The Evil Granduke

The Evil Granduke
Bab 11


__ADS_3

" Kakak ini untuk kakak." Ucap Agneta Sambil memberikan bucket bunga itu pada Ethan. Esok harinya sebelum kembali ke ke kastel Etienne Ethan dan Grace menemu putra di taman bunga Istana Diamond ( istana khusus Putri mahkota.)


" Terimakasih putri, Ini sangat indah. " Ucap Ethan sambil tersenyum.


" Kakak sudah sembuh? Apa kakak tidak bisa di sini lebih lama. " Tanya putri kecil itu dengan wajah murung.


" Sayang sekali tapi aku tidak bisa Putri , Karena besok aku harus pulang menemui ayah dan ibu ku." Balas Ethan dengan lembut.


" hmm begitu ya, tapi apa kau bisa main kesini suatu hari Nanti? "


" Jika itu yang anda mau, Saya akan usahakan."


" Janji kelingking." Ucapnya sambil menunjukan jari kelingking nya yang kecil.


" Tentu saja janji kelingking." Sambil menautkan kelingking nya pada Agneta Sambil tersenyum.


" Oh ya aku punya hadiah lagi untuk kakak." Sambil merogoh kantong saku di gaunnya. " Ini gelang yang aku buat sendiri semalam, Berikan tangan kakak." Ucapnya.


Ethan mengulurkan tangannya pada Agneta, Lalu tangan kecil itu mengikatkan gelang yang dia buat ke tangan Ethan. " Terimakasih ya sudah menyelamatkan ku kemarin." Ucap Agneta.


" Sudah seharusnya putri, Terimakasih untuk gelang nya ini sangat indah. " Ucap Ethan.


Grace hanya tersenyum saat melihat interaksi mereka, " Hihi... mereka lucu sekali sih, seperti adik kakak. aku tidak pernah menyangka Ethan bisa bersikap semanis itu kalau di depan anak kecil." Ujarnya dalam hati sambil melihat mereka berdua.


" Kalau gitu saya pamit undur diri ya Putri." Ucap Ethan sambil menundukkan kepalanya.


" Baik, Sampai bertemu lagi ya kak, Saat datang kesini lagi tolong beritahu aku nama kakak." Balas putri dengan ekspresi ceria.


" Baiklah Tuan putri." Ucap Ethan sambil tersenyum. " Kalau begitu saya pamit undur diri." Sambung nya, lalu pergi meninggalkan tempat itu.


Jika seusai aturan istana seharusnya Ethan tinggal beberapa hari lagi di istana, Untuk di mintai keterangan akan kejadian kemarin. Tapi Count sudah menyelesaikan semuanya sehingga Ethan tidak perlu lagi jadi saksi untuk kejadian kemarin. Sekarang yang tersisa adalah langkah apa yang akan di ambil Ethan selanjutnya nya.


Karena Count harus menyelesaikan beberapa hal lagi di istana, Ethan dan Grace pulang lebih dulu ke kastel.


" Ethan kau sungguh sudah sembuh? Warna Matamu juga sudah kembali." Tanya Grace dalam perjalanan ke kastel.


" Aku tidak papa Grace." Balas Ethan. " Iya seperti nya Kembali tiga puluh menit lalu, Mungkin efek obat nya sudah hilang. " Sambung nya.


" Kenapa kau selalu bilang tidak papa, Saat ini juga saat itu?" Tanya Grace yang duduk berhadapan dengan Ethan.


Sambil menatap ke luar jendela, "Aku memang tidak papa Grace, Kalau aku bilang seperti itu ya berarti aku baik baik saja." Ucap Ethan masih dengan posisi yang sama.


" Ya Sudahlah kalau kau sendiri seperti itu aku bisa apa, Intinya jangan menyimpan semua sendiri Ethan." Balas Grace.


Ethan langsung menoleh ke arah Grace, " Coba tanyakan itu pada dirimu sendiri Grace, Apa kau baik baik saja selama ini?" Ucap Ethan.


Grace terdiam cukup lama saat mendengar ucapan Ethan, " Aku baik baik saja saat bersama paman , dia seperti ayah juga ibu bagiku. Dia sangat menyayangiku. Tapi di sisi lain saat aku pulang ke rumah aku merasa asing, saat seperti itu hatiku rasanya sakit." Ucap Grace dengan sendu.


