya sangat berefek.
“Terus kenapa baru pulang jam segini? Bukannya kau bilang jam 22.00? Terus kenapa kau kembali ke rumah ini terlambat? Malah lewat satu jam” Fred kembali memojokkan anaknya. Ia ingin anak ini mengaku apa yang ia perbuat.
“Aku... Aku sebenarnya anu.. mmm... Tadi di toko-“
“Ayah sudah menelepon di toko majalahmu. Temanmu ia tak memerhatikan kau ada di mana tapi kau tak ada di sana waktu pukul 21.30. Ke mana kau saat itu?”
Luna gugup lagi. Apa yang ia harus katakan? Tidak mungkin ia bilang kepada ayahnya kalo ia mengikuti orang yang selama ini mencurigakan baginya dan ternyata mereka adalah perampok yang merencanakan pembobolan? Huh tidak, tidak, tidak. Ia harus memikirkan sesuatu.
Aha! Timbul suatu ide dalam kepala Luna.
“Ayah... Aku tadi itu pergi dulu ke rumah Natasha. Jadi aku ingin mampir sekalian mengerja-“
“Ayah sudah telepon Natasha juga. Katanya kamu juga tak ada kok di rumahnya. Apa kau berbohong?” sela ayahnya.
“Ti-tidak kok. Lu-Luna tidak berbohong” Luna membentuk silang dengan kedua tangannya untuk menunjukkan bahwa ia tak berbohong. “Luna itu pergi ke sana pukul 21.30. Nah rencananya aku ingin pulang pukul 22.00. Waktu itu ayah menelepon kan? Yah, akulah yang menyuruh Natasha agar ia bilang bahwa aku tak ada di rumahnya agar ayah tak tau bahwa aku ada di sana. Karena kan aku akan pulang pukul 22.00 juga. Jadi aku pikir di bilangnya di rumah saja. Ya biar sekalian. Jadi aku tak perlu bilang di telepon tapi di rumah saja” elak Luna. Untunglah ia langsung kepikiran ide ini.
__ADS_1
“Terus kenapa kau tidak langsung bilang? Kenapa harus di rumah?”
“Ya aku pikir kalo aku bilangnya saat itu juga, ayah tidak akan mengizinkanku untuk ke rumah Natasha. Padahal kan ada tugas yang ingin dikerjakan. Makanya lebih baik aku bilang di rumah saja, kan?” kata Luna berbohong.
“Huhh....” Fred langsung memeluk tubuh Luna yang kurus dengan tangannya yang lumayan besar. Ia memeluk putrinya itu sambil kepalanya yang bersandar di pundak Luna. “Luna... Harusnya kau bilang kalau ingin ke mana-mana. Kau harus biasakan izin agar orang-orang tidak khawatir. Lihat ibu dan ayah. Ayah dan ibu itu sangat khawatir dan panik saat kau belum pulang. Kami menunggu sangaaaaat lama. Kau harusnya pikir dulu sebelum bertindak. Jangan main seenaknya dan merepotkan orang lain”
Fred melepas pelukannya dan memegang pundak Luna dengan kedua tangannya.
“Kau tau seberapa khawatir ayah?”
“Ya maaf ayah. Aku hanya berpikir ayah pasti akan marah . Just it” kata Luna. Ia sebetulnya merasa bersalah kepada ayah dan ibunya karena telah ia bohongi, namun ia mau apa lagi. Semuanya terlalu rumit dan tak perlu dirumitkan lagi dengan ayah yang tau hal ini.
“Ya sudah. Kau ayah maafkan. Tapi ingat, kalau kau mengulanginya lagi... awas saja ya” kecam ayahnya. Kemudian ia mengepalkan tangannya dan memajukannya ke hadapan Luna. Hendak meminta tos.
Luna tersenyum dan mengepalkan tangannya juga. Ia meletakkannya di depan kepalan tangan ayahnya. Ini memang tos khusus yang sudah dibuat oleh Luna dan ayahnya saat ia masih kecil.
