The Destined Seeker

The Destined Seeker
Bab 13 : Obrolan Sore


__ADS_3

Luna terpaku diam. Ia hanya terus melihat ke belakang, ke arah bangku itu. Atau yang lebih tepatnya ke arah kakek itu. Kakek tersebut juga dari tadi diam dan seperti sebelumnya hanya menatap jalanan dengan tatapan kosong.


Ia seolah-olah tidak menyadari bahwa Luna lama memandangnya. Seolah tak menyadari kehadiran semua orang dan tenggelam dalam pikirannya sendiri.


Luna bergidik ngeri. Jarak antara bangku yang diduduki kakek itu dan dia hanya sekitar sepuluh langkah.


Luna masih tetap menatapnya dan kakek itu juga tetap diam selama lima menit. Namun Luna tetap kukuh. Ia tak akan lagi memalingkan wajahnya. Terakhir ia begitu ia kehilangan kakek tersebut. Kali ini tidak lagi.


Walaupun ia tak mau menghampiri, ia akan terus mengawasi kakek itu.


Buk!


Luna jatuh ke tanah. Di saat itu juga majalahnya jatuh berhamburan. Ia membuka matanya yang sempat terpejam.


Luna panik. Bukan karena terjatuh dan kesakitan, namun mengingat momen terakhir saat ia sedang memperhatikan seseorang dan tertabrak sehingga terjatuh.


Mungkinkah wanita itu lagi?


Jantung Luna berdegup kencang. Dadanya naik turun. Ia tak berani menoleh ke belakang dan melihat siapa yang menabraknya. Tidak akan. Tidak mau.


Ia menutup matanya lagi dengan tetap mempertahankan posisinya yang dalam keadaan telungkup. Ia tak ingin membuka matanya. Tak berani melihat wanita yang ternyata seorang pemimpin perampok.


Ia tak peduli. Ia tak peduli bahkan ketika seseorang mengguncang tubuhnya. Ia tak peduli ketika banyak orang yang membentuk kerumunan mengelilinginya. Ia tak peduli ketika ada yang berkata “Nak, kau baik-baik saja?”.


Ia tak mau membuka matanya. Takut, cemas, panik semua bercampur dan tak ada yang membuatnya berpikir jernih. Ia hanya tetap menutup matanya dan mengepalkan tangannya kuat-kuat.


Namun ia tersadar dan membuka mata ketika ada yang berteriak: “Nak! Kau kenapa?!!” dengan sangat keras di telinganya.


Ia mengerjap. Dan dilihatnya pemuda biasa di depannya sedang mengguncangkan tubuh Luna.


Luna sontak bangun berdiri. Dan orang-orang sudah ramai berkumpul. Luna yang tak tahu apa-apa jadi menatap semua orang dengan bingung.


“Nak, ada apa denganmu? Aku tak sengaja menabrakmu dan kau tetap terbaring tak mau bangkit dan terus menutup mata. Kau terluka atau bagaimana?” pemuda itu berkata dengan ekspresi yang lebih bingung dari Luna.


“A-aku... Aku tidak apa-apa” Luna menjawab setelah beberapa menit.


Beberapa orang kemudian menawarkan untuk mengantarnya ke rumah sakit namun Luna menolaknya. Kemudian ia dipapah ke bangku untuk duduk menenangkan diri.

__ADS_1


Perlahan kerumunan bubar dan satu persatu semua pergi.


Luna mengusap wajahnya. Perlahan-lahan ia mulai mengerti apa yang terjadi setelah pikirannya kembali.


Luna bersyukur bukan wanita itu yang menabraknya. Hanya orang biasa. Namun sebenarnya salahnya juga berdiri di tengah trotoar yang dilalui banyak orang. Sehingga ia pun tertabrak orang lain.


Luna kembali mengusap wajahnya.


“Ketakutan membuat seseorang tidak berpikir”


Hati Luna mencelus. Suara yang asing namun membuat Luna terbujur kaku. Badamnya dingin seketika mendengar suara itu.


Saat menoleh ke asal suara, dilihatnya kakek bermur 70-an berbaju serba putih kuno dan dengan rambut yang telah ditumbuhi uban sehingga rambutnya berwarna putih. Matanya sipit dan kulitnya telah keriput. Badannya agak besar berada di samping Luna tempat ia duduk . Menatapnya  dengan tatapan lurus dan sedikit mengintimidasi.


“Ka-kau!” Luna terlonjak dari kursinya.


