The Destined Seeker

The Destined Seeker
BAB 10 : Pembicaraan Malam


__ADS_3

Malam ini sungguh dingin dan juga indah. Luna sedang menatap langit melalui jendela di dinding samping tempat tidurnya. Ia sedang duduk di ranjang sambil menatap bulan yang bercahaya indah. Hari ini malam bulan purnama. Bulan itu bersinar sangat terang menerangi malam yang gelap. Cahaya bulan telah membuat Luna berpaling dari langit indah.


Ternyata benar kata orang-orang. Selalu tersimpan kejadian menyenangkan dalam setiap cobaan. Dari semua kejadian yang Luna alami hari ini tersimpan sebuah lukisan indah Tuhan pada malam hari.


Luna tersenyum. Ia dulu sering melihat alam jika sedang marah, pusing, atau stres. Alam selalu menenangkannya seperti ini.


“Kuharap jika suatu saat nanti aku sudah benar-benar dewasa, aku masih bisa melihat alam yang luas” harap Luna.


Semakin ke sini, ia semakin merasa kalau semakin banyak kenangan yang ditinggalkan. Misalnya, sesuatu yang dianggap dulunya asyik, sekarang tidak lagi. Atau terkadang bisa sebaliknya. Ya hidup ini memang selalu berubah-ubah.


Tet-tet-tet


Bunyi nada dering ponsel Luna menyadarkannya. Ia melihat ke arah ponsel yang berada di laci kecil samping ranjangnya. Luna kemudian menyeret tubuhnya untuk mengambil ponsel ber-casing ungu muda itu.


Ia melihat nama penelpon di layar ponsel.


Natasha


Luna menekan tombol hijau. Ia mengangkat telepon tersebut dan mendekatkan ponsel di telinganya.


“Halo” suara di seberang terdengar.


“Hai Natasha” Jawab Luna.


“Hai Lun. Kau baik-baik saja?”


“Ya Nat aku baik-baik saja, kenapa?” ucap Luna seolah-olah tak tau apa yang terjadi.


“Kau habis dari mana saja? Ayahmu tadi menelepon ke ponselku menanyakan apakah kau ada bersamaku”


“Mmm, ya maaf Nat. Aku memang tadi pergi sebentar setelah lembur di toko majalah dan aku tak tau kalo ternyata semua sepanik itu. Hehe maaf ya” ucap Luna.


“Luna, kau ini bikin khawatir saja. Tapi kau tak apa-apa kan? Kau diapakan oleh ayahmu?” tanya Natasha kepo.


“Ah tidak kok. Tidak di apa-apa kan. Omong-omong maaf ya. Aku tadi pakai namamu sebagai alasan agar tidak dimarahi ayah. Jadi jika lain kali ditanya tolong jawab kalo aku memang sebenarnya bersamamu tadi” pinta Luna. Akan kacau jika Natasha membocorkannya.


“Gampang Luna. Yang penting jangan di ulangi lagi ya. Aku khawatir juga loh”


“Ya, terima kasih telah membantu” Luna tersenyum.


“Iya Lun. Eh omong-omong lagi. Besok malam kau datang ya ke rumahku. Aku ada acara makan-makan di rumah. Ikutan ya”


Dalam hati Luna bersorak ria. Ia senang diundang ke rumah Natasha. Soalnya di rumahnya selalu asyik. Dan yang paling menyenangkan lagi ia jadi punya alasan untuk kembali ke rumah tua itu besok malam. Ia akan memastikan semuanya sekali lagi.


“Tentu Nat aku akan datang. Sisakan tempat duduk ya” canda Luna.

__ADS_1


“Iya. Luna sudah dulu ya. Aku ingin istirahat”


“Oh iya. Good night ya Natasha”


“Ya. Besok jangan lupa loh” Natasha mengingatkan.


“Iya. Dadah”


“Daahhh”


Tut. Sambungan telepon telah terputus.


Luna kembali meletakkan ponselnya dan menyetel alarm di jam wekernya. Ia kemudian baring di kasurnya dan menarik selimut. Dan tak butuh waktu lama ia telah tertidur disinari oleh cahaya bulan purnama.


Ah, pembicaraan malam Luna dan Natasha menutup hari ini. Hari yang panjang nan melelahkan. Hari yang penuh ketegangan dan hal baru. Hari yang lain.


 


***


Bulan sangat terang bersinar. Pada saat ini para nelayan hanya bisa mengembuskan nafas panjang karena tak dapat tangkapan. Mereka hanya bisa pasrah dan tak melakukan apa-apa.


Malam yang sudah sunyi dan tidak ada satupun suara. Dipakai oleh Ren untuk berbincang-bincang.


“Hei. Kau ketahuan?”


“Ya” jawabnya singkat.


“Ah. Jadi dia tau?!”


“Menurutmu?” jawabnya lagi dengan nada tak ingin menanggapi.


“Sial.”


“Kenapa? Bukankah bagus?”


“Bagaimana jika ia terlibat terlalu jauh?”


“Jangan terlalu khawatir kepadanya. Bukankah harusnya kau mengkhawatirkanku?”


“Apa hubungannya? Kau hanya bagian dari rencana ini”


“Kau memang tak pernah berpikir jauh”


“Kau dari dulu selalu berkata menusuk”

__ADS_1


“Itulah aku”


“Kurang ajar. Sudahlah. Aku ingin tidur”


“Kau belum membuat keputusan apapun. Aku ingin berbuat sesuatu”


“Kau tunggu saja sampai aku memikirkan hal bagus untuk selanjutnya”


“Jangan buat aku menunggu”


Penelepon terkekeh.  Ia tau kebiasaan Ren yang tidak suka menunggu hal yang tak pasti ada.


“Baiklah. Apa arahanku penting?”


“Aku akan bekerja sesuai arahanmu. Katakan”


“Ya dia sudah terlanjur masuk ke dalam rencana ini”


“Lalu?”


“Berarti ini semua berhasil. Memang dari awal aku ingin gadis itu ikut dalam rencana ini. Jika memang ia harus masuk lebih dalam maka libatkanlah dia”


“Sesuai arahanmu”


“Ren” suara dari belakang Ren memanggil membuat ia menoleh. “Kita harus kembali”


“Ya”


Ren kemudian kembali bicara di telepon.


“Sudah dulu. Nanti lagi. Yinx sudah menungguku”


“Baiklah”


“Nanti berjumpa lagi, bos”


Dan telepon terputus.


bersambung***


Thanks For Reading


Udah update lagi~~~ maunya besok tapi gapapa updatenya hari ini aja kali yak. Makasih banyak yang udah mampir. Tetap setia nunggu up berikutnya ya. btw kalo ada yang mau kritik silahkan ya. tolong juga recommended cover buat The Destined Seeker


Baca dengan sepenuh hati. Like vote komen and gift belakangan tapi jangan di lupa. Tunggu up lagi nanti

__ADS_1


__ADS_2