
Gelap
.
.
.
Dingin
.
.
.
Sunyi
"Apa aku sudah mati, Tidak mungkin jika aku mati, Karena aku merasakan sakit di sekujur tubuh ini seperti dicabik-cabik binatang buas." pikirnya lalu mencoba membuka mata perlahan sambil menggerakkan dan meraba tempat di sekitar nya."rasanya tempat ini seperti di dalam hutan." Ucapnya dengan sangat lirih.
Dengan kesadaran yang mulai kembali, Seorang remaja pria berusia sekitar Delapan Belas tahun tersesat di dalam hutan dengan luka luka yang cukup parah di sekujur tubuh. Dia yang mencoba meraba raba tempat di sekelilingnya dengan tangan, menyadari kalau dia ada di dalam hutan, Sambil mengingat ingat apa yang terjadi. Namun sesaat setelah membuka mata, ia kembali tidak sadarkan diri.
Di saat bersamaan di tengah hutan itu ada seorang Gadis yang sedang duduk di tengah Padang rumput yang hijau, ia merenung sambil memandang Rusa yang sedang melahap rumput dari kejauhan. "Nona.." Suara teriakan kesatria yang sedang mencarinya karena melarikan diri dari pengawasan mereka.
" Nona Grace...." Teriak Ksatria ke-dua,
" Anda dimana tolong berteriak lah kalau mendengar suara saya." Lanjutnya yang berteriak di tengah hutan.
Tanpa sengaja dua kesatria itu berpapasan saat mencari nona mereka.
" Apa kamu sudah menemukan nona?" Tanya salah satu dari mereka.
" Belum, Hah.. Kemana sebenarnya nona pergi."
" Sudah lah, Ayo kita cari lagi sebelum Matahari terbenam, Kalau tidak nanti tuan count akan menghukum kita." Balasnya.
Lalu mereka berdua kembali melanjutkan mencari nona mereka yang entah pergi kemana.
***
Mendengar suara para kesatria yang mencarinya, gadis berusia Lima belas tahun itu berlari karena tidak ingin mereka menemukannya. Dia terus berlari sampai tersandung sesuatu yang membuat nya jatuh tersungkur. " Aduh. " Ucapnya kesakitan. " Hah siapa sih yang membuat ku tersandung." Gerutunya kesal, sambil membersihkan debu yang menempel di gaun putih nya karena terjatuh tadi, saat sedang membersihkan gaun nya gadis itu terkejut. Melihat seorang pria yang sebagian wajah nya tertutup oleh topeng tergeletak dengan pakaian yang robek seperti tercabik binatang buas. Gadis itu mendekati nya untuk memeriksa keadaannya.
__ADS_1
" Di lihat lihat ini bukan luka bekas tercabik binatang buas, Pikirnya sambil melihat luka pria itu. Ini seperti luka bekas tebasan pedang, apa dia kesatria. Melihat kain yang terpasang di badannya, ini seperti kain berkualitas tinggi. Tidak mungkin seorang kesatria memakai kain semahal ini, Kenapa dia memakai topeng." Pikir gadis itu sambil bertanya- tanya saat memeriksa keadaan nya.
Karena penasaran gadis itu melepas topeng nya, " Wah.. Apa apaan ini, Kenapa dia sangat tampan. " kata pertama yang keluar dari mulutnya karena terpana melihat wajah pria itu.
" Bagaimana ini, Sepertinya lukanya cukup parah. " Kembali mengalihkan pandangan nya ke luka yang ada di bagian Punggung pria itu. "Ukh.. " Suara pria itu kesakitan dan kesulitan bernafas. " Wah gawat, jika dia terus seperti ini dia akan meninggal. Aku harus mencari bantuan." Pikirnya yang mulai panik melihat kondisi pria itu.
" Nona grace..." Suara salah satu kesatria yang mencarinya.
" itu suara Sir Leon." teriak nya dalam hati. "Sir Leon! Aku di sini. " Membalas suara itu dengan teriakan, Tidak lama seorang kesatria datang menghampiri nya.
" Hah... Nona kenapa pergi terlalu jauh sih, Saya jadi takut Nona tersesat." Oceh nya, Saat melihat gadis itu.
"Nanti kalau tuan count tau, dia mungkin akan menebas leher saya tanpa pikir panjang." Sambung nya yang terus mengoceh tanpa henti.
" Sir Leon, Apakah kamu sudah selesai bicara. " Kata gadis itu, yang masih memperhatikan pria itu.
" Sud... Hiii. " Terkejut, saat melihat pria yang tergeletak di samping gadis itu. "Nona, apa nona menemukan mayat di tengah hutan ini. " Sambungnya yang terkejut. Dengan ekspresi marah gadis itu mendekati kesatrianya, dan menendang pelipis kakinya.