Kakek itu mengangkat sebelah alisnya.


“Kau! Kau kenapa-“


Luna ingin melanjutkan namun tak tahu harus mengatakan apa. Ia juga bingung sendiri kenapa bertanya ke kakek ini.


Luna terdiam. Bagaimana kakek itu tahu? Ia bahkan tidak menoleh sesedikit pun dari jalanan. Bahkan Luna yakin ekor matanya pun tak bisa melihat Luna jika ia tak menoleh.


Dan kalaupun ia menyadarinya ketika Luna terjatuh, kenapa ia bisa menyimpulkan kalau Luna terjatuh karena terus-terusan melihatnya dari kejauhan.


“Bagaimana-“


“Mudah. Tak perlu di jelaskan. Duduklah lagi” kakek itu menepuk pelan bangku.


Entah kenapa Luna hanya menurut. Ia duduk dengan perlahan tanpa mengalihkan pandangan terhadap kakek itu.


“Ada apa?” sepertinya kakek itu menyadari bahwa ia terus diawasi.


“Maaf. Aku tidak bermaksud menatapmu seperti-“


“Bukan” Kakek itu menyela.

__ADS_1


“Bukan?” Luna mengulangi.


“Bukan itu. Ada apa? Ada perlu apa sehingga kemarin dan sekarang kau terus mengawasiku”


Luna terdiam lagi. Ia ternyata salah dugaan. Ia semakin heran. Kakek itu, baik kemarin maupun tadi, tidak pernah sekalipun menoleh ke arah manapun. Dan kembali lsgi pertanyaan itu. Bagaimana dia bisa tahu?


“Sudah kubilang mudah. Mudah sehingga tak perlu dijelaskan. Namun aku ingin tahu kenapa” kakek itu berkata lagi sebelum Luna sempat menanyakan apa-apa. Seakan-akan kakek itu bisa tahu apa isi pikirannya.


“Aku... Aku terus mengawasimu karena... karena kau sangat berbeda dan... terlalu asing” Luna berkata pelan karena antara gugup atau berhati-hati.


“Semua orang akan begitu. Namun kalau di kota ini, hanya kau yang seperti itu”


Kali ini Luna yang mengangkat alis.


“Orang-orang di kota ini. Sibuk di pekerjaan masing-masing. Hanya pergi, pulang dan pergi lagi kemudian pulang lagi. Terlalu sibuk sehingga sepertinya tidak ada waktu memperhatikanku. Mungkin ada saat ia melihat dan heran. Namun kurasa tak punya banyak waktu untuk mengawasi sampai membuat mereka terjatuh karena tertabrak. Apalagi...dua kali” mata kakek itu menajam namun tak terlihat mengerikan.


Luna berpikir. Menimbang-nimbang.


“Sebenarnya... sejak bertemu aku sudah merasakan sesuatu. Yang sangat lain. Mencurigakan menurutku. Namun sampai sekarang sepertinya aku masih tak menemukan apa-apa darimu”


“Perasaan manusia memang kadang benar. Itu juga karena ia memiliki naluri dalam mengidentifikasi bahaya. Namun tak pernah juga manusia itu berpikir” Perkataan itu membuat Luna memiringkan kepalanya.


“Sudah lama. Bus ku akan datang sekarang”


Dan benar saja. Sebuah bus datang dari ujung jalan dan berhenti tepat di pemberhentian bus.


Kakek itu berdiri namun Luna menahannya.


“Tunggu! A-aku masih pu-punya banyak pertanyaan. Kalau kau bisa kapan kita bisa bertemu? Lagi?” Luna buru-buru menambahkan.


“Setiap kau bisa datang ke sini” jawabnya. “Jangan terlalu fokus terhadap sesuatu. Perhatikan juga sekelilingmu sesaat. Terkadang menunggu bisa menyenangkan” setelah mengucapkan kata-kata itu, kakek tersebut pergi dan naik ke bus. Pintu bus pun tertutup dan membawa pergi ia dari sana.


Luna masih memandangi bus itu dari jauh. Kemudian berkata “baiklah” kepada dirinya sendiri. Dan kembali berjalan


Bersambung***


Thanks For Reading

__ADS_1


Hai semua The Destined Seeker udah update. Maaf baru bisa update jarang-jarang gini. soalnya sibuk di rl. Makasih yang udah mampir.


ingat ya Baca dengan hati itu yang utama. yang lain belakangan tapi jangan di lupa. thanks~~~


__ADS_2