
Setelah hari itu, Grace lebih sering ke kamar Ethan untuk minum teh sambil membahas banyak hal. Sedangkan Ethan sendiri masih belum berani untuk keluar dari kamar, dia hanya menghabiskan waktunya seharian di kamar sambil membaca buku. Hari itu para pelayan membawakan banyak pakaian dari kamar nya.
" Ada apa ini?" Tanya Ethan terkejut.
"Tuan Count membelikan semua ini untuk anda." Jawab kepala pelayan yang baru tiba di sana.
" Tuan, Semua ini, Sebanyak ini?"
" Iya."
" Memang nya ini tidak berlebihan?"
" Terima saja apa yang beliau berikan."Ucap pria itu pada Ethan." Tuan juga menyuruh Anda bersiap untuk makan malam." Sambungnya.
" Aku!" Masih bingung dengan situasi nya,
" Baiklah." Ucap Ethan dengan pasrah.
" Baiklah Tuan , Segeralah bersiap." Ucapnya lalu meninggalkan ruangan itu.
Ethan langsung bersiap di bantu para pelayan. Selesai bersiap dan berpenampilan rapih, dia berjalan ke arah kaca yang ada di depan nya, Melihat dirinya dari pantulan cermin yang besar. Berpenampilan seperti itu membuat nya terlihat seperti bangsawan yang tampan dan berwibawa, Dia juga merasa tidak asing dengan penampilan nya yang seperti ini.
Lalu dia berjalan ke ruang makan yang di arahkan pelayan, Sampai sana ternyata Count Etienne dan Grace sudah ada di dalam.
" Kamu sudah datang Ethan." Sapanya.
" Iya Tuan."
" Kamu tidak perlu memanggil ku Tuan." Ucapnya sambil tersenyum.
" Bagaimana saya bisa lancang seperti itu, Memanggil anda tanpa sebutan Tuan." Balas Ethan dengan sopan.
" Tidak papa memang seharusnya jangan , Kalau gitu panggil saja aku paman seperti Grace memanggil ku."
" Apakah boleh seperti itu?" Tanya Ethan.
" Tentu saja, Sekarang kalian makan lah dulu." Ucap count.
Lalu mereka melanjutkan makan malam dengan bersenda gurau, Ethan yang berada di tengah mereka masih terasa asing tapi seiring berjalannya waktu dia harus membiasakan diri. Meskipun count bilang untuk memanggil nya dengan sebutan paman, Ethan tetap tidak melakukannya karena dia ingin menghormati count yang sudah menolong nya.
***
Sore itu Ethan dan Grace jalan beriringan mengelilingi kastel, Grace mengenalkan tempat tempat yang ada di kastel Etienne pada Ethan. Langkah Grace terhenti di taman bunga, sambil menyentuh bunga yang di taman dia menceritakan kenapa Count Etienne membuat taman itu.
" Ethan." Ucapnya sambil memandang bunga mawar putih di depan nya.
" Ya."
" Apa kamu tau, Paman dulu membuat taman ini untuk bibi. Karena bibi sangat menyukai bunga, Mereka sering menghabiskan waktu bersama sambil minum teh. Paman juga terlihat sangat bahagia saat bersama nya, Tapi semua berubah saat bibi meninggal."
" Memang nya countes meninggal karena apa?" Tanya Ethan.
"Karena Racun."
"Racun, Bagaimana bisa?"
" Aku juga tidak tau pasti karena paman tidak menceritakan nya, intinya itu racun yang di konsumsi jangka panjang." Menjelaskan pada Ethan.
__ADS_1
" Berarti jika minum sekali efeknya tidak akan terasa , begitu pun sebaliknya jika di konsumsi secara berkala efeknya akan semakin parah." Ucapnya, " Pasti ada yang sengaja meracuni nyonya countes jika seperti itu." Sambungnya.
" Benar sekali, Walaupun paman sudah menemukan pelayan yang meracuni bibi, Paman tetap tidak bisa menemukan siapa yang ada di balik kejadian itu, Karena pelayan itu menutup rapat mulutnya dan memilih mengakhiri hidupnya. Sejak hari itu paman tidak pernah berhenti menyalahkan dirinya sendiri." Ucapnya terlihat sedih saat menceritakannya, " Maaf yaa kalau aku banyak bicara." Sambungnya sambil tersenyum. Ethan yang mendengar cerita Grace juga tidak tau harus menjawab apa dia hanya diam lalu tersenyum sambil menatap nya, dia memetik bunga mawar putih yang ada di samping nya. " Tidak papa, Kamu pasti sedih melihat tuan count yang selalu menyalahkan dirinya." Ucapnya sambil menyangkutkan bunga yang dia petik ke telinga Grace, "Karena kamu sangat menyayangi nya." Sambungnya sambil tersenyum.
