
Pagi ini sangat cerah. Angin segar bertiup dengan pelan. Burung-burung juga telah berkicau bak bernyanyi. Seperti biasa, masyarakat Broside Town melakukan aktivitas sehari-harinya.
Banyak para ibu telah menyiapkan makanan untuk anaknya yang akan pergi sekolah dan suaminya yang tentu saja akan pergi kantor.
Anak-anak juga telah siap dengan seragam sekolahnya yang telah rapi. Disusul ayah yang telah siap pergi ke kantor.
Kehidupan yang monoton ini telah bersifat kodrati dalam kehidupan sehari-hari. Begitu juga pada Luna.
Gadis ini tengah bersiap-siap untuk pergi ke sekolah. Ia memakai baju seragam putihnya dan rok panjang berwarna hitam. Kemudia ia melapisi bajunya dengan rompi hitam yang di sisi kirinya terdapat lambang sekolahnya. Ia menyisir rambutnya itu kemudian mengikatnya menjadi kuncir kuda. Setelah itu barulah ia memakai dasinya.
Sejak dahulu, Luna memang anak yang mandiri. Ia melakukan sesuatu sendiri tanpa bantuan orang lain.
Dia adalah Luna Trina Fried. Gadis lucu berumur 17 tahun yang imut berkulit sawo matang. Tubuhnya lumayan tinggi dan postur tubuhnya sangat ramping. Gadis ini memiliki rambut yang panjang dan berwarna coklat sama seperti ayahnya. Matanya memiliki sorot mata yang tajam yang merupakan turunan dari ibunya.
Dia adalah gadis periang yang memiliki banyak teman. Luna adalah gadis yang polos dan lugu. Ia pantang menyerah dan selalu bersemangat. Ia akan melakukan apapun dan menaklukkan apapun dengan tekad yang kuat
Luna menuruni tangga yang terhubung dengan dapur di lantai satu. Luna menenteng tas yang sudah berisi buku-buku yang telah ia siapkan semalam.
Saat sudah sampai, ia melihat ibunya sedang memasak di dapur. Ia segera menuju ke meja makan dan duduk manis sambil menatap gelas yang berisi susu segar. Ibunya masih saja sibuk dalam pekerjaannya.
“Wah, wah, wah gadis kecil ayah sudah di sini ternyata” ucap seseorang dari belakang Luna.
“Ayah, ayah kalah cepat. Luna sudah di sini sebelum ayah” balas Luna sambil tersenyum. Luna tersenyum karena mendengar nama “Gadis kecil” dari ayahnya. Nama itu memang merupakan nama kesayangan yang diberikan untuknya. Bagi ayahnya, walaupun Luna sudah menjadi gadis remaja, ia akan tetap menatapnya sebagai gadis kecilnya.
Lelaki bertubuh tinggi dan berbadan kurus itu namanya Fried. Ia memakai kemeja berwarna putih dengan celana berwarna hitam. Ia juga memakai dasi berwarna merah yang terpasang di leher.
“Eh, kalian ternyata sudah di sini ya dari tadi” Kate yang mendengar percakapan Luna dan Fried membalikkan badan. Tak sadar bahwa suami dan anaknya sudah di meja makan. “Maaf ya, ibu tidak sadar bahwa kalian telah turun” Kate tersenyum.
Kate adalah ibu Luna. Ia bertubuh tinggi dan ramping. Rambutnya panjang dan berwarna biru gelap. Ia memiliki tatapan mata yang tajam. Namun ia juga memiliki senyuman yang sangat indah. Kate adalah wanita pekerja paruh waktu di sebuah Kafe. wanita yang sangat sigap dan cekatan. Ia ulet dalam mengurus rumah tangga. Ia selalu bisa menjadi andalan untuk segala hal.
“Ah, tidak apa bu” jawab Luna.
“Iya, tidak apa. Kan dari dulu kau juga seperti itu. Kalau sudah fokus pada pekerjaan atau sesuatu lupa segala hal” Fried tertawa saat melihat ekspresi tidak suka dari Kate. Luna juga ikut tertawa.
Kate orangnya pengertian dan selalu peduli. Dia juga orang yang menjadi tempat mengadu bagi Luna saat ia sedang sedih maupun senang.
“Sarapan hari ini apa bu?” tanya Luna setelah meminum susunya.