"Hah! Sir Leon jangan sembarang bicara, Dia masih hidup tau. " Ucapnya dengan kesal.
"Akh, Nona sakit tau." Balas Kesatrianya sambil menahan rasa sakit, Lalu mendekat untuk memastikan nya " Sungguh, Tapi seperti nya dia terluka parah."
"Heeh! " Terkejut mendengar perkataan gadis itu, " Apa nona serius? Anda bahkan tidak mengenal nya. " ucapnya.
Dengan tatapan tajam gadis itu menegaskan sekali lagi pada kesatria yang menjaganya, " Apa sir Leon meragukan perkataan ku. "
" Haha, Aku seperti melihat sisi tuan yang kejam kalau nona seperti ini. " Gerutunya dalam hati. " Tidak, mana mungkin meragukan nona. Saya akan melakukannya. " Ucapnya dengan pasrah.
" Baiklah, Kalau seperti itu bantu aku membawanya ke kereta kuda. " Ucap gadis itu.
" Tidak usah, biar saja saya yang membawa nya Sampai ke kereta kuda. Dia pasti berat nona juga masih terlalu kecil untuk membawa nya." Ucap kesatrianya, lalu mengangkat pria yang Tidak sadarkan diri itu.
Tidak terima kesatria nya bilang seperti itu, Dia terus menatap tajam kesatria nya sambil berjalan." Hah.. Apa aku salah bicara ya. " Gumam nya dalam hati.
"Huh, Lakukan saja sesukamu. " Ucap gadis itu sambil memalingkan wajahnya.
***
Sesampai nya di kereta kuda, Mereka tidak bisa langsung kembali ke kastel karena harus menunggu Kesatria yang belum kembali. "Sir Leon, kemana perginya sir Rocco?" Tanya gadis itu masih dengan tatapan tajam.
" Tentu saja dia sedang mencari nona yang menghilang dari tadi." Balas kesatria itu." Omong omong, Nona bisakah anda jangan menatap saya seperti itu." Sambung nya.
__ADS_1
" Memangnya kenapa?"
" Ah tidak papa Nona." Balasnya sudah pasrah mengatasi amarah gadis itu. "Sudahlah, Salah salah bicara lagi mungkin kepalaku bukan lagi di tebas tuan count, tapi oleh Nona sendri. " Gumam nya dalam hati sambil menghela nafas.
" Apa sir Leon tidak bisa memanggil sir Rocco? Kita tidak bisa menunggu terlalu lama. " Tanya gadis itu.
" Saya, Tentu saja bisa. "
" kalau gitu cepat panggil. "
" Baiklah, Tapi sebelum itu tolong tutup telinga nona dulu." kata kesatrianya.
Tanpa pikir panjang gadis itu langsung menutup kedua telinganya. " Pritt!!! " Suara pluit yang lantang itu mungkin saja bisa membuat telinga berdengung dalam waktu lama.
" Apa itu alat komunikasi kalian? kenapa bunyinya seperti itu. "
" Iya nona, ini alat komunikasi yang baru saja kami buat, Jadi masih perlu di perbaiki. " Ucapnya.
" Yah, tidak buruk, walaupun suara nya buruk. " Katanya.
" Jadi itu pujian atau kritikan nona?. "
" Tidak tau. " Jawab gadis itu apa adanya.
"Aku akan menunggu di dalam kereta kuda, Jadi tolong baringkan dia di dalam juga sir Leon. " Ucapnya, lalu masuk ke dalam kereta kuda. Dan tidak lama setelah pluit itu di tiup Kesatria satunya datang.
***
"Hei, siapa itu yang ada di kereta bersama nona?" Tanya sir Rocco.
" Hah... " Menghela nafas, " Nanti akan ku ceritakan saat sampai, Sekarang kita pulang saja karena sudah mulai malam." Balasnya.
" Hmm, Baiklah. "
Lalu kereta kuda berjalan, dan mereka mengawal kereta itu dengan menunggangi kuda.
Di dalam kereta kuda itu hanya ada mereka berdua. Gadis itu berpindah tempat duduk ke tempat pria itu di baringkan. Dia meletakkan kepala pria itu di pangkuan nya dan memandang wajah pria itu cukup lama.
" Bagaimana kamu bisa terluka seperti ini, Apa kamu orang penting di Kekaisaran. Rambutmu sangat lembut" Ucapnya sambil tersenyum dan mengelus rambut pria itu." Padahal wajahmu sangat tampan kenapa kamu menutup nya dengan topeng, Sayang sekali." gumam gadis itu sambil terus memandang wajah pria yang ada di pangkuan nya.
__ADS_1