Grace yang mendengar perkataan Ethan kala itu merasa tenang dan senang secara bersamaan. Karena selama ini tidak ada yang mau mendengarkan ceritanya sebaik Ethan, Mungkin dia akrab dengan para kesatria dan pelayan di kastel tapi tidak mungkin dia menceritakan hal hal semacam itu pada mereka.
" Terima kasih ya." Balas Grace sambil tersenyum. " Ayo aku akan mengajakmu pergi ke tempat para kesatria berlatih." Sambungnya.
Lalu mereka berjalan bersama ke tempat latihan para kesatria. Sampai di sana, Mereka melihat para kesatria yang sedang berlatih. Suara pedang yang beradu saat mereka berlatih dengan penuh semangat membuat Ethan merasa tidak asing dengan situasi itu.
" Nah Ethan ini adalah tempat latihan para kesatria di kastel ini, Mereka sangat menghormati dan mematuhi paman. Paman juga sangat menghargai kerja keras mereka walaupun sangat tegas." Ucap Grace menceritakan pada Ethan.
Saat mendengar cerita Grace kepala Ethan terasa sakit, Dan suara dengungan terdengar jelas di telinga nya. Ethan terus memegang kepalanya yang terasa sakit itu " Ngung_" Bersama suara dengungan itu ingatan lama yang ada di tubuh itu muncul.
" Hei! Lihat itu komandan." Kata salah satu dari kesatria yang sedang berlatih.
Sambil memukul rekan nya," Hei Abel yang sopan kalau bicara, Sekarang dia Grand Duke." Ucapnya.
Sambil berjalan ke arah mereka, " Hei kalian, sudah hentikan." Ucapnya.
" Tapi kan memang itu kenyataanya." Balas salah satu dari mereka.
"Memang apa yang harus di banggakan, Itu kan hanya sebuah gelar." Balas Ethan.
" Tetap saja , Sekarang kamu adalah penguasa wilayah Utara kekaisaran verhant." Ucap kesatria yang ada di sampingnya.
" Hah, Terserah kau saja Alex." Balas Ethan.
" Kalau begitu izinkan kami memberi salam." Ucap Alex.
" Hei kalian yang di sana ,Kemarilah!" Teriak kesatria yang bernama Abel, semua pasukan kesatria yang berlatih berjalan ke arahnya, Lalu membuat barisan. Alex yang tadinya ada di samping Ethan berpindah , dan memimpin barisan, Sambil menundukkan kepalanya. " Hormat kami pada yang mulia Grand Duke Dawson, Perisai juga pedang kekaisaran Verhant, Penguasa serta pelindung wilayah Utara. Semoga kebahagiaan dan keselamatan selalu menyertai Anda" Ucap Alex di ikuti para kesatria lainnya.
Ethan yang melihat mereka terdiam dalam waktu cukup lama, Sebenarnya dia tidak suka dengan semua nya termasuk dia yang di angkat sebagai Grand Duke menggantikan ayah nya. Walaupun begitu dia sangat ingin menghargai salam dari Kesatria yang juga rekannya.
" Kami bersumpah juga Berjanji Akan melindungi wilayah ini dengan segenap jiwa dan raga kami." Balas Alex dengan lantang di ikuti kesatria lainnya.
Setelah semua ingatan itu muncul, Telinga Ethan Kemabli berdengung,"Ngung_" dan membuat kepala nya semakin sakit.
" Argh!" Suara Ethan Kesakitan.
Grace yang ada di sampingnya dan sedang menjelaskan terkejut melihat Ethan yang tiba tiba kesakitan. " Hei Ethan" Ucapnya panik, " Kamu kenapa, Apa ada yang sakit." Sambungnya bertanya. Tanpa pikir panjang Grace memanggil kesatria yang sedang berlatih, dan kebetulan ada sir Leon di sana." Sir Leon! Tolong aku." Teriak Grace. Sir Leon yang melihat nya langsung berlari ke arah Grace. " Ada apa , Nona?" Tanya nya dengan Nafas terengah-engah karena berlari.
" Tolong bawa dia ke kamarnya." Ucap Grace yang masih panik. Mendengar Perintah dari Grace, Sir Leon dengan sigap memapah Ethan ke kamarnya.