Ethan meraih tangan Grace sambil mengusap nya, "Karena itu, sebelum kau tanya keadaan orang lain , pastikan dulu dirimu baik baik saja" Ucap Ethan. " Sudahlah jangan bersedih lagi, Kau bilang selama ada Count kau akan baik baik saja. Maka dari itu kau juga harus menyayangi nya sepenuh hati dengan begitu kau tidak akan merasa sedih lagi. " Sambung nya.


" Tentu saja aku sangat menyayangi nya, Karena selama ini hanya dia yang ada di sisiku yang menyaksikan aku tumbuh sampai sekarang." balas Grace dengan tersenyum.


...****************...


Malam hari di Kastel Count Etienne, Ethan termenung di kamarnya pikiran nya kalut akan banyak hal. " Hah. " Menghela nafas. " Apa mungkin putra mahkota sengaja melakukan itu karena Ibu ada di bawah lampu itu, Tapi kalau di pikirkan lagi tidak mungkin. Dia tipe orang yang menyerang diam diam, tidak mungkin dia melakukan hal terang terangan seperti itu." Pikirnya. " Atau mungkin ada Bangsawan lain yang membenci keluargaku , dan merencanakan untuk mencelakai ibu di pesta putri mahkota. Yah intinya hal itu di rencanakan bukan semata mata kecelakaan.". Ucapnya dalam hati. " Hah... aku jadi pusing. " Menghela nafas sambil memegang kepalanya, Ia terkejut saat mendengar suara ketukan di pintu. " Siapa ya?" Tanya Ethan dari dalam kamar.


" Ini aku Ethan. " Balas Count.


Ethan membuka pintunya, " Ada apa Tuan?"


" Aku ingin membicarakan sesuatu." Balasnya.


" Masuklah Tuan." Ucapnya lalu mengunci pintu rapat-rapat, Di dalam mereka berbicara empat.


" Pulanglah ke Duchy secepatnya." Ucap Count.

__ADS_1


" Aku juga berencana seperti itu tuan." Balasnya.


" Ya lebih cepat lebih baik, karena Kemarin kaisar sudah bertanya tentangmu, dia sempat curiga kalau orang di pesta waktu itu adalah kau. Untung saja aku masih bisa mencari alasan." Menjelaskannya pada Ethan.


" Mungkin saja kaisar merasa tidak asing dengan wajahku, Aku berencana pulang karena banyak yang harus ku selidiki." Ujarnya, " dan aku juga ingin memberitahukan satu hal tuan. " Sambung nya.


" Apa itu?"


" Orang yang memotong tali lampu itu, dia masih ada kekaisaran. Walaupun aku tidak bisa melihat dengan jelas, Tapi jelas dia bukan pelayan atau- pun prajurit istana." Ucap Ethan menjelaskan.


" Maksudmu dia bangsawan? " Tanya nya dengan ekspresi kaget.


" itu baru dugaanku, sebenarnya apakah ayah atau ibu punya musuh di kekaisaran ini? " Tanya Ethan.


" Kalau fraksi Bangsawan yang tidak suka dengan keluargamu banyak, terutama bangsawan dari fraksi putra mahkota, Tapi aku tidak terlalu ingat yang mana saja orangnya." Balasnya.


" Begitu yaa, Baiklah aku memang harus nya segera kembali. "


" Jadi kapan kau akan kembali ?"


" Tiga hari lagi, Mungkin." Balas Ethan.


" Baiklah persiapkan dirimu sebaik mungkin. " Ucap Count sambil menepuk pundaknya.


" Iya Tuan, Terimakasih banyak."


Di pagi hari yang tentram itu Ethan membaca buku sambil meminum teh dengan hembusan angin yang sejuk. " Brak!!" Suara pintu kamar nya yang dibuka kencang. Ethan terkejut lalu menoleh ke arah suara itu, Dia melihat Grace yang sedang berjalan dengan penuh amarah mendekatinya.


"Ad_ ada apa Grace?" Tanya Ethan bingung.


Grace terus menatap nya, dengan ekspresi yang mau menangis. " Kau mau pulang?!" Tanyanya dengan lantang.


" Iya. " Balasnya, " Kenapa Grace?" Sambung nya balik bertanya.