“Hari ini ibu membuatkan paduan omelet dan roti spesial untuk kalian” jawab Kate tersenyum. Ia kemudian mengangkat roti yang telah dipanggang ke piring Luna dan ayahnya. Memang biasanya Kate akan makan setelah mereka berdua pergi.
Mereka kemudian menyantap hidangan yang telah disiapkan Kate dengan riang.
“Ibu, apa kau akan bekerja di kafe lagi? Kan kau bisa berhenti saja” Ucap Fried. Ia memang awalnya tidak setuju jika Kate bekerja. Ia sangat menyayangi Kate dan tidak ingin istrinya bekerja terlalu lelah dan keras. Ia khawatir kepadanya.
“Fred, Fred, kau selalu saja begitu. Kau tidak pernah membiarkanku bekerja. Aku kan juga ingin membantumu kok” jawab Kate dengan tatapan memelas. Jengkel dengan sikap Fred yang seperti ini.
“Ah, ya sudah. Aku juga tidak ingin berdebat terus denganmu. Lagi pula sekuat apapun aku bersikeras kau pasti selalu menang” Fred menatap Kate sambil tersenyum. Kate tertawa. Beginilah ayah Luna. Ia selalu bisa merayu ibunya yang sedang marah dan membuatnya tersipu malu.
“Hadeh, aku diabaikan deh jadinya” kata Luna akhirnya. Meja makan kemudian kembali dipenuhi gelak tawa. Keluarga ini benar-benar harmonis. Mulai dari ayah yang meramaikan suasana, ibu yang baik dan tegas, serta anak mereka yang menjadi pelengkap antar sesama.
Luna merasa ia kehilangan sesuatu. Namun dia tidak tahu apa itu. Namun ia merasa sesuatu tidak lengkap.
Ah, dia menyadarinya!
Luna tanpa bicara seketika berdiri dari kursi dan langsung menuju ke tangga. Ia tidak memedulikan ekspresi heran ayahnya dan ibunya yang terus bertanya. Ia menaiki tangga dengan cepat dan berlari ke kamarnya. Ia membuka pintu dan pergi ke laci yang berada di samping tempat tidur. Ia membuka laci itu dan mengambil sesuatu.
__ADS_1
Ia mengambil sebuah kalung yang terbuat dari benang hitam. Kalung itu memiliki liontin berupa batu berlian yang berwarna merah cerah. Ia memakainya di leher dan menyembunyikannya di balik bajunya.
Itu adalah sebuah kalung buatan Luna sendiri dan liontin batu pemberian dari seorang lelaki yang pernah menolongnya waktu dulu saat kecil. Namanya Leon. Katanya dia dari Action. Waktu itu, tentu saja Luna tidak mengerti apa yang dikatakannya.
Tapi seiring berjalannya waktu, Luna mulai mengumpulkan informasi tentang Action. Ia juga telah menyingkap masa lalu, yang ternyata dulu kota ini adalah tempat kejahatan paling sering terjadi. Jadi dulunya, di kota ini keributan dan kriminal terjadi di mana-mana. Orang-orang semuanya sembunyi dan lari. Bahkan dikatakan hampir seluruh mafia menjadikan kota ini sebagai markas mereka.
Dan di situlah datangnya Action. Sebuah kelompok berkekuatan super dan spesial pembela dan pelindung negara yang melawan aksi kejahatan. Ia melindungi orang-orang dan menyelamatkan mereka dari kejahatan. Kemudian mereka membangun sebuah sekolah Akademi untuk pelatihan pahlawan di kota ini.
Namun Akademi dan Action sudah tidak beroperasi lagi. Tidak ada yang tahu tentang penyebabnya. Dan kabarnya mereka telah mati. Walaupun begitu, kabarnya ada sebuah kelompok lain yang akan menggantikan Action dalam melindungi kota.
Lagi pula, sejak Action tidak ada, kejahatan rasanya tidak terlalu banyak yang terjadi. Atau setidaknya itulah yang dipikirkan masyarakat.
Luna hafal betul peristiwa-peristiwa dan seluruh perjuangan Action. Mungkin jika diceritakan di sini tidak akan ada habisnya. Mulai dari hal itulah Luna menjadi penggemar Action. Ia merasa bangga kota ini pernah memiliki pelindung, dan Luna merasa ia sangat berhutang pada Action. Walaupun semua orang bilang Action sudah tidak ada lagi, ia percaya bahwa suatu saat mereka akan muncul. Dan itu terbukti dari pengalamannya sendiri.