Sesampainya di kamar, Sir Leon langsung meletakan Ethan di atas kasur dan melepaskan alas kakinya, Mulai dari situ Grace yang menangani Ethan. Dia menyelimuti Ethan, Lalu duduk di samping nya. Ethan yang terus menutup mata dengan telapak tangannya, dan masih merasa kesakitan, Melihat Ethan seperti itu Membuat Grace merasa sedih. Semakin lama nafas Ethan juga terengah-engah seperti orang yang sedang berlari,Grace yang ada di sampingnya mencoba menenangkan nya." Tenanglah, Aku ada di sini." Sambil mengusap tangannya. " Kondisimu semakin parah, Aku harus memanggil dokter" Ucapnya, Lalu beranjak dari tempat tidur, Saat berjalan tangan yang terus menutup wajahnya itu menggenggam tangan Grace dan membuat langkah kakinya terhenti. Grace langsung menoleh kearah nya yang sedang terbaring, Dengan wajahnya yang sayu Ethan meminta maaf pada Grace" Maaf, Aku merepotkan mu lagi.."
Grace langsung menggenggam kembali tangan yang dingin itu. " Tidak Ethan, Aku tidak pernah merasa kerepotan." Ucap Grace, Karena pandangan nya yang kabur, dia hanya bisa mendengar ucapan Grace." Sekarang kamu istirahat saja aku akan panggil dokter dulu."
***
Setelah di periksa dan di beri obat penenang dari dokter, Ethan tertidur cukup lama. Lalu dia bangun di tengah malam. Menyadari sekeliling nya yang terang menjadi gelap, yang tadinya Grace ada di sampingnya sekarang mungkin sedang tidur. Sakit kepalanya sudah membaik setelah minum obat, Tapi ingatan itu terus muncul di pikiran Ethan, Hanya satu orang yang bisa menjawab pertanyaan yang terus muncul di pikiran nya. Dia beranjak dari tempat tidur, dengan kondisi yang baru sadar, walaupun sempat terhuyung saat berjalan. Dia membuka pintu, Melihat dalam kastel di tengah malam sangat sepi sekali. Dia terus berjalan tanpa tau arah di mana ruang kerja count berada, di tengah jalan dia bertemu dengan kesatria yang datang ke kamarnya bersama count waktu itu.
" Anda mau kemana tengah malam begini?" Tanya nya lebih dulu.
" Aku mau bertemu dengan tuan Count" Balas Ethan.
"Ada urusan apa tengah malam begini mencari tuan?" Tanyanya dengan tatapan mengintimidasi.
Melihat tatapan nya Ethan hanya diam, sambil bicara dia memberi tatapan yang lebih tajam dan menunjukkan siapa yang paling kuat.
__ADS_1
" Menyingkirlah jika tidak ingin menunjukkan jalan, Aku tidak ada urusan dennganmu."
Dia hanya diam saja melihat dan mendengar ucapan Ethan, Dengan ekspresi nya yang datar dia menyuruh Ethan mengikuti nya. "Ikuti aku, aku akan mengantarmu ke ruang kerja tuan."
Sesampainya di ruang kerja count, Kesatria itu membuka pintu dan mengumumkan kedatangan nya. "Kritt_" Suara pintu terbuka.
"Tuan, Ada yang ingin bertemu dengan anda."
" Siapa tengah malam begini mau bertemu dengan ku?" Tanya count yang sedang mengerjakan dokumen wilayah.
"Beliau ingin bertemu dengan anda." Ucap kesatrianya.
Mendengar kata beliau daerah mulut kesatrianya Count Etienne langsung tau siapa yang ingin bertemu dengan nya.
" Suruh dia masuk."
Ethan yang sedari tadi menunggu di luar masuk ke ruangan itu, Lalu Kesatria nya menutup pintu.
"Ada perlu apa kesini malam malam Ethan?" Tanya count.
"Tuan apa anda tau identitas saya?" Balik bertanya.
"Ya." Balas count singkat, " apa kamu benar benar tidak tau siapa dirimu?" Sambungnya bertanya kembali.
" Tentu saja aku tau, Aku hanya ingin memastikannya."
" Kalau begitu siapa kamu Ethan?"
"Penguasa wilayah Utara, Perisai juga pedang terkuat kekaisaran verhant, Ethan Clark Dawson." Balas Ethan, Harap harap jika itu orang itu bukan dia.
Count yang mendengar perkataan Ethan terdiam sesaat. " Benar itu kamu." Ucap count, " Salam saya kepada perisai juga pedang kekaisaran Verhant, yang mulia Grand Duke Dawson." Sambung nya sambil menundukkan kepala, Memberi salam.