" Tunggu Grace." Ethan mengejar Grace yang berlari. Grace tidak mau mendengarkan suara Ethan dan terus berlari sampai ke kamarnya, dan langkah Ethan terhenti saat Grace menutup pintu kamarnya dengan kencang. " Brak!!"


" Anak itu kenapa ya? Aku kan belum bilang padanya kalau akan pulang. Apa count sudah memberitahunya." Guman Ethan dalam hati bertanya, " Kalau sudah sampai sini, aku sekalian saja ke ruangan Count untuk bertanya jelasnya. " Sambungnya dalam hati lalu berjalan menuju ruangan Count.


Sedangkan Di dalam kamar Grace langsung membanting kan tubuh nya di atas kasur dan menutup wajahnya dengan bantal. Dia menangis di balik bantal itu, Ia mera kesal juga berat hati melepaskan Ethan yang harus kembali ke rumahnya. Tapi di sisi lain dia juga tidak bisa terus menahan Ethan disini. " Aku tau Ethan akan pulang kerumah nya suatu hari, Tapi kenapa saat mendengar kabar itu hatiku sangat sakit ya. Aku sedih tapi aku juga tidak bisa menahan nya." Ucap Grace sambil menangis.


Sedangkan di ruang Count, Ethan langsung bertanya tanpa basa basi.


"Tuan, Sebenarnya apa yang terjadi?"


" Pasti anak itu, tiba tiba datang menghampirimu." Ucap Count sambil minum teh.


" Anak itu lagi ngambek, Biarkan saja. Susah membujuk nya kalau sedang marah." Jelasnya.


" Anda yang memberitahu nya kalau saya akan pulang?"


" Tidak , dia yang tadi pagi tiba tiba datang dan bertanya." Balasnya.


" Lalu dia tau darimana?"


" Entahlah, Biarkan saja dia. Nanti kalau perasaannya sudah lebih baik dia pasti akan datang padamu." Ucap Count yang sudah hafal dengan sifat Keponakan tersayangnya.


...****************...


Tiga hari kemudian, Ethan bersiap dan berpakaian dengan rapi untuk pulang. Ia berencana pulang lewat portal lintas waktu di kawasan menara sihir yang letaknya tidak jauh dari ibu kota verhant agar sampai di wilayah Dawson lebih cepat, Karena untuk mengakses portal butuh identitas yang jelas Count menyuruh Ethan untuk menggunakan namanya saat memasuki portal sihir itu. setelah selesai bersiap Ethan merapikan kamar juga semua pakaian nya selama di kediaman count, Dia tidak berniat membawa semua pakaian itu, Karena dia berfikir mungkin suatu hari dia akan datang lagi kesini. Ethan tersenyum sambil memandang sudut demi sudut kamar itu. Dia merasa sedikit sedih untuk meninggalkan tempat itu, Tapi di dunia tempat nya sekarang dia harus bertahan hidup apapun terjadi.


Saat menuruni tangga di ruang utama, Ethan melihat Count dan tiga kesatrianya di bawah.


" Count."


" Anda sudah siap yang mulia." Ucap Count sambil menundukkan kepalanya di susul dengan para kesatria nya.

__ADS_1


" Jangan seperti itu tuan." Ucap Ethan karena merasa tidak enak melihat count menundukkan kepalanya, Karena di dunianya dulu itu sama saja tidak sopan. Harusnya yang muda lebih menghormati yang lebih tua, itu yang di ajarkan kedua orangtuanya dulu.


" Saya tau anda merasa tidak enak, Tapi anda harus membiasakan nya." Ucap Count.


" Baiklah, Tapi seperti yang kukatakan sebelumnya kalau hanya kita berdua seperti biasanya saja." Ujar Ethan.


" Baiklah jika itu yang anda inginkan." Ucap Count dengan sopan. " Ethan terimakasih karena sudah mau mengganggap tempat ini seperti rumahmu, aku minta maaf atas semua hal yang terjadi selama kau ada di sini." Sambungnya.


" Tidak tuan harusnya saya yang berterima kasih untuk semuanya, saya sudah banyak merepotkan anda selama ini." Balas Ethan.


" Tidak usah di pikirkan. " Ucap Count sambil tersenyum. " Kau tidak lupa kan dengan barang yang menjadi identitasmu ( topeng )?" Sambungnya bertanya.


" Tentu saja aku membawa nya tuan, Mana mungkin aku lupa membawanya." Balas Ethan.