“Iya ayah. Maaf ya. Tapi aku akan menepati janjiku mulai sekarang” janji Luna. Walau begitu ia takut bahwa ia akan mengingkarinya nanti.
“Ya sudah. Kau masuk ke kamar. Ini sudah malam. Ayah juga mau masuk. Tidur yang nyenyak ya” ucap Fred sambil mencium kening Luna.
“Ya” Fred kemudian pergi ke arah Kate dan mencium keningnya seperti ia mencium kening Luna tadi.
“Duluan ya”
“Ya” jawab Kate. Sekarang wajahnya tampak normal-normal saja. Tatapan tajamnya kini sudah hilang.
Sepeninggal Fred, Kate pergi mendekati Luna yang masih berdiri menatap ayahnya. Namun Luna yang menyadari itu langsung menoleh ke arah ibunya.
“Luna, lain kali kau jangan begitu ya” nasehat Kate.
Sebenarnya kalau dibandingkan, Fred pasti yang paling posesif di keluarga ini daripada Kate. Bukan karena apa, Fred sangat sayang kepada mereka berdua. Tak mau terjadi sesuatu pada istri dan anak gadisnya.
Namun walau Kate tak posesif bukan berarti ia tak peduli. Ia selalu memberikan perhatian penuh pada Luna terutama tentang mendidiknya menjadi seorang wanita yang kuat. Ia hanya menyerahkan semuanya kepada Fred karena ia tau Fred pasti mampu menjaga mereka berdua sebagai kepala keluarga. Lagipun cinta pertama anak perempuan pastilah kepada ayahnya. Ikatan batin yang terjalin antara Luna dan Fred begitu kuat. Biarlah Fred yang mendidik Luna secara hampir penuh.
“Ya ibu. Maaf ya”
__ADS_1
“Kalau ibu tak apa. Tapi ayahmu? Kau tau sendiri ia itu sangat khawatir terus padamu. Apa-apa dilarang. Tapi kan itu juga untuk keselamatanmu. Jadi kau harus mematuhi dia ya” pinta Kate.
“Iya ibu. Terima kasih sudah tidak marah pada Luna. Oh ya omong-omong tadi tatapan mata ibu sangat tajam. Lebi tajam daripada yang biasanya. Bikin Luna takut tau” ungkap Luna jujur.
Hal itu membuat Kate salah tingkah. Namun ia selalu bisa menutupinya. “Ah hanya biasa-biasa saja. Tapi mungkin kau takut karena seperti persidangan kan? Haha”
“Hahaha iya bu. Ya sudah Luna masuk kamar ya ibu. Luna lelah”
“Iya, have nice dream”
Kate mencium pipi anak semata wayangnya itu.
“Ibu juga. Selamat malam ibu”
“Ya sudah masuk sana”
Luna kemudian naik ke lantai atas untuk menuju kamarnya. Ia menuju lorong di kanan yang di ujungnya terdapat pintu kayu dengan kertas berisi gambar yang ditempel. Terdapat ukiran juga di sana yang tertulis nama Luna sendiri. Ia membuka pintu dan masuk. Ia kemudian menutup pintunya lagi dan melempar tasnya ke sembarang arah.
Kamar ini cukup kecil. Hanya ada tempat tidur di sudut kiri dan di sampinya terdapat lemari pakaian Luna. Di depan tempat tidur itu juga terdapat rak buku mini dan meja belajar Luna. Di samping meja belajar terdapat pintu kamar mandi yang bersampingan dengan pintu kamar. Dan kebanyakan di kamar Luna ini isinya Action semua. Tak ada yang tidak.
Luna kemudian mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri setelah seharian sibuk.
bersambung***
Thanks For Reading
HAI HAII. Apa kabar semuanya? oh ya The Destined Seeker telah update~~~
btw kalo kalian jadi Luna gmn wkwkwkw seharian sampe ber bab-bab.
Akan ada pergantian update yaitu sekarang tiap dua hari sekali jadi akan lebih sering melihat episode The Destined Seeker.
Baca dengan sepenuh hati yaa. Like Vote dan Komen belakangan tapi jangan di lupa. makasih udah mampir
__ADS_1