Ethan yang mendengar jawaban itu sama sekali tidak menyangka, dia hanya diam lalu tertawa sendiri, " hahaha..." Bukan itu yang mau dia dengar, " Tidak mungkin." Ucapnya, masih tidak percaya dengan apa yang dia dengar. saking terguncang nya dia tidak bisa berdiri dengan benar.
" Ethan, kamu baik baik saja?" Tanya count, mencoba membantu nya berdiri.
Ethan langsung menepis tangan count Etienne yang berusaha membantu nya,
" Tidak perlu, Aku bisa berdiri sendiri. Akan ku lanjutkan lagi obrolan ini besok, Terima kasih atas waktu nya tuan." Ucap Ethan dan pergi meninggalkan ruangan itu. Count yang melihatnya merasa bersalah karena memberi jawaban itu, tapi mau bagaimanapun itu lah kenyataan nya.
Sial, pantas aku tidak asing dengan nama dan suasana di sini, Ternyata ini dunia novel. Novel yang pernah ku baca saat sekolah di SMA, Bagaimana ini bisa terjadi. Semuanya tidak masuk akal, kalau tidak salah judul dari cerita ini adalah " Lady please don't leave me." Benar benar memuakkan, apa aku harus hidup mengikuti alur cerita novel ini. Aku yang sekarang adalah Grand Duke di kekaisaran verhant, Yang terkenal bengis juga jahat, yang tanpa ragu membunuh orang di depannya. Bagaimana aku bisa masuk ke tubuh iblis yang senang membunuh.
Pikiran Ethan terus kalut karena menyadari dirinya masuk ke dalam dunia novel, Dia benar tidak habis pikir kenapa harus masuk ke dunia novel itu. Apa karena tokoh antagonis itu sama dengan namanya. Atau ada alasan lain, di tempat itu dia terus berjalan tanpa tau kemana langkah kaki membawanya. Tanpa sadar langkah kakinya terhenti karena Mendengar sesuatu, " Srak, Tap, Tap,Tap" suara orang berjalan," Siapa di sana!" Ucapnya sambil menoleh ke arah suara itu. Ternyata dia sedang ada di tempat latihan saat menyadari sekeliling nya. Dia mengambil pedang besi yang tergeletak di sana, mungkin milik kesatria yang lupa membawanya. Sambil menghunuskan pedang dia terus berjalan ke arah suara itu dengan waspada.
Sebenarnya dia hanya memancing karena tau orang itu di belakang nya. Dia langsung membalikkan badan dan menangkis pedang yang akan menebasnya , lalu mengarahkan pedang ke lehernya. " Siapa kalian, berani sekali masuk kedalam kediaman bangsawan diam diam?" Tanya Ethan dengan tatapan tajam yang bersinar merah terang.
" Tentu saja aku datang untuk membunuh mu , karena itu aku tidak datang sendiri." Katanya sambil menyeringai.
" Omong kosong apa itu, Memang nya kau tau siapa aku?" Ucap Ethan yang langsung menebas tubuh pria itu hingga tewas.
" Dasar gila!! Ternyata kamu memang Grand Duke yang kejam itu." Ucap salah satu
" Memang apa salahnya kejam untuk melindungi diri sendiri?" Ucap Ethan sambil tersenyum jahat , kemudian balas menyerang nya tanpa pikir panjang,
" Tutup saja mulutmu itu, atau akan ku pisahkan kepala dengan tubuhmu." Sambungnya, " Tang!" Suara pedang yang beradu.
" Aku tidak peduli, Dasar psikopat gila."
" Begituya.. ternyata itu pilihanmu." Menebas pria itu sampai tidak bisa bergerak. " Ternyata total semua nya ada lima orang atau lebih, Aku harus tetap waspada. Apa keamanan di kastel ini sangat buruk sampai pembunuh bayaran bisa masuk." Ucap nya dalam hati.
__ADS_1
Ethan terus bertarung tanpa henti karena penjahat yang terus muncul, Aneh nya sudah hampir lima belas menit berlalu belum juga ada yang datang, Entah itu kesatria dari kastel count atau orang orang lainnya.
" Sial mereka lebih banyak dari dugaan ku, situasi ini sama dengan kejadian yang aku lihat waktu itu, benar benar memuakkan." Ucap Ethan yang sudah mulai marah. Lalu keluar cahaya berwarna merah kebiruan dari tubuh Ethan yang tanpa sadar mengintimidasi musuh, Ethan terus menyerang penjahat yang berusaha menyerang nya. " Kalau sudah begini bukan kah aku harus bertahan hidup, Kalian jangan membuatku marah karena datang seperti gerombolan tikus yang membuat onar di tempat orang." Ucap Ethan dengan tatapan mata yang tajam.