Lalu Mereka bersalaman, Ethan melihat sekeliling nya lalu tanpa sengaja melihat Grace di atas yang sedang bersembunyi balik tiang. Karena sejak kejadian hari itu Grace sama sekali tidak mau bertemu dengan Ethan.


" Kau pasti mencari anak itu ya? " Tanya Count yang langsung peka dengan sikap Ethan yang melihat sekelilingnya.


" Ah iya sepertinya dia tidak terlihat." Balas Ethan.


" Mungkin dia tidak ingin melihat kau pergi, Jadi dia terus mengurung diri di kamar." Ucap Count.


" Begitu ya. " Ucapnya. " Jadi itu alasannya dia terus bersembunyi di balik tiang, Baiklah mau bagaimana lagi aku akan pura pura tidak lihat jika itu yang dia lakukan." Guman nya dalam hati.


" Oh ya Ethan, Ini mungkin sedikit di luar rencana tapi biarkan Zach menemanimu sampai Di kastel. Dawson, Dia salah satu kesatria yang sangat aku percaya. Dia juga yang akan mengawal mu selama perjalanan. " Ucap Count.


" Baiklah tuan, Terimakasih untuk semua nya. " Ujar Ethan sambil menundukkan kepalanya karena berterimakasih pada Count.


" Iya Ethan, terimakasih kembali, Hati hatilah di jalan. " Ucap Count sambil menepuk pundaknya.


" Zach, Tolong jaga dia." Kata Count pada kesatrianya.


Count mengantar Ethan sampai naik kereta kuda, dan menunggu kereta kuda itu berjalan menjauh dari pandangan nya. Lalu masuk ke kastel, Karena masih banyak yang harus dia kerjakan.


...****************...


" Siapa namamu?" Tanya Ethan pada kesatria


yang duduk di depannya.


" Nama saya Zach Albern Yang mulia." Balas nya dengan sopan.


" Jangan memanggilku seperti itu, Rasanya panggilan itu terlalu berat untuk ku." Ucapnya.


" Panggil Aku Ethan saja." Sambung nya.


" Mana mungkin saya lancang memanggil anda seperti itu." Balasnya.


" Hah ..." Menghela nafas, " Terserah kau saja mau memanggilku apa, Yang jelas jangan sebutan Yang mulia. " Ucap Ethan kesal.


" Tuan Muda Granduke." Ucap kesatria itu mencoba memanggil Ethan dengan sopan tapi dia masih bisa menerimanya.


" Tuan muda saja, Itu lebih baik." Balas Ethan.


" Baiklah Tuan Muda, Sebentar lagi kita akan memasuki portal sihirnya, Setelah dari situ mungkin kita akan menempuh satu hari perjalanan untuk Sampai ke kastel, Kalau lewat jalur biasa bisa memakan waktu tiga sampai lima hari." Ucap kesatria itu menjelaskan.


Setalah hampir satu jam perjalanan kereta kuda mereka sampai di Ibu kota verhant, Masih perlu lima belas menit perjalanan untuk sampai ke Kawasan Menara sihir , Dimana tempat para penyihir istana tinggal. Sesampainya di sana mereka di cegat oleh petugas yang memeriksa pelanggan yang akan menggunakan Portal itu.


" Kami dari kediaman Etienne." Kata Zach sambil menunjukan lambang keluarga Count.


Lalu para petugas itu mengizinkan mereka untuk Lewat, Saat melewati portal itu Ethan benar benar terpukau, Karena Setelah melewati lingkaran portal itu dia langsung ada di tempat yang berbeda. " Wah hebat sekali portalnya, Seperti lingkaran sihir yang ku tonton di film doctors Strange. " Guman nya dalam hati.


" Dari sini kita akan akan menempuh waktu satu hari untuk sampai kerumah anda." Kata kesatria itu menjelaskan lagi pada Ethan.


" Iya aku tau, Kau tadi sudah bilang Zach." Ujar Ethan lalu memakai topengnya. " Nah Mulai dari sini permainan bertahan hidup akan di mulai." Ucapnya dalam hati dengan yakin. Dengan penuh keberanian dan strategi untuk bertahan hidup di dunia ini, Bukan sebagai Granduke yang kejam dan bengis tapi Sebagi Ethan yang datang dari masa depan.

__ADS_1


__ADS_2