Dari pertemuan itu, Luna menjadi pribadi yang sangat penuh tekad dan berani, seperti yang dikatakan oleh Leon, ketua atau kapten dari tim Action. Luna berharap ia bisa bertemu dengan Leon lagi.
Andai saja akademi itu tetap di buka. Aku pasti akan mendaftar.
Katanya dalam hati. Ia kemudian menutup kembali laci dan kembali menuju tangga untuk turun ke dapur.
Ia menuruni tangga dengan santai dan duduk di kursinya.
“Apa sih yang Luna ambil? Kenapa tadi lari-larian? Kayak habis dikejar hantu saja” Kate menatap Luna dengan tatapan heran.
“Iya, ayah kaget Luna tiba-tiba lari” sahut ayahnya juga.
“Ini kalung Luna ketinggalan. Luna lupa mengambilnya di laci kamar. Makanya Luna langsung lari mengambilnya” jelas Luna
Patricia melirik ke Fred. “Sepenting itu memang kalungnya?”
“Tentu saja, ibu. Kalung ini sangat berharga bagi Luna setelah ayah dan ibu. Kalung ini kan pemberian dari Leon” jawab Luna tersenyum.
“Ah baiklah” Fred melihat jam tangannya. Jam telah menunjukkan pukul 6.45. “Luna sepertinya kita sudah harus berangkat” Ia menatap Luna.
“Oh, iya.” Luna beranjak dari kursinya. “Ayo” melihat Luna yang berdiri Fred juga ikut berdiri. Luna langsung ke depan pintu dan memakai kos kaki putihnya.
“Baiklah, ayo” Leon mencium dahi Kate dan Kate mencium tangan Fred. “Jaga dirimu baik-baik ya”
“Aku bukan anak kecil Fred” Patricia tersenyum. Ia kemudian mengantarkan Fred dan Luna ke depan rumah.
Fred membukakan pintu untuk Luna masuk ke mobil. Setelah itu barulah ia masuk dan duduk di kursi pengemudi. Fred segera menyalakan mesin mobilnya dan segera keluar dari halaman rumah. Mobilnya dengan cepat melaju ke sekolah dan menyisakan jalanan sepi yang kosong.
“Semoga benar katamu, dia akan menjadi orang hebat.”
***
Luna dan Fred masih berada di dalam mobil. Luna asyik melihat keluar jendela, melihat kehidupan di kotanya. Sepanjang perjalanan, Luna melihat anak-anak yang sedang berjalan kaki ke sekolahnya, para pedagang jalanan yang mulai menjajakan dagangannya, tukang pos yang kebingungan mencari alamat, orang kantor yang memegang tas kerja dan menaiki bis sembari tangannya memegang dokumen-dokumen, dan jalanan yang padat dengan kendaraan karena waktu kerja dan berangkat ke sekolah.
Bagi beberapa orang, kehidupan seperti ini membosankan karena monoton. Tapi bagi Luna pemandangan kehidupan Broside City sangat menyayangkan untuk di lewatkan. Kehidupan di sini selalu berwarna-warni entah warna kesenangan atau kesedihan. Para warga selalu melakukan rutinitas biasanya dengan lancar. Kadang ada kendala, warga lain juga siap membantu. Senang rasanya Luna melihat warga kota yang damai. Bahagia, itulah intinya.
Sejak tadi Fred memperhatikan Luna. Ia melirik kepadanya sambil mencuri-curi pandang. Ia tersenyum.
Anak ini benar-benar mirip denganku.
Batinnya dalam hati. “Hei” sapanya pelan. “Kau senang melihat pemandangan kota?”
__ADS_1
“Tentu saja. Aku senang mereka kelihatan senang dan aman. Aku harap selalu seperti ini nanti” Luna masih sibuk memandang keluar jendela. Ia tidak sedikitpun melirik kepada ayahnya. Luna memang mirip ibunya, jika sesuatu ia lakukan dengan sangat fokus, ia tidak akan bisa diganggu. Bahkan suara orang yang paling dekat dengannya.
Luna menyadari ia tidak sopan dengan ayahnya. Ia langsung memalingkan muka dari jendela dan menatap ayahnya.
“Uh, maaf ayah” katanya sambil tersenyum.
“Tidak apa-apa. Ayah senang kau punya kepedulian pada masyarakat di kota ini. Kau sangat mirip denganku” Luna tertawa. Ayahnya sangat pintar memuji diri sendiri dalam pujian untuk orang lain. Ayahnya memang ayah yang paling langka di dunia ini.
“Oh iya, apakah kau akan menjual majalah lagi?” tanya ayahnya. Wajah Luna yang tadi riang seketika menjadi cemberut. Ia tidak suka salah satu sifat ayahnya yang seperti ini. Ayahnya selalu khawatir sampai-sampai membuat orang lain merasa dikekang. Walau maksud ia tidak begitu, tetap saja Luna tidak suka ayahnya melarangnya melakukan sesuatu hal hanya karena ia khawatir akan terjadi sesuatu.
Padahal ia tahu, anaknya adalah Luna. Luna akan melakukan semuanya dengan tekad dan semangat. Luna juga sangat keras kepala. Sama seperti ayahnya.
“Ayah, kau mulai lagi. Aku kan sudah bilang aku akan tetap melakukan hal itu” ucap Luna lagi.
Ia memang menjual majalah bukan untuk uang dan tidak mungkin juga suruhan dari orang tuanya. Namun Luna melakukan itu untuk dapat bersosialisasi dan bertemu dengan banyak orang. Ia suka berkeliling kota dan menyapa orang-orang. Dan menjadi penjual majalah keliling adalah pekerjaan yang tepat dan menyenangkan. Menjual majalah juga menjadi penghilang penatnya dari tugas-tugas sekolah.
Menjadi penjual majalah juga dapat membantunya mengamati sekitar. Ya siapa tahu ada Anggota Action, hehehe.
Namun sejujurnya, Luna melakukan sesuatu hanya karena ia menyukainya.
“Ayah hanya khawatir gadis kecil ayah ini harus bekerja keras dan lelah” katanya sambil mengeluarkan alasan yang sering dia ucapkan.
“Ayah, aku sudah besar. Aku juga ingin berlatih mandiri. Lagipun menjual majalah mengasyikkan tidak melelahkan”
“Ah, ya sudah. Yang penting ini jangan mempengaruhi belajarmu ya”
“Tidak akan ayah,” Luna tersenyum berseri-seri. Jika ayah mengatakan hal seperti tadi berarti itu tanda ia mengalah.
“Ah, kau sangat keras kepala”
“Hehehe sama seperti ayah”
Tiba-tiba ponsel ayahnya bergetar. Terdengar suara nada dering telepon dari ponselnya.
Fred berhenti sebentar di pinggir jalan untuk mengangkat teleponnya. Ia terlebih dahulu meminta izin oleh Luna untuk berhenti. Setelah diberi izin barulah ia menerima telepon.
“Halo,” raut wajah Fred seketika berubah. “Oh iya, baiklah aku ke sana segera. Terima kasih.” Fred menutup teleponnya dan meletakkannya di dashboard mobil. Ia kemudian kembali menyetir.
“Siapa ayah?” tanya Luna penasaran.
“Hah?, Oh yang tadi, ah hanya teman kantor” kalimat Fred kemudian mengakhiri percakapan mereka. Mobil yang dikendarai tetap melaju cepat menuju sekolah Luna.
***
Mobil Fred telah sampai di sekolah Luna. Fred berhenti tepat di depan gerbang berwarna hitam itu.
“Kita sudah sampai,” Fred mengepalkan tangannya dan memajukannya ke hadapan Luna, hendak untuk melakukan tos ala mereka berdua. Tos seperti ini memang telah menjadi tradisi sejak Luna kecil.
Luna menyambut tangan ayahnya dan melakukan tos dengan tangan terkepal. Ia tersenyum lebar dan menatap ayahnya.
“Belajar yang baik ya, jangan nakal” ayahnya menurunkan tangannya.
“Aku tahu ayah, ayah juga semangat kerjanya ya” Luna membuka pintu mobil dan turun dari mobil. Ia menutup pintu mobil dan melambai pada ayahnya.
__ADS_1
“Dadah ayah!” Luna kemudian jalan ke arah gerbang sekolah dan masuk ke halaman sekolah.
Mobil Fred kemudian melesat dengan